
Spirit NTT, 1 - 7 September 2008, Laporan Julius Akoit
LITANI kekurangan air bersih lenting terdengar dari Desa Seo, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Sudah 26 tahun lamanya 135 kepala keluarga (KK) atau 823 jiwa warga Desa Seo cuma bergantung pada satu unit sumur galian di halaman rumah Michael Laot. Kini, hanya satu yang mereka minta; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTU agar membantu beberapa unit sumur bor.
Permintaan ini disampaikan beberapa warga yang ditemui terpisah di Desa Seo, 25 kilometer arah selatan Kota Kefamenanu, Selasa (2/9/2008) siang. "Dulu, selama bertahun-tahun warga harus berjalan kaki menuruni lembah dan mendaki bukit sejauh lima kilometer untuk mengambil air di sumber air terdekat di Kampung Bijuban. Lalu warga beramai-ramai menggali sebuah sumur air di halaman rumah Bapak Michael Laot tahun 1982 lalu," jelas Josep Nitjano (40) di desanya.
Penggalian sumur itu berlangsung hampir satu tahun, dibantu salah satu penggali sumur dari Pulau Sabu bernama Ama Lena. "Akhirnya, pada kedalaman 24 meter sumur itu mengeluarkan air. Dan, sampai sekarang sumur itu masih terus digunakan
Dulu jumlah warga Desa Seo, belum seberapa. Air sumur itu masih mencukupi.
Namun sekarang sudah 26 tahun, jumlah warga desa semakin banyak. Setiap hari warga harus antre dan mete (begadang, Red) ambil air di sumur bapak Michael Laot. Jika pagi atau sore hari, alat katrol yang dipasang bisa mencapai enam unit. Pokoknya susah sekali. Tali ember air berulang kali saling membelit karena warga pasang enam unit katrol dari seharusnya satu atau maksimal dua unit katrol penimba air," jelas Josep. Karenanya, ia minta Pemkab TTU agar membantu warga beberapa unit sumur bor.
Keluhan senada disampaikan Ny. Katarina Mutik (26), bidan desa yang bertugas di Polindes Seo. "Saya terpaksa membeli satu unit kereta gerobak untuk mengangkut air. Tiap pagi suami saya harus mendorong gerobak berisikan enam jeriken 20 liter sejauh 1,5 kilometer untuk ambil air di sumur satu-satunya di desa ini," jelas Ny. Katarina.
Kondisi ini, lanjutnya sudah berlangsung puluhan tahun. "Mau bagaimana lagi. Awalnya saya bertugas di sini, saya anggap ini tantangan paling berat. Tapi saat ini sudah terbiasa," jelasnya. Kondisi ini, lanjutnya, yang menyebabkan kasus penyakit gatal-gatal pada kulit sangat tinggi di desa itu. "Mungkin warga kurang mandi dan malas menjaga kebersihan badan karena sulit mendapatkan air untuk mandi. Untuk air minum warga harus antri dan mete di sumur sampai pukul 23.00 malam," jelasnya.
Keluhan yang sama disampaikan Yasinta Berkanis dan Ny. Gaudensia Lenama. "Tidak semua warga bergantung kepada sumur itu. Ada yang menyewa ojek mengambil air di sumber air Oeluan, sekitar lima kilometer dari sini. Sekali jalan bawa dua jeriken 20 liter dibayar Rp 2.500 perak. Kadang menyewa mobil tangki ukuran 5.000 liter seharga Rp 180 ribu. Yang menyewa tangki orang kaya. Mereka punya duit membangun bak air di samping rumah," jelas dua ibu rumah tangga ini.
Keduanya mengusulkan Pemkab TTU segera membantu warga beberapa unit sumur bor di beberapa titik agar warga tidak merasa kekurangan dan kesulitan mendapatkan air bersih. "Kalau bisa Pak Bupati TTU bantu kami beberapa unit sumur bor," pinta keduanya berbarengan.*
"Pak bupati bantu kami sumur bor"
Label:
Timor Tengah Utara
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar