Spirit NTT, 1 - 7 September 2008, laporan John Oriwis
MAUMERE, SPIRIT-- "Tanpa kita sadari bahwa budaya dan pola adat istiadat yang ada di NTT dan khususnya di Kabupaten Sikka, memberi dampak besar terhadap kondisi kemiskinan masyarakat, di antaranya adalah budaya pesta."
Hal ini diungkapkan Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, ketika memberi arahan pada acara temus bisnis bagi pengusaha mikro kecil menengah se-Kabupaten Sikka di Lantai II Aula Kopdit Obor Mas, Jalan Kesehatan Maumere, Rabu (20/8/2008).
Bupati Sosimus Mitang meminta masyarakat agar dapat menekan anggaran pesta sehingga biaya pesta lainnya dapat dimanfaatkan untuk membangun usaha ekonomi, biaya pendidikan anak dan biaya perawatan kesehatan.
"Kemiskinan tidak saja lahir karena kemalasan, tapi juga faktor lain dan salah satunya adalah budaya. Contoh nyatanya adalah budaya pesta, dan adanya pengeluaran biaya yang tak terduga seperti meluruskan rambut dan mewarnai rambut," jelas Sosimus.
Kepada masyarakat, Bupati Sosimus Mitang juga mengingatkan supaya memanfaatkan dana BLT dan PKH sesuai kebutuhan peruntukannya, sehingga dana tersebut dapat dikucurkan dan diterima masyarakat dengan kategori miskin.
Kehadiran sejumlah koperasi di Kabupaten Sikka, diakuinya, sudah sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan dalam upaya mengembangkan dunia usaha. Untuk itu, katanya, masyarakat sebagai anggota atau nasabah hendaknya menjadikan koperasi sebagai mitra dalam membuka dunia usaha. Namun masyarakat tidak lupa menjalankan kewajibannya untuk mencicil setiap pinjaman tepat waktu.
"Masyarakat harus wajib menyimpan, wajib pinjam dan wajib cicil. Namun karena alasan budaya dan hal lain, masyarakat menambah satu kewajiban. Yakni wajib tunggak, ini yang seharusnya tidak harus dilakukan nasabah koperasi," tegas Bupati Sosimus.*
"Kita miskin karena budaya"
Label:
Sikka
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar