Spirit NTT, 10-16 Maret 2008
DI LARANTUKA, ibu kota Kabupaten Flores Timur, kota tua yang dibangun Portugis sejak abad ke-16, tidak ada pecinan. Tidak ada kelenteng. Tapi orang Tionghoa tinggal di kawasan Jalan Niaga, pusat pertokoan dan perdagangan di Larantuka. Kawasan ini juga dekat pelabuhan, hanya 10-50 meter saja dari laut.
Beta belum sempat cek sejarah kapan orang-orang Tionghoa masuk ke Flores. Tapi bisa dipastikan jauh sebelum kemerdekaan 1945. Sebab, pada saat diasingkan di Flores pada 1934-1938, Soekarno (Bung Karno) mengaku banyak berinteraksi dengan orang-orang Tionghoa di Ende. Bisa dipastikan warga Tionghoa pun sudah ada di Larantuka yang sejak zaman Portugis dikenal sebagai kota pelabuhan.
Adapun pusat perdagangan di Jalan Niaga Larantuka baru berkembang pada awal 1970-an. Baba-baba Tionghoa (orang Flores menyebut orang Tionghoa laki-laki dengan BABA, perempuan dengan NONA) membuka toko sederhana di Jalan Niaga, Kelurahan Postoh. Barang-barang dipasok dari Surabaya. Tiap hari kapal-kapal bongkar-muat di pelabuhan, Larantuka-Surabaya. Dari Flores muat hasil bumi, dari Surabaya bawa barang-barang dagangan.
Jangan heran nama-nama toko di Larantuka banyak mengadopsi nama-nama jalan atau tempat terkenal di Surabaya. Contohnya, Toko Tanjungsari, yang terkenal itu. Eh, sekarang baru beta tahu Tanjungsari itu nama tempat di Surabaya. Di sini ada pabrik dan pusat perkulakan yang memasok barang ke Larantuka. Sejak 1960-an Surabaya sudah dianggap sebagai 'kampung kedua' bagi orang-orang Flores, khususnya peranakan Tionghoa. Jika engkau datang ke Tanjung Perak, Krembangan, Manukan, Jembatan Merah... orang Flores mudah sekali dijumpai. Paling banyak di Dermaga Kalimas, Surabaya.
Karena bergelut di bidang perdagangan, baba-baba di Flores sangat sering masuk kampung keluar kampung. Bicara dalam bahasa lokal baik bahasa Melayu-Larantuka atau bahasa Lamaholot. Logatnya malah sangat medok. Beta sering geli sendiri mendengar logat baba-baba Flores yang sangat Flores. Ini juga kelebihan orang Tionghoa yang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Mereka makan bersama, bergaul, akrab, dengan orang-orang kampung yang sangat sederhana dan miskin. Bermalam di rumah penduduk 'pribumi', menikmati makanan ala kadarnya. Ikut minum tuak dan main kartu (bukan judi lho) untuk sekadar rekreasi. Anak-anak di Flores pun terbiasa main bola, kelereng, lompat tali, petak umpet... dengan anak-anak Tionghoa. Jadi, sejak kecil kami di Flores tidak kenal pembedaan Tionghoa dan pribumi.
Sekolah pun sama-sama di sekolah Katolik atau sekolah negeri. Tidak ada sekolah Tionghoa! Asal tahu saja, 95 persen sekolah di Kabupaten Flores Timur (termasuk Lembata) milik Yayasan Persekolahan Katolik Flores Timur alias Yapersuktim. Beta sendiri saat SMP dan SMA berbaur, bahkan tinggal bersama beberapa teman yang Tionghoa di Larantuka. Makan dengan menu yang sama. Sama-sama susah, sama-sama senang.
Kebetulan beta punya teman anaknya bos toko kaset paling terkenal di Jalan Niaga Larantuka. Hampir tiap minggu beta diajak ke toko merangkap rumah baba itu. Beta akhirnya tahu tradisi budaya Tionghoa: abu leluhur, tempat sembahyang, dan sebagainya. Beta diajak makan bersama di rumah keluarga Tionghoa itu. Hampir semua orang Flores punya kenalan dekat orang Tionghoa.
Karena dekat sama teman Tionghoa anaknya bos toko kaset (hmmm.. beta sering bikin pekerjaan rumahnya!), beta pun tahu banyak lagu-lagu populer masa itu. Hampir semua kaset baru beta dengarkan. Bahkan, beta bisa pesan 12 lagu sesuai selera, lantas direkam dalam kaset baru berdurasi 90 menit alias C-90. Inilah rahasianya mengapa beta agak paham musik 1980-an dan 1990-an! Hehehe... Baba pemilik toko kaset terbesar di Kabupaten Flores Timur itu sudah bisa menebak lagu mana yang bakal ngetop dan tidak.
Apakah hubungan mesra orang Tionghoa dan Flores Timur itu karena kesamaan agama (Katolik)? Bisa jadi, tapi sebetulnya bukan alasan utama. Toh, sejak dulu hubungan antaragama di Flores Timur, khususnya Katolik-Islam, tak pernah bermasalah. Apa pun agamanya, orang Flores merasa sama-sama orang Lamaholot yang sangat kental kekerabatan dan adat istiadatnya.
Jadi, menurut beta, hubungan baik ini lebih karena orang Flores tidak beroleh warisan politik segregasi ala Hindia-Belanda macam di Pulau Jawa. Lagi pula, warga Tionghoa di Flores selalu mengidentikkan diri sebagai orang Flores, bukan Tionghoa. "Kitorang ini dari Nagi (Larantuka). Asli Larantuka le," begitu kata teman beta dengan logat Larantuka kental.
Apakah ada orang Tionghoa yang menikah dengan orang Flores? Ada, tapi sangat sedikit. Urusan kawin-mawin memang tidak bisa direkayasa atau dipaksa. Di mana-mana orang lebih condong menikah dengan sesama suku atau etnisnya, bukan? Orang Jawa pun jarang menikah dengan Madura atau Sunda meskipun sama-sama Islam.
Lalu, apa 'kekurangan' warga Tionghoa di Flores Timur? Menurut beta, ekspresi budayanya tidak muncul seperti di Kembang Jepun (Surabaya) atau Pontianak. Hanya generasi awal saja yang berusaha keras mempertahankan tradisi budaya dan adat Tionghoa di rumahnya masing-masing. Tidak pernah ada arak-arakan perayaan Cap Go Meh, atraksi barongsai, lang liong, dan sejenisnya. Orang-orang Tionghoa di Larantuka justru lebih aktif sebagai pengurus gereja serta dekat dengan pastor dan suster.
"Kitorang (kami) ini memang keturunan Tionghoa, tapi Katolik. Tentu harus aktif di paroki. Tapi kitorang tetap menghormati leluhur dan adat istiadatnya," kata Koh Ang, orang Tionghoa asal Pantai Besar, Larantuka.
Berbahagialah orang-orang Tionghoa di Flores! Mereka bisa tidur nyenyak, bekerja dengan tenang, karena sejak dulu tidak pernah dianggap sebagai orang asing di Nusa Bunga alias Capo da Flores. (lamber hurek)
Beta belum sempat cek sejarah kapan orang-orang Tionghoa masuk ke Flores. Tapi bisa dipastikan jauh sebelum kemerdekaan 1945. Sebab, pada saat diasingkan di Flores pada 1934-1938, Soekarno (Bung Karno) mengaku banyak berinteraksi dengan orang-orang Tionghoa di Ende. Bisa dipastikan warga Tionghoa pun sudah ada di Larantuka yang sejak zaman Portugis dikenal sebagai kota pelabuhan.
Adapun pusat perdagangan di Jalan Niaga Larantuka baru berkembang pada awal 1970-an. Baba-baba Tionghoa (orang Flores menyebut orang Tionghoa laki-laki dengan BABA, perempuan dengan NONA) membuka toko sederhana di Jalan Niaga, Kelurahan Postoh. Barang-barang dipasok dari Surabaya. Tiap hari kapal-kapal bongkar-muat di pelabuhan, Larantuka-Surabaya. Dari Flores muat hasil bumi, dari Surabaya bawa barang-barang dagangan.
Jangan heran nama-nama toko di Larantuka banyak mengadopsi nama-nama jalan atau tempat terkenal di Surabaya. Contohnya, Toko Tanjungsari, yang terkenal itu. Eh, sekarang baru beta tahu Tanjungsari itu nama tempat di Surabaya. Di sini ada pabrik dan pusat perkulakan yang memasok barang ke Larantuka. Sejak 1960-an Surabaya sudah dianggap sebagai 'kampung kedua' bagi orang-orang Flores, khususnya peranakan Tionghoa. Jika engkau datang ke Tanjung Perak, Krembangan, Manukan, Jembatan Merah... orang Flores mudah sekali dijumpai. Paling banyak di Dermaga Kalimas, Surabaya.
Karena bergelut di bidang perdagangan, baba-baba di Flores sangat sering masuk kampung keluar kampung. Bicara dalam bahasa lokal baik bahasa Melayu-Larantuka atau bahasa Lamaholot. Logatnya malah sangat medok. Beta sering geli sendiri mendengar logat baba-baba Flores yang sangat Flores. Ini juga kelebihan orang Tionghoa yang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Mereka makan bersama, bergaul, akrab, dengan orang-orang kampung yang sangat sederhana dan miskin. Bermalam di rumah penduduk 'pribumi', menikmati makanan ala kadarnya. Ikut minum tuak dan main kartu (bukan judi lho) untuk sekadar rekreasi. Anak-anak di Flores pun terbiasa main bola, kelereng, lompat tali, petak umpet... dengan anak-anak Tionghoa. Jadi, sejak kecil kami di Flores tidak kenal pembedaan Tionghoa dan pribumi.
Sekolah pun sama-sama di sekolah Katolik atau sekolah negeri. Tidak ada sekolah Tionghoa! Asal tahu saja, 95 persen sekolah di Kabupaten Flores Timur (termasuk Lembata) milik Yayasan Persekolahan Katolik Flores Timur alias Yapersuktim. Beta sendiri saat SMP dan SMA berbaur, bahkan tinggal bersama beberapa teman yang Tionghoa di Larantuka. Makan dengan menu yang sama. Sama-sama susah, sama-sama senang.
Kebetulan beta punya teman anaknya bos toko kaset paling terkenal di Jalan Niaga Larantuka. Hampir tiap minggu beta diajak ke toko merangkap rumah baba itu. Beta akhirnya tahu tradisi budaya Tionghoa: abu leluhur, tempat sembahyang, dan sebagainya. Beta diajak makan bersama di rumah keluarga Tionghoa itu. Hampir semua orang Flores punya kenalan dekat orang Tionghoa.
Karena dekat sama teman Tionghoa anaknya bos toko kaset (hmmm.. beta sering bikin pekerjaan rumahnya!), beta pun tahu banyak lagu-lagu populer masa itu. Hampir semua kaset baru beta dengarkan. Bahkan, beta bisa pesan 12 lagu sesuai selera, lantas direkam dalam kaset baru berdurasi 90 menit alias C-90. Inilah rahasianya mengapa beta agak paham musik 1980-an dan 1990-an! Hehehe... Baba pemilik toko kaset terbesar di Kabupaten Flores Timur itu sudah bisa menebak lagu mana yang bakal ngetop dan tidak.
Apakah hubungan mesra orang Tionghoa dan Flores Timur itu karena kesamaan agama (Katolik)? Bisa jadi, tapi sebetulnya bukan alasan utama. Toh, sejak dulu hubungan antaragama di Flores Timur, khususnya Katolik-Islam, tak pernah bermasalah. Apa pun agamanya, orang Flores merasa sama-sama orang Lamaholot yang sangat kental kekerabatan dan adat istiadatnya.
Jadi, menurut beta, hubungan baik ini lebih karena orang Flores tidak beroleh warisan politik segregasi ala Hindia-Belanda macam di Pulau Jawa. Lagi pula, warga Tionghoa di Flores selalu mengidentikkan diri sebagai orang Flores, bukan Tionghoa. "Kitorang ini dari Nagi (Larantuka). Asli Larantuka le," begitu kata teman beta dengan logat Larantuka kental.
Apakah ada orang Tionghoa yang menikah dengan orang Flores? Ada, tapi sangat sedikit. Urusan kawin-mawin memang tidak bisa direkayasa atau dipaksa. Di mana-mana orang lebih condong menikah dengan sesama suku atau etnisnya, bukan? Orang Jawa pun jarang menikah dengan Madura atau Sunda meskipun sama-sama Islam.
Lalu, apa 'kekurangan' warga Tionghoa di Flores Timur? Menurut beta, ekspresi budayanya tidak muncul seperti di Kembang Jepun (Surabaya) atau Pontianak. Hanya generasi awal saja yang berusaha keras mempertahankan tradisi budaya dan adat Tionghoa di rumahnya masing-masing. Tidak pernah ada arak-arakan perayaan Cap Go Meh, atraksi barongsai, lang liong, dan sejenisnya. Orang-orang Tionghoa di Larantuka justru lebih aktif sebagai pengurus gereja serta dekat dengan pastor dan suster.
"Kitorang (kami) ini memang keturunan Tionghoa, tapi Katolik. Tentu harus aktif di paroki. Tapi kitorang tetap menghormati leluhur dan adat istiadatnya," kata Koh Ang, orang Tionghoa asal Pantai Besar, Larantuka.
Berbahagialah orang-orang Tionghoa di Flores! Mereka bisa tidur nyenyak, bekerja dengan tenang, karena sejak dulu tidak pernah dianggap sebagai orang asing di Nusa Bunga alias Capo da Flores. (lamber hurek)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar