Laporan Edy Hayong, Spirit NTT, 2-8 Juni 2008
ATAMBUA, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu kerja sama dengan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kupang membuka program kebidanan Akademi Perawat (Akper) Atambua. Pembukaan program kebidanan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dari para bidan.
Bentuk kerja sama ini disepakati dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) diwakili Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez dan Direktur Poltekes Kupang, Sabina Gero, SKp, M.Si, di kantor bupati Belu, Kamis (29/5/2008).
Bupati Belu, Joachim Lopez, mengatakan, pemerintah dan masyarakat Belu menaruh penghargaan yang tinggi terhadap Poltekes Kupang yang bekerja sama membuka program kebidanan di Akper Atambua. Kehadiran program ini bukan sekadar menambah program studi, tapi sesuai kebutuhan masyarakat di daerah ini.
Dari data yang ada, kata Bupati Lopez, angka kematian ibu dan anak di Belu masih sangat tinggi. Hal ini karena tenaga bidan yang profesional relatif sedikit ketimbang tenaga dukun.
"Selama ini kalau ada ibu yang mau bersalin biasanya minta pertolongan pada dukun. Memang kita bukan tidak percaya dukun tapi risiko kematian relatif besar ketimbang ditangani bidan profesional. Untuk itu, pemerintah sangat mendukung keberadaan program khusus kebidanan di Akper sehingga kelak bidan yang dihasilkan benar-benar profesional dalam bidang tugasnya. Dengan begitu, dari waktu ke waktu kita bisa menekan angka kematian ibu dan anak itu," ujarnya.
Menurut Bupati Lopez, perhatian pemerintah terhadap program ini akan diwujudkan dengan pengalokasian dana pada APBD 2008 guna mendukung kelancaran aktivitas di lembaga ini. Untuk itu, kepada para bidan yang akan mengikuti pendidikan nanti supaya benar-benar mengikuti seluruh proses secara baik.
"Para bidan yang ikut perkuliahan nanti rata-rata PNS. Saya harapkan setelah lulus dan ditempatkan di desa, maka harus menjalankan tugas pengabdian dengan senang hati. Kecerdasan intelektual yang sudah diterima haruslah dibarengi dengan kemauan moral yang tinggi dan komitmen pengabdian bagi masyarakat di desa. Sekitar 80 persen masyarakat hidup di desa membutuhkan sentuhan pelayanan kesehatan dari bidan. Pemerintah mengerti tentang hak para bidan tetapi hak itu hendaknya dibarengi kewajiban di lapangan," tandasnya.
Kepada manajemen Akper Atambua, Bupati Lopez berpesan agar mengelola lembaga ini secara baik. Akper harus bisa menjaga kepercayaan yang sudah diberikan sehingga ke depan out put yang dihasilkan dari lembaga ini benar-benar profesional dan siap mengabdi bagi masyarakat di Kabupaten Belu. *
ATAMBUA, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu kerja sama dengan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kupang membuka program kebidanan Akademi Perawat (Akper) Atambua. Pembukaan program kebidanan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dari para bidan.
Bentuk kerja sama ini disepakati dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) diwakili Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez dan Direktur Poltekes Kupang, Sabina Gero, SKp, M.Si, di kantor bupati Belu, Kamis (29/5/2008).
Bupati Belu, Joachim Lopez, mengatakan, pemerintah dan masyarakat Belu menaruh penghargaan yang tinggi terhadap Poltekes Kupang yang bekerja sama membuka program kebidanan di Akper Atambua. Kehadiran program ini bukan sekadar menambah program studi, tapi sesuai kebutuhan masyarakat di daerah ini.
Dari data yang ada, kata Bupati Lopez, angka kematian ibu dan anak di Belu masih sangat tinggi. Hal ini karena tenaga bidan yang profesional relatif sedikit ketimbang tenaga dukun.
"Selama ini kalau ada ibu yang mau bersalin biasanya minta pertolongan pada dukun. Memang kita bukan tidak percaya dukun tapi risiko kematian relatif besar ketimbang ditangani bidan profesional. Untuk itu, pemerintah sangat mendukung keberadaan program khusus kebidanan di Akper sehingga kelak bidan yang dihasilkan benar-benar profesional dalam bidang tugasnya. Dengan begitu, dari waktu ke waktu kita bisa menekan angka kematian ibu dan anak itu," ujarnya.
Menurut Bupati Lopez, perhatian pemerintah terhadap program ini akan diwujudkan dengan pengalokasian dana pada APBD 2008 guna mendukung kelancaran aktivitas di lembaga ini. Untuk itu, kepada para bidan yang akan mengikuti pendidikan nanti supaya benar-benar mengikuti seluruh proses secara baik.
"Para bidan yang ikut perkuliahan nanti rata-rata PNS. Saya harapkan setelah lulus dan ditempatkan di desa, maka harus menjalankan tugas pengabdian dengan senang hati. Kecerdasan intelektual yang sudah diterima haruslah dibarengi dengan kemauan moral yang tinggi dan komitmen pengabdian bagi masyarakat di desa. Sekitar 80 persen masyarakat hidup di desa membutuhkan sentuhan pelayanan kesehatan dari bidan. Pemerintah mengerti tentang hak para bidan tetapi hak itu hendaknya dibarengi kewajiban di lapangan," tandasnya.
Kepada manajemen Akper Atambua, Bupati Lopez berpesan agar mengelola lembaga ini secara baik. Akper harus bisa menjaga kepercayaan yang sudah diberikan sehingga ke depan out put yang dihasilkan dari lembaga ini benar-benar profesional dan siap mengabdi bagi masyarakat di Kabupaten Belu. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar