Spirit NTT, 13-19 April 2009
MAUMERE, SPIRIT--Lebih dari dua ratus bahasa daerah yang ada di Indonesia, termasuk bahasa daerah Sikka, terancam kehilangan aslinya dan akan punah. Hal ini disebabkan ketidakpedulian warga terhadap penggunaan bahasa daerah untuk dibudayakan, selain masuknya bahasa lain yang membaur penggunaannya dengan bahasa daerah.
Hal ini diungkapkan Anggota DPRD NTT, Oscar P Mandalangi, ketika bertatap muka dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka di Aula Lantai II Kantor Bupati Sikka, Jalan Ahmad Yani Maumere, Senin (23/3/2009). Oscar bersama anggota Dewan lainnya berada di Sikka untuk melakukan kunjungan kerja menjaring aspirasi masyarakat.
Selain bahasa daerah di Kabupaten Sikka, katanya, bahasa daerah daerah lain di NTT juga terancam punah. Untuk itu, katanya, DPRD NTT telah mengajukan usulan kepada pemerintah supaya bahasa daerah di NTT, termasuk bahasa Sikka supaya dipergunakan di sekolah sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok).
"Sejauh ini pemerintah cenderung berupaya mempelajari Bahasa Indonesia secara baik, dengan melupakan bahasa daerah. Padahal bahasa daerah merupakan sebuah budaya dan menjadi bahasa ibu. Sehingga untuk melestarikan bahasa daerah, DPRD NTT telah mengajukan usulan kepada Pemerintah Propinsi NTT agar dijadikan mulok pada jenjang pendidikan sekolah dasar dari kelas satu hingga kelas tiga," tutur Oscar.
Selain mempelajari bahasa daerah dalam muatan lokal, lanjutnya, karya seni daerah di NTT seperti tenun juga patut dilestarikan. "Karya seni ini pantas dipelajari generasi muda di NTT pada jenjang pendidikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas," tegas Oscar.
Oscar Mandalangi berharap selain menjaga dan melestarikan bahasa daerah dan tenun ikat, berbagai peninggalan kebudayaan seperti kubur batu megalitikum, rumah adat, arca/patung, tari tarian daerah, serta berbagai karya seni budaya lainnya juga supaya dilestarikan dan dipelajari generasi muda.
Lepo Gete Tidak Terurus
Oscar juga menemukan Lepo Gete sebagai rumah Raja Sikka yang ada di Desa Sikka Kecamatan Lela kini tidak diperhatikan dan ditelentarkan oleh pemerintah. Padahal Lepo Gete juga merupakan salah satu asset wisata budaya yang harus ikut diandalkan Kabupaten Sikka.
Selain Lepo Gete, kata Oscar, rumah pastor di Mageria, Kecamatan Paga, Koting dan Lela juga perlu dilestarikan sebagai peninggalan Bangsa Eropa (Berarsitek Bangsa Potugis) dan telah berusia lebih dari 50 tahun.
Selain Oscar, anggota DPRD NTT yang melakukan kunjungan kerja ke Sikka adalah Drs. Paulus Moa, Drs. Kristo Blasin, Ir. Yucundianus Lepa, M.Si. Juga ada pendamping dari Pemerintah Propinsi NTT, yakni Lukas Nuga (Dinas Kesehatan), Domi Lake (Dinas Pertanian dan Perkebunan), Induk M Simorangkir (Dinas Koperasi), Reguna S Bonsa (Sekertariat Dewan Propinsi NTT), Femi Amadi (Sekrrtariat Dewan Propinsi NTT), Emanuel Tefnay (Sekertariat Dewan Propinsi NTT) dan I Made (Dinas Pendidikan).
Di Sikka, Dewan melihat secara langsung hasil pelaksanaan proyek pembangunan yang dianggarkan Pemerintah Propinsi tahun anggaran 2008, serta menyampaikan beberapa agenda kegiatan pembangunan tahun 2009. (john oriwis/humas sikka)
Bahasa Daerah Sikka Terancam Punah
Label:
Sikka
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar