Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Presiden Golput

Oleh Dwi Sakti Nugroho *, Spirit NTT, 11 - 17 Agustus 2008

PRESIDEN Golput dalam jagad perpolitikan di Indonesia, istilah golput (golongan putih) atau mereka yang tidak menggunakan hak pilih. Golput sudah mulai terdengar menjelang tahun sembilan puluhan. Atau tahun-tahun ketika bendera politik di Indonesia hanya terdiri dari tiga partisipan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kemudian Golongan Karya (Golkar), dan ketiga Partai Demokrasi Indonesia.

Kemunculan golput didorong karena rasa ketidaknyamanan atas praktik-praktik perpolitikan. Dengan dalih dan cara-cara yang hanya menguntungkan atau hanya untuk memenangkan salah satu partai politik. Selalu terbukti pada akhirnya partai Golkar yang kala itu pasti dan akan selalu menang. Karena, selalu mendapat dukungan dan support dari penguasa pada waktu itu dan golput adalah sebuah sikap untuk protes atau tidak setuju atas perlakuan khusus pihak penguasa terhadap salah satu parpol tertentu. Jadi pesta demokrasi atau pemilihan umum pada tahun-tahun tersebut pasti sudah dapat ditebak dan diterka partai apa yang mendapat perolehan suara tertinggi, kemudian partai yang memperoleh nomer urut kedua dan ketiganya. Hal itu terjadi terus-menerus dan berulang-ulang.

Bisa jadi inilah yang menjadi pemicu atau awal mula tumbuhnya Golput. Sebagai bentuk atau bibit perlawanan atas perilaku politik yang tidak fair atau tidak seperti yang diharapkan oleh masyarakat, atau minimal mereka yang tidak sejalan atau satu visi dalam penerapan tata cara berpolitik.

Gaung golput pun ketika itu seperti tidak mempengaruhi kebijakan di tingkat elit politik. Berkibarnya bendera putih (golput)-pun seolah tenggelam di tengah merah, hijau, dan kuningnya, bendera parpol peserta pemilu. Dan sama sekali golput dianggap bukanlah merupakan batu sandungan bagi dunia perpolitikan di tanah Nusantara ini. The show must go on . Politik jalan terus.


Presiden Golput
Tahun 2008 tinggal menyisakan beberapa bulan lagi. Di separuh awal perjalanannya kejutan-kejutan di dunia politik muncul. Dan lagi-lagi golput seolah membuka kesadaran politik tanah air. Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah yang suara golput melebihi sang pemenang. 40 persen dan 42 persen. Pyur, kemunculan golput di tengah bermacam pilihan politik atau partai yang sekarang berjumlah 34 partai.

Di sebelah sana berkata, golput muncul karena rendahnya pengetahuan mereka tentang politik. Di lain tempat bilang, rakyat sudah apatis dengan praktik ingkarnya para punggawa politik. Ada juga yang mengatakan, buat apa nyoblos kalau hasilnya pun tidak membuat berubahnya taraf kesejahteraan hidupnya. Atau, segala macam bentuk alasan yang pada intinya adalah sebuah pembenaran-pembenaran. Golput yang di era tahun sembilan puluhan tidak di anggap muncul kembali. Golput menjadi perbincangan dan membuat gerah kumpulan ulama untuk membuat fatwa terhadap mereka yang tidak menggunakan hak pilih.

Jadi, nasib golputwan dan golputwati pun seolah dikebiri di tengah kemerdekaan menentukan sikap politik. Yang disebut sebagai bagian dari demokrasi. Golput atau tidak setuju atau tidak menggunakan hak pilihnya atas pilihan-pilihan politik. Muncul karena ketidaktahuan, atau ketidak-ingin-tahuan. Atau malah karena begitu paham dan mengertinya atas keputusan sikapnya.

Golput atau tidak setuju atau tidak menggunakan hak pilihnya atas pilihan-pilihan politik yang tidak menjadi tentram dan hanya memunculkan kemakmuran sepihak. Golput atas maraknya korupsi, atas penyelewengan uang negara. Atas tidak rasionalnya perilaku elit politik yang menjunjung norma namun justru melanggarnya. Golput atas keberpihakan keputusan peradilan. Golput atas maraknya tawuran yang tidak pernah diketahui secara sungguh-sungguh pangkal dan ujungnya. Terus menerus dan berulang ulang. Golput atas ketidakmengertian pengambilan sikap elit yang dengan enteng meremehkan azas praduga tak bersalah. Hanya sekadar untuk mengelak dari perkara atau mendadak opname untuk mengulur waktu persidangan.

Golput atas perilaku kutu loncat elit politik yang dengan entengnya meloncat kesana kemari atau dilanda kebingungan politik. Seharusnyalah mulai ada dan muncul presiden Golput. Pemimpin yang akan memporak-porandakan bangunan-bangunan politik yang sudah berdiri kokoh puluhan dekade. Pemimpin yang berani untuk tidak meneruskan artifisial politik yang cenderung hanya berupa janji dan janji. Pemimpin yang tidak memelihara dan memupuk serta menumbuh suburkan bibit pertengkaran. Atau pemimpin yang tidak tega ketika melihat anak-anaknya (rakyat) bertengkar saling lempar batu. Dan tidak sungguh-sungguh mengerti alasan yang menyebabkan pertengkaran. Yang paham betul bahwa rakyat tidak untuk diekploitasi hanya untuk sekedar tingginya perolehan suara, atau didekati ketika hendak memerlukannya dan tidak terdaftar dalam agenda ketika menang dalam pemilu.

Presiden golput yang paham dan mengerti benar keaneka-ragaman karakter rakyat yang dipimpinnya. Pemimipin yang mampu mengganti sikap apatis rakyatnya dengan optimisme, yang mampu menumbuhkan nasionalisme untuk menjaga tiap-tiap jengkal wilayahnya, atau sebagai penjaga otonomi daerah yang sekarang ini justru membuka peluang maraknya koruptor-koruptor baru.

Seperti mustahil karena golput tidak ada di dalam peta politik negeri ini. Namun, bisa saja mungkin untuk beberapa tahun ke depan akan muncul presiden golput. Mungkin ini akan menjadi tidak dianggap. Golput sebagai dorongan untuk putihnya kembali cara berpikir dan bertindak para elit politik.

Golput sebagai cermin untuk menjenguk kembali ke dalam nurani yang sesungguhnya. Nurani yang dikesampingkan dan terkubur demi untuk pemenuhan ambisi yang sesaat. Golput sebagai kritik untuk mengakui dan mendewasakan sikap kekanakan dalam berpolitik. Sikap yang cenderung memaksakan dan tidak memberi peluang atas perbedaan pendapat atas sebuah sikap yang selama ini menjadi bumerang bagi para elit. *

* Penulis, ilustrator/www.kabarindonesia.com



Tidak ada komentar: