Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Warloka, Pesona Fosil-fosil Kayu yang Membatu...


SPIRIT NTT/GELUR.WORDPRESS.COM
PANORAMA ALAM-- Panorama alam di Manggarai Barat menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara dan domestik untuk mengunjungi daerah itu sebagai tujuan wisata.

Spirit NTT, 25-31 Mei 2009

BERBICARA
potensi pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, ingatan orang pasti tertuju kepada Pulau Komodo dengan satwa endemiknya biawak komodo (Varanus komodoensis Ouwens).

Ternyata tidak. Puluhan obyek dan atraksi wisata di daerah itu tersebar merata di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Perbendaharaan obyek wisata terkaya berada di Kecamatan Komodo yang juga merupakan jantung Manggarai Barat dengan pusat kotanya di Labuan Bajo. Mayoritas dari obyek wisata itu mengandalkan panorama alam yang eksotik, bentang laut dengan hamparan pasir putih yang bersih, keindahan alam bawah laut yang memukau dengan spesies terumbu karang dan ikan hiasnya, goa alam, air terjun hingga danau berkadar belereng.



Barisan panjang aset wisata Manggarai Barat itu makin disempurnakan dengan keberadaan fosil-fosil kayu yang membatu yang bisa ditemukan di sejumlah desa di Kecamatan Warloka serta bangunan benteng-benteng perang yang bisa dijumpai di sejumlah desa di Kecamatan Lembor. Manggarai Barat juga sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung. Di sini, bisa dijumpai ratusan spesies burung di mana beberapa jenis di antaranya bersifat endemik atau hanya bisa ditemukan di Pulau Flores saja.

Dari deretan panjang potensi wisata itu, ternyata hanya segelintir saja yang sudah terekspos ke permukaan seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Juga Pantai Merah dengan bentang pantainya yang berpasir merah dan taman lautnya serta pantai Lasa dan Pulau Bidadari yang juga mengandalkan keindahan taman lautnya. Sementara keberadaan obyek-obyek wisata lainnya nyaris tak terdengar alias tidak banyak dijamah oleh wisatawan mancanegara maupun domestik. Dengan kata lain, Pemkab Manggarai Barat dan masyarakat setempat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal. Pendek kata, gemerincing dolar yang dibelanjakan wisatawan di kabupaten yang baru menata pusat pemerintahannya ini memang sangat jauh dari kesan riuh. Bahkan, bisa disebut sunyi senyap.
***
ANDA juga pasti terbengong-bengong menikmati keindahan perut bumi Batu Cermin. Goa alam yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari pusat ibu kota Labuan Bajo ini ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di dalam goa sepanjang sekitar 200 meter yang memiliki banyak lorong itu, dipenuhi dengan aneka rupa stalagtit dan stalagmit yang masih terpelihara dengan baik.

Daya pukau lain dari goa alam ini, di sejumlah bagian goa menempel fosil terumbu karang dan satwa penyu yang telah membatu yang menandakan bahwa goa ini merupakan bagian palung laut pada zaman lampau. Sedangkan penamaan Batu Cermin itu sendiri, barangkali diambil dari keberadaan sejumlah stalaktit dan staglamit yang memancarkan sinar berkilauan bak kristal jika tertimpa lampu senter. "Sungguh indah sekali. Karena banyak batu-batuan di sini memantulkan sinar berkilauan, maka goa ini dinamai Batu Cermin. Penamaan yang sangat praktis," ujar pemandu wisata, Gabriel Bambo, yang memandu kami menjelajah perut bumi itu.

Ternyata, kecantikan Batu Cermin yang sangat luar biasa itu belum mendatangkan kontribusi apa-apa bagi Pemkab Manggarai Barat maupun warga di sekitarnya. Pasalnya, pemerintah setempat belum memungut retribusi alias objek wisata ini masih bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh para wisatawan. Andai saja goa seperti ini ada di Bali, berapa dolar yang akan mengalir deras ke kantong pemkab setiap harinya. "Seumur-umur, saya belum pernah melihat goa alam seindah ini," kata salah seorang pengusaha travel agent dari Bali. Sebuah pernyataan yang murni lahir dari rasa kekaguman yang sangat.

Ternyata, Batu Cermin bukan satu-satunya goa alam memesona yang dimiliki Manggarai Barat. Di luar itu, masih ada goa alam Batu Susun, Liang Dara dan Liang Rodak yang semuanya berlokasi di Kecamatan Komodo. Serupa dengan Batu Cermin, pesona keempat goa alam itu dijamin mampu menaut hati para wisatawan yang maniak menjelajah kedalaman perut bumi. "Karena keterbatasan struktur-infrastruktur, khususnya akses jalan menuju objek wisata itu, potensi wisata yang kami miliki seolah-olah masih tertidur pulas. Jangankan dikunjungi wisatawan, nama obyek itu saja belum sampai ke telinga mereka. Manggarai Barat memang bukan Bali yang begitu pesat perkembangan sektor kepariwisataannya," kata Gabriel Bambo dengan nada getir.

Salah satu potensi wisata Manggarai Barat yang juga layak dikedepankan adalah Danau Sano Nggoang yang berlokasi di Kecamatan Sano Nggoang. Danau yang tercipta akibat letusan gunung berapi ini (danau vulkanik-red) memiliki kadar belerang yang tinggi. Di sini, juga terdapat sumber air panas yang suhunya mencapai lebih dari 60 derajat Celcius. Makanya, masyarakat setempat biasa memanfaatkan sumber air itu merebus telur.

Di samping memiliki panorama alam yang sangat indah, di tengah danau ini juga menyembul daratan yang tidak kalah indahnya dengan Pulau Samosir di Danau Toba. Kelebihan lainnya, kawasan danau ini juga dihuni berbagai jenis burung di mana beberapa di antaranya merupakan jenis burung migran dari Benua Australia. Sayang, perlu perjuangan berat bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Dana Sano Nggoang itu. Jalan akses menuju danau itu boleh dibilang sangat jauh dari kesan layak karena tidak bisa dijelajahi kendaraan umum biasa. (viktor frankl/robron.multiply.com)


Tidak ada komentar: