SPIRIT NTT/IST
POTONG DAGING PAUS--Para nelayan Lamalera memotong daging paus yang ditangkap secara tradisional belum lama ini. Dagingnya antara lain dibarter dengan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Memburu Paus Dengan Cara Zaman Batu
Spirit NTT, 16-22 Maret 2009
SEBUAH berita dari mail online yang dituliskan oleh Bona Beding 4 Juli 2007 lalu menceritakan tentang aksi sekelompok nelayan dalam penangkapan ikan paus sperma dengan metode tradisional atau teknik zaman batu. Inilah garis penghidupan mereka belum berubah sejak beratus-ratus tahun silam dan belum tersentuh teknologi.
Gambar yang mengagumkan. Sekelompok nelayan dengan terampil, hanya mengandalkan ketangkasan dan keberanian yang luar biasa, mereka menangkap ikan paus sperma sepanjang 75 kaki, yang akan mereka manfaatkan bagi penyediaan berbagai bahan kebutuhan dan makanan yang cukup untuk kampung mereka.
Dua perahu nelayan bekerja sama, sedang pimpinan mereka menggantung di udara ketika tombaknya menghunjam tubuh ikan paus ini. Perburuan ini terjadi di perairan Indonesia, mereka berjuang lebih dari enam jam, dengan menggunakan tombak dan pisau tradisional untuk menundukkan ikan paus ini. Ikan paus ini mereka namai koteklema.
Akhirnya, nelayan dari Lamalera (suatu kampung yang terletak di sebelah selatan pulau Lembata di Indonesia), itu dapat membunuh paus sperma ini dengan cara sangat tradisional. Ini semua sangat jauh berbeda dengan penangkapan ikan paus oleh kapal nelayan Jepang, yang menggunakan granat harpoon untuk membantai ikan ini untuk kepentingan industri perikanan mereka.
Nelayan ini berlayar dari Lamalera dengan layar perahu yang ditenun dari daun gewang dan masing-masing kapal adalah buatan tangan, dengan tidak menggunakan paku atau metal. Tali temali dibuat dari pintalan serat daun telapak tangan dan serat kayu waru.
Mereka miskin, mereka bermukim di pulau yang berbatu-batu dan tidak datar, sangat sedikit lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Penghasilan utama hanya bergantung pada kegiatan penangkapan ikan yang berlimpah seperti ikan marlin, ikan tuna, stingray, penyu, ikan gurita dan udang laut.
Selama musim melaut Lefa Nue dari bulan Mei sampai Oktober, orang desa ini berburu ikan paus, ikan hiu dan dolfin. Bagaimana pun, ada rasa khawatir akan masa depan dari masyarakat di sini. Jumlah ikan paus ini sudah semakin menurun, perburuan sekarang lebih sedikit dibanding masa lima tahun yang lalu. Tahun 2007 mereka hanya dapat menangkap tiga ikan paus.
"Jika tidak ada damai di antara kita, tidak akan ada penangkapan ikan paus baik," kata Anna Bataona orang desa di sana. Mereka percaya bahwa harus ada harmoni penghidupan di darat dengan di laut, kedamaian di daratan akan memberikan hasil perburuan yang baik. (www.nusacendanaBIZ.com)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar