Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kulababong: Makanya ikut 'kabe'


Laporan John Oriwis, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
BELUM empat tahun menikah, pasangan Dede Poi (27) dan Magdalenam (20) sudah dikaruniai empat anak. Ngerinya lagi Magdalenam saat ini sedang hamil lagi lima bulan untuk anak kelima mereka.
"Apa karena kami ini pasangan usia subur ato pasangan usia kuat, tegor teran," keluh Dede Poi saat keduanya sedang duduk hendak menikmati makan malam.
"Jangan piker macam-macam lagi. Anak itu karunia Tuhan. Kan banyak anak banyak rejeki masuk," jelas Magdalenam.
"Anak itu memang karunia. Orang sebut karunia kalo kita sudah sepuluh tahun menika dan baru dapat anak. Ini setiap sembilan bulan satu, itu bukan lagi hanya karunia tapi kaya karunia. Apalagi semua laki-laki, dari mana rejeki masuk, kalo keluar pasti banyak. Apalagi kalo sampe jadi dengan anak tana, orang Maumere. Gading ambil dari mana. Kalo orang minta gading enam te yang ada baru empat. Peter satu, Yoan satu, Mario satu, No satu tamba saya punya satu. Itu saja baru lima," hitung Poi.
"Benar juga, itu saja baru untuk urus Peter yang sulung. Yang tiga lagi belum, kita ambil lagi gading dari mana?" Magdalenam ikut bimbang dan bingung.
"Omong-omong yang ini nanti kita kasih nama apa?" tanya Magdalenam, sambil mengelus anak yang sedang dikandungnya.
"Tida usa bingung. Kalo dia laki-laki kasih nama Uterus, sampe sembilan bulan ada lagi satu kasi nama lagi Suterus, kalo masi ada lagi kasi nama Stop Jangan Terus. Dengan harapan sebagai anak terakhir, si bungsu. Tapi kalo masih ada lagi, kita terpaksa kasi nama Lanjut Teruuus, dan kalo masi ada karunia, tinggal kasi nomor di belakang nama Lanjut Teruuus," sambung Poi dalam kondisi stres.
Bagaimana tida stres, di tengah kondisi hasil pertanian yang semberawut dan keadaan ekonomi keluarga yang serba kurang, Poi sebagai kepala rumah tangga harus urus satu istri dan anak- anak. Mana makan minum, mana sekolah, mana-mana lagi kebutuhan lain. Gila, kalo begini sapa saja bisa gila.
Konsultasi punya konsultasi. Dede Teke kasih saran, makanya ikut 'kabe' (KB; keluarga berencana). Kabe punya peran besar, mengurangi beban ekonomi, membatasi jumlah anak sesuai kemampuan dan kondisi perekonomian keluarga. Bagus, bagus sekali, bahkan bagus terus kalo Dede Poi ikut sehingga tida ada Terusan lagi.
"Poi we, kau ajak dengan Magdalenam supaya ikut kabe saja," ajak Teke. Tapi jangan lupa urus akte lahir anak mumpung gratis untuk anak usia 0 sampe 18 tahun. Ini kesempatan emas, jadi jangan sia-siakan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

seru juga ya,setiap sembilan bulan dah di karunia ank lagi,emang setiap pasangan yang berumah tangga pasti sangat senang mendapat keturunan apalagi aklo nak-anak yang di lahirkan lucu -lucu and pintar,cuman yang yang harus di pikirkan bagi setiap pasangan apakh apakah nantinya ortu mampu membiayai hidup mereka?kalo masalah makanan otomatis bisa az karena emang sudah merupakan tanggunmg jawab,tapi masalah nya anak- anak juga butuh pendidikan sama seperti anak-anak lain nya,agar nantinya mereka bisa mengerti bagaimana pendikian itu yang sebenar nya,kalo setiap tahun nya terus melahirkan bukan hanya membawaq efek samping bagi si anak tapi juga bagi ortu karena mereka akn kewalahan memikirkan bagai mana caranya membiayai kehidupan mereka dengan jumlah yang banyak,jadi apa salah nya mulai sekarang si ibu ikut KB,karena itu akan mengurangi angka kelahiran nantinya.