Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Museum Seribu Moko, refleksi jalinan asmara

Spirit NTT, 31 Desember 2007- 6 Januari 2008

SEBANYAK 80-90 persen dari 355 item yang dipajang dalam museum ini merupakan hasil koleksi seorang warga keturunan Cina di Kalabahi, Toby Retika. Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi, seluruh hasil koleksinya itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Alor pada September 2003.
Misalnya, ada perahu naga, benda yang sangat penting dan sakral, yang menjadi representasi nenek moyang yang datang menggunakan perahu dan sekaligus tempat pelaksanaan upacara adat. Ada senjata busur dan panah, tenunan daerah, serta koleksi unggulannya, yakni moko.
Inilah museum, barangkali tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia, yang satu-satunya berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak. Sudah ada satu moko paling besar dan 23 moko kecil. Berharap pada potensi budaya suku-suku di Alor, museum ini berambisi mengoleksi moko hingga 1.000 atau lebih.
Orang Alor menyebut moko sebenarnya tidak lain untuk menamai nekara perunggu pada umumnya. Di museum ini satu-satunya moko yang paling besar tadi malah disebut moko nekara, sedangkan moko-moko kecil lainnya diberi nama berdasarkan ornamen atau hiasannya. Moko nekara merupakan salah satu hasil kebudayaan perundagian (zaman perunggu) yang digunakan masyarakat sebagai alat upacara. Nekara bertipe Heger I ini ditemukan oleh Simon J Oil Balol di dalam tanah di Desa Kokar, Alor Barat Laut, berdasarkan petunjuk mimpi.
Jeskiel Nanggi, Kepala Museum Seribu Moko, mengatakan, berdasarkan petunjuk mimpi itu, saat bangun keesokan harinya, tepatnya 20 Agustus 1972, Simon menggali di tempat yang telah dibayangkan dalam mimpi. "Ternyata mereka menemukan moko nekara ini, lalu diangkat dengan sebuah upacara adat," katanya.
Berat nekara itu belum pernah ditimbang. Dari fisiknya, moko ini didesain menyerupai gendang atau tambur menurut sebutan masyarakat Alor. Bagian atasnya datar atau rata, di tengah-tengahnya gambar bintang, dan di tepi diberi pemanis berupa empat patung kodok (tetapi satu di antaranya telah hilang).
Di bagian badan terdapat empat telinga, yakni dua di bagian kanan dan dua di kiri. Jeskiel tidak bisa menjelaskan makna moko dalam desain seperti itu. Moko nekara ini digunakan untuk pesta-pesta adat dan dijadikan semacam rebana atau induk gendang.
Setelah penemuan di Kokar tadi, sekitar tahun 1976, nekara dibawa ke Kupang untuk dipajang di Museum Negeri Kupang. Akan tetapi, ketika Pemerintah Kabupaten Alor berniat membangun museum khusus menempatkan moko sebagai item unggulannya, nekara dibawa pulang ke Kalabahi per Februari 2004.
Selain moko nekara yang ditempatkan di tengah-tengah museum, di sekitarnya dipajang pula secara berderet 23 moko ukuran kecil, setinggi tiga atau empat jengkal orang dewasa. Misalnya, ada moko "pung lima anak panah" yang biasanya digunakan sebagai mas kawin dalam budaya Pantar.
Ada moko jawa telinga utuh cap bintang dan cap satu bunga, ada moko belektaha cap bengkarung, ada moko malayfana palili dari Alor Timur, moko makassar bunga kemiri tangan panjang, moko aimala kumis besar. Sisanya, antara lain, moko cap naga, bulan, paria, dan cap rupa-rupa simbol lainnya.
Hampir pasti tidak ada masyarakat adat di negeri ini yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor. Dalam sejarah peradaban suku-suku di sini, moko digunakan sebagai belis, atau mahar, atau mas kawin. Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung.
Dalam masyarakat adat Pantar Barat, misalnya, kata Jeskiel, kalau yang meminang adalah anak raja atau keturunan raja, darah biru, tokoh terhormat di masyarakat, dan gadis yang dipinang pun demikian, mas kawinnya berupa belasan moko. "Moko adalah simbol kehormatan dan kesetiaan cinta," tutur Jeskiel.
***
SAMPAI saat ini masih banyak suku yang menyimpang moko itu untuk kepentingan adat perkawinan. Namun, karena sudah banyak juga yang dibawa ke luar dari Alor oleh para pemburu barang antik, terutama ke Denpasar dan luar negeri, diperkirakan hanya suku-suku tertentu yang memiliki.
Lima wilayah potensial yang menyimpan moko ialah Alor Timur, Alor Selatan, Alor Barat Daya, Alor Barat Laut, dan Pantar. Klan atau suku yang masih menetapkan mas kawin dengan moko misalnya Suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali.
Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin. Seorang anak keturunan raja ketika ditetapkan membayar, misalnya, 10 moko, tetapi kenyataannya menyanggupi lima buah dan selebihnya disubstitusikan dengan uang akan berbeda penilaiannya.
Kata Jeskiel, moko memang diwajibkan sebagai mas kawin. Namun, kini sudah ada keputusan para tetua adat di Alor, paling tinggi hanya dua moko yang diwajibkan untuk dipenuhi seorang pria sebagai mas kawin. Tidak boleh kurang, boleh lebih, tetapi tidak diwajibkan untuk lebih dari dua moko.
Sebenarnya, keputusan itu dapat menguntungkan Museum Seribu Moko jika gesit memburunya ke berbagai wilayah. Hal itu agar warga yang menyimpan lebih dari dua atau tiga moko dapat menyerahkan kelebihannya itu kepada museum moko karena dikhawatirkan akan diselundupkan ke luar daerah.
Moko penting karena merefleksikan jalinan asmara, ikatan cinta antara seorang pemuda dan gadis dari berbagai suku di Alor. Jika ingin mendalami adat perkawinan Alor, saksikan moko di museum. (pascal/kcm)

Tidak ada komentar: