Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sejarah singkat Kabupaten Belu (1)

Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

* Gambaran umum masyarakat Belu
DITINJAU dari segi budaya dan antropologis, penduduk Kabupaten Belu dalam susunan masyarakatnya terbagi atas empat sub etnik yang besar, yaitu Ema Tetun, Ema Kemak, dan Ema dawan Manlea.
Keempat sub etnik mendiami lokasi-lokasi dengan karerkteristik tertentu dengan kekhasan penduduk bermayoritas penganut agama Kristen Katolik. Masing-masing etnik tersebut mempunyai bahasa dan praktek budaya yang saling berbeda satu sama lain dan kesamaan dilain segi.
Kendati demikian masyarakat Belu dapat dengan mudah hidup rukun dikarenakan aspek kesamaan-kesamaan spesifik. Mata Pencaharian utama adalah bertani yang masih dikerjakan secara ekstensif tradisional.
Dari aspek ekologis, kondisi tanah Belu sangat subur karena selain memiliki lapisan tanah jenis berpasir dan hitam juga dikondisikan dengan curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun. Daerah Belu yang subur tersebut membuatnya potensial untuk dikembangkan menjadi daerah peternakan dan pertanian.
Sub sektor perikanan dengan kawasan pantai yang membentang dari Belu bagian selatan sampai utara turut mempengaruhi pemerataan pekerjaan dan pendapatan.
Selain itu, dari sub sektor kehutanan kontribusi yang diperoleh juga signifikan dengan beberapa jenis pohon produktif seperti cendana, eukaliptus, kayu merah dan jati.
Dari sektor dan sub sektor lainnya seperti perdagangan dan jasa, industri dan lainnya juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan PDRB dan peningkatan PAD.
* Sejarah singkat orang Belu
Sesuai berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah di Belu, manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah 'Suku Melus.' Orang Melus dikenal dengan sebutan Emafatuk oan ai oan (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar orangnya dan bertubuh pendek.
Selain para pendatang, yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari Sina Mutin Malaka. Malaka sebagai tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka.
Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati Demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.
Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga saudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan.
Dari makoan Fatuaruin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbay (Dawan). Namun menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Naik.
Bahwa para pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dan masyarakatnya. Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan.
Sedangkan dari semua pendatang di Belu itu pimpinan dipegang oleh Maromak Oan Liurai Nain di Belu bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing Maromak Oan kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Belu, maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Fatuaruin, Sonabi dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali.
Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana yang terjadi sekarang.
Menurut para sejarahwan, pembagian Belu menjadi Belu bagian selatan dan utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan Belanda untuk mempermudah sistem pengontrolan terhadap masyarakatnya.
Dalam keadaan pemerintahan adat tersebut muncullah siaran dari pemerintah raja-raja dengan apa yang disebutnya Zaman Keemasan Kerajaan. Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Belu). Di Dawan ada kerajaan Sonbay yang berkuasa di daerah Mutis. Daerah Dawan termasuk Miamafo dan Dubay sekitar 40.000 jiwa masyarakatnya.
Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Sang Maromak Oan mengirim para pembantunya ke seluruh Belu sebagai Loro dan Liurai.
Tercatat nama-nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak.
Selain itu, ada juga nama seperti Dafala, manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.
Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As Tanara membawahi Dasi Sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat, Asumanu, Lasaka, Dafala, Manukleten, Sobau, LIdak, Tohe Manumutin, dan Aitoon.
Dalam berbagai penuturan di utara maupun di selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain.
Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal รป usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah. (sumber: Bappeda Kabupaten Belu) (pde@belukab.go.id/bersambung)

6 komentar:

Manuel mengatakan...

Bohong, sejak kapan orang Belu mengakui adanya raja Wehali? Raja Wehali adalah buatan Belanda. Untuk kebudayaan Belu seluruhnya di Pulau Timor, hanya ada dua pusat kerajaan dan pusat kebudayaan sekaligus pusat Leluhur Belu yang mayoritas berbahasa Tetun Belu: yakni: Manu AmanLakaan di Tanah Belu sekarang (nama Malakan datang dari nama itu...) dan Fohoren Nutetu... Belum dikembangkan secara maksimal, namun kita tidak bisa mengingkari sejarah yang tulus tanpa campur tangan penjajah: Di Tanah Timor, kalau orang berbicara Bahasa Tetun Belu, hanya ada dua dialek utama: Tetun Belu Tasifeto, seluruhnya berpusat di Lakaan, Lahurus sekarang, dan Tetun Belu Tasimane, seluruhnya berpusat di Fohoren-Fatumea. Selebihnya, adalah anak, cucu, cece, yang baru berkembang... tapi seperti kacang lupa kulit. Orang Belu Selatan itu asalnya dari Gunung Lakaan dan Fohoren koook? Mau tipu? Mati cepat nantinya..... Kamu yang di Belu selatan tuh semuanya pendatang dari arah Gunung dan cenderung dari arah Timur (Lakaan dan Fohoren)... Tanya pada tua-tua, benar apa tidak... Selamat menggapai kebenaran sejarah sesungguhnya.... Salam.... Manuel Manunut.

Manuel mengatakan...

Foin wa'i daudaukan, la natene sa ida, dale nabolo-an, dale la natene-an, dale nalu'a-an.... Moe lalek....

Kupang mengatakan...

Dear gentlemen;

Interesting you are interested in the Belu sejarah,.So I am and Dr. Hagerdal from Sweden.
Maybe we can exchange information.

Hormat saya:
D.P. Tick grMK
(Anggota Kerabat Istana Kupang(Sonaf KotaE Bakunase))
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
pusaka.tick@tiscali.nl
www.royaltimor.com
Vlaardingen/Belanda

Manuamanlakaan Nain mengatakan...

Sejarah singkat Kabupaten Belu, sumbernya dari Bapeda dan tersebar di Internet. Heran dan lucu tulisan yang tidak bermutu seperti ini bisa dimuat di internet, yang nota bene dibaca di seluruh dunia. tetapi tulisan itu menarik untuk didimak, dan semoga membangkitkan semangat orang Belu untuk mempelajari sejarahnya sendiri secara objektif - ilmiah. Numpang tanya saja: suatu ketika dua orang terkemuka dari Lasiolat (Lahurus)berjalan pulang dari We Biku ke Fialaran, di Laran merke melihat maromak oan yang tidak mereka kenal dan mereka menyapa dia: Ambei, o moi malo sa?. Maroma oan tersinggung dan menyuruh para hambanya menyiksa kedua orang itu. Keduanya Kemudian melaporkan hal itu ke Loro Lakekun, Loro Lakekun menyampaikan kepada Loro WE Biku, keduanya mengumpulkan para Meo dan menyerang Maromak oan dan Liurainya di Wehali. Maromak Oan lari ke Rai Sikun. Liurainya lari ke Insana, kemudian pulang tetapi hanya tinggal di Fatu Aruin. Ko Maromak oan takut orang Fialaran? Loro Lakekun waktu itu berasal dari Fialaran atau dari mana?? Ke mereka yang dikatakan Loro bawahan dari Maromak Oan berani menyerang maromak Oan?. Cerita ini kamu yang muda tidak tahu.... kalau tidak jujur... dan tidak bolak-balik sejarah.

Putra Daerah Belu-NTT mengatakan...

Saya sering mendengar cerita dan membaca informasi mengenai sejarah daerah Belu dari berbagai sumber dengan versinya masing-masing. Dan yang menarik adalah terdapat persamaan dan perbedaan dalam hal-hal tertentu.
Untuk itu saya sebagai Putra daerah Belu dari pulau seberang menghimbau kepada kita semua para pemerhati Sejarah Belu untuk bersama-sama menyusun program daerah bekerja sama dengan instansi terkait dengan melibatkan tokoh adat, akademisi dan intelektual muda untuk mengiventarisir data/dokument penting terkait sejarah Belu dan selanjutnya bersama-sama merangkai secara berurutan serta objektif dan transparan. Tujuan akhirnya adalah mendapatkan satu-kesatuan pemahaman mengenai sejarah daerah Belu tercinta.
Sampai kapan kita terus-menerus mempertahankan perbedaan ini. kita boleh berbeda dalam hal ide, pendapat dan pemikiran tapi alangkah bodohnya kita kalau berbeda dalam hal identitas dan jati diri kita... saya tidak bisa membayangkan kalau suatu saat nanti perbedaan ini berbuah menjadi polemik yang berkepanjangan.
Sekaranglah saatnya kita menyelesaikan perbedaan pemahaman mengenai sejarah daerah Belu.. siapa yang setuju dengan ide saya tolong kirim tanggapan balik.

Anonim mengatakan...

Dear all;

To exchange info and old pictures(I hope really exchange/sorry)and info about present rajas of all Bedlu kerajaan2,pleasew rite to:
DP Tick gRMK
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
pusaka.tick@tiscali.nl
http://kerajaan-indonesia.blogspot.com
www.royaltimor.com