Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Konsumsi air sungai, minta sumur bor

Spirit NTT, 6-12 Oktober 2008

CUMBI, SPIRIT --- Warga Cumbi, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) minta pemerintah setempat membuat sumur bor untuk melayani kebutuhan air bersih warga di wilayah setempat. Selama ini warga hanya mengonsumsi air sungai.

Permintaan ini disampaikan salah seorang aktivis LSM Mbeliling Lestari Abadi, Robert Perkasa, kepada SPIRIT NTT di Labuan Bajo, Minggu (5/10/2008). Menurut Perkasa, ratusan warga di wilayah Cumbi selama ini tidak mendapat air bersih, sehingga kondisi kesehatan mereka selalu terganggu.

Perkasa menjelaskan, selama ini warga memanfaatkan air dari Sungai Wae Galung untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk minum, cuci juga untuk minuman ternak. Bahkan, kondisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun.

Perkasa mengakui warga Cumbi agak tertolong pada musim hujan karena mereka bisa menggunakan air pancuran dari atap rumah terutama bagi warga yang rumahnya beratap seng. "Jelas anak-anak di kampung itu, terutama yang berusia antara 0-10 tahun selalu menderita penyakit diare (mencret). Dan tidak jarang juga warga termasuk orang dewasa menderita penyakit kulit," jelas Perkasa.

Salah seorang warga Cumbi, Rofinus Bondo, secara terpisah mengakui kondisi yang sama. "Dari tahun 1964 sampai sekarang kami di sini cuma minum air kubangan di kali. Untung warga di sini masih dilindungi Tuhan sehingga biar dari dulu minum air kali tapi masih sehat meski ada yang mengalami penyakit," kata Rofinus Bondo.

Menurutnya, kondisi semakin parah dialami warga Cumbi pada bulan September dan Oktober. Karena itu, mereka minta perhatian pemerintah setempat agar bisa membantu sumur bor untuk menopang kebutuhan air bersih warga.

Kepala Dusun Cumbi, Fransiskus Falen, mengakui selain warga Warloka, ada warga dari Dusun Nalis, Desa Macang Tanggar yang memanfaatkan air kali untuk kebutuhan sehari-hari. "Pada musim kemarau panjang warga dari desa tetangga juga terpaksa datang ambil air di sungai itu. Dan pada musim itu terjadi rebutan air karena debit sangat kecil, apalagi lubang resapan yang dibuat kecil sekali sehingga tidak mampu melayani semua warga. Kalau yang tidak dapat harus tunggu sampai munculnya air baru diambil," kata Falen. (yel)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas infonya....
Sangat bermanfaat...