Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Pegang teguh tradisi leluhur Rote

Spirit NTT 3-10 Desember 2007

MEMEGANG teguh tradisi leluhur sebagai amanah dalam konsep melestarikan budaya, merupakan suatu keharusan. Tidak dianggap sebagai cara-cara gagap teknologi (gatek). Itu sesuatu yang an sich.
Namun di bidang pertanian, pengolahan lahan yang memegang tradisi leluhur seperti tebas bakar, ladang berpindah, dianggap sebagai cara yang konvensional. Belum berorientasi agribisnis. Yang diharapkan terjadi peningkatan produksi sebagai sesuatu yang sia-sia.
Di Kabupaten Rote Ndao, petani masih sangat kuat memegang tradisi leluhur dalam mengolah lahan pertanian. Bupati Rote Ndao, Christian Nehemia Dillak, S.H, pun menggugatnya.
"Petani di Rote Ndao yang memiliki lahan basah masih mengusahakan usaha taninya dengan cara konvensional atau cara lama. Hal ini terjadi karena petani masih memegang teguh tradisi leluhur, selain keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan," kata Bupati Dillak pada acara pembukaan seminar dan lokakarya nasional peningkatan produksi padi dengan teknologi intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik. Semiloka ini digelar di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Rote Ndao, Rabu (28/11/2007).
"Seminar ini kiranya menghasilkan konsep teknologi yang dapat dilaksanakan dalam usaha tani, khususnya usaha tani padi sawah dengan mengubah sistem usaha tani cara lama menjadi usaha tani yang maju dan berorientasi agribisnis," harap Bupati Dillak.
Dikatakannya, Kabupaten Rote Ndao dengan luas wilayah 128.010 hektar (ha) dengan potensi lahan basah yang dapat diusahakan dengan tanaman padi seluas 17.151 ha, merupakan sasaran dalam upaya peningkatan ketahanan pangan dan program pengembangan agribisnis dengan kegiatan peningkatan mutu intensifikasi (PMI) padi sawah dan gogo rancah. Jika diterapkan secara benar, dapat meningkatkan produksi padi 8-9 ton/ha gabah kering panen.
Untuk menunjang program ini, Bupati Dillak meminta penyuluh pertanian lapangan (PPL) agar dalam menyebarluaskan konsep teknologi maju harus membuat percontohan di lahan petani. Dengan demikian, para petani secara perlahan dapat menerima dan mengubah usaha tani yang konvensional, tradisional warisan leluhur, menjadi petani maju.
Di akhir sambutannya, Bupati Dillak melukiskan semiloka tersebut merupakan salah satu upaya strategis dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan di Rote Ndao untuk mewujudkan masyarakat maju, mandiri, dan sejahtera.
Semiloka ini menghadirkan narasumber dari Kementerian Riset dan Teknologi, Asisten Bidang Hayati, Ir. Prasetyo Sunaryo, MT, dan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, MS.
Para peserta semiloka adalah para petani dari delapan kecamatan se-Kabupaten Rote Ndao (humas rote ndao/charles lilo)

Tidak ada komentar: