Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Koda Tak Keberatan SMK Lewotolok Dinegerikan
Spirit NTT, 25-31 Mei 2009, Laporan Egy Moa


LEWOLEBA, SPIRIT
--Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ile Lewotolok, Ferdinandus Koda, tidak berkeberatan jika status sekolah yang berdirinya diprakarsai
oleh Yayasan Profesi Ile Lewotolok itu dialihkan menjadi sekolah negeri.

Pihaknya sudah siap karena guru yang tersedia mencukupi dan siswanya juga lebih banyak dibanding SMK lain yang ada di Lembata. Dengan pengalihan status sekolah negeri, maka sekolah ini akan maju dan ada dukungan dana rutin setiap tahun dari pemerintah.


"Bagi kami tak masalah. Kami malah pertanyakan, kenapa pemerintah daerah mesti bangun SMK baru di Wulandoni, di Ile Ape dan rencananya lagi dibangun di Kalikasa (Kecamatan Atadei). Padahal jumlah siswa di sekolah-sekolah itu tak sebanyak siswa di SMK Ile Lewotolok," kata Fredi, pekan lalu.

Dikatakannya, sekolah itu didirikan enam tahun lalu pada lahan seluas 6.840 meter persegi, dibeli seharga Rp 58 juta. Di atas tanah tersebut dibangun sembilan ruang kelas dan laboratorium praktek siswa jurusan listrik, bangunan dan juru mesin otomotif. Seluruh fasilitasnya diadakan dengan dana `blockgran' dari pemerintah pusat. Sedangkan bantuan melalui dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan, telah diajukan proposal meski belum ada tanggapan pemerintah.

Kini, kondisi bangunan gedung SMK Ile Lewotolok di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, itu sangat memrihatinkan. Kegiatan belajar mengajar (KBM) guru dan 213 siswa-siswi di sekolah itu berlangsung di dalam bangunan sangat sederhana. Bangunan itu hasil swadaya yayasan dan orangtua siswa.

Lantai kelas hanya lantai tanah dan lantai semen kasar sehingga kurang nyaman untuk proses KBM siswa. Pada musim hujan, ketika angin kencang disertai hujan, air hujan masuk memenuhi ruang belajar melewati celah-celah dinding. Alat lab pun sangat minim.

Sementara itu, akses jalan masuk ke sekolah itu sangat menyengsarakan mereka di musim hujun. Dua jalan yang bisa dilewati merupakan jalan tanah. Para siswa dan guru bisa menempuh alternatif pertama dari sebelah barat melewati Gereja Bethel terus ke selatan dan belok ke timur mendaki bukit kecil dan masuk ke kompleks sekolah. Jalan alternatif kedua dari depan kantor Camat Nubatukan ke selatan sekitar 100 meter lebih. Pada musim dua akses jalan ini sangat sulit dilewati karena lumpur yang cukup tebal. (*)

Tidak ada komentar: