Spirit NTT, 25-31 Mei 2009
ATAMBUA, SPIRIT--Masyarakat di Kabupaten Belu masih menganut pola hidup konsumtif. Dana bantuan pemerintah yang diterimanya dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dana itu juga sering digunakan untuk kebutuhan pesta.
Wakil Bupati (Wabup) Belu, Ludovikus Taolin, mengatakan hal ini ketika membuka acara sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah dan kebanksentralan di Hotel Permata Atambua, Rabu (13/5/2009).
Taolin mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir angka kemiskinan di Kabupaten Belu hanya turun sekitar seribu lebih, sementara dana pemberdayaan dari pemerintah setiap tahun selalu mengalami peningkatan sehingga perlu mendapat perhatian serius dalam mengentaskan kemiskinan di Belu.
Selain itu, jumlah rakyat miskin selalu naik turun tergantung ada atau tidak bantuan pemerintah, seperti bantuan langsung tunai (BLT).
Wabup Taolin juga meminta pimpinan Bank Indonesia Kupang dan pimpinan BUMN di Belu untuk peduli terhadap masyarakat miskin dengan bantuan kredit lunak sehingga masyarakat dapat dientaskan dari kemiskinan.
Wabup berharap jika masyarakat menemui uang palsu segera melaporkan kepada aparat keamanan, bank atau pemeirntah terdekat untuk menghindari peredaran uang yang lebih besar lagi.
Kepala Bank Indonesia Kupang, Lukdir Gultom, mengatakan, pemalsuan uang dan peredaran uang palsu di NTT relatif masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada data tahun 2004 sampai 2009. Pada tahun 2004 ditemukan 14 lembar dengan total moninal Rp 696.000,00, tahun 2005 ditemukan 44 lembar dengan total nominal Rp 2.050.000,00, tahun 2006 ditemukan 24 lembar dengan total nominal Rp 1.380.000,00, tahun 2007 ditemukan 21 lembar dengan total nominal Rp 1.100.000,00.
Pada tahun 2008 ditemukan 14 lembar dengan total nominal Rp 860.000,00 dan tahun 2009 ditemukan dua lembar dengan total nominal Rp 100.000,00. Lukdir mengatakan, Bank Indonesia akan terus memberikan sosialisasi bagaimana mengenal uang rupiah yang asli. Beberapa cara di antaranya membuat iklan di media massa terkenal. (humas pemkab belu)
ATAMBUA, SPIRIT--Masyarakat di Kabupaten Belu masih menganut pola hidup konsumtif. Dana bantuan pemerintah yang diterimanya dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dana itu juga sering digunakan untuk kebutuhan pesta.
Wakil Bupati (Wabup) Belu, Ludovikus Taolin, mengatakan hal ini ketika membuka acara sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah dan kebanksentralan di Hotel Permata Atambua, Rabu (13/5/2009).
Taolin mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir angka kemiskinan di Kabupaten Belu hanya turun sekitar seribu lebih, sementara dana pemberdayaan dari pemerintah setiap tahun selalu mengalami peningkatan sehingga perlu mendapat perhatian serius dalam mengentaskan kemiskinan di Belu.
Selain itu, jumlah rakyat miskin selalu naik turun tergantung ada atau tidak bantuan pemerintah, seperti bantuan langsung tunai (BLT).
Wabup Taolin juga meminta pimpinan Bank Indonesia Kupang dan pimpinan BUMN di Belu untuk peduli terhadap masyarakat miskin dengan bantuan kredit lunak sehingga masyarakat dapat dientaskan dari kemiskinan.
Wabup berharap jika masyarakat menemui uang palsu segera melaporkan kepada aparat keamanan, bank atau pemeirntah terdekat untuk menghindari peredaran uang yang lebih besar lagi.
Kepala Bank Indonesia Kupang, Lukdir Gultom, mengatakan, pemalsuan uang dan peredaran uang palsu di NTT relatif masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada data tahun 2004 sampai 2009. Pada tahun 2004 ditemukan 14 lembar dengan total moninal Rp 696.000,00, tahun 2005 ditemukan 44 lembar dengan total nominal Rp 2.050.000,00, tahun 2006 ditemukan 24 lembar dengan total nominal Rp 1.380.000,00, tahun 2007 ditemukan 21 lembar dengan total nominal Rp 1.100.000,00.
Pada tahun 2008 ditemukan 14 lembar dengan total nominal Rp 860.000,00 dan tahun 2009 ditemukan dua lembar dengan total nominal Rp 100.000,00. Lukdir mengatakan, Bank Indonesia akan terus memberikan sosialisasi bagaimana mengenal uang rupiah yang asli. Beberapa cara di antaranya membuat iklan di media massa terkenal. (humas pemkab belu)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar