Laporan Ferry Ndoen, Spirit NTT, 21-27 April 2008
KUPANG, SPIRIT--- Pantai di pesisir Kota Maumere, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, tahun ini akan dibangun pagar pengaman pantai sepanjang 600 meter. Pembangunan dilakukan menyusul terjangan gelombang pasang pada musim hujan sehingga menyebabkan abrasi di pesisir pantai tersebut. Abrasi ini merusak permukimnan penduduk di pesisir pantai.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS Nusra II), Ir. T Iskandar, MT melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengamanan Pantai, Dominggus Dama, SST, MT, saat ditemui di ruang kerjanya di kompleks Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) NTT, Jalan WJ Lalamanetik, Kupang, Selasa (15/4/2008).
Dama menjelaskan, desain konstruksi Pantai Maumere sudah dilakukan sejak tahun 2003, namun pembangunan konstruksi pengaman wilayah pantai di daerah itu baru dilaksanakan tahun ini. "PPK Pengaman Pantai lingkup BWS Nusra II juga baru terbentuk dan baru ada kegiatan tahun 2008. Sebelumnya, kegiatan pantai menyatu dengan pengaman sungai sehingga kurang efektif," jelasnya.
Menurut dia, pembangunan 600 meter pengamanan pantai di pesisir Kota Maumare belum bisa menjawab kebutuhan pengamanan di kawasan pantai tersebut karena kawasan yang rusak mencapai 1.600 meter.
"Jadi, masih satu kilometer lagi yang butuh penanganan. Tentu akan dibangun bertahap. Memang kerusakan pesisir Pantai Maumere paling parah terjadi tahun ini karena abrasi yang ditimbulkan semakin meluas dan bertambah parah. Kami fokus penanganan di wilayah Beru, Dusun Waibubu, Kecamatan Alok. Ini belum termasuk kerusakan yang terjadi di Wairotang, abrasi di Pantai Kota Baru serta abrasi hebat di wilayah Pantai Lela yang mencapai dua kilometer," katanya.
Dama mengemukakan, untuk penanganan abrasi pantai di Lela akan diprogram bertahap mulai tahun 2009. *
KUPANG, SPIRIT--- Pantai di pesisir Kota Maumere, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, tahun ini akan dibangun pagar pengaman pantai sepanjang 600 meter. Pembangunan dilakukan menyusul terjangan gelombang pasang pada musim hujan sehingga menyebabkan abrasi di pesisir pantai tersebut. Abrasi ini merusak permukimnan penduduk di pesisir pantai.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS Nusra II), Ir. T Iskandar, MT melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengamanan Pantai, Dominggus Dama, SST, MT, saat ditemui di ruang kerjanya di kompleks Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) NTT, Jalan WJ Lalamanetik, Kupang, Selasa (15/4/2008).
Dama menjelaskan, desain konstruksi Pantai Maumere sudah dilakukan sejak tahun 2003, namun pembangunan konstruksi pengaman wilayah pantai di daerah itu baru dilaksanakan tahun ini. "PPK Pengaman Pantai lingkup BWS Nusra II juga baru terbentuk dan baru ada kegiatan tahun 2008. Sebelumnya, kegiatan pantai menyatu dengan pengaman sungai sehingga kurang efektif," jelasnya.
Menurut dia, pembangunan 600 meter pengamanan pantai di pesisir Kota Maumare belum bisa menjawab kebutuhan pengamanan di kawasan pantai tersebut karena kawasan yang rusak mencapai 1.600 meter.
"Jadi, masih satu kilometer lagi yang butuh penanganan. Tentu akan dibangun bertahap. Memang kerusakan pesisir Pantai Maumere paling parah terjadi tahun ini karena abrasi yang ditimbulkan semakin meluas dan bertambah parah. Kami fokus penanganan di wilayah Beru, Dusun Waibubu, Kecamatan Alok. Ini belum termasuk kerusakan yang terjadi di Wairotang, abrasi di Pantai Kota Baru serta abrasi hebat di wilayah Pantai Lela yang mencapai dua kilometer," katanya.
Dama mengemukakan, untuk penanganan abrasi pantai di Lela akan diprogram bertahap mulai tahun 2009. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar