Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kawasan hutan tinggal enam persen


Spirit NTT, 15-21 September 2008, Laporan Adiana Ahmad

WAINGAPU, SPIRIT--Tradisi masyarakat Sumba Timur (Sumtim) membersihkan lahan dengan cara membakar masih terus terjadi hingga saat ini sehingga berdampak pada berkurangnya kawasan hutan di daerah itu yang kini tinggal enam persen. Cara ini berdampak pada kerusakan hutan di sekitar lahan masyarakat.
Pantauan SPIRIT NTT di beberapa lokasi sepanjang jalan Waingapu-Lewa, Sabtu (6/9/2008), bukit-bukit gersang akibat kekeringan mulai gundul karena dibakar. Bahkan di lokasi-lokasi yang dekat dengan kawasan kehutanan.

Akibatnya, beberapa tanaman kehutanan yang usianya sekitar satu dua tahun ikut terbakar dan kering. Padahal pohon-pohon yang ikut terbakar itu berada di luar lahan masyarakat. Kerusakan hutan di Sumba Timur akibat kebakaran memang masih cukup tinggi.

Hal itu juga diakui oleh Kepala Dinas Kehutanan Sumtim, Ir. Johanes Landu Wulang, ketika ditemui beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, kerusakan hutan dengan cara seperti ini, memang cukup sulit diatasi karena berkaitan dengan keserakahan masyarakat.

Kerusakan hutan akibat kebakaran terjadi pada saat menjelang musim kemarau panjang seperti sekarang ini. Diperkirakan, kondisi seperti ini masih akan terus berlangsung hingga Oktober mendatang.

Masalah kerusakan hutan di Sumtim juga disampaikan oleh Wakil Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-63 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2008 lalu.

Gidion mengatakan, hutan Sumtim saat ini tinggal enam persen. Karena itu, pemerintah terus berupaya untuk melakukan pencegahan pengrusakan hutan dan penanaman kembali hutan yang rusak antara lain, melalui Program Gerakan Reboisasi Hutan dan Lahan (Gerhan).

Di sisi lain, upaya pencegahan terhadap kerusakan hutan, kata Gidion, terus dilakukan dengan cara mengurangi pemberian izin penebangan hutan lokal dan meningkatkan pengawasan terhadap kawasan hutan.*


Tidak ada komentar: