Spirit NTT, 21-27 April 2008
KEADAAN pertanian di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menampakkan fenomena yang merisaukan sekaligus menarik. Di satu sisi, dirisaukan oleh kenyataan bahwa pada awal musim tanam tahun ini, hujan turun tiada menentu yang membuat para petani kita di beberapa tempat di TTU terpaksa menanam ulang lahan pertaniannya; sementara di tempat lain, tanaman padi dan jagung yang sudah bertumbuh baik, justru dirusak oleh curah hujan yang sedikit lebih banyak di pertengahan musim disertai angan kencang.
Tidak hanya itu, tanaman padi dan jagung milik petani juga dirusak secara massal oleh jutaan belalang yang berkembang pesat, sebagaimana yang terjadi di Napan, Kecamatan Miomaffo Timur. Di sisi lain, TTU juga dikejutkan oleh munculnya hasil panen padi dan jagung yang sangat mengesankan, seperti yang terjadi di 165 hektar (ha) lahan Usaha Kebun Menetap (Ubuntap) yang tersebar di Kecamatan Miomaffo Timur, Kecamatan Kota Kefamenanu dan Kecamatan Insana.
Disaksikan pula, betapa sawah-sawah yang merupakan sentra produksi padi di daerah itu seperti di Naitanu, Lurasik, Oerinbesi, Haekto, Kaubele, Banatun, Maurisu, dan beberapa tempat lain yang sudah ditanami padi, tampaknya menjanjikan hasil panen yang membesarkan hati.
Kondisi ini dilukiskan Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, ketika melakukan panen simbolis padi ladang Varietas IR 64 dan jagung varietas Lamuru di kebun petani pada kelurahan Bitefa, Kecamatan Miomaffo Timur, Selasa (9/4/2008).
Acara panen ini menghadirkan beberapa kelompok tani binaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten TTU yang bergerak di bidang pertanian lahan kering kebun menetap (Ubuntap).
Dari hasil panen tahun ini, kata Bupati Manek, tercatat bahwa terdapat sejumlah kelompok tani yang mendapatkan hasil panen lebih dari target yang ditentukan untuk klasifikasi lahan kering, yakni mencapai 4,9 ton per ha. Dari hasil tersebut, ke depan TTU sudah bisa menciptakan ketahanan pangan sendiri.
Bupati Manek melukiskan prestasi panen tahun ini setidak-tidaknya telah membuat harapan warga TTU menjadi semakin bersemi bahwa ternyata kita masih mampu meningkatkan ketahanan pangan di tengah kendala iklim dan alam yang semakin kurang bersahabat.
"Melalui prestasi seperti ini, kita ingin membuktikan kepada dunia bahwa ternyata tanah kita juga tergolong tanah surga, tempat kayu dan batu jadi tanaman," katanya seraya mengutip syair lagu group musik Koes Ploes dalam lagu Bukan Lautan Hanya Kolam Susu. Melalui peristiwa panen tersebut, Bupati Manek mengatakan, kita (masyarakat TTU, Red) juga membuktikan bahwa ternyata tanah kita tidaklah setandus yang dikatakan atau di perkirakan oleh kebanyakan orang selama ini. "Mungkin yang benar adalah bahwa kita belum mengolah tanah kita secara tepat, sehingga tanah tidak memberikan hasil sebagaimana kita harapkan," tegas Manek.
Bupati Manek, mengatakan, dewasa ini ketahanan pangan telah menjadi isu sentral dalam pembangunan pertanian karena laju pertumbuhan permintaan pangan oleh masyarakat lebih cepat dan laju pertumbuhan penyediaan atau produksi pangan. Memperhatikan kondisi demikian, Bupati Manek mengatakan, manejemen ketahanan pangan perlu dimantapkan sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Ketahanan Pangan dalam sudut pandang produk hukum ini diartikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik julah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Di sini, ketahanan pangan tidak hanya berupa pemenuhan konsumsi pangan tetapi harus memperhatikan juga kualitas dan daya beli masyarakat.
Ketahanan pangan ini akan terwujud bila hasil kerja suatu sistem ekonomi pangan yang terdiri dari subsistem penyediaan, distribusi dan konsumsi dapat saling berinteraksi secara berkesinambungan dan terpadu. Pengembangan subsistem penyediaan pangan umumnya berasal dari produksi dan cadangan pangan dalam wilayah serta pemasukan pangan dari luar wilayah. Namun kondisi ini, sangat tergantung dari sumber daya lahan, pengairan, sarana produksi dan teknologi.
Oleh karena itu, pinta Manek, dinas pertanian dan lembaga-lembaga terkait diharapkan dapat merencanakan, mengatur dan mengelola sumber daya manusia dan juga berbagai fasilitas yang ada dilingkungan kerjanya sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan secara proporsional, berdaya guna dan berhasil guna.
Di tengah para petani yang dengan serius mendengarkan arahannya, Bupati Manek menandaskan bahwa di bawah payung Lima Program Strategis kita telah berupaya keras, tidak hanya untuk meningkatkan produksi atau ketersediaan pangan, tetapi lebih dari pada itu bertekad kukuh untuk keluar dari kemelut dan lilitan rawan pangan, bahkan bertekad untuk BERDAULAT dalam hal pangan, di bawah semboyan: "Pertanian Maju Menjadikan Kesehatan Masyarakat Terjamin, Pendidikan Berkualitas, Koperasi dan UKM Maju dan Lingkungan Hidup Lestari".
Program ini telah, diakuinya, banyak memberikan hasil yang cukup baik dalam mengatasi masalah ketersediaan pangan, sebagaimana kita saksikan pada kesempatan yang sangat membahagiakan ini.
Namun demikian pengalaman kita selama ini menunjukkan bahwa kelimpahan hasil panen sering menyebabkan harga jual gabah atau beras rendah di pasaran akibat produksi yang lebih banyak dari permintaan.
Bupati Manek mengajak para petani agar apabila hasil panen ini tidak untuk dikonsumsi sendiri, tetapi sebagian hendak dijual untuk memenuhi kebutuhan lain, maka dapat dilakukan dengan sistem tunda jual dengan memanfaatkan lumbung pangan kelompok untuk mendapatkan harga jual yang wajar di pasaran.
Bupati Manek mengatakan, hasil padi dan jagung yang baru saja dipanen secara simbolis tadi ternyata merupakan hasil dari kegiatanberladang menetap, suatu model kegiatan pertanian yang selama ini dicurigai oleh hampir semua petani kita, sebagai suatu bentuk pertaniaan yang kurang mendatangkan hasil panen yang memadai.
Kepada para petani yang kebetulan hadir saat itu, Bupati Manek menegaskan bahwa sejak hari ini percayalah bahwa ternyata kebun tetap dapat memberi hasil panen yang berlimpah, yang penting dikerjakan dengan penuh perhatian, sambil memanfaatkan teknologi tepat guna yang dianjurkan oleh penyuluh pertanian.
"Kalau selama ini saudara-saudara bertindak sebagai Thomas-Thomas kecil yang tidak percaya sebelum melihat, maka mulai hari ini percayalah dan tinggalkanlah pola ladang berpindah, yang sejauh ini dianggap sebagai biangkerok dan penyebab utama dari kerusakan lingkungan. Tetapkanlah pendirian untuk memiliki kebun tetap yang ternyata memberikan hasil melimpah. Dngan demikian, kita dapat mengucapkan selamat tinggal kepada gizi buruk yang pernah dialami sebagian masyarakat kita," ujarnya.
Kepada para petani, yang telah terlanjur mengusahakan ladang berpindah, Bupati Manek mengharapkan agar ke depan dapat mengusahakan suatu model pertanian lahan kering yang ramah lingkungan, antara lain dengan menghijaukan kembali belukar dan hutan yang sudah dijadikan ladang.
"Barang kali kita juga perlu membaharui tekad kita untuk secara perlahan mulai meninggalkan pola ekstensifikasi pertanian (seperti berladang berpindah) dan mulai menerapkan pola intensifikasi pertanian (yaitu dengan memiliki kebun tetap yang diolah secara baik). Tampaknya hal ini seolah-olah melawan kebiasaan dan tradisi bertani yang sudah mendarah daging, namun kita harus memulainya bila kita masih punya hati dan kepedulian untuk anak cucu kita di kemudian hari. Jangan sampai karena tergiur oleh melimpahnya hasil panen sesaat, kita justru mewariskan sebuah lingkungan yang rusak dan tandus kepada generasi mendatang," tegasnya. (verry lake/humas TTU)
KEADAAN pertanian di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menampakkan fenomena yang merisaukan sekaligus menarik. Di satu sisi, dirisaukan oleh kenyataan bahwa pada awal musim tanam tahun ini, hujan turun tiada menentu yang membuat para petani kita di beberapa tempat di TTU terpaksa menanam ulang lahan pertaniannya; sementara di tempat lain, tanaman padi dan jagung yang sudah bertumbuh baik, justru dirusak oleh curah hujan yang sedikit lebih banyak di pertengahan musim disertai angan kencang.
Tidak hanya itu, tanaman padi dan jagung milik petani juga dirusak secara massal oleh jutaan belalang yang berkembang pesat, sebagaimana yang terjadi di Napan, Kecamatan Miomaffo Timur. Di sisi lain, TTU juga dikejutkan oleh munculnya hasil panen padi dan jagung yang sangat mengesankan, seperti yang terjadi di 165 hektar (ha) lahan Usaha Kebun Menetap (Ubuntap) yang tersebar di Kecamatan Miomaffo Timur, Kecamatan Kota Kefamenanu dan Kecamatan Insana.
Disaksikan pula, betapa sawah-sawah yang merupakan sentra produksi padi di daerah itu seperti di Naitanu, Lurasik, Oerinbesi, Haekto, Kaubele, Banatun, Maurisu, dan beberapa tempat lain yang sudah ditanami padi, tampaknya menjanjikan hasil panen yang membesarkan hati.
Kondisi ini dilukiskan Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, ketika melakukan panen simbolis padi ladang Varietas IR 64 dan jagung varietas Lamuru di kebun petani pada kelurahan Bitefa, Kecamatan Miomaffo Timur, Selasa (9/4/2008).
Acara panen ini menghadirkan beberapa kelompok tani binaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten TTU yang bergerak di bidang pertanian lahan kering kebun menetap (Ubuntap).
Dari hasil panen tahun ini, kata Bupati Manek, tercatat bahwa terdapat sejumlah kelompok tani yang mendapatkan hasil panen lebih dari target yang ditentukan untuk klasifikasi lahan kering, yakni mencapai 4,9 ton per ha. Dari hasil tersebut, ke depan TTU sudah bisa menciptakan ketahanan pangan sendiri.
Bupati Manek melukiskan prestasi panen tahun ini setidak-tidaknya telah membuat harapan warga TTU menjadi semakin bersemi bahwa ternyata kita masih mampu meningkatkan ketahanan pangan di tengah kendala iklim dan alam yang semakin kurang bersahabat.
"Melalui prestasi seperti ini, kita ingin membuktikan kepada dunia bahwa ternyata tanah kita juga tergolong tanah surga, tempat kayu dan batu jadi tanaman," katanya seraya mengutip syair lagu group musik Koes Ploes dalam lagu Bukan Lautan Hanya Kolam Susu. Melalui peristiwa panen tersebut, Bupati Manek mengatakan, kita (masyarakat TTU, Red) juga membuktikan bahwa ternyata tanah kita tidaklah setandus yang dikatakan atau di perkirakan oleh kebanyakan orang selama ini. "Mungkin yang benar adalah bahwa kita belum mengolah tanah kita secara tepat, sehingga tanah tidak memberikan hasil sebagaimana kita harapkan," tegas Manek.
Bupati Manek, mengatakan, dewasa ini ketahanan pangan telah menjadi isu sentral dalam pembangunan pertanian karena laju pertumbuhan permintaan pangan oleh masyarakat lebih cepat dan laju pertumbuhan penyediaan atau produksi pangan. Memperhatikan kondisi demikian, Bupati Manek mengatakan, manejemen ketahanan pangan perlu dimantapkan sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Ketahanan Pangan dalam sudut pandang produk hukum ini diartikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik julah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Di sini, ketahanan pangan tidak hanya berupa pemenuhan konsumsi pangan tetapi harus memperhatikan juga kualitas dan daya beli masyarakat.
Ketahanan pangan ini akan terwujud bila hasil kerja suatu sistem ekonomi pangan yang terdiri dari subsistem penyediaan, distribusi dan konsumsi dapat saling berinteraksi secara berkesinambungan dan terpadu. Pengembangan subsistem penyediaan pangan umumnya berasal dari produksi dan cadangan pangan dalam wilayah serta pemasukan pangan dari luar wilayah. Namun kondisi ini, sangat tergantung dari sumber daya lahan, pengairan, sarana produksi dan teknologi.
Oleh karena itu, pinta Manek, dinas pertanian dan lembaga-lembaga terkait diharapkan dapat merencanakan, mengatur dan mengelola sumber daya manusia dan juga berbagai fasilitas yang ada dilingkungan kerjanya sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan secara proporsional, berdaya guna dan berhasil guna.
Di tengah para petani yang dengan serius mendengarkan arahannya, Bupati Manek menandaskan bahwa di bawah payung Lima Program Strategis kita telah berupaya keras, tidak hanya untuk meningkatkan produksi atau ketersediaan pangan, tetapi lebih dari pada itu bertekad kukuh untuk keluar dari kemelut dan lilitan rawan pangan, bahkan bertekad untuk BERDAULAT dalam hal pangan, di bawah semboyan: "Pertanian Maju Menjadikan Kesehatan Masyarakat Terjamin, Pendidikan Berkualitas, Koperasi dan UKM Maju dan Lingkungan Hidup Lestari".
Program ini telah, diakuinya, banyak memberikan hasil yang cukup baik dalam mengatasi masalah ketersediaan pangan, sebagaimana kita saksikan pada kesempatan yang sangat membahagiakan ini.
Namun demikian pengalaman kita selama ini menunjukkan bahwa kelimpahan hasil panen sering menyebabkan harga jual gabah atau beras rendah di pasaran akibat produksi yang lebih banyak dari permintaan.
Bupati Manek mengajak para petani agar apabila hasil panen ini tidak untuk dikonsumsi sendiri, tetapi sebagian hendak dijual untuk memenuhi kebutuhan lain, maka dapat dilakukan dengan sistem tunda jual dengan memanfaatkan lumbung pangan kelompok untuk mendapatkan harga jual yang wajar di pasaran.
Bupati Manek mengatakan, hasil padi dan jagung yang baru saja dipanen secara simbolis tadi ternyata merupakan hasil dari kegiatanberladang menetap, suatu model kegiatan pertanian yang selama ini dicurigai oleh hampir semua petani kita, sebagai suatu bentuk pertaniaan yang kurang mendatangkan hasil panen yang memadai.
Kepada para petani yang kebetulan hadir saat itu, Bupati Manek menegaskan bahwa sejak hari ini percayalah bahwa ternyata kebun tetap dapat memberi hasil panen yang berlimpah, yang penting dikerjakan dengan penuh perhatian, sambil memanfaatkan teknologi tepat guna yang dianjurkan oleh penyuluh pertanian.
"Kalau selama ini saudara-saudara bertindak sebagai Thomas-Thomas kecil yang tidak percaya sebelum melihat, maka mulai hari ini percayalah dan tinggalkanlah pola ladang berpindah, yang sejauh ini dianggap sebagai biangkerok dan penyebab utama dari kerusakan lingkungan. Tetapkanlah pendirian untuk memiliki kebun tetap yang ternyata memberikan hasil melimpah. Dngan demikian, kita dapat mengucapkan selamat tinggal kepada gizi buruk yang pernah dialami sebagian masyarakat kita," ujarnya.
Kepada para petani, yang telah terlanjur mengusahakan ladang berpindah, Bupati Manek mengharapkan agar ke depan dapat mengusahakan suatu model pertanian lahan kering yang ramah lingkungan, antara lain dengan menghijaukan kembali belukar dan hutan yang sudah dijadikan ladang.
"Barang kali kita juga perlu membaharui tekad kita untuk secara perlahan mulai meninggalkan pola ekstensifikasi pertanian (seperti berladang berpindah) dan mulai menerapkan pola intensifikasi pertanian (yaitu dengan memiliki kebun tetap yang diolah secara baik). Tampaknya hal ini seolah-olah melawan kebiasaan dan tradisi bertani yang sudah mendarah daging, namun kita harus memulainya bila kita masih punya hati dan kepedulian untuk anak cucu kita di kemudian hari. Jangan sampai karena tergiur oleh melimpahnya hasil panen sesaat, kita justru mewariskan sebuah lingkungan yang rusak dan tandus kepada generasi mendatang," tegasnya. (verry lake/humas TTU)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar