Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Talas, pangan alternatif pengganti beras

Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT, 17-23 Maret 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Kantor Informasi Penyuluh Pertanian (KIPP) Kabupaten Sumba Timur, Senin (10/3/2008), menggalakkan penanaman 1.000 talas di Desa Mbatakapidu, Kecamatan Kota Waingapu. Penamaman talas ini sebagai persediaan pangan alternatif dalam upaya mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras.
Talas dipilih sebagai tanaman pengganti padi karena gampang tumbuh di semua lokasi, mudah pengolahannya, tidak dimakan ternak dan produksinya tinggi. Pencanangan penanaman 1.000 pohon talas di Desa Mbatakapidu dilakukan oleh Kepala KIPP Sumba Timur, Ir. Makahar Djawarai bersama Camat Waingapu, Frengky Ranggambani. Turut hadir, Pdt. Ilias Rawambani, petugas dari Badan Bimmas Ketahanan Pangan Sumba Timur, dan Penyuluh Lukas Rendamalo.Penanaman dilakukan di lokasi Kelompok Tani Tapa Walla Badi, Mbatakapidu.
Kepala KIPP, Makahar Djawarai, mengatakan, tahun ini pihaknya menyiapkan 1.325 anakan keladi yang diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat melalui kelompok tani
dengan jumlah anakan per keluarga 50 sampai 100 anakan. Tanaman keladi, jelas Djawarai, dipilih untuk dikembangkan di Mbatakapidu karena tanaman ini gampang tumbuh,
produksinya tinggi yakni sekali tanam bisa berkali-kali panen, mudah pengolahannya dan mudah pemeliharaannya karena tidak dimakan oleh ternak kambing, sapi atau kuda.
Dia mengatakan, pada tahap pertama ini yang ditanam 1.325 anakan dan pasti berkembang menjadi banyak. Pengembangan keladi ini, kata Djawarai, dalam rangka menjawab kekurangan pangan akibat curah hujan di Sumba Timur yang tidak menentu.
Lukas Rendamalo mengatakan, satu anakan talas mampu menghasilkan 12 umbi, bahkan lebih sekali panen. Kelebihan talas ialah sekali tanam bisa panen berkali-kali. Pemeliharaannya pun tidak membutuhkan biaya besar. Tanaman talas bisa dipanen dalam waktu sembilan bulan dan lebih baik dipanen pada musim panas. Lukas memprediksikan talas yang ditanam hari itu sudah bisa panen pada Oktober mendatang.
Selain talas, kata Lukas, pihaknya juga tengah mengembangkan tanaman umur panjang yakni mahoni, jati putih dan jati emas. Dan, dalam waktu dekat akan dikembangkan peternakan ayam buras.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bersama Mbatakapidu, Umbu Taratau Ngunju Awang atau biasa disapa Umbu Deky mengatakan, dengan kondisi topografi di Mbatakpidu yang sebagian besar berbukit maka pengembangan ke depan sebaiknya difokuskan pada tanaman kehutanan seperti jati dan mahoni. Saat ini, kata Umbu Deki,
Gapoktan Bersama Desa Mbatakapidu telah menanam sekitar 900 pohon mahoni, juga jati emas dan jati putih. Ia berharap dengan ketersediaan lahan yang masih luas, tanaman tersebut masih bisa dikembangkan di Mbatakapidu.
Sementara untuk dataran rendah, pihaknya bersama kelompok tani yang ada telah mengembangkan tanam pisang, talas atau keladi. Berbagai kegiatan ini, kata Umbu Deki,
diharapkan bisa membawa perubahan bagi masyarakat setempat dan mampu memenuhi kebutuhan pangan warga setempat. *

Tidak ada komentar: