Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 7-13 April 2008
KALABAHI, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor mulai membuka jalan ke desa-desa di Kecamatan Pureman, sehingga daerah terisilor itu mulai terbuka.
Hal itu dikatakan Camat Pureman, Sam Tubulau, saat ditemui di Kalabahi, Jumat (4/4/2008). Sam mengatakan, dengan dibukanya jalan-jalan yang menghubungkan desa yang satu ke desa yang lain, arus transportasi ke daerah yang selama ini tertutup sama sekali mulai berjalan. Diharapkan, dibukanya jalan itu bisa memacu laju pertumbuhan ekonomi di kecamatan itu. Warga diharapkan memanfaatkan jalan itu untuk mobilitas barang dan manusia ke Kota Kalabahi, bahkan keluar Alor.
Menurut Sam, masalah yang mendasar selama ini adalah jalan. Selama ini, wilayah hasil pemekaran dari Kecamatan Alor Timur itu tidak tersentuh pembangunan sarana prasarana karena tidak ada jalan untuk kendaraan bermotor. Jika ingin ke Kalabahi, warga harus berjalan kaki ke pantai lalu menumpang perahu motor. Itu pun, kata Sam, tidak setiap hari, seminggu dua kali perahu motor masuk Pureman.
Kondisi ini membuat warga terkungkung dan terisolir yang sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat, khususnya usaha ekonomi. "Potensi di wilayah kami lumayan bagus, mulai dari perkebunan seperti kemiri dan jambu mete. Ada juga tambang batu hitam, dan hasil pertanian lainnya. Namun karena akses ke pasar cukup sulit atau hanya menggunakan transportasi laut, maka hasil yang dibawa masyarakat untuk dijual ke kota sedikit juga," kata Sam.
Sam melanjutkan, biaya transportasi laut dari Kalabahi ke Pureman sebesar Rp 30.000,00. Jika cuaca tidak memungkinkan arus transportasi laut juga macet total. Warga, kata Sam, menyambut gembira dibukannya jalan ke sana. *
KALABAHI, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor mulai membuka jalan ke desa-desa di Kecamatan Pureman, sehingga daerah terisilor itu mulai terbuka.
Hal itu dikatakan Camat Pureman, Sam Tubulau, saat ditemui di Kalabahi, Jumat (4/4/2008). Sam mengatakan, dengan dibukanya jalan-jalan yang menghubungkan desa yang satu ke desa yang lain, arus transportasi ke daerah yang selama ini tertutup sama sekali mulai berjalan. Diharapkan, dibukanya jalan itu bisa memacu laju pertumbuhan ekonomi di kecamatan itu. Warga diharapkan memanfaatkan jalan itu untuk mobilitas barang dan manusia ke Kota Kalabahi, bahkan keluar Alor.
Menurut Sam, masalah yang mendasar selama ini adalah jalan. Selama ini, wilayah hasil pemekaran dari Kecamatan Alor Timur itu tidak tersentuh pembangunan sarana prasarana karena tidak ada jalan untuk kendaraan bermotor. Jika ingin ke Kalabahi, warga harus berjalan kaki ke pantai lalu menumpang perahu motor. Itu pun, kata Sam, tidak setiap hari, seminggu dua kali perahu motor masuk Pureman.
Kondisi ini membuat warga terkungkung dan terisolir yang sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat, khususnya usaha ekonomi. "Potensi di wilayah kami lumayan bagus, mulai dari perkebunan seperti kemiri dan jambu mete. Ada juga tambang batu hitam, dan hasil pertanian lainnya. Namun karena akses ke pasar cukup sulit atau hanya menggunakan transportasi laut, maka hasil yang dibawa masyarakat untuk dijual ke kota sedikit juga," kata Sam.
Sam melanjutkan, biaya transportasi laut dari Kalabahi ke Pureman sebesar Rp 30.000,00. Jika cuaca tidak memungkinkan arus transportasi laut juga macet total. Warga, kata Sam, menyambut gembira dibukannya jalan ke sana. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar