Spirit NTT, 13-19 Oktober 2008
SAAT itu Atambua sedang gemerlap. Ada kegiatan ekspo. Sekitar 18.000 pengunjung memadati pameran yang digelar di lapangan umum Atambua tersebut. Tak hanya gerai penjualan makanan, dan barang kebutuhan rumah tangga, selama acara berlangsung, pengunjung juga bisa melihat berbagai hasil kerajinan masyarakat setempat berupa kain tenun ikat, kerajinan dari batu marmer, kerajinan ukiran dari kayu cendana, kerajinan anyaman tas tali gewang, kerajinan gerabah dan lain-lain.
Menurut Ketua Penyelenggara, Ivon, dengan digelarnya acara tersebut diharapkan akan menambah rasa percaya diri masyarakat Belu untuk berkreativitas. Selain itu, juga diharapkan penyelenggaraan acara ini akan menghilangkan kesan bahwa Atambua tidak aman.
"Dengan adanya even ini bisa membuktikan bahwa di Atambua tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga wisatawan tidak perlu merasa takut atau khawatir untuk mengunjungi Atambua," jelasnya.
Hal senada dikatakan Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili. Menurutnya, pelaksanaan Belu Ekspo ini menunjukkan bahwa masyarakat Belu sangat kondusif dan aman.
Saat malam penutupan Belu Ekspo itu, sejumlah atraksi budaya digelar. Selain menampilkan band-band anak muda setempat, sejumlah tarian adat juga ditampilkan. Di antaranya tarian Bidu yang dibawakan sejumlah muda-mudi Belu.
Tarian Bidu merupakan sebuah tarian pergaulan antara muda-mudi untuk saling berkenalan dan memupuk rasa keakraban. Tarian ini biasanya dilakukan pada malam hari dan dilakukan dengan saling mengundang muda-mudi antar desa atau dusun. Tarian ini juga terkadang digunakan untuk mengisi acara hiburan pada waktu acara resepsi. Tarian tersebut dibawakan dengan diiringi alat musik yang disebut Raraun, atau gitar dengan empat tali, dan anyaman tali gewang (kleni) yang juga dimainkan seperti gitar. Selain diiringi musik, tarian ini juga ditarikan dengan iringan lagu dan syair yang dilantunkan kaum pria.
Untuk menjangkau Kabupaten Belu dapat dilakukan dengan melalui pelabuhan udara Kupang-SoE-Kefamenanu dan Atambua. Atau melalui pelabuhan Tenau Kupang-SoE-Kefamenanu-Atambua. Sedangkan pelabuhan udara Belu yaitu Bandar Udara Haliwen melayani rute penerbangan Atambua-Dili pulang-pergi. Kabupaten Belu juga berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste.
Selain Motaain, Kabupaten Belu juga memiliki obyek wisata yang sangat indah. Bahkan salah satunya kawasannya telah memberikan inspirasi bagi lagu Koes Plus berjudul Bukan Lautan Hanya Kolam Susu. Tempat yang telah memberikan inspirasi bagi grup band legendaris ini berada sekitar 17 kilometer arah utara dari kota Atambua. Di lokasi yang bernama Kolam Susuk ini terdapat sebuah kolam yang terbentuk secara alami. Pemandangan alamnya yang masih alami terlihat indah dan "menyegarkan" mata. Tak heran mengapa kolam ini menjadi inspirasi Koes Plus?
Di sekitar kolam ini juga membentang tambak-tambak ikan. Jika lapar, Anda bisa langsung menikmati menu makan siang berupa ikan bandeng panggang dengan dagingnya yang segar. (yumeldasari chaniago/pembaruan)
Bandeng Kolam Susuk, 'menyegarkan'...
Label:
Belu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar