Spirit NTT, 22-s8 September 2008
ATAMBUA, SPIRIT--Mengembangkan potensi lokal dan potensi unggulan di era otonomi daerah saat ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, mengembalikan rasa percaya diri daereah.
Kabupaten Belu pada zaman dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai gudang ternak tapi kini hanya tinggal nama karena semakin hari produksi ternak semakin turun.
Budaya dan potensi peternakan yang menjadi salah satu unggulan Kabupaten Belu perlu dikembalikan menjadi komoditi unggulan masyarakat, kendatipun mengalami tantangan terutama infrastruktur dalam penanganan serta pengembangan komoditi tersebut masih terbatas. Pemerintah daerah pun melalui dana yang terbatas akan secara bertahap terus memperhatikan.
Hal ini disampaikan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, dalam paparannya pada acara kunjungan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Marwah Daud Ibrahim, di Aula Bappeda Belu, Kamis (11/9/2008).
"Marilah kita mengembalikan kepercayaan diri kita dengan kemauan keras untuk mengembangkan budaya kita, budaya ternak. Pada zaman dahulu, daerah kita dikenal sebagai gudang ternak," kata Lopez.
Sementara itu, Marwah Daud dalam paparannya menjelaskan bahwa secara sentralistik otonomi daerah merupakan salah satu kekuatan daerah dalam memperoleh income atau pemasukan daerah. Salah satu caranya dengan mengembangkan potensi unggulan lokal yang ada di daerah termasuk di Belu, salah satunya adalah ternak sapi. "Mengembangkan sapi itu tidak berat, hasilnya dijual namun harus diolah menjadi produk lain dari potensi itu," jelasnya.
Namun demikian, lanjut Marwah Daud, di era sekarang ini, untuk mengembangkan semua potensi itu perlu ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang handal agar apa yang dihasilkan nantinya bisa mempunyai prospek pasar yang bisa memberikan masukan bagi daerah.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Ir. Yeremias Kali Taek, mengemukakan bahwa untuk mengembangkan potensi peternakan di Belu yang dulunya dikenal sebagai gudang ternak mengalami tantangan dan kendala yang dihadapi, yakni keterbatasan infrastruktur antara lain, kesehatan, pakan ternak dan ketersediaan air pada musim kemarau.
Hadir dalam acara ini, Wakil Bupati Belu, asisten tata praja, para kepala dinas, badan, bagian dan kepala kantor se-Kabupaten Belu. (humas setda belu)
ATAMBUA, SPIRIT--Mengembangkan potensi lokal dan potensi unggulan di era otonomi daerah saat ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, mengembalikan rasa percaya diri daereah.
Kabupaten Belu pada zaman dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai gudang ternak tapi kini hanya tinggal nama karena semakin hari produksi ternak semakin turun.
Budaya dan potensi peternakan yang menjadi salah satu unggulan Kabupaten Belu perlu dikembalikan menjadi komoditi unggulan masyarakat, kendatipun mengalami tantangan terutama infrastruktur dalam penanganan serta pengembangan komoditi tersebut masih terbatas. Pemerintah daerah pun melalui dana yang terbatas akan secara bertahap terus memperhatikan.
Hal ini disampaikan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, dalam paparannya pada acara kunjungan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Marwah Daud Ibrahim, di Aula Bappeda Belu, Kamis (11/9/2008).
"Marilah kita mengembalikan kepercayaan diri kita dengan kemauan keras untuk mengembangkan budaya kita, budaya ternak. Pada zaman dahulu, daerah kita dikenal sebagai gudang ternak," kata Lopez.
Sementara itu, Marwah Daud dalam paparannya menjelaskan bahwa secara sentralistik otonomi daerah merupakan salah satu kekuatan daerah dalam memperoleh income atau pemasukan daerah. Salah satu caranya dengan mengembangkan potensi unggulan lokal yang ada di daerah termasuk di Belu, salah satunya adalah ternak sapi. "Mengembangkan sapi itu tidak berat, hasilnya dijual namun harus diolah menjadi produk lain dari potensi itu," jelasnya.
Namun demikian, lanjut Marwah Daud, di era sekarang ini, untuk mengembangkan semua potensi itu perlu ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang handal agar apa yang dihasilkan nantinya bisa mempunyai prospek pasar yang bisa memberikan masukan bagi daerah.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Ir. Yeremias Kali Taek, mengemukakan bahwa untuk mengembangkan potensi peternakan di Belu yang dulunya dikenal sebagai gudang ternak mengalami tantangan dan kendala yang dihadapi, yakni keterbatasan infrastruktur antara lain, kesehatan, pakan ternak dan ketersediaan air pada musim kemarau.
Hadir dalam acara ini, Wakil Bupati Belu, asisten tata praja, para kepala dinas, badan, bagian dan kepala kantor se-Kabupaten Belu. (humas setda belu)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar