Spirit NTT, 15-21 September 2008, Laporan Julianus Akoit
PABRIK es di Pantai Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), juga ikut 'membeku.' Pabrik yang dibangun sejak tahun 2004 lalu kini mubazir. Pabrik es senilai Rp 400 juta ini dibangun untuk melayani 243 nelayan di pantai utara namun ternyata tidak dimanfaatkan sama sekali. Pabrik es ini baru beroperasi satu kali, yaitu bulan Januari 2008 lalu. Setelah itu tidak beroperasi sama sekali.
Kepala Tata Usaha (KTU) UPTD Perikanan Wini, Josep Bitin, ditemui di Wini, Sabtu (6/9/2008) petang, membenarkan kondisi tersebut. "Semua peralatan di pabrik ini masih berfungsi dengan baik. Namun kami berhenti beroperasi karena tidak ada nelayan yang datang membeli es di sini," jelasnya.
Dikatakannya, para papalele (pedagang ikan), juragan perahu dan nelayan cuma memanfaatkan es dari kios Bugis di Kota Wini dan toko es di Atambua, Kabupaten Belu. "Para papalele dan juragan perahu datang ke pantai sudah membawa sendiri es batu. Mereka beli di sejumlah kios Bugis di Kota Wini atau membawanya langsung dari Kota Atambua, Kabupaten Belu," jelasnya.
Selain itu, pihaknya baru mengoperasikan pabrik es jika ada permintaan dari kelompok nelayan. "Jika ada hasil tangkapan ikan yang lumayan besar baru mereka pesan es di sini. Jika tidak, mereka bawa es sendiri ke pantai," kata Bitin.
Ia menjelaskan, satu bar (balok) es ukuran satu meter dijual seharga Rp 10.000. Sedangkan di kios Bugis atau toko es dijual Rp 1.000 per satu balok ukuran 30 sentimeter. "Es dari pabrik bertahan selama tiga hari baru mencair. Tapi para nelayan justru memanfaatkan es yang dijual di kios dan toko. Saya tidak tahu kenapa?" tukasnya.
Beberapa nelayan dihubungi terpisah, mengatakan tidak memanfaatkan es dari pabrik karena harganya mahal. "Yang selama ini kami tahu pabrik es juga tidak berfungsi dengan baik. Alat cetak es (bar) terbuat dari logam sudah berkarat dan menara penampung air tidak mengalirkan air. Airnya sering macet. Kalau sudah begitu kami malas menunggu petugas pikul air untuk buat esnya. Capek," tukas beberapa nelayan yang menolak dituliskan namanya.
Pantauan SPIRIT NTT, pabrik es yang berdampingan dengan Kantor UPTD Perikanan Wini, terkunci rapat dan digembok. Tidak ada aktivitas sama sekali. Dari jendela kawat tampak generator penggerak dibiarkan tergeletak begitu saja. Ada sekitar 80 bar es terbuat dari logam tampak berkarat dan dibiarkan menggeletak di lantai.
Di sebelah barat berdiri menara air. Bak penampung air tampak kosong tidak ada air setitik pun. Bahkan bak air dimanfaatkan oleh beberapa ekor kambing untuk tiduran. Sampah daun dan pasir memenuhi bak air yang kering itu.*
Pabrik es itu juga ikut 'membeku'....
Label:
Timor Tengah Utara
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar