Spirit NTT, 16-21 Februari 2009, Laporan Fredy Hayong
ATAMBUA, SPIRIT -- Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Belu, Drs. Ati Hendrikus, membuka pelatihan petugas lapangan Pendataan Usaha Tani (PUT) 2009 yang difasilitasi Badan Pusat Statitik (BPS) Belu di Hotel Paradiso, Atambua, Jumat (13/2/2009).
Dalam sambutannya, Ati Hendrikus, mengatakan, Pendataan Usaha Tani (PUT) di Belu tahun 2009 ini oleh petugas lapangan agar obyektif. Petugas diminta bekerja profesional dalam mendata komoditas strategis seperti padi, jagung, kedelai dan tebu. Data agar diolah secara akurat dan obyektif.
Hendrikus menjelaskan, pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi pertanian, khususnya komoditas pangan strategis agar kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi dan secara tidak langsung swasembada pangan dapat terwujud.
Beberapa tahun belakangan, program peningkatan ketahanan pangan bukan terfokus pada komoditas padi/beras tapi juga komoditas strategis lain seperti jagung, kedelai. Secara nasional, penentuan komoditas strategis dalam PUT 2009 meliputi padi, jagung, kedelai dan tebu.
"Pertimbangan pengembangan empat komoditas ini karena padi selain fluktuasi harganya mempengaruhi tingkat inflasi, secara nasional beras merupakan bahan pangan utama. Sedangkan jagung sebagai pangan subtitusi secara nasional dan di tingkat lokal bahkan menjadi bahan pangan utama masyarakat NTT dan Belu. Kedelai mengurangi ketergantungan pada impor yang dapat mengganggu cadangan devisa, dan tebu menjamin gula Indonesia agar mampu bersaing dengan harga gula dunia," katanya.
Terhadap upaya ini, katanya, pemerintah melalui BPS perlu membekali petugas lapangan untuk mendata komoditas strategis ini. "Petugas dari setiap desa/kelurahan yang sudah ditunjuk agar membantu BPS secara sungguh-sungguh, obyektif, jujur dan bebas dari rekayasa. "
Kepala BPS Belu, Patris Tupen mengatakan, tujuan kegiatan PUT 2009 untuk menyediakan data base rumah tangga usaha tani padi, jagung, kedelai dan tebu yang lengkap dan akurat. Dengan tersedianya data base ini diharapkan formulasi berbagai kebijakan pemerintah di bidang pangan menjadi lebih tepat sasaran. Tujuan pelatihan petugas lapangan untuk membangun kesamaan persepsi serta pemahaman mengenai konsep defenisi dan tata cara pendataan PUT 2009.
"Pelatihan dilakukan dalam tiga gelombang, yakni tanggal 13-16 Februari secara paralel di Atambua dan Betun. Peserta pelatihan 232 orang terdiri dari pencacah lapangan 208 orang yang direkrut dari desa/kelurahan setempat, dan 24 petugas koordinator statistik kecamatan. Untuk pelatihan gelombang pertama di Atambua diikuti 56 peserta dari Kecamatan Tasifeto Barat, Nanaet Dubesi, Atambua Selatan, Atambua Barat, Atambua Kota, Laenmanen, Malaka Timur dan Raimanuk," kata Patris. *
Dibuka, Pelatihan Petugas Lapangan PUT
Label:
Belu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar