Spirit NTT, 13-19 Oktober 2008
KUPANG, SPIRIT-- Kabupaten Belu bersama beberapa kabupaten lainnya di NTT ditetapkan sebagai kawasan intensifikasi jagung sebagai tanaman pangan unggulan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Program 'jagungnisasi' ini dimulai tahun 2009.
Hal ini diungkapkan Kepala Sub-Dinas Produksi Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan NTT, Mikdon Abola di Kupang, Jumat (10/10/2008). Dia menyebut luas lahan yang disiapkan untuk intensifikasi pada musim tanam 2008 ini mencapai 670 hektar.
Selain Belu, katanya, kabupaten lain program 'jagungnisasi' ini adalah Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Sumba Timur, Sumba Barat, Sikka, Flores Timur, Lembata dan Alor.
Intensifikasi itu, kata dia, hanya diperuntukkan bagi lahan pertanian yang selama ini sudah digarap untuk ditanami jagung. Pemerintah mencoba melakukan intervesi teknologi untuk meningkatkan produktivitas lahan dari selama ini hanya 2,3 ton per hektar menjadi tiga sampai empat ton per hektar.
Intensifikasi di 10 dari 20 kabupaten/kota dengan luas lahan per kabupaten rata-rata sekitar 60 hektar itu, juga dimaksudkan sebagai langkah awal untuk memulai pengembangan jagung secara besar-besaran di NTT mulai tahun 2009.
Rencana pengembangan tanaman jagung secara besar-besaran di NTT ini menjadi program unggulan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Esthon Foenay setelah dilantik oleh Mendagri bulan Juni 2008.
Menurut Abola, pengembangan jagung secara besar-besaran mulai tahun 2009 harus disiapkan secara matang dari sekarang yang meliputi tiga aspek yakni penyiapan benih, membuat lahan percontohan dan intensifikasi.
Selama ini, kata dia, pengembangan jagung di NTT sudah dilakukan secara alami oleh para petani namun hanya untuk kepentingan memperkuat ketahanan pangan. Apalagi, para petani di desa-desa menjadikan jagung dan ubi-ubian sebagai makanan pokok.
Produksi jagung secara alami oleh petani itu mencapai 250.000 sampai 260.000 hektar lahan, dengan produksi mencapai 500.000 ton per tahun atau 2,3 ton perhektare.
"Kita akan meningkatkan produktivitas menjadi tiga sampai empat ton perhektare dengan intervensi teknologi serta penerapan sistim budidaya yang intensif seperti penggunaan benih unggul dan pemupukkan berimbang," katanya.
Produksi jagung NTT saat ini, kata Abola, sebenarnya sudah melebihi kebutuhan jagung masyarakat NTT. Hanya saja masyarakat memiliki kebiasaan menyimpan stok jagung di lumbung sampai benar-benar yakin bahwa musim tanam tahun berikutnya memberikan hasil.
Sementara bagi masyarakat di daerah lain, kelebihan produksi biasanya dijual. Karena itu, walaupun produksi yang ada sudah mencukupi kebutuhan namun sulit menemukan ada perdagangan antar-pulau jagung dari NTT.
Gubernur dan Wakil Gubernur NTT kini mau menjadikan NTT sebagai lumbung jagung, dimana jagung tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal tetapi diperdagangkan ke luar daerah seperti Gorontalo, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. (ant)
Belu, kawasan intensifikasi jagung
Label:
Belu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar