Laporan Marsel Ali, Spirit NTT, 19-25 Mei 2008
KUPANG, SPIRIT--Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Distan), Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kupang, Ir. Max David Moedak, M.Si, menegaskan, pihaknya hanya mampu mengembangkan 50 hektar tanaman kedelai dari permintaan Departemen Pertanian RI sebanyak 1.341 ha.
Ia mengatakan itu kepada SPIRIT NTT di ruang kerjanya, Jumat (16/5/2008). Menurut Moedak, tanaman kedelai bisa dikembangkan di Kabupaten Kupang. Lahan untuk pengembangan kedelai pun cukup tersedia. Namun persoalan utama saat ini, masyarakat Kabupaten Kupang belum siap.
"Saya menolak mengembangkan kedelai dalam jumlah banyak. Persoalan utama, kita belum mempersiapkan masyarakat secara baik dalam konteks pengembangan komoditi kedelai. Kita tidak menginginkan program ini menuai kegagalan. Lebih arif bila kita menolak dari sekarang," ujarnya.
Informasi pengembangan kedelai itu terlambat ia terima dari departemen. "Jangankan program pengembangan kedelai. Pengembangan tanaman jagung seluas 10.000 hektar saja, kita tidak terima. Kita hanya mampu menerima 1.000 hektar dari lahan yang tersedia. Intinya, kita tidak mau gagal," ujarnya.
Terkait keinginan mengembangkan kedelai, tambahnya, pihak dinas telah didatangi warga Oesao dan sekitarnya untuk minta bibit. "Ini juga menjadi soal. Kita belum mantap benar dengan persiapan, warga sudah datang minta bibit kedelai ke dinas," ujar Moedak.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Oesao, Felypus Sadukh menjelaskan, warga Desa Oesao siap mengembangkan tanaman kedelai di lahan milik petani. Program tersebut merupakan program pusat melalui pemerintah propinsi.*
KUPANG, SPIRIT--Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Distan), Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kupang, Ir. Max David Moedak, M.Si, menegaskan, pihaknya hanya mampu mengembangkan 50 hektar tanaman kedelai dari permintaan Departemen Pertanian RI sebanyak 1.341 ha.
Ia mengatakan itu kepada SPIRIT NTT di ruang kerjanya, Jumat (16/5/2008). Menurut Moedak, tanaman kedelai bisa dikembangkan di Kabupaten Kupang. Lahan untuk pengembangan kedelai pun cukup tersedia. Namun persoalan utama saat ini, masyarakat Kabupaten Kupang belum siap.
"Saya menolak mengembangkan kedelai dalam jumlah banyak. Persoalan utama, kita belum mempersiapkan masyarakat secara baik dalam konteks pengembangan komoditi kedelai. Kita tidak menginginkan program ini menuai kegagalan. Lebih arif bila kita menolak dari sekarang," ujarnya.
Informasi pengembangan kedelai itu terlambat ia terima dari departemen. "Jangankan program pengembangan kedelai. Pengembangan tanaman jagung seluas 10.000 hektar saja, kita tidak terima. Kita hanya mampu menerima 1.000 hektar dari lahan yang tersedia. Intinya, kita tidak mau gagal," ujarnya.
Terkait keinginan mengembangkan kedelai, tambahnya, pihak dinas telah didatangi warga Oesao dan sekitarnya untuk minta bibit. "Ini juga menjadi soal. Kita belum mantap benar dengan persiapan, warga sudah datang minta bibit kedelai ke dinas," ujar Moedak.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Oesao, Felypus Sadukh menjelaskan, warga Desa Oesao siap mengembangkan tanaman kedelai di lahan milik petani. Program tersebut merupakan program pusat melalui pemerintah propinsi.*





Tidak ada komentar:
Posting Komentar