Laporan Syarifah Sifat, Spirit NTT 3-10 Desember 2007
BA'A, SPIRIT--Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Rote Ndao, N St. Haning, S.E yang ditemui di ruang keruanya, Kamis (29/11/2007), mengatakan sedang berkoordinasi dengan Toko Piet di Kupang untuk mensuplai minyak tanah agar masyarakat tidak resah.
"Baru saja saya koordinasikan dengan Toko Piet agar mereka bisa suplai minyak tanah ke Rote. Mereka sudah siap tapi masih tunggu kapal atau perahu untuk pengangkutan. Kalau tidak ada halangan dalam waktu dekat sudah ada," kata Haning.
Menyinggung kelangkaan minyak tanah karena diborong kontraktor untuk pengerjaan proyek terutama proyek jalan, Haning pun menduga hal yang sama.
"Mestinya dengan suplai minyak tanah 25 drum per pangkalan untuk sembilan pangkalan di Rote Ndao bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Patut dipertanyakan kenapa minyak tanah tiba-tiba hilang saat musim proyek. Kalau dugaan ini benar, para kontraktor yang menggunakan untuk kebutuhan industri mereka melanggar aturan. Pangkalan yang menjual minyak tanah untuk kepentingan industri bisa dikenai sanksi dan ijin pangkalan bisa dicabut. Minyak tanah subsidi pemerintah untuk masyarakat ekonomi lemah bukan untuk kontraktor. Untuk kontraktor ada aturannya. Mereka bisa buat permintaan ke Pertambangan atau Perindag selanjutnya direkomendasikan ke Pertamina untuk mengeluarkan minyak tanah untuk industri karena harganya beda," kata Haning.
Dia meminta kepada para pengusaha yang ingin menggunakan minyak tanah untuk kepentingan industri agar mematuhi aturan dengan mengajukan permintaan melalui Perindag atau Pertambangan untuk diteruskan ke Pertamina sehingga tidak mengganggu stok minyak tanah untuk masyarakat.
"Saya tegaskan kepada kontraktor agar tidak gunakan minyak tanah susidi milik masyarakat untuk kepentingan industri. Ini menyalahi aturan," ujar Haning.
Kelangkaan minyak tanah di Rote juga diakui Bupati Christian Dillak. Menurutnya, kelangkaan terjadi karena permintaan tinggi, namun jatah yang disuplai kurang. "Jatah kita kurang, tapi saat ini kita sedang koordinasi dengan Pertamina Kupang," ujar Bupati Dillak. *
"Baru saja saya koordinasikan dengan Toko Piet agar mereka bisa suplai minyak tanah ke Rote. Mereka sudah siap tapi masih tunggu kapal atau perahu untuk pengangkutan. Kalau tidak ada halangan dalam waktu dekat sudah ada," kata Haning.
Menyinggung kelangkaan minyak tanah karena diborong kontraktor untuk pengerjaan proyek terutama proyek jalan, Haning pun menduga hal yang sama.
"Mestinya dengan suplai minyak tanah 25 drum per pangkalan untuk sembilan pangkalan di Rote Ndao bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Patut dipertanyakan kenapa minyak tanah tiba-tiba hilang saat musim proyek. Kalau dugaan ini benar, para kontraktor yang menggunakan untuk kebutuhan industri mereka melanggar aturan. Pangkalan yang menjual minyak tanah untuk kepentingan industri bisa dikenai sanksi dan ijin pangkalan bisa dicabut. Minyak tanah subsidi pemerintah untuk masyarakat ekonomi lemah bukan untuk kontraktor. Untuk kontraktor ada aturannya. Mereka bisa buat permintaan ke Pertambangan atau Perindag selanjutnya direkomendasikan ke Pertamina untuk mengeluarkan minyak tanah untuk industri karena harganya beda," kata Haning.
Dia meminta kepada para pengusaha yang ingin menggunakan minyak tanah untuk kepentingan industri agar mematuhi aturan dengan mengajukan permintaan melalui Perindag atau Pertambangan untuk diteruskan ke Pertamina sehingga tidak mengganggu stok minyak tanah untuk masyarakat.
"Saya tegaskan kepada kontraktor agar tidak gunakan minyak tanah susidi milik masyarakat untuk kepentingan industri. Ini menyalahi aturan," ujar Haning.
Kelangkaan minyak tanah di Rote juga diakui Bupati Christian Dillak. Menurutnya, kelangkaan terjadi karena permintaan tinggi, namun jatah yang disuplai kurang. "Jatah kita kurang, tapi saat ini kita sedang koordinasi dengan Pertamina Kupang," ujar Bupati Dillak. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar