Spirit NTT, 8-14 Juni 2009
WAIBAKUL, SPIRIT--Sektor pertanian dan berbagai derivasinya merupakan sektor unggulan masyarakat Kabupaten Sumba Tengah. Sehingga tidaklah mengherankan jikalau sektor pertanian merupakan kontributor terbesar pembentuk PDRB yaitu sebesar 62,54 persen pada tahun 2007.
Hal ini diungkapkan Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk, ketika membuka kegiatan sosialisasi dan sinkronisasi program percepatan pemberdayaan ekonomi daerah melalui pengembangan rumput laut, jagung, dan penggemukan sapi di Waibakul, 24 Maret 2009 lalu.
Bupati Umbu Pateduk menilai kegiatan tersebut sangat strategis karena dilakukan di tengah-tengah usaha Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah memacu produksi dan produktivitas masyarakat. "Kegiatan ini menjadi tidak saja komplementer sifatnya tetapi juga memberi wawasan baru dan perspektif yang lebih komprehensif terkait bagaimana seharusnya mengelola berbagai potensi sumber daya yang ada di Sumba Tengah," ujarnya.
Bupati juga menilai tema kegiatan yaitu, "Sinkronisasi program percepatan pemberdayaan ekonomi daerah melalui pengembangan rumput laut, jagung, dan penggemukan sapi," sesungguhnya bertautan erat dengan isi (content) dari visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Sumba Tengah saat ini.
Menurutnya, wilayah Sumba Tengah dengan luas wilayah darat seluas 1.878,77 Km2 dan berpenduduk 58.964 jiwa (tahun 2007) memiliki kepadatan penduduk 32 jiwa per Km2. Kondisi ini berimplikasi pada ketersediaan lahan usaha pertanian baik komoditi jagung maupun ternak.
"Dengan demikian peluang pengembangan sangat besar. Sedangkan panjang garis pantai sepanjang 104,14 Km yaitu bagian utara sepanjang 55,62 Km dan bagian selatan sepanjang 48,52Km. Hal ini juga berimplikasi pada kesempatan pengembangan potensi kelautan termasuk pengembangan tumput laut," tegasnya.
Kegiatan ini, diakui Bupati Umbu Pateduk, sesungguhnya menjawab pergumulan kolektif di Sumba Tengah.
Realitas menunjukkan bahwa rumput laut, jagung dan ternak sapi merupakan sumber daya yang tidak saja potensial, namun juga sesungguhnya akrab dengan kehidupan keseharian masyarakat,
walau juga merupakan fakta bahwa ketersediaan sumber daya ini ternyata belum mampu meningkatan pendapatan masyarakat. "Saya sangka inilah yang menjadi problema utama mengapa kegiatan ini menjadi begitu strategis," tegasnya.
Jikalau ditilik secara mendalam perihal realitas paradoksal yang terjadi di Sumba Tengah, kata bupati, lebih disebabkan oleh karena berbagai keterbatasan, baik keterbatasan teknologi, modal, peralatan serta juga keterbatasan sumber daya manusia. Implikasi lanjutan dari persoalan-persoalan dasar tersebut, katanya, petani di Sumba Tengah lebih merupakan petani konsumen daripada petani produsen. Realitas ini kemudian memandulkan harapan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas yang lebih memadai sebagai salah satu misi utama dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah. (humas sumba tengah)
Minim Sarana Penunjang
BUPATI Umbu Pateduk pun mengomentari secara khusus kehadiran Bank Indonesia pada kegiatan tersebut dalam kapasitasnya sebagai Tim Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (TF-PPED) Propinsi NTT.
Bupati menaruh harapan besar terhadap Bank NTT untuk berbagi dan berperan dalam mengatasi persoalan di Sumba Tengah. "Kami di Sumba Tengah sangat berharap Bank Indonesia dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bermakna sesudah kegiatan ini sehingga berbagai ide yang telah digagas mendapatkan bentuknya yang lebih defenitif dan operasional," ujar bupati.
Bupati juga berharap Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah terus menjalin hubungan kerja sama yang baik ke depan, baik dalam kapasitasnya sebagai bagian dari Tim Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (TF-PPED) Propinsi NTT maupun dalam kapasitasnya sebagai institusi keuangan yang mampu (capable).
"Harapan ini perlu kami kemukakan oleh karena berbagai lilitan persoalan yang hadir di wilayah ini tidak dapat diselesaikan sendiri oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah. Dengan demikian, saya optimis bahwa kita dapat membangun kerja sama yang lebih operasional ke depan sehingga usaha untuk akselerasi pemberdayaan ekonomi daerah dapat diwujudnyatakan," ujarnya.
Merupakan realitas yang tak terbantahkan, katanya, bahwa kendala yang dihadapi dalam kerangka mengembangkan tiga komoditi unggulan ini cukup kompleks, di antaranya, minimnya infrastruktur penunjang, rendahnya sumber daya manusia petani, rendahnya aksesibilitas petani terhadap sarana produksi (Saprodi), permodalan serta ketersediaan pasar.
"Saya sangat berharap forum ini dapat menjadi medium untuk menyamakan persepsi dan sinergi program antar sektor dan lintas sektor agar kemudian dapat merumuskan solusi dan alternatif solusi yang handal bagi upaya percepatan pemberdayaan ekonomi di daerah ini," tandasnya. (humas sumba tengah)
Pertanian, Sektor Unggulan Pembentuk PDRB
Label:
Sumba Tengah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar