Spirit NTT, 6-12 Oktober 2008
WAINGAPU, SPIRIT- Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, mengatakan kerukunan antarumat beragama di daerah itu harus tetap dijaga dan dipertahankan. Perbedaan tidak harus memisahkan kebersamaan, tetapi sebaliknya. Kita rajut perbedaan dalam bingkai kebersamaan dan persatuan.
"Jangan mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang sengaja merusak persatuan dan sudah kita bina selama ini sejak zaman nenek moyang," ujar Gidion ketika memberi bantuan uang Rp 2,5 juta kepada anak yatim piatu binaan Yayasan Al Abror di Kampung Arab, Kelurahan Hambala, Selasa (1/10/2008) malam.
Pada kesempatan itu, Bupati Gidion berjanji memasukkan anggaran untuk anak yatim piatu naungan Yayasan Al Abror dalam porsi APBD Sumba Timur. "Saya akan usahakan agar Yayasan Al Abror mendapat porsi di APBD. Ini demi generasi penerus bangsa dan daerah kita yang kebetulan menyandang status sebagai anak yatim piatu," tegasnya.
Melatih moral
Sementara itu, Khatib sholat ied pada perayaan Idul Fitri 1429 H, Muhamad Fadlul, menegaskan, puasa di bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah kewajiban yang harus dijalankan. Puasa juga melatih moral dan nurani umat muslim terhadap kekurangan yang dialami fakir miskin.
Fadlul mengungkapkan hal itu dalam khotbah di hadapan ribuan umat Islam di Sumba Timur yang memadati lapangan Pahlawan, Kota Waingapu, Rabu (2/10/2008).
Menurut Fadlul, dengan berpuasa, umat Islam sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur'an yang diturunkan pada Nabi Besar Muhammad SAW, akan kembali pada kesucian (Fitrah) yang hakikih seperti ketika pertama kali dilahirkan ke dunia. "Kecuali bagi orang-orang munafik yang enggan menjalankan puasa di bulan Ramadhan padahal itu perintah Allah SWT yang tidak bisa ditinggalkan," tegasnya.
Ia mengatakan, Idul Fitri adalah momentum merayakan kemenangan umat Islam yang telah melewati pertarungan yang maha dahsyat di bulan Ramadhan dalam menahan hawa napsu yang bisa membatalkan puasa.
Sebelumnya, dimalam takbiran Selasa (1/10/2008), ratusan umat Islam di Kota Waingapu melakukan pawai karnaval sepanjang jalan Hasanudin, A. Yani dan Yos Soedarso. Sebuah mobil hitam mengangkut tulisan berbahan kardus bertuliskan 'Allah'. (dea)
WAINGAPU, SPIRIT- Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, mengatakan kerukunan antarumat beragama di daerah itu harus tetap dijaga dan dipertahankan. Perbedaan tidak harus memisahkan kebersamaan, tetapi sebaliknya. Kita rajut perbedaan dalam bingkai kebersamaan dan persatuan.
"Jangan mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang sengaja merusak persatuan dan sudah kita bina selama ini sejak zaman nenek moyang," ujar Gidion ketika memberi bantuan uang Rp 2,5 juta kepada anak yatim piatu binaan Yayasan Al Abror di Kampung Arab, Kelurahan Hambala, Selasa (1/10/2008) malam.
Pada kesempatan itu, Bupati Gidion berjanji memasukkan anggaran untuk anak yatim piatu naungan Yayasan Al Abror dalam porsi APBD Sumba Timur. "Saya akan usahakan agar Yayasan Al Abror mendapat porsi di APBD. Ini demi generasi penerus bangsa dan daerah kita yang kebetulan menyandang status sebagai anak yatim piatu," tegasnya.
Melatih moral
Sementara itu, Khatib sholat ied pada perayaan Idul Fitri 1429 H, Muhamad Fadlul, menegaskan, puasa di bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah kewajiban yang harus dijalankan. Puasa juga melatih moral dan nurani umat muslim terhadap kekurangan yang dialami fakir miskin.
Fadlul mengungkapkan hal itu dalam khotbah di hadapan ribuan umat Islam di Sumba Timur yang memadati lapangan Pahlawan, Kota Waingapu, Rabu (2/10/2008).
Menurut Fadlul, dengan berpuasa, umat Islam sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur'an yang diturunkan pada Nabi Besar Muhammad SAW, akan kembali pada kesucian (Fitrah) yang hakikih seperti ketika pertama kali dilahirkan ke dunia. "Kecuali bagi orang-orang munafik yang enggan menjalankan puasa di bulan Ramadhan padahal itu perintah Allah SWT yang tidak bisa ditinggalkan," tegasnya.
Ia mengatakan, Idul Fitri adalah momentum merayakan kemenangan umat Islam yang telah melewati pertarungan yang maha dahsyat di bulan Ramadhan dalam menahan hawa napsu yang bisa membatalkan puasa.
Sebelumnya, dimalam takbiran Selasa (1/10/2008), ratusan umat Islam di Kota Waingapu melakukan pawai karnaval sepanjang jalan Hasanudin, A. Yani dan Yos Soedarso. Sebuah mobil hitam mengangkut tulisan berbahan kardus bertuliskan 'Allah'. (dea)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar