Spirit NTT, 31 Maret - 6 April 2008
LARANTUKA, SPIRIT--Wakil Ketua DPRD Flotim, Drs. Silvester Demon Sabon, membuka Sidang I DPRD Flotim di Gedung Bale Gelekat Lewotana-Larantuka, belum lama ini.
Dalam sambutannya, Demon mengatakan, kita perlu bersyukur dan boleh berbangga karena telah mampu menetapkan APBD 2008 yang menurut penilaian Gubernur NTT selaku Pejabat Binwas bahwa perfomance APBD Flotim patut dicontohi oleh kabupaten lain di NTT karena alokasi anggaran untuk belanja publik lebih besar daripada belanja aparatur. Kendatipun demikian, katanya, yang paling penting adalah bagaimana pelaksanaannya di lapangan agar rakyat merasakannya. "Jadi, sangat bergantung pada beberapa efektifnya kita melakukan pengawasan dan pengendalian," tegasnya.
Bupati Flotim, Drs. Simon Hayon, dalam sambutannya mengajak Dewan terhormat untuk membangun kemitraan dalam mengelola kepemimpinan politik yang sanggup memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, dengan semakin memperkuat semangat "Epu boit gelekat gewayan" melalui "Baun basa koda khirin" (bersatu saling membantu dengan cara membahas dan menentukan bersama) khususnya dalam hal menghasilkan kebijakan-kebijakan tentang pemeberdayaan masyarakat tani nelayan yang merupakan mayoritas penduduk Flotim.
Pembangunan, katanya, yang lebih diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dalam rangka tercapainya visi daerah, tidak saja memerlukan perubahan lingkungan fisik yang semakin baik, melainkan pemeliharaan sikap mental, cara pandang dan cara kerja yang berorientasi pada kehidupan bersama dalam satu kesatuan lamaholot yang layak dan berkelanjutan. Dengan demikian, lanjutnya, Dewan terhormat tidak saja mengawasi pelaksanaan kebijakan, tetapi juga memberikan dorongan kepada segenap warga lamaholot untuk berkanjang menegakan prinsip-prinsip hidup bersama yang layak, berkelanjutan sebagai harta yang diwariskan kepada kita; Tana (h) ihiken selaka, Lewo woraken (Lapiten) belaon.
Bupati Hayon, mengatakan bahwa Tana (h) ihiken selaka, Lewo woraken (Lapiten) belaon, bukanlah sekadar bahasa sastra Lamaholot melainkan sebuah pesan luhur dan mulia bagi kita untuk berkarya dan bekerja demi kesejahteraan serta keselamatan bersama sekaligus demi kemasyuran nama Lewotana Lamaholot (Soga lewotana naran) menjadi sungguh-sungguh nyata.
Bupati Hayon mengatakan, mengerjakan pembangunan dengan berpijak pada sejarah dan kebudayaan yang kita miliki adalah upaya sadar membangkitkan rasa bangga untuk hidup sebagai warga lamaholot; dan dengan begitu mempunyai kepercayaan diri menapak ke depan, meskipun di hadapan kita penuh tantangan dan persaingan. (flotimkab.co.id)
Dalam sambutannya, Demon mengatakan, kita perlu bersyukur dan boleh berbangga karena telah mampu menetapkan APBD 2008 yang menurut penilaian Gubernur NTT selaku Pejabat Binwas bahwa perfomance APBD Flotim patut dicontohi oleh kabupaten lain di NTT karena alokasi anggaran untuk belanja publik lebih besar daripada belanja aparatur. Kendatipun demikian, katanya, yang paling penting adalah bagaimana pelaksanaannya di lapangan agar rakyat merasakannya. "Jadi, sangat bergantung pada beberapa efektifnya kita melakukan pengawasan dan pengendalian," tegasnya.
Bupati Flotim, Drs. Simon Hayon, dalam sambutannya mengajak Dewan terhormat untuk membangun kemitraan dalam mengelola kepemimpinan politik yang sanggup memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, dengan semakin memperkuat semangat "Epu boit gelekat gewayan" melalui "Baun basa koda khirin" (bersatu saling membantu dengan cara membahas dan menentukan bersama) khususnya dalam hal menghasilkan kebijakan-kebijakan tentang pemeberdayaan masyarakat tani nelayan yang merupakan mayoritas penduduk Flotim.
Pembangunan, katanya, yang lebih diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dalam rangka tercapainya visi daerah, tidak saja memerlukan perubahan lingkungan fisik yang semakin baik, melainkan pemeliharaan sikap mental, cara pandang dan cara kerja yang berorientasi pada kehidupan bersama dalam satu kesatuan lamaholot yang layak dan berkelanjutan. Dengan demikian, lanjutnya, Dewan terhormat tidak saja mengawasi pelaksanaan kebijakan, tetapi juga memberikan dorongan kepada segenap warga lamaholot untuk berkanjang menegakan prinsip-prinsip hidup bersama yang layak, berkelanjutan sebagai harta yang diwariskan kepada kita; Tana (h) ihiken selaka, Lewo woraken (Lapiten) belaon.
Bupati Hayon, mengatakan bahwa Tana (h) ihiken selaka, Lewo woraken (Lapiten) belaon, bukanlah sekadar bahasa sastra Lamaholot melainkan sebuah pesan luhur dan mulia bagi kita untuk berkarya dan bekerja demi kesejahteraan serta keselamatan bersama sekaligus demi kemasyuran nama Lewotana Lamaholot (Soga lewotana naran) menjadi sungguh-sungguh nyata.
Bupati Hayon mengatakan, mengerjakan pembangunan dengan berpijak pada sejarah dan kebudayaan yang kita miliki adalah upaya sadar membangkitkan rasa bangga untuk hidup sebagai warga lamaholot; dan dengan begitu mempunyai kepercayaan diri menapak ke depan, meskipun di hadapan kita penuh tantangan dan persaingan. (flotimkab.co.id)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar