Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Pemerintah telah beritahu Dirut Bank NTT

SPIRIT NTT/REDDY NGERA
RAPAT KOMISI --
Direktur Umum/Operasional Bank NTT, Daniel Tagu Dedo (kanan) hadir dalam rapat gabungan komisi DPRD NTT, Jumat (16/1/2009). Dalam rapat yang dipimpin Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe (kedua dari kiri) itu, Tagu Dedo tidak diberi kesempatan untuk berbicara. DPRD NTT menunda rapat dengan agenda penjelasan mengenai sejumlah masalah di Bank NTT karena ketidakhadiran Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Amos Corputty.


Spirit NTT, 19-25 Januari 2009, Laporan Alfons Nedabang

KUPANG, SPIRIT --
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda NTT, Partini Hardjokusumo, menjelaskan, pemerintah telah memberitahu kepada Dirut bank NTT tentang adanya undangan untuk menghadiri rapat gabungan komisi di DPRD NTT.

"Pemerintah setuju kalau Dirut dihadirkan dalam rapat selanjutnya," ujar Partini di gedung DPRD NTT, Jumat (15/1/2009).


Ditemui usai sidang, anggota DPRD NTT, John Umbu Deta dan John Dekresano, menilai, acara grand opening Kantor Cabang Khusus Bank NTT di kantor Bank NTT direkayasa dengan mengagendakannya pada hari yang sama dengan rapat gabungan komisi, yakni Jumat (15/1/2009), agar Dirut Bank NTT mempunyai alasan untuk tidak hadir dalam rapat gabungan komisi DPRD NTT.

Untuk diketahui, DPRD NTT merasa dilecehkan dengan ketidakhadiran Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Amos Corputty dalam rapat gabungan komisi dengan agenda penjelasan mengenai sejumlah masalah di Bank NTT, Jumat (16/1/2009). Meski dihadiri Direktur Umum/Operasional Bank NTT, Daniel Tagu Dedo, Dewan menunda rapat tersebut dan mengagendakannya lagi untuk menghadirkan Dirut.

Rapat yang dipimpin Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe dan dihadiri pihak eksekutif diantaranya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda NTT, Partini Hardjokusumo, S.H, menyepakati akan menjadwalkan rapat berikutnya dengan agenda yang sama dan harus dihadiri Amos Corputty. Jadwal rapat akan dibahas lebih lanjut panitia musyawarah (panmus).

Ketidakhadiran Corputty dalam rapat gabungan komisi itu dipersoalkan sejumlah anggota Dewan, Alo Assan, Karel Yani Mboeik, Adrianus Ndu Ufi, John Dekresano, Cyrilus Bau Engo, Yulius Malo Dauzo, John Umbu Deta, Marthen Darmonsi, Yucundianus Lepa dan Jonathan Kana. Mereka menilai ketidakhadiran Dirut yang lebih mementingkan acara pembukaan kantor cabang khusus Bank NTT, di hari yang sama, merupakan pelecehan terhadap DPRD NTT.

Yani Mboeik mengatakan, rapat gabungan komisi menentukan masa depan Bank NTT. "Pertemuan ini tentukan masa depan Bank NTT. Bukan hanya soal tender proyek, PHK karyawan tapi banyak hal lain, seperti dana pensiun yang dipakai untuk main valas, ada dana yang dibagi-bagi untuk direksi. Padahal, uang bank dipungut dari rakyat dengan bunga besar," kata Yani Mboeik.

"Ada juga persoalan saham seri B. Dirut dan Komisaris beli saham Seri B, masing-masing senilai Rp 400 juta dan Rp 200 juta," katanya.
Anggota Fraksi PDIP ini mengatakan, Pemda NTT memiliki saham di Bank NTT sebesar 28 persen. Oleh karena itu, DPRD berhak tahu tentang kondisi sebenarnya di Bank NTT. "Kalau perlu kita tingkatkan jadi pansus," ujar Yani Mboeik.
"Dirut lebih mementingkan pembukaan kantor cabang dari pada rapat komisi," kata Adrianus Ndu Ufi.

Menurutnya, pertemuan itu untuk menjelaskan tentang kasus-kasus Bank NTT yang muncul belakangan untuk dicari jalan keluar sehingga tidak menurunkan citra Bank NTT. Senada dengan Yani Mboeik, Ndu Ufi mengusulkan dibentuk pansus. "Dengan terbentukya pansus, Dewan akan tahu lebih jelas tentang berbagai permasalahan yang terjadi di Bank NTT," katanya.

John Dekresano menegaskan lagi tentang pentingnya rapat gabungan komisi itu sehingga Dirut sendiri harus hadir. "Kami menuntut Dirut harus hadir beri penjelasan mengenai kebijakan direksi tentang tiga hal yaitu kebijakan pensiun dini, pembangunan enam kantor cabang dan dana pensiun. Dirut hadir harus didampingi direksi, tidak datang sendiri," tegas Dekresano.

Yulius Douzo mengatakan, "Lembaga ini (Dewan, Red) sudah dilecehkan. Oleh karena itu, tingkatkan jadi pansus." Menurutnya, di Bank NTT sedang dibangun rezim. Sebagai bukti, saham Seri B hanya dimiliki oleh Dirut dan Komisaris. "Kenapa tidak diumumkan saja ke publik sehingga warga, pengusaha juga beli," ujar Yulius.

Dalam rapat tersebut Cyrilus Bau Engo menegaskan bahwa rapat yang tidak dihadiri Dirut Bank NTT itu harus ditunda. Dia mengusulkan agar rapat berikutnya diagendakan sebelum pelaksanaan rapat umum pemegang saham (RUPS) Bank NTT, agar pendapat Dewan bisa menjadi masukan buat Gubernur NTT yang menghadiri RUPS dimaksud.
Hal senada dikatakan John Umbu Deta. "Direksi harus dihadirkan untuk melengkapi penjelasan pemerintah. Karena Dirut tidak hadir maka rapat ditunda. Lagipula orang Bank NTT yang hadir tidak ada persiapan," kata Umbu Deta.

Marthen Darmonsi mengatakan Dewan mau bicarakan kasus Bank NTT dengan pihak-pihak yang kompeten agar rapat sungguh-sungguh bermanfaat.*

Tidak ada komentar: