Spirit NTT, 21-27 April 2008
ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, bersama anggota muspida setempat menerima Pangdam Udayana, Mayjen TNI GR Situmeang, dan rombongan di Rumah Jabatan Bupati Belu di Atambua, Kamis (17/4/2008) malam, pukul 19.30 wita. Saat itu, Pangdam diterima secara adat Belu sekaligus dinobatkan menjadi sesepuh masyarakat Belu.
Dalam sambutannya, Bupati Lopez menjelaskan bahwa acara adat yang ditampilkan pada prosesi penerimaan pangdam merupakan cerminan budaya orang Belu yang berarti 'bersahabat.'
"Jadi, rumah jabatan ini merupakan simbol dari seluruh masyarakat Belu. Dengan kata lain, penerimaan secara adat seperti ini mempunyai makna bagi pangdam dan rombongan karena dinobatkan menjadi masyarakat Belu," kata Lopez.
Penerimaan secara adat yang demikian, katanya, mempunyai makna tersendiri bagi Pangdam dan Danrem 161/Wirasakti yang menjalankan tugas khusus di Belu sebagai daerah yang berbatasan dengan Timor Leste.
Suasana setahun terakhir di Kabupaten Belu yang merupakan halaman depan NKRI, kata Bupati Lopez, sangat kondusif kendatipun ada demonstrasi dari warga baru eks Timtim yang menuntut hak mereka, namun itu merukan riak-riak kecil dalam berdemokrasi.
"Ya, situasi di Belu sangat kondusif walaupun beberapa hari sebelumnya ada demonstrasi yang membuat suasana di perbatasan ini menjadi sorotan tajam dari media massa," tutur Lopez.
Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI GR Situmeang dalam sambutannya mengatakan kehadirannya bersama rombongan di Belu mendapat penghargaan yang cukup tinggi. "Kehadiran kami erat kaitannya dengan tugas dan kerja kami di wilayah tiga propinsi yang cukup luas," ujarnya. (humas setda belu)
ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, bersama anggota muspida setempat menerima Pangdam Udayana, Mayjen TNI GR Situmeang, dan rombongan di Rumah Jabatan Bupati Belu di Atambua, Kamis (17/4/2008) malam, pukul 19.30 wita. Saat itu, Pangdam diterima secara adat Belu sekaligus dinobatkan menjadi sesepuh masyarakat Belu.
Dalam sambutannya, Bupati Lopez menjelaskan bahwa acara adat yang ditampilkan pada prosesi penerimaan pangdam merupakan cerminan budaya orang Belu yang berarti 'bersahabat.'
"Jadi, rumah jabatan ini merupakan simbol dari seluruh masyarakat Belu. Dengan kata lain, penerimaan secara adat seperti ini mempunyai makna bagi pangdam dan rombongan karena dinobatkan menjadi masyarakat Belu," kata Lopez.
Penerimaan secara adat yang demikian, katanya, mempunyai makna tersendiri bagi Pangdam dan Danrem 161/Wirasakti yang menjalankan tugas khusus di Belu sebagai daerah yang berbatasan dengan Timor Leste.
Suasana setahun terakhir di Kabupaten Belu yang merupakan halaman depan NKRI, kata Bupati Lopez, sangat kondusif kendatipun ada demonstrasi dari warga baru eks Timtim yang menuntut hak mereka, namun itu merukan riak-riak kecil dalam berdemokrasi.
"Ya, situasi di Belu sangat kondusif walaupun beberapa hari sebelumnya ada demonstrasi yang membuat suasana di perbatasan ini menjadi sorotan tajam dari media massa," tutur Lopez.
Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI GR Situmeang dalam sambutannya mengatakan kehadirannya bersama rombongan di Belu mendapat penghargaan yang cukup tinggi. "Kehadiran kami erat kaitannya dengan tugas dan kerja kami di wilayah tiga propinsi yang cukup luas," ujarnya. (humas setda belu)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar