Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

UN, polisi masuk sekolah?

Spirit NTT, 14-20 April 2008

SETENGAH terpana saya melihat seorang polisi yang masuk sekolah dengan menenteng senjata apinya mengawal guru yang membawa soal. Sungguh hati ini terenyuh. Sebagai seorang pendidik saya merasa dicampakkan, betapa sang guru, sudah tidak dipercaya lagi sebagai orang jujur di negeri ini...
Hari berikutnya saya melihat kawan-kawan di televisi mengatasnamakan Komunitas Air Mata Guru menangisi teman guru lain yang berbuat curang. Betapa aku tersentak, sebegitu rusakkah moral para guru sampai tidak takut terhadap polisi?

Entahlah apakah ini gugatan ataukah keluhan, dilamunanku muncul rentetan kata- kata, "Siapa sebenarnya yang tahu kondisi anak didik di kelas? Apa sih maunya para birokrat yang memberikan kewenangan kurikulum tingkat satuan pendidikan kalau nasib anak ujung-ujungnya ditentukan hanya tiga hari dengan materi yang itu-itu juga? Benarkah anak di Jakarta dan di luar Jawa mampu berkutat dengan soal di atas angka 5? Kalau memang para guru tidak dipercaya, jujurkah para birokrat di sana?"
Lamunanku semakin beranjak tinggi. Ah, seandainya bukan UN sebagai penjegal siswa yang berprestasi di bidang non tiga pelajaran itu, seandainya sekolah sebagai penentu kebijakan kelulusan? Ah, seandainya UN hanya sebagai parameter keberhasilan sekolah oleh pemerintah, seandainya UN diganti dengan uji sertifikasi siswa berprestasi masuk universitas, seandainya para guru mempunyai sikap mulia seperti komunitas para guru, seandainya para guru tidak merasa tega melihat anak yang sudah berkutat tiga tahun, yang jujur, yang sopan, yang tertib, yang begitu hormat, yang suka bermusik, yang suka meneliti, yang suka menggambar, yang penari, yang pecinta budaya pribumi yang hobbi pramuka, paskibra, bela bangsa ternyata terjegal hanya karena tidak mampu berhitung dan ngomong bahasa orang. Tentu tidak harus pak polisi repot-repot masuk sekolah, tidak perlu ada kecurigaan antar guru, tidak perlu ada kepala sekolah yang dipecat akibat terlalu sayang pada anak-anaknya.
Lamunanku buyar ketika seraut muka dengan gemerincing perhiasan muncul tiba-tiba di depan mata.
"Pak, katanya PSB sudah dibuka ya? Saya mau daftarkan anak, tapi gratis ya pak, kan katanya sekarang sekolah itu gratis?"
"Alhamdulillah, iya Bu, sekarang pemerintah sudah banyak membantu kita, jadi anak ibu tinggal ikut test saja besok".
"Aku meraih anak kecil itu dengan pandangan iba, "Kamu nanti mau jadi apa nak, ayo cerita sama bapak."
Insya Allah dana BOS masih mencukupi untuk menghantarkan masa depanmu, tapi tolong ya nak, bapak mohon jangan tertawakan Gurumu ini yang nanti pulang pake motor butut lain daripada Ibumu yang sanggup bayar tujuh kali lipat dari SPP tahun lalu... (aam amarullah)



Tidak ada komentar: