Spirit NTT, 14-20 April 2008
LARANTUKA, SPIRIT--JakArt, sebuah kelompok seni yang terdiri dari Mikhail David (visual art) serta dua musisi klasik, Ary Sutedja (pianis) dan Asep Hidayat (cellis), Selasa (25/3/2008) malam tampil di Gedung Wanita Ina Mandiri Larantuka mengawali ASAH Indonesia Tour II, yang menurut rencana mengunjungi 25 kota di Indonesia.
Mereka tampil membawakan beberapa komposisi lama, di antaranya karya komponis besar Ludwig van Beethoven serta dua komposisi Indonesia, yaitu Gita Malam karya Badjuri dan Djauhari serta Wanita karya komponis Ismail Marzuki. Penampilan JakArt ini memberi nuansa tersendiri bagi warga Larantuka yang belum terbiasa mendengar musik klasik. Penampilan Ary pada piano dan Asep pada cello yang berkolaborasi dengan Mikhail David bersama kedua anaknya melalui pertunjukan visual art di kanvas putih berukuran besar yang menjadi latar belakang panggung pertunjukan, membuat penonton benar-benar menyaksikan sebuah ekspresi yang bebas.
"Sangat luar biasa, karena disaat konsentrasi saya sedang diarahkan untuk mendengarkan musik yang dimainkan Ary dan Asep, saat yang bersamaan mata dan pikiran saya juga diarahkan untuk menikmati pertunjukan visual yang ditampilkan Mikhail David dan dua2 asistennya tadi," kata Romo Eman Temaluru.
Sementara Hieronimus Miten Bao mengaku dibuat gila oleh penampilan para seniman musik dan seniman visual ini. "Darah saya sepertinya ikut mengalir bersama permainan musik dan pertunjukan seni visual malam ini. Ini memang gila, dan membuat saya seperti gila, karena memang tidak terbiasa menyaksikan konser seperti ini," katanya.
Selain musik klasik, kelompok JakArt juga menampilkan satu nomor musik jazz standar yang dimainkan musisi asal negeri Belanda kelahiran Jakarta 25 Februari 1957, Rene van Helsdingen.
Ary Sutedja usai pertunjukan mengatakan, konser di Larantuka ini adalah awal dari rencana tour mereka di 25 kota di Indonesia. Setelah Larantuka, ASAH Indonesia tampil di Seminari Tinggi Ledalero, selanjutnya di Universitas Flores-Ende, lalu ke Semanari Mataloko- Ngada. Mereka juga akan tampil di Aula Serbaguna Gereja Pola-Kalabahi, Universitas Nusa Cendana-Kupang. Rencana tour mereka di NTT akan berakhir di Waikabubak pada 8 April nanti, untuk selanjutnya ke NTB, Sumatra Barat, Ambon, Papua serta Ternate.
Kota-kota lain yang akan disinggahi dalam lawatan mereka tahun ini adalah Mataram, Bima, Bali, Medak, Pekanbaru, Jambi, Solo, Gorontalo, Manado, Makassar, Palangkaraya, Pontianak, Bandung, Semarang, Surabaya dan akan berakhir di Yogyakarta.
Pater Emanuel Wero, SVD yang berupaya menghadirkan kelompok seni ini di Larantuka menyebutkan bahwa, pada tahun 2007 lalu kelompok ini juga pernah tampil di Flores. "Tapi waktu itu mereka hanya tampil di (Seminari Tinggi) Ledalero," kata Pater Eman Wero.
Kelompok JakArt telah memulai serangkaian konsernya di 20 kota di Indonesia selama 2006-2007 lalu, dalam rangka memperkenalkan jenis musik klasik kepada masyarakat luas. Di sisi lain, konser keliling yang mereka lakukan ini juga bertujuan untuk menggugah nalar kritis penonton dalam dialog serta happening arts, dimana Mikhael melukiskan atmosfer yang terjadi selama konser berlangsung, secara spontan di atas kanvas.
Konser ini sendiri selain sebagai tampilan perdana JakArt untuk rangkaian ASAH Indonesia Tour II, juga merupakan penampilan seniman bertaraf internasional pertama kali di Larantuka.
Sayangnya, pertunjukan itu sendiri kurang mendapat perhatian penonton. Apakah ini membenarkan anggapan bahwa musik klasik hanya bisa dinikmati oleh kalangan elite dan diselenggarakan di kota-kota besar saja? JakArt mampu menjawab tantangan ini. (peren lamanepa/ntt online)
LARANTUKA, SPIRIT--JakArt, sebuah kelompok seni yang terdiri dari Mikhail David (visual art) serta dua musisi klasik, Ary Sutedja (pianis) dan Asep Hidayat (cellis), Selasa (25/3/2008) malam tampil di Gedung Wanita Ina Mandiri Larantuka mengawali ASAH Indonesia Tour II, yang menurut rencana mengunjungi 25 kota di Indonesia.
Mereka tampil membawakan beberapa komposisi lama, di antaranya karya komponis besar Ludwig van Beethoven serta dua komposisi Indonesia, yaitu Gita Malam karya Badjuri dan Djauhari serta Wanita karya komponis Ismail Marzuki. Penampilan JakArt ini memberi nuansa tersendiri bagi warga Larantuka yang belum terbiasa mendengar musik klasik. Penampilan Ary pada piano dan Asep pada cello yang berkolaborasi dengan Mikhail David bersama kedua anaknya melalui pertunjukan visual art di kanvas putih berukuran besar yang menjadi latar belakang panggung pertunjukan, membuat penonton benar-benar menyaksikan sebuah ekspresi yang bebas.
"Sangat luar biasa, karena disaat konsentrasi saya sedang diarahkan untuk mendengarkan musik yang dimainkan Ary dan Asep, saat yang bersamaan mata dan pikiran saya juga diarahkan untuk menikmati pertunjukan visual yang ditampilkan Mikhail David dan dua2 asistennya tadi," kata Romo Eman Temaluru.
Sementara Hieronimus Miten Bao mengaku dibuat gila oleh penampilan para seniman musik dan seniman visual ini. "Darah saya sepertinya ikut mengalir bersama permainan musik dan pertunjukan seni visual malam ini. Ini memang gila, dan membuat saya seperti gila, karena memang tidak terbiasa menyaksikan konser seperti ini," katanya.
Selain musik klasik, kelompok JakArt juga menampilkan satu nomor musik jazz standar yang dimainkan musisi asal negeri Belanda kelahiran Jakarta 25 Februari 1957, Rene van Helsdingen.
Ary Sutedja usai pertunjukan mengatakan, konser di Larantuka ini adalah awal dari rencana tour mereka di 25 kota di Indonesia. Setelah Larantuka, ASAH Indonesia tampil di Seminari Tinggi Ledalero, selanjutnya di Universitas Flores-Ende, lalu ke Semanari Mataloko- Ngada. Mereka juga akan tampil di Aula Serbaguna Gereja Pola-Kalabahi, Universitas Nusa Cendana-Kupang. Rencana tour mereka di NTT akan berakhir di Waikabubak pada 8 April nanti, untuk selanjutnya ke NTB, Sumatra Barat, Ambon, Papua serta Ternate.
Kota-kota lain yang akan disinggahi dalam lawatan mereka tahun ini adalah Mataram, Bima, Bali, Medak, Pekanbaru, Jambi, Solo, Gorontalo, Manado, Makassar, Palangkaraya, Pontianak, Bandung, Semarang, Surabaya dan akan berakhir di Yogyakarta.
Pater Emanuel Wero, SVD yang berupaya menghadirkan kelompok seni ini di Larantuka menyebutkan bahwa, pada tahun 2007 lalu kelompok ini juga pernah tampil di Flores. "Tapi waktu itu mereka hanya tampil di (Seminari Tinggi) Ledalero," kata Pater Eman Wero.
Kelompok JakArt telah memulai serangkaian konsernya di 20 kota di Indonesia selama 2006-2007 lalu, dalam rangka memperkenalkan jenis musik klasik kepada masyarakat luas. Di sisi lain, konser keliling yang mereka lakukan ini juga bertujuan untuk menggugah nalar kritis penonton dalam dialog serta happening arts, dimana Mikhael melukiskan atmosfer yang terjadi selama konser berlangsung, secara spontan di atas kanvas.
Konser ini sendiri selain sebagai tampilan perdana JakArt untuk rangkaian ASAH Indonesia Tour II, juga merupakan penampilan seniman bertaraf internasional pertama kali di Larantuka.
Sayangnya, pertunjukan itu sendiri kurang mendapat perhatian penonton. Apakah ini membenarkan anggapan bahwa musik klasik hanya bisa dinikmati oleh kalangan elite dan diselenggarakan di kota-kota besar saja? JakArt mampu menjawab tantangan ini. (peren lamanepa/ntt online)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar