Laporan Edy Hayong, Spirit NTT 18-24 Februari 2008
ATAMBUA, SPIRIT---Manajemen PT TransNusa Air Services - Kupang saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu guna mengoperasikan pesawatnya ke Bandar Udara (Bandara) Haliwen, Atambua, Belu. Dalam penjajakan awal, Pemkab Belu sudah membuka diri menerima kehadiran TransNusa dan langkah berikutnya TransNusa mengajukan proposal untuk dibahas lebih lanjut antara Pemkab dengan DPRD Belu.
Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez mengatakan hal ini di sela-sela pertemuan bersama manajamen PT TransNusa Air Services di Kantor Bupati Belu, Kamis (14/2/2008).
Joachim Lopez menjelaskan, pemerintah dan seluruh masyarakat Belu sudah lama merindukan kehadiran armada TransNusa agar menyinggahi Bandara Haliwen. Pasalnya, dari segi permintaan pengguna pesawat terbang sangat tinggi sementara penerbangan perintis (MNA) memiliki jadwal terbang sangat terbatas.
Untuk itu, pemerintah berusaha agar ada manajamen penerbangan lainnya bisa menjajaki kemungkinan mengoperasikan pesawat ke Haliwen. Terhadap kerinduan itu, jelasnya, saat ini manajamen TransNusa sudah melakukan pembicaraan dengan Pemkab Belu untuk menjalin kerja sama pengoperasian pesawat TransNusa.
"Manajemen TransNusa sudah bertemu saya dan sudah ada dialog bersama bahwa dalam waktu dekat TransNusa akan beroperasi ke Atambua dengan jadwal frekuensi penerbangan akan diatur kemudian setelah ada pembicaraan lanjutan. Kami sudah minta agar manajemen segera ajukan proposal ke pemkab sehingga dengan proposal itu akan kita ajukan ke DPRD Belu untuk bicarakan soal sharing dana," jelasnya.
Kerja sama
Sementara Station Manager TransNusa, Budi Hermansyah menjelaskan, kehadirannya di Atambua untuk sosialisasi kemungkinan kerja sama beroperasinya pesawat milik PT TransNusa rute Atambua-Kupang pulang pergi. Pihaknya ingin mendapatkan kepastian sikap pemkab menerima kehadiran TransNusa sehingga dapat dijadikan bahan masukan guna dibicarakan lebih lanjut di tingkat manajamen.
Dari pembicaraan awal, jelas Budi, ada kemauan baik Pemkab Belu menerima kehadiran TransNusa dan saat ini kami menawarkan kepada pemkab, apakah ada jalinan kerjasama berupa pemberian subsidi atau jenis lainnya. "Kami segera ajukan proposal untuk dipelajari. Selanjutnya akan kami lakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara TransNusa dengan Pemkab Belu," ujarnya.
Menurut Budi, apabila kerjasama terjadi, pada Maret 2008 armada TransNusa sudah mulai beroperasi dengan jadwal penerbangan dua sampai tiga kali seminggu. "Kami akan melihat kondisi landasan bandara apakah memungkinkan atau tidak dengan ketersediaan sheet. Banyak aspek yang akan kami lihat sebelum resmi beroperasi. Kami segera ajukan permohonan izin mendarat armada TransNusa kepada Departemen Perhubungan, dan mudah-mudahan Maret sudah dioperasikan armada kami," katanya.
Menyinggung tarif, Budi menginformasikan, dalam taksiran kasar pihaknya akan menentukan besaran Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu/penumpang. Namun, tarif ini masih perlu dibicarakan dengan pemkab Belu sesuai kemampuan daerah apakah ada subsidi atau tidak. Prinsipnya akan disesuaikan dengan pembicaraan bersama pemkab.*
Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez mengatakan hal ini di sela-sela pertemuan bersama manajamen PT TransNusa Air Services di Kantor Bupati Belu, Kamis (14/2/2008).
Joachim Lopez menjelaskan, pemerintah dan seluruh masyarakat Belu sudah lama merindukan kehadiran armada TransNusa agar menyinggahi Bandara Haliwen. Pasalnya, dari segi permintaan pengguna pesawat terbang sangat tinggi sementara penerbangan perintis (MNA) memiliki jadwal terbang sangat terbatas.
Untuk itu, pemerintah berusaha agar ada manajamen penerbangan lainnya bisa menjajaki kemungkinan mengoperasikan pesawat ke Haliwen. Terhadap kerinduan itu, jelasnya, saat ini manajamen TransNusa sudah melakukan pembicaraan dengan Pemkab Belu untuk menjalin kerja sama pengoperasian pesawat TransNusa.
"Manajemen TransNusa sudah bertemu saya dan sudah ada dialog bersama bahwa dalam waktu dekat TransNusa akan beroperasi ke Atambua dengan jadwal frekuensi penerbangan akan diatur kemudian setelah ada pembicaraan lanjutan. Kami sudah minta agar manajemen segera ajukan proposal ke pemkab sehingga dengan proposal itu akan kita ajukan ke DPRD Belu untuk bicarakan soal sharing dana," jelasnya.
Kerja sama
Sementara Station Manager TransNusa, Budi Hermansyah menjelaskan, kehadirannya di Atambua untuk sosialisasi kemungkinan kerja sama beroperasinya pesawat milik PT TransNusa rute Atambua-Kupang pulang pergi. Pihaknya ingin mendapatkan kepastian sikap pemkab menerima kehadiran TransNusa sehingga dapat dijadikan bahan masukan guna dibicarakan lebih lanjut di tingkat manajamen.
Dari pembicaraan awal, jelas Budi, ada kemauan baik Pemkab Belu menerima kehadiran TransNusa dan saat ini kami menawarkan kepada pemkab, apakah ada jalinan kerjasama berupa pemberian subsidi atau jenis lainnya. "Kami segera ajukan proposal untuk dipelajari. Selanjutnya akan kami lakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara TransNusa dengan Pemkab Belu," ujarnya.
Menurut Budi, apabila kerjasama terjadi, pada Maret 2008 armada TransNusa sudah mulai beroperasi dengan jadwal penerbangan dua sampai tiga kali seminggu. "Kami akan melihat kondisi landasan bandara apakah memungkinkan atau tidak dengan ketersediaan sheet. Banyak aspek yang akan kami lihat sebelum resmi beroperasi. Kami segera ajukan permohonan izin mendarat armada TransNusa kepada Departemen Perhubungan, dan mudah-mudahan Maret sudah dioperasikan armada kami," katanya.
Menyinggung tarif, Budi menginformasikan, dalam taksiran kasar pihaknya akan menentukan besaran Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu/penumpang. Namun, tarif ini masih perlu dibicarakan dengan pemkab Belu sesuai kemampuan daerah apakah ada subsidi atau tidak. Prinsipnya akan disesuaikan dengan pembicaraan bersama pemkab.*





Tidak ada komentar:
Posting Komentar