Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Hijaukan hutan Raihat

Spirit NTT, 7-13 April 2008

WILAYAH Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, apes benar. Kawasan hutan sudah
dibabat habis. Digunduli oleh eks warga Timor Timur sejak mereka eksodus dari wilayah bekas propinsi ke-72 Indonesia itu pada 1999. Dampaknya mulai terasa. Sebagian sumber mata air di wilayah itu menjadi kering. Camat Reihat, Guido Mauk, di Wemori, ibu kota Kecamatan Reihat, Kamis (3/4/2008), langsung 'curhat' ketika menerima kunjungan tim DPRD NTT yang dipimpin Armindo Mariano Soares (FPG).

Mauk mengatakan, kawasan hutan yang digunduli itu digunakan warga eks Timtim untuk membuka lahan perladangan baru serta membangun pemukiman mereka untuk hidup dan menetap di wilayah itu.
Jumlah warga eks Timtim yang bermukim di wilayah Kecamatan Reihat, kata Mauk, mencapai sekitar 3.000 kepala keluarga (KK) atau seimbang dengan warga lokal yang ada di wilayah kecamatan tersebut.
"Relasi sosial di antara warga lokal dengan para pendatang baru dari Timtim itu sangat baik karena kami sama-sama berasal dari Lorosae (matahari terbit) dengan latar belakang budaya serta adat istiadat yang sama pula," ujarnya.
Dalam kaitan dengan perusakan hutan tersebut, tambahnya, para tua adat (kapitan dan maklaet) diberi peran untuk menghukum warga masyarakat yang suka membabat dan membakar hutan seperti yang dilakukan pada jaman dahulu kala.
"Baik warga lokal maupun para pendatang baru menghormati hukum tersebut, karena sama-sama berasal dari satu budaya dan adat istiadat yang sama," katanya.
Langkah-langkah yang diambil pemerintah saat ini, tambahnya, dengan menanam tanaman baru untuk menggantikan tanaman-tanaman yang sudah digunduli oleh warga eks Timtim.
Reihat merupakan salah satu lumbung pangan di wilayah utara Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Distrik Bobonaro, Timor Leste yang hanya dibatasi oleh kali Malibaca.
Ketua Tim Kunjungan Kerja DPRD NTT, Armindo Mariano Soares, mengatakan, akan meminta bantuan Dinas Kehutanan NTT untuk menyalurkan anakan tanaman ke Reihat guna menghijaukan kembali kawasan hutan yang telah digunduli warga eks Timtim.
Ia juga akan meminta bantuan anakan cendana untuk ditanam di wilayah itu guna mengulangi kejayaan Reihat sebagai salah satu penghasil kayu cendana terbesar di Kabupaten Belu.
"Pohon cendana banyak tumbuh di wilayah ini tetapi semuanya sudah dibabat habis karena tergiur dengan mahalnya harga kayu cendana yang beraroma wangi itu," ujar Camat Reihat, Guido Mauk.

Wadah KUD
Wilayah Kecamatan Reihat merupakan daerah penghasil kemiri, kopi, kacang hijau, padi dan tanaman hortikultura lainnya, namun hasil olahan para petani ini tidak dipasarkan dengan baik karena tidak ada wadah Koperasi Unit Desa (KUD) yang menanganinya.
"Sebelumnya memang ada KUD di Reihat, namun para pengurusnya tidak mau diaudit oleh Dinas Koperasi Kabupaten Belu. Atas dasar itu, saya memilih untuk menutup wadah koperasi tersebut karena tidak ada kejujuran dari para pengurusnya dalam mempertanggungjawabkan usaha yang dijalankan," katanya.
Para pengijon, tambahnya, dengan bebas menentukan harga komoditi yang dijual para petani sehingga tidak ada kestabilan harga yang mengakibatkan para petani rugi.
"Para petani kami tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada wadah yang bisa menampung hasil pertanian mereka. Pembentukan KUD di wilayah ini menjadi sebuah kebutuhan yang cukup mendesak untuk membantu para petani dalam meningkatkan kesejahteraannya," kata Mauk.
Tim kunjungan kerja DPRD NTT juga sempat melakukan dialog dengan para prajurit TNI dari Yonif 743/PSY (Pradnya Samapta Yudha)--pasukan organik Korem 161/Wirasakti Kupang--yang bertugas di Pos Turiskaen yang terletak di pinggir Kali Malibaca.
Dialog ini lebih menyangkut pada masalah keamanan di perbatasan kedua negara serta hubungan kerja sama antara TNI dengan petugas keamanan dari Timor Leste yang mendirikan pos keamanannya di seberang kali Malibaca, lurus dengan Pos Keamanan TNI.
"Hubungan kerja sama di antara TNI dan petugas keamanan dari Timor Leste berjalan baik. Kami biasa main voli bersama, baik di wilayah mereka maupun di wilayah kita. Sekarang kami tidak bisa bertanding karena banjir," ujar seorang perwira di pos keamanan tersebut. (antara)

Tidak ada komentar: