Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tablolong, surga bagi pemancing

DEBUR ombak silih berganti memecah kesunyian pantai wisata Desa Tablolong, di ujung selatan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), pagi di awal November 2006.
Ombak berbuih di pasir putih seolah menyambut puluhan peserta lomba memancing internasional yang digelar dinas pariwisata seni dan budaya NTT. Saya berangkat pukul 04.00 dini hari ke Tablolong, selain bertugas meliput kegiatan lomba memancing, juga berniat menikmati udara dan panorama alam Pantai Tablolong yang menurut sejumlah literatur, tak kalah dengan panorama pantai wisata lainnya di Pulau Flores dan Alor. Perjalanan menuju lokasi wisata itu ditempuh dalam waktu satu jam dengan mobil.
Perjalanan terasa nyaman dan menyenangkan karena di sejumlah tempat, saya berpapasan dengan wanita yang berangkat ke pasar untuk berdagang sayuran. Mereka memikul barang dagangannya bakul dan berjalan melewati pinggir jalan raya. Di dua sisi jalan juga dijumpai kebun-kebun petani yang baru saja dibersihkan menanti musim tanam. Beberapa lelaki terlihat bergegas keluar rumah dan pergi menyadap nira lontar yang nantinya diolah menjadi gula merah.
Beruntung, saya tiba sebelum matahari terbit, sehingga dengan leluasa menikmati semilir angin pagi Pantai Tablolong. Niat saya melewatkan suatu pagi di desa kecil akhirnya terobati. Di sekitar 50 meter saya berdiri, puluhan anak-anak nelayan berlari berkejaran di pasir. Mereka berhenti dan mencari-cari sesuatu di pasir, kemudian dari mulut bocah-bocah ini terdengar teriakan, hore!...hore!
Mungkin mereka berhasil menemukan sesuatu. Anak-anak yang berusia sekitar lima sampai tujuh tahun tidak peduli dengan kesibukan panitia melepas peserta lomba memancing ke laut lepas.Ratusan perahu nelayan berjejer rapi di pantai menambah indahnya panorama pantai.
Sementara beberapa lelaki dewasa terlihat duduk bersila di teras rumah sambil menikmati kopi dan kue pisang.Saya bertemu Mester Erion, warga Tablolong, yang menjadi teman ngobrol. Dia menjelaskan, di arah depan saya berdiri sejauh 10 mil adalah Pulau Rote. Sementara di sebelah kanan sejauh 5 mill terdapat Pulau Semau. Dua pulau ini juga menyuguhkan panorama yang tak kalah menarik terutama di pagi dan menjelang matahari terbenam.Tiap tahun, Pemerintah NTT rutin menggelar turnamen memancing internasional di selat yang diapit Pulau Rote dan Pulau Timor itu.
Perairan sejauh 10 mil dari garis Pantai Tablolong di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, itu merupakan jalur migrasi ikan cukup ramai dari laut Timor menuju laut Sawu.
Lomba mancing Sesuai jadwal, perlombaan berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 4-6 November. Sebanyak 27 pemancing asal Indonesia, Jepang, Jerman dan Amerika yang tergabung dalam sembilan tim, bertolak ke arena perlombaan dari pantai wisata Tablolong pada pukul 05.00 wita dan pulang pada pukul 16.00 wita. Masing-masing tim dipandu seorang nelayan TablolongPeserta yang berhasil memperoleh ikan dengan berat paling tinggi, berhak menempati posisi pertama hari itu.
Mereka memperebutkan total hadiah uang tunai Rp 42.7 juta plus tropi Gubernur NTT. Event ini diharapkan akan menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke NTT menikmati panorama pantai dan pulau-pulau yang memesona dan belum terjamah polusi.Karena itu, jauh-jauh hari, pemerintah telah giat menggelar promosi. Mulai dari menerbitkan kalender event sampai brosur, iklan di media massa. Upaya pemerintah menyukseskan turnamen ini tampak dari persiapan yang cukup matang.
Panitia menyiapkan regu penolong khusus yang disiagakan di lepas pantai. Mereka juga diperlengkapi peralatan penyelamatan dan radio komunikasi untuk sewaktu-waktu mengirim laporan ke darat jika mengalami masalah di laut. Salah satu peraturan yang harus dicermati peserta adalah tidak boleh mengotori laut dengan membuang sampah.Pesisir ujung selatan pulau Timor memang menyuguhkan panorama pantai yang indah dan panorama bawah laut yang elok. Keindahan juga dihiasai dengan pepohonan pantai, seperti pohon Centigi yang tumbuh menyebar di bebatuan karang.
Sayang, pohon Centigi mulai terancam karena ulah tangan-tangan jahil yang mengambil pohon tersebut untuk dijual ke pulau Jawa.David Jones, peserta asal Amerika misalnya sangat mengagumi keindahan bawah laut karang beatrix yang berjarak sekitar lima mil dari pantai. David menjuluki karang beatrix sebagai 'supermarket ikan' karena semua jenis ikan dapat ditemukan di lokasi itu. Dua karang lainnya yang tak kalah menarik adalah karang Dalam dan karang Tabui.
Di tiga karang ini hidup jenis ikan yang sering dilombakan dalam berbagai turnamen memancing seperti jenis marlin, layaran, tenggiri, wahui, kuwe, barakuda, lemadang, dan tuna. Makanya, tidak heran sejumlah warga kota Kupang pecinta wisata bahari menggunakan perahu motor untuk memancing di kawasan itu sekitar setengah jam dari daratan. Selain memancing pengunjung juga menikmati beragam spesies ikan secara berkelompok tampak seperti dalam akuarium raksasa.
Meski demikian, para nelayan dan pemancing dilarang menangkap ikan menggunakan potas yaitu zat kimia yang dapat memabukkan ikan, namun dapat membunuh ikan kecil dan merusak karang. Terumbu karang di perairan ini juga dilarang untuk diambil. Untuk maksud itu, di dekat pantai telah dipajang sebuah papan bertuliskan 'usat olahraga memancing Tablolong.'Papan itu dipajang pada pintu masuk menuju pantai sehingga dapat dilihat dari arah laut.
Karena itu, anda jangan sampai melempar bekas bungkusan makanan ke laut. Tetapi jika ingin menarik perhatian ikan-ikan berenang di samping perahu, buanglah makanan pada pagi hari dan anda akan menyaksikan ribuan ikan warna-warni berebutan makanan.Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya NTT, Lens Haning, mengatakan perairan itu hanya dikhususkan untuk olahraga memancing.
"Kita ingin menyampaikan kepada dunia internasional bahwa perairan Tablolong kaya akan berbagai jenis ikan dan hamparan pasir putih serta pulau-pulau disekitarnya sangat indah," kata Lens Haning.Tablolong terletak sekitar 27 kilometer dari Kota Kupang lebih menarik dinikmati pada pagi dan petang hari. Di bagian depan pantai ini terdapat pulau Rote sementara di bagian kanan ada pulau Semau, membentang dekat selat Pukuafu yang terkenal ganas. Pada musim barat, keganasan gelombang laut Pukuafu yang mencapai empat meter, bisa dilihat dengan mata telanjang dari pantai Tablolong.Welly Pah dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya NTT berpendapat di lokasi itu seharusnya dibangun hotel agar wisatawan dapat menikmati gelombang laut dengan leluasa, dan pada musim kemarau, mereka bisa pergi memancing.
Saat ini seorang pria Kanada membangun tiga unit home stay di lahan seluas dua hektare sekitar satu kilometer dari pemukiman warga. Puluhan warga kota Kupang biasa menginap di home stay tersebut yang dibangun di pinggir pantai. Harga sewa home stay per malam berbeda untuk wisatawan asing sebesar Rp 100 ribu per malam plus tiga kali makan dan wisawatan lokal sebesar Rp 50 ribu plus tiga kali makan.Selain tidak tersedia jaringan listrik, lingkungan home stay masih sepi, terutama pada malam hari hanya terdengar deburan ombak memecah karang. Di pagi hari jika mendengar kicauan burung sangat terasa kehidupan desa terpencil di pulau Timor. Tidak kalah dengan suguhan pemandangan di petang hari.
Ketika malam menjelang, menyaksikan ribuan sinar lampu yang dipancarkan dari di rumah-rumah penduduk di Desa Tablolong dan di Pulau Semau merupakan pengalaman yang tak terlupakan.Lokasi ini dapat ditempuh dari kota Kupang dengan mobil dan sepeda motor dengan perjalanan selama satu jam.
Jalanan yang berkelok-kelok dengan rumah-rumah penduduk yang masih tradisional juga merupakan sensasi sendiri. Umumnya penduduk Tablolong merupakan keturunan asal pulau Rote yang dibawa Belanda di zaman penjajahan. Sayang, selama tiga hari perlombaan tidak ada peserta yang berhasil memperoleh ikan Marlin, karena di kalangan pemancing, jika seorang berhasil memperoleh ikan tersebut, ia baru bisa diberi julukan jagoan memancing.
Dalam turnamen itu, juara pertama diraih peserta dari Jakarta yang memperoleh jenis ikan kuwe seberat 36 kilogram. Sedangkan peserta asal Jepang menempati posisi keempat dengan jenis ikan kuwe seberat 18 kilogram, dan peserta Jerman yang menempati posisi kelima memperoleh ikan lemadang seberat 17 kilogram.Demikian setiap usai mengikuti lomba memancing, peserta sejenak menikmati panorama malam pantai Tablolong dengan makan ikan bakar di lokasi home stay.
Sinar bulan purnama pada malam tanggal 4 November 2006 itu, turut memanjakan kami. "Suatu ketika saya akan menggelar konser musik di pantai ini," janji Wely Pah, dan malam kian larut bersama ikan bakar yang lezat dan semilir angin pantai. (sonya amalo/bentara online.com) Spirit NTT, 10-16 Desember 2007.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Nice info... Sayang sekali pengaturan paragrafnya berantakan...