Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Longsor di Kolilanang bukan gejala alam

Laporan Martin Lau Nahak, Spirit NTT, 21-27 April 2008

LARANTUKA, SPIRIT-- Tim peneliti Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang- Jawa Timur menyatakan, kejadian tanah longsor di Desa Kolilanang, Kecamatan Adonara-Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur (Flotim), merupakan bencana yang sangat serius mengancam warga di desa itu.
Tim ITN Malang merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flotim, agar serius menyikapi bencana tanah longsor yang terjadi (23/2/2008) di Kolilanang karena bencana tanah longsor itu bukan gejala alam biasa sehingga harus diselesaikan menurut adat/mistik. Tetapi, perlu penanganan lebih serius.

Hasil penelitian Tim ITN Malang disampaikan dalam laporan lengkap dengan gambar hasil peninjauan lapangan tanah longsor di Desa Kolilanang, yang diperoleh SPIRIT NTT dari Sekretariat Kantor Bupati Flotim, Sabtu (12/4/2008). Laporan ditandatangani dua peneliti, masing-masing Ir. Setyo Adiwidjono (ahli geolog) dan Ir. Eding Iskak Imananto, MT (ahli geoteknik) dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) ITN Malang.
Dalam laporan dua ahli sekaligus bahan rekomendasi penanggulangan kepada Pemkab Flotim diuraikan bahwa tanah longsor di Kolilanang akibat hujan deras selama dua minggu. Luas lahan pemukiman dan perkebunan yang kena longsor 3,0 hektar dengan panjang retakan satu kilometer, lebar retakan 2,5 meter, kedalaman retakan tiga meter hingga empat meter, dan merusak empat bangunan rumah, satu fondasi rumah dan sejumlah makam/pekuburan. Lahan yang kena longsor sebagian lahan perkebunan dengan tanaman produktif kelapa, kakao (coklat) dan pepohonan karang kitri lainnya, merusak jalan perkerasan desa 150 meter.
Setyo dan Eding menjelaskan, morfologi sekitar daerah longsoran berupa medan berbukit dengan elevasi 449 meter (bacan GPS) di Kantor Desa Kolilanang. Longsoran terjadi di batas Desa Tika Tukan dengan kemiringan lereng 25 derajat berkaitan dengan alur sungai intermitan yang banjir saat terjadi longsoran.
Secara teknis, kata Setyo dan Eding, kedudukan geografis lokasi tanah longsor Kolilanang berada pada formasi kiro berumur miosen dengan litologi terdiri dari lava, breksi aglomerat bersisipan tuva berbatu apung. Klarifikasi tanah longsor di Desa Kolilanang termasuk fenomena longsoran geseran tanah (sliding) berputar (rotational) dikenal sebagai slumping. Proses longsoran berupa gerakan cepat (rapid) tanpa ditandai gejala rayapan (creep). *

Pindahkan empat rumah

TIM ITN Malang usulkan penanggulangan jangka pendek memindahkan empat rumah yang menjadi korban longsoran, dan menghentikan pembangunan rumah di lokasi itu.
Solusi jangka panjang berupa pembuatan teras bangku dan pembuatan pematang batu kosong pada lokasi di lereng gunung, perbaikan wilayah yang belum longsor, bangun cek dam di wilayah Koli Petung. "Kawasan yang menghadap laut perlu tetap waspada terhadap bahaya longsoran," demikian tim.

Terima laporan
Wakil Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos dikonfirmasi di ruang kerjanya, Sabtu (12/4/2008), mengaku sudah menerima laporan tim ITN Malang terkait bencana tanah longsor di Desa Kolilanang.
"Laporan berisi hal teknis geologi tentang longsor di Kolilanang yang merupakan sebuah bencana alam tanah longsor. Tim juga beri solusi dan penanggulangan bencana alam tanah longsor ke Pemkab Flotim untuk upaya penanggulangan," kata Herin. *


Tidak ada komentar: