Spirit NTT, 2-8 Maret 2009
LABUAN BAJO, SPIRIT--Warga Desa Batu Tiga, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), mengeluhkan harga jual rumput laut yang tidak stabil. Bahkan mengalami penurunan. Kondisi ini membuat petani rumput laut tidak bergairah untuk membudidayakan komoditi ini.
Sejumlah petani rumput laut asal Boleng, kepada SPIRIT NTT di halaman Gedung DPRD Mabar, Kamis (26/2/2009), mengatakan, mereka kecewa dengan sikap pemerintah setempat yang tidak tegas menetapkan harga rumput laut. Padahal jika ada penetapan harga yang standar, tentu harga rumput laut tidak selalu mengalami fluktuasi. Petani mengakui, dengan turunnya harga rumput laut banyak di antara mereka beralih mata pencaharian.
Haji Muhammad Rais, selaku perwakilan petani budidaya rumput laut, menjelaskan, harga rumput laut sebelumnya, berkisar Rp 20.000,00 hingga Rp 22.000,00/kg dalam bentuk kering. Namun saat ini turun drastis menjadi Rp 8.000,00 hingga Rp 10.000,00/kg kering.
"Memang ada penurunan harga jual sejak tahun lalu sehingga sejumlah petani berhenti budidaya akibat biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Kami akui ada sejumlah faktor yang mempengaruhi tapi apakah tidak ada kebijakan pemerintah untuk menetapkan harga," tanya Haji Rais.
Tentang harga jual rumput laut basah/mentah, dia mengaku sebelumnya dijual seharga Rp 8.000,00 hingga Rp. 10.000,00/kg tapi dengan adanya penurunan harga maka sekarang harga jual basah hanya Rp 4.000,00/kg.
Dikatakannya, petani rumput laut diperairan Boleng tidak begitu mempersoalkan penurunan harga jika tidak didukung mutu rumput laut. Namun mutu yang dihasilkan petani di wilayah ini u cukup baik dan sudah dinilai pengusaha yang masuk membeli di wilayah ini
"Kalau harga jual dalam bentuk kering Rp 10.000,00 - Rp. 15.000,00/kg petani masih menerima dengan senang hati. Tapi ini hanya Rp 8.000,00. Bahkan ada yang terjual dengan harga Rp 7.500,00/kg. Kami minta kalau bisa ada penetapan harga dari pemerintah," ujarnya. (yel)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar