Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Hayon ajak pemuda Flotim telusuri sejarah Lamaholot

Spirit NTT, 26 Mei-1 Juni 2008

LARANTUKA, SPIRIT--Bupati Flores Timur (Flotim), Drs. Simon Hayon, mengajak para pemuda dari seluruh kecamatan di daerah itu untuk mampu menelusuri sejarah dan budaya Lamaholot yang menjadi visi-misi utama pemerintahannya saat ini.

"Jangan sampai kita tidak bisa menjelaskan apa itu Lamaholot dan dari mana asal usul kita," ujar Bupati Hayon ketika memaparkan materi bertajuk perspektif pembangunan berparadigma budaya Lamaholot pada sarasehan pemuda Flotim memperingati 100 tahun Harkitnas di Gedung Wanita Ina Mandiri-Larantuka, Jumat (23/5/2008).

Bupati Simon Hayon juga menggunakan kesempatan itu untuk memperlihatkan kepada publik foto kopi peta tua yang disebutnya sebagai peta benua Zholot yang pernah disebutnya asal mula wilayah Lamaholot. Bupati Simon Hayon juga pernah mengklaim wilayah Lamaholot meliputi seluruh wilayah Indonesia saat ini dengan pusatnya berada di Flores Timur.

"Lamaholot itu berkembang dari benua Zholot yang artinya kuning emas atau benua kuning emas," katanya saat pelantikan Kepala Desa Hinga Kecamatan Klubagolit, pada Selasa (21/4/2008) lalu.

Walau demikian, ketika dimintai klarifikasinya tentang peta tua benua Zholot itu, Bupati Simon Hayon hanya mengatakan bahwa itu berasal dari sebuah dokumen tua milik Belanda, tanpa mampu menjelaskan dokumen itu.

Setelah memperlihatkan peta tua tersebut, Bupati Simon Hayon juga melontarkan pernyataan lain tanpa mampu memberikan klarifikasi soal isi pernyataan itu bahwa dalam sebulan terakhir ada dua orang penting di daerah itu menggunakan paranormal. "Yang dimaksudkan itu adalah saya. Itu urusan saya, bukan untuk Anda. Jadi Anda tidak perlu bertanya tentang itu," katanya menjawab pertanyaan NTT Online.

Tiga rekomendasi
Pater Paul Budi Kleden, SVD pada kesempatan itu mengajak seluruh peserta sarasehan untuk bersikap kritis dalam menanggapi segala perkembangan kebudayaan, baik kebudayaan luar maupun kebudayaan lokal. Karena menurutnya, budaya bukan sesuatu yang statis melain sesuatu yang hidup dan terus berkembang.

Dalam kaitannya dengan budaya Lamaholot, Pater Paul Budi Kleden juga menandaskan bahwa budaya sesungguhnya memiliki batasan yang sangat longgar untuk membedakan antara yang mitos dan yang sejarah.

Budaya Lamaholot yang lebih didominasi oleh tutur lisan, peserta sarasehan yang seluruhnya adalah kalangan generasi muda itu diingatkan untuk mencermati terlebih dulu siapa pelaku dari sebuah tutur sejarah dan apa kepentingan petutur dibalik tutur yang dia sampaikan.

Hal itu, katanya, agar kita bisa menelusuri ke belakang secara obyektif sejarah dan budaya kita. "Ada suku-suku tertentu yang mewariskan keturunan orang-orang yang pintar omong. Mereka ini mewarisi kemampuan untuk menuturkan nilai-nilai tertentu dalam sukunya, sehingga cenderung mengabaikan nilai-nilai yang dianut suku-suku lain. Maka perkembangan sejarah dan budaya kemudian juga sangat dipengaruhi oleh siapa petuturnya," katanya.

Di akhir pemaparannya, Pater Paul Budi Kleden merekemondasi tiga poin penting yang harus dilakukan generasi muda dewasa ini. Pertama, pendidikan harus menjadi lembaga untuk melatih orang agar berpikir kritis.

Kedua, generasi tua, baik politisi maupun ekonom hendaknya tidak memperalat orang muda untuk mengejar kepentingan politik maupun kepentingan ekonomi mereka sendiri. Ketiga, generasi muda harus bisa menghargai budaya sendiri dengan tidak membuat penyimpangan. (peren lamanepa/ntt online)

4 komentar:

Bernard.Tokan@gmail.com mengatakan...

Akan ada kemungkinan benar atau tidak tentang apa yang dikkaim oleh Simon Hayon dengan adanya peta tua benua Zholot yang merupakan bagian dari wilayah Nusantara, yang ada kemungkinan bahwa daerah itu merupakan pusat wilayah negeri ini. Anggapan yang dilontarkan oleh seorang intelektual, politisi, public figur yang adalah seorang bupati tidak sangat mendasar untuk menyampaikan atau mengklaim hal-hal yang yang datanya tidak akurat seperti itu. Kebenaran untuk orang banyak adalah sebuah kenyataan yang harus dituturkan berdasarkan data tertulis, barang bukti, penuturan berbagai suku yang identik serta bahkan saksi-saksi yang perlu. Karena dunia maya hanya merupakan perbendaharaan kejadian pribadi atau kelompok suku tertentu umtuk memotivasi kelompoknya agar selalu mempertahankan pada jalur ceritera itu. Tapi tidak harus untuk orang lain diluar kelompoknya (sukunya). Maka saya sarankan Simon Hayon tidak perlu berapi-api menggali budaya yang bukan menjadi hak dan kewenangannya. Namun demikian saya bangga karena beliau dapat mempertahan sebagaian budaya seperti tata kerama, pupu rebon serta sole - oha yang merupakan aset Lamaholot sebagai budaya tulen.

Nela Wuran mengatakan...

gimana sich,,,yang jelas dong,,,tolong ada klarifikasi oleh pakar sejarah NTT dong. saya tidak lahir dan besar di NTT, jadi tidak pernah dapat pendidikan soal budaya dasar NTT. sumber bukunya di Bandung ini juga susah. jadi tolong diklarifikasi!

SAUT BOANGMANALU mengatakan...

sip

SAUT BOANGMANALU mengatakan...

sip...