Spirit NTT, 14-20 April 2008
STUDI Banding Tim Komisi B DPRD Propinsi NTT ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), tanggal 18 - 20 Maret 2008, mengambil hikmah sistim budidaya itik, kerbau dan ikan. Tim Studi Banding DPRD NTT terdiri dari Ir. Yucundianus Lepa sebagai ketua rombongan, beranggotakan Daniel Polin, M. Jack Kasman, S.Ip, Ray Miten Fransiscus, Maternus Bili, B.Sc, Pata Vinsensius, S.H, MM, Drs. Thomas Taebenu, Drs. Yohanes Lake, Anselmus Tallo, SE, didampingi Staf Setwan Propinsi NTT, Rosa Dalima Toni, Ruvina M Bhette, SE, D Pascalis Temaluru, serta Dinas Kimpraswil Propinsi NTT, Ir. M. Ali Arifin, M.Si, Ir. OJ Tambunan, Ir. Arlan Lussy, Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi NTT, Ir. Alex Djari dan Dinas Peternakan Propinsi NTT, Ir. MS Pampan.
Kegiatan selama di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), dibagi dalam dua tahap diawali tatap muka dengan Kepala Dinas Kimpraswil Propinsi Kalsel, Kepala Dinas Peternakan Propinsi Kalsel, Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalsel, dan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Popinsi Kalsel, selanjutnya peninjauan ke lapangan.
Pada saat bertatap muka dengan Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Kalsel di ruang rapat Dinas Peternakan, dihadiri Kadis Perikanan, Kelautan Propinsi Kalsel dan Kadis Pertambangan dan Energi Propinsi Kalsel, seperti disaksikan SPIRIT NTT, Ketua Tim, Ir. Yucun Lepa, M.Si, mengatakan, Propinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi peternakan dan perikanan yang hampir sama dengan NTT. Komisi B ingin belajar hal-hal yang mungkin didiskusikan dan dipelajari untuk dirumuskan dalam kebijakan pembangunan di NTT, serta memohon masukan informasi yang diperlukan sebagai pembanding, sekaligus jika diperkenankan pendampingan peninjauan langsung ke lapangan, terutama ke lokasi-lokasi terdekat.
Dalam pemaparan singkat kepada tim, Kadis Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan, mengatakan, itik alobio, anas platyrhincos borneo dan kerbau rawa, bubalus carabanensis, merupakan asset asli (plasma nutfah) Propinsi Kalimantan Selatan.
Kedua jenis hewan tersebut merupakan salah satu komoditas yang diandalkan di Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), selain industri batu bara dan batu permata.
Itik alabio, anas platyrhincos Borneo, menampilkan ciri-ciri bentuk tubuh garis segitiga, kepala kecil yang membesar ke bawah, sudut lebih kurang 600 dengan dasar tanah, banyak dipelihara dan dibudidayakan masyarakat di daerah Kalsel sebagai penghasil telur, baik telur tetas maupun telur konsumsi. Apabila masa produksi telah selesai atau pasca produksi, itik-itik betina akan segera diafkir dan dijual sebagai itik potong.
Pakan lokal untuk itik alabio yang umum digunakan di daerah Kalimantan Selatan adalah dedak, sagu, ikan, padi, siput air, hijauan. Sedangkan di daerah lahan kering seperti Kabupaten Tanah Laut dan Tapin Kadang, digunakan singkong atau ubi kayu.
Dengan memelihara itik alabio sebagai itik petelur dapat memberikan sumbangan ekonomi sebesar 42 persen dari total penerimaan usaha tani petani di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Hal ini diperkuat dengan laporan yang disampaikan Fakrhiansyah pada tahun 1992.
Sedangkan kerbau rawa, bubalus carabanensis, lanjut Kadis, sudah lama beradaptasi dan berkembang biak pada daerah rawa-rawa monoton yang tidak diusahakan, dimana luasnya 2.651.002 ha yang tersebar pada lima kabupaten.
Ciri spesifik kerbau rawa, tanduk melingkar panjang ke belakang, warna abu-abu coklat. Bentuk tubuhnya yang gempal, padat dan berisi, membuktikan kerbau rawa dengan mikrobia rumen yang dimilikinya mampu mengubah pakan berkualitas rendah berupa rumput dan pakan lain di alam bebas menjadi daging. Hidupnya secara berkelompok, satu kelompok biasanya terdapat satu/dua penggembala yang sangat dipatuhi oleh kerbau.
Pada musim datang air (rintak), saat ketersediaan pakan terbatas, kerbau rawa sibuk mencari pakan rumput dan jenis lainnya dengan daya jelajah yang cukup jauh bahkan menyelam untuk mengambil rumput di dasar danau. Kerbau rawa suka mencari dataran-dataran tinggi yang cukup banyak tersedia rumput.
Untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu genetik akibat tingginya pemotongan, dibentuk sentra pembibitan dan pengembangan kerbau rawa, dengan melakukan persilangan untuk menghasilkan produksi daging dan susu, serta seleksi dan pengkajian tentang kemungkinan kerbau rawa dapat lebih mudah untuk didomestikasi, sehingga dapat dipelihara secara intensif.
Kadis Perikanan dan Kelautan, mengatakan, dalam pembudidayaan ikan air tawar, khusus ikan patin memerlukan kolam/tambak dengan ketersediaan air (mengalir) yang cukup dan kontinyu karena ikan ini sulit hidup dan berkembang pada air yang tidak mengalir, keruh atau kotor. Rata-rata kedalaman kolam/tambak kurang lebih dua meter, dengan ketinggian air 1,5 meter. Pakan yang digunakan 60 persen ikan kering, 20 persen dedak, dan 20 persen bungkil kelapa.
Ikan patin dapat dipanen ketika berusia satu tahun, mulai dari anakan, dengan berat berkisar 3-4 kg. Selain untuk kebutuhan dalam daerah, hasil panen ikan patin juga dikirim ke daerah-daerah lain di luar Kalsel.
Menurut penelitian, lanjut kadis, ikan patin sangat baik dikonsumsi oleh orang yang pasca operasi karena dagingnya mengandung zat yang dapat membentuk sel baru sehingga mempercepat proses penyembuhan.
Ir. Yucundianus Lepa, M.Si, mengucapkan terima kasih, walaupun dengan keterbatasan waktu, informasi yang diberikan dan diperoleh, cukup padat dan jelas, dan berharap pemaparan ini dapat dipelajari dan didiskusikan lebih lanjut dalam peninjauan di lapangan sebagai pembanding untuk diterapkan sebagai kebijakan pembangunan di NTT.
Selanjutnya, tim diantar petugas dari dinas tekait melakukan peninjauan ke lokasi-lokasi terdekat. (pascal/humas dprd ntt)
STUDI Banding Tim Komisi B DPRD Propinsi NTT ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), tanggal 18 - 20 Maret 2008, mengambil hikmah sistim budidaya itik, kerbau dan ikan. Tim Studi Banding DPRD NTT terdiri dari Ir. Yucundianus Lepa sebagai ketua rombongan, beranggotakan Daniel Polin, M. Jack Kasman, S.Ip, Ray Miten Fransiscus, Maternus Bili, B.Sc, Pata Vinsensius, S.H, MM, Drs. Thomas Taebenu, Drs. Yohanes Lake, Anselmus Tallo, SE, didampingi Staf Setwan Propinsi NTT, Rosa Dalima Toni, Ruvina M Bhette, SE, D Pascalis Temaluru, serta Dinas Kimpraswil Propinsi NTT, Ir. M. Ali Arifin, M.Si, Ir. OJ Tambunan, Ir. Arlan Lussy, Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi NTT, Ir. Alex Djari dan Dinas Peternakan Propinsi NTT, Ir. MS Pampan.
Kegiatan selama di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), dibagi dalam dua tahap diawali tatap muka dengan Kepala Dinas Kimpraswil Propinsi Kalsel, Kepala Dinas Peternakan Propinsi Kalsel, Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Kalsel, dan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Popinsi Kalsel, selanjutnya peninjauan ke lapangan.
Pada saat bertatap muka dengan Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Kalsel di ruang rapat Dinas Peternakan, dihadiri Kadis Perikanan, Kelautan Propinsi Kalsel dan Kadis Pertambangan dan Energi Propinsi Kalsel, seperti disaksikan SPIRIT NTT, Ketua Tim, Ir. Yucun Lepa, M.Si, mengatakan, Propinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi peternakan dan perikanan yang hampir sama dengan NTT. Komisi B ingin belajar hal-hal yang mungkin didiskusikan dan dipelajari untuk dirumuskan dalam kebijakan pembangunan di NTT, serta memohon masukan informasi yang diperlukan sebagai pembanding, sekaligus jika diperkenankan pendampingan peninjauan langsung ke lapangan, terutama ke lokasi-lokasi terdekat.
Dalam pemaparan singkat kepada tim, Kadis Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan, mengatakan, itik alobio, anas platyrhincos borneo dan kerbau rawa, bubalus carabanensis, merupakan asset asli (plasma nutfah) Propinsi Kalimantan Selatan.
Kedua jenis hewan tersebut merupakan salah satu komoditas yang diandalkan di Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), selain industri batu bara dan batu permata.
Itik alabio, anas platyrhincos Borneo, menampilkan ciri-ciri bentuk tubuh garis segitiga, kepala kecil yang membesar ke bawah, sudut lebih kurang 600 dengan dasar tanah, banyak dipelihara dan dibudidayakan masyarakat di daerah Kalsel sebagai penghasil telur, baik telur tetas maupun telur konsumsi. Apabila masa produksi telah selesai atau pasca produksi, itik-itik betina akan segera diafkir dan dijual sebagai itik potong.
Pakan lokal untuk itik alabio yang umum digunakan di daerah Kalimantan Selatan adalah dedak, sagu, ikan, padi, siput air, hijauan. Sedangkan di daerah lahan kering seperti Kabupaten Tanah Laut dan Tapin Kadang, digunakan singkong atau ubi kayu.
Dengan memelihara itik alabio sebagai itik petelur dapat memberikan sumbangan ekonomi sebesar 42 persen dari total penerimaan usaha tani petani di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Hal ini diperkuat dengan laporan yang disampaikan Fakrhiansyah pada tahun 1992.
Sedangkan kerbau rawa, bubalus carabanensis, lanjut Kadis, sudah lama beradaptasi dan berkembang biak pada daerah rawa-rawa monoton yang tidak diusahakan, dimana luasnya 2.651.002 ha yang tersebar pada lima kabupaten.
Ciri spesifik kerbau rawa, tanduk melingkar panjang ke belakang, warna abu-abu coklat. Bentuk tubuhnya yang gempal, padat dan berisi, membuktikan kerbau rawa dengan mikrobia rumen yang dimilikinya mampu mengubah pakan berkualitas rendah berupa rumput dan pakan lain di alam bebas menjadi daging. Hidupnya secara berkelompok, satu kelompok biasanya terdapat satu/dua penggembala yang sangat dipatuhi oleh kerbau.
Pada musim datang air (rintak), saat ketersediaan pakan terbatas, kerbau rawa sibuk mencari pakan rumput dan jenis lainnya dengan daya jelajah yang cukup jauh bahkan menyelam untuk mengambil rumput di dasar danau. Kerbau rawa suka mencari dataran-dataran tinggi yang cukup banyak tersedia rumput.
Untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu genetik akibat tingginya pemotongan, dibentuk sentra pembibitan dan pengembangan kerbau rawa, dengan melakukan persilangan untuk menghasilkan produksi daging dan susu, serta seleksi dan pengkajian tentang kemungkinan kerbau rawa dapat lebih mudah untuk didomestikasi, sehingga dapat dipelihara secara intensif.
Kadis Perikanan dan Kelautan, mengatakan, dalam pembudidayaan ikan air tawar, khusus ikan patin memerlukan kolam/tambak dengan ketersediaan air (mengalir) yang cukup dan kontinyu karena ikan ini sulit hidup dan berkembang pada air yang tidak mengalir, keruh atau kotor. Rata-rata kedalaman kolam/tambak kurang lebih dua meter, dengan ketinggian air 1,5 meter. Pakan yang digunakan 60 persen ikan kering, 20 persen dedak, dan 20 persen bungkil kelapa.
Ikan patin dapat dipanen ketika berusia satu tahun, mulai dari anakan, dengan berat berkisar 3-4 kg. Selain untuk kebutuhan dalam daerah, hasil panen ikan patin juga dikirim ke daerah-daerah lain di luar Kalsel.
Menurut penelitian, lanjut kadis, ikan patin sangat baik dikonsumsi oleh orang yang pasca operasi karena dagingnya mengandung zat yang dapat membentuk sel baru sehingga mempercepat proses penyembuhan.
Ir. Yucundianus Lepa, M.Si, mengucapkan terima kasih, walaupun dengan keterbatasan waktu, informasi yang diberikan dan diperoleh, cukup padat dan jelas, dan berharap pemaparan ini dapat dipelajari dan didiskusikan lebih lanjut dalam peninjauan di lapangan sebagai pembanding untuk diterapkan sebagai kebijakan pembangunan di NTT.
Selanjutnya, tim diantar petugas dari dinas tekait melakukan peninjauan ke lokasi-lokasi terdekat. (pascal/humas dprd ntt)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar