Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kampung Boti nan sakti

Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

BOTI. Cuma desa kecil terpencil yang dihuni 315 orang. Walau tak banyak orang di bagian lain Indonesia yang tahu, nama Boti paling tidak masuk dalam buku panduan wisata petualangan yang ditulis Kal Muller, East to Bali.
Hanya dua alinea uraian Muller menyebut Boti sebagai desa paling tradisional di wilayah Barat Timor. Bagi antropolog, Boti juga menarik karena keteguhan penduduknya mempertahankan tradisi.
Jarak 19 kilometer antara Boti dan Nikiniki, kota kecamatan Timor Tengah Selatan, cuma dua pertiga yang licin. Jarak terasa jauh karena Boti ada di lereng perbukitan pengusung Gunung Lumu di timur Sungai Muke, yang bermuara ke Laut Timor di selatan. Di musim kemarau panjang tahun ini Sungai Muke hanyalah berupa dasar lembah berbatu.
Mobil harus merayap naik-turun punggungan bukit. Puncak tertinggi yang didaki, bila diukur dari Nikiniki, tingginya sama dengan Menara Petronas berlantai 88. Setelah itu, mobil langsung turun ke jalan datar, 200-an meter lebih rendah, sama dengan menuruni puncak Petronas ke Lantai 44.

Hampir semua berwarna coklat, rumput kering, dan pohon meranggas yang kontras dengan langit biru tak terganggu awan dan kelembaban. Sesekali alam berhias ladang dan rumah penduduk, kadang berdinding semen, kadang bambu beratap ilalang, juga ume, rumah tradisional melingkar berpintu rendah, atap ilalang tanpa jendela.
Semua berakhir di pagar kayu sederhana berpintu gerbang. Itu gerbang Istana Boti, kompleks bangunan terpenting yang tak beda dari pedusunan lainnya. Ada beberapa ume yang rumah berjendela dan lantai semen. Bedanya adalah keteduhan di tengah tanah Timor yang suhunya melebihi sepertiga titik didih, juga beberapa lopo, bangunan kerucut tempat menyimpan benda keramat.
Mengunjungi Boti, Anda pasti disambut beberapa lelaki bersarung, rambut digelung, bertelanjang kaki, dan dibawa bertemu Nama Benu, lelaki tegap yang merupakan pemimpin suku, sang raja.
Dari tuturan Nama, Boti adalah suku tertutup. Anggota sukunya harus tinggal dalam pagar wilayah mereka sendiri. Namun, mereka juga terbuka karena pernikahan dengan orang luar tak dilarang meski setelah itu kembali menutup diri karena si orang luar harus tinggal, menanggalkan semua budaya luar dan menganut budaya Boti.
Anak-anak boleh bersekolah untuk mengenal budaya dan pengetahuan modern. "Tetapi, sampai SD saja. Setelah itu tak boleh karena mereka menjaga adat kami," kata Nama.
Orang Boti mengandalkan alam. Memakan jagung dan padi ladang yang mereka tanam, menenun kain dari bahan baku kapas, tak bersandal, tak bersepatu, dan tak bersepeda motor, tetapi mau memanfaatkan kaca jendela dan semen.
Boti memuja langit dan bumi. Karena itu, pohon tak ditebang, juga rambut lelaki mereka yang keriting dibiarkan panjang. "Gigi tumbuh di dalam saja tak dipotong, apalagi rambut yang tumbuh di atas," katanya.
Cinta Boti pada alam tergambar pada puncak lopo yang berhias patung-patung burung. "Burung hinggap di pohon dan kotorannya jatuh ke tanah menjadi tanaman," tambah Nama.
Boti, lanjut Nama, hanya mau merengkuh keyakinan yang diajarkan nenek moyang mereka sendiri. Akan tetapi, mereka juga menyambut setiap orang yang datang tidak cuma dengan senyum.
Selesai mempersilakan penulis berkeliling, penulis dipersilakan makan. Menunya, yaitu pisang, ubi, serta pisang rebus dalam piring lontar. Tak ketinggalan syal tenun sebagai bingkisan.
Boti tak kaya, tetapi menolak pemberian cuma-cuma. "Banyak yang datang mau kasih seng, kayu bangunan, dan lain-lain. Tapi, kami tak menerima yang tak boleh kami bayar," ujar Nama saat hendak diberi cenderamata.
Sebelum pamit, penulis diajak ke satu rumah yang ternyata toko yang menjual patung, kain, dan anyaman lontar, buatan suku Boti. Seringnya turis, peneliti, bahkan orang yang datang minta dukungan gaib 'Desa Boti luas dianggap punya kesaktian magis' ditangkap Boti dengan jeli.
Penulis pulang, pagar ditutup oleh orang Boti yang keras dalam keyakinan, tetapi luas toleransinya. Tak tinggi tingkat pendidikan, tetapi jeli kesadaran ekonominya. Kaya alamnya, tetapi tak rakus memerasnya. Bersahaja, tetapi tak sudi menengadahkan tangannya. Itu kesaktian suku Benu yang dipimpin seorang Nama. Entah kenapa semua terasa menyindir. (kcm)
Read More...

Sekcam jangan abaikan tugas pokok

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

KALABAHI, SPIRIT--Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, mengingatkan para sekretaris kecamatan (sekcam) di daerah itu agar tidak mengabaikan atau meninggalkan tugas pokok dalam pelayanan kemasyarakatan.
Peringatan Bupati Takalapeta ini mengemuka karena sebanyak 17 sekcam di kabupaten itu menduduki jabatan rangkap sebagai sekretaris panitia pemungutan kecamatan (PPK) sejak dilantik Sabtu (8/3/2008). "17 Sekcam ini harus pandai mengatur waktu sehingga dua jabatan itu seiring sejalan tanpa ada yang dikorbankan," ujar Takalapeta.
Takalapeta mengatakan, pemilu merupakan perhelatan negara yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Untuk memperlancar kegiatan itu, maka dilantik para sekcam menjabat sekretaris PPK dalam menyukseskan pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta Bupati dan Wakil Bupati Alor.
Menurut Takalapeta, sebenarnya tidak harus sekcam, tapi ada pertimbangan strategis sehingga para sekcam diberi tugas dan tanggungjawab lebih sebagai sekretaris PPK. Dia menyebutkan, sekcam telah memahami pola pengelolaan keuangan dan juga sebagai aparatur yang netral.
Takalapeta mengatakan, pelantikan sekcam sebagai sekretaris PPK untuk urusan pilkada sudah terlambat, tapi untuk kelengkapan lembaga pelaksana pemilu, mau tak mau harus diangkat pejabat pemerintah menempatinya.
Dia menyarankan sekcam selalu berada di wilayah kerja sehingga efektif menjalankan tugas sebagai sekcam dan sekretaris PPK. Sekcam perlu menyiapkan segala macam kebutuhan untuk menyukseskan rapat kerja daerah (rakerda) PPK yang harus segera dilaksanakan. Dalam menjalankan tugas sebagai sekretaris PPK, kata Takalapeta, sekcam segera melakukan supervisi dan monitoring pembentukan tempat pemungutan suara (TPS), pendaftaran pemilih tetap dan berbagai tugas lainnya.
Para camat diharapkan mengerti dengan tugas sekcam yang merangkap sebagai sekretaris PPK dan segera menunjuk staf untuk membantu tugas-tugas sekcam tersebut. Takalapeta mengingatkan camat yang sering meninggalkan tempat tugas dan selalu berada di Kalabahi.
Dengan intesitas tugas menjelang pilkada, kata Takalapeta, camat harus selalu berada di tempat tugas. Camat juga harus memperhatikan keindahan dan tata ruang kota menyongsong pilkada. *
Read More...

Awasi masyarakat yang bangun rumah di pesisir pantai

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

KALABAHI, SPIRIT--Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, meminta instansi teknis di daerah itu agar mengawasi masyarakat yang membangun rumah di pesisir pantai atau daerah jalur hijau karena risikonya besar.
Permintaan Bupati Takalapeta ini disampaikan ketika melantik dan mengambil sumpah pejabat eselon II, III dan IV lingkup Setda Alor di Kalabahi, Kamis (6/3/2008).
Sementara itu, Camat Alor Barat Laut (ABAL), Ade Dharma Massa, S.Sos, mengingat warganya agar tidak membangun rumah di pesisir Pantai Kokar, Kelurahan Adang di kecamatan tersebut yang sebelumnya (Februari,Red) menjadi sasaran amukan gelombang pasang yang merusakkan sejumlah rumah penduduk. Jika peringatan ini tidak ditaati, maka rumah warga akan dibongkar secara paksa.
Saat ditemui SPIRIT NTT di Kalabahi, Kamis (5/3/2008), Ade Dharma mengatakan, pasca bencana gelombang pasang pada Februari lalu yang merusakkan sejumlah rumah penduduk, pemerintah telah mengingatkan warga agar jangan membangun rumah di pesisir pantai di lokasi bencana, termasuk di wilayah yang telah ditetapkan sebagai jalur hijau.
Peringatan ini, tegas Ade Dharma, harus dipatuhi warga karena semua yang ada demi keselamatan masyarakat. Namun, dalam perkembangan jika ada warga yang tidak mematuhi imbauan dengan tetap membangun rumah di jalur hijau, maka ia sendiri akan memimpin langsung pembongkaran rumah.
Berkaitan dengan hal ini, kata Ade Dharma, puluhan kepala keluarga korban gelombang pasang Februari lalu, telah mematuhi. Ini ditandai dengan tidak ada yang kembali ke rumah mereka di pesisir pantai. Mereka secara swadaya membongkar material rumah dan membangun di lokasi yang aman.
"Ada warga yang membangun rumah mereka di sekitar kawasan mesjid di wilayah Kokar. Dan, ada juga yang karena telah memiliki tanah di lokasi yang aman di wilayah itu langsung membangun rumah di lahan itu," katanya.
Bagi warga yang belum membangun rumah, demikian Ade Dharma, setelah kembali dari tempat penampungan pada akhir Februari lalu, tinggal sementara di keluarga.
Mengenai bantuan pemerintah dalam relokasi pemukiman masyarakat secara swadaya, Ade Dharma menjelaskan, upaya yang dilakukan masyarakat tetap mendapat perhatian pemerintah. Pemerintah telah memberikan bantuan seadanya. *
Read More...

Kembangkan tanaman lokal pengganti beras

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

KALABAHI, SPIRIT--Camat Alor Tengah Utara (ATU), Kabupaten Alor, Iskandar Lakamau, S.H, M.Si, meminta para petani di wilayah itu mengembangkan tanaman lokal pengganti beras yang bisa dikonsumsi saat stok pangan menipis.
Selain itu, menanam jagung matahari sebagai pengganti tanaman jagung yang rusak akibat hujan dan angin kencang bulan lalu. Pengembangan jagung matahari bisa membuahkan hasil yang maksimal sehingga ketahanan pangan warga setempat kuat.
Ditemui SPIRIT NTT di kantornya, Selasa (4/3/2008), Lakamau juga menjelaskan soal keluhanan warga Desa Lembur Barat terhadap kerusakan sebagian besar tanaman jagung dan padi akibat diterpa angin dan serangan hama tikus. Menurutnya, dari laporan yang masuk, ada lima desa yang terancam gagal panen.
Untuk mengatasi masalah gagal panen itu, demikian Lakamau, pihaknya telah mengarahkan petani menanam jagung matahari sebagai pengganti. "Jagung matahari ini merupakan kearifan lokal dan tahun-tahun sebelumnya apabila tanaman rusak, digantinya dengan jagung matahari," tandasnya.
Sambil menanam jagung matahari, lanjut Lakamau, pemerintah kecamatan berharap kegiatan padat karya di pedesaan yang diprogramkan oleh pemerintah kabupaten. Dengan program demikian Lakamau, warga terbantu membeli makanan. "Ya raskin ada, namun masyarakat harus dilatih untuk produktif sehingga dengan usaha-usaha yang ada dapat mengumpulkan persiapan pangan untuk satu tahun," tambahnya.
Camat Pantar, Niko Tellu, mengeluhkan hal yang sama. Tellu mengatakan, di kecamatannya tanaman padi yang paling parah karena disikat hama tikus, sedangkan tanaman jagung masih ada harapan untuk dipanen. *
Read More...

Warga Alor diajak jauhi miras

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

KALABAHI, SPIRIT--Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Polisi Pamong Praja (Pol PP) ke-58 tingkat Kabupaten Alor diwarnai pemusnahan ribuan liter minuman keras (miras) hasil sitaan selama 2007 sampai awal 2008. Pemusnahan miras sebagai tanda mengajak masyarakat Nusa Kenari untuk tidak mengonsumsi miras, apalagi memperdagangkannya. Satpol PP akan terus merazia miras tersebut, demi ketertiban umum.
Upacara itu dipimpin Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta di halaman Kantor Bupati Alor, Senin (3/3/2008). Selain miras juga obat-obatan, makanan dan minuman kadaluarsa dimusnahkan. Miras dan makanan kadaluarsa yang dimusnahkan merupakan hasil operasi Pol PP dan tim gabungan Pemkab Alor yang dijaring akhir 2007 hingga awal 2008 ini.
Membacakan sambutan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Takalapeta mengatakan, fungsi dan tugas dari Pol PP harus dijalankan secara baik.
Kepala Kantor Pol PP dan PPNS Kabupaten Alor, Amirullah, S.H yang ditemui usai upacara menjelaskan, untuk memperingati HUT Pol PP, sebelumnya telah digelar serangkaian kegiatan. Seperti kegiatan donor darah di RSUD Kalabahi, pembersihan lingkungan di sejumlah tempat strategis di Kota Kalabahi, dan kegiatan penghijauan dengan menanam ratusan pohon di halaman luar Stadion Batunirwala dan sekitarnya. Dalam kegiatan pembersihan lingkungan dan penghijauan, kata Amirullah, melibatkan anggota Kodim 1622 Alor.
Menyangkut pemusnahan miras, kata Amirullah, semuanya adalah jenis sopi dengan jumlah 1.853 liter, baik itu sopi kiser maupun rote yang disita dalam operasi sejak akhir tahun 2007 hingga awal 2008. Demikian juga makanan dan minuman kadaluarsa. Untuk makanan kadaluarsa yang dimusnahkan sebanyak 2.119 bungkus, terdiri dari berbagai jenis makanan, bumbu, dan lainnya. Untuk minuman sebanyak 182 botol. Sedangkan obat-obatan berjumlah 4.343 tablet yang dimusnahkan dengan cara dibakar.*
Read More...

Bupati Belu lantik 8 pejabat eselon II

Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, melantik dan mengambil sumpah delapan orang pejabat eselon II, di Lantai I Kantor Bupati Belu, Senin (3/3/2008). Pelantikan ini untuk mengisi kekosongan jabatan, selain mengatasi kejenuhan kerja.
Tiga dari delapan pejabat yang dilantik adalah bersifat promosi, yakni, pertama, Donatus Bere, S.H, yang sebelumnya Kepala Bagian Humas Setda Belu dipromosi menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Belu. Pejabat Kepala Dinas Kebersihan sebelumnya mendapat tugas baru di Kabupaten Manggarai Timur.
Kedua, Drs. Silverius Mau, Kasubdin Bina Pengembangan Energi Dinas Pertamben Kabupaten Belu menjadi Kepala Dinas Perindag Kabupaten Belu menggantikan Drs. Yohanes Letto yang dipercayakan menjadi Kepala Dinas Pertamben Kabupaten Belu.
Ketiga, Drs. Hendrikus Ati dimutasi menjadi Asisten I Setda Belu, pejabat sebelumnya yakni Drs. Petrus Bere, MM dimutasi menjadi Kepala Banwas Kabupaten Belu menggantikan Drs Lagani Djou yang memasuki masa pensiun.
Pejabat lainnya yang dimutasi adalah Drs. Daniel Asa sebelumnya sebagai Kabid Perencanaan III diangkat menjadi Kepala Badan Kesbanglinmas Kabupaten Belu menggantikan Drs. Petrus Hela Mau yang dimutasi ke Dispenda Kabupaten Belu.
Sementara Jonisius R Mali, S.H, M.M, dipercayakan menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Belu untuk mengisi kekosongan karena pejabat sebelumnya, Drs. Manek Yosafat meninggal dunia.
Jangan tafsir sendiri
Dalam sambutannya, Bupati Lopez mengatakan pelantikan pejabat eselon II ini mengandung tiga suasana, yakni pengisian jabatan yang lowong, penyegaran dan promosi.
Pengisian jabatan yang lowong, katanya, merupakan suatu keharusan. Penyegaran, kata Lopez, juga sebagai keharusan karena kejenuhan adalah musuh utama inovasi kerja. Selain itu, kata Lopez, mutasi kali ini terjadi karena ada pejabat yang meninggal dunia dan pensiun sehingga dengan sendirinya terjadi promosi jabatan dan regenerasi berjalan secara otomatis.
Menurutnya, proses diterbitkan SK Bupati memerlukan proses yang panjang. Awalnya, tim baperjakat mengkaji, meneliti lalu mengusulkan ke bupati dengan dilengkapi semua persyaratan dengan memberikan bobot pada kinerja masing-masing calon.
"Pekerjaan ini tentu dilakukan dengan cermat. Proses ini juga berlanjut di propinsi dengan mekanisme yang sama. Saya tekankan jangan ada pemikiran atau tafsiran sendiri-sendiri bahwa ada kepentingan atau keinginan dari pihak tertentu dalam mutasi ini. Penentu eselon II di kabupaten tidak mutlak wewenang bupati. Pejabat yang dilantik adalah putra-putra terbaik," tegas Lopez.
Dengan bijak Bupati Lopez mengatakan bahwa boleh bangga dengan kepercayaan yang diberikan tapi tidak boleh sombong. Yang utama dari peristiwa ini adalah syukur atas karunia Tuhan yang diberikan lewat orang lain. "Hindari arogansi jabatan. Kejenuhan adalah musuh utama inovasi kerja, maka mutasi ini perlu dilakukan. Dengan adanya mutasi ini, ada rasa suasana baru, kiranya ada peningkatan kerja. Bekerjalah dengan kreatif dan inovatif," tegasnya.
Di hadapan undangan yang hadir, Bupati Lopez menekankan bahwa yang menentukan suatu jabatan adalah orang itu sendiri.
Bupati Lopez mengucapkan profisiat kepada pejabat yang baru dilantik yang saat itu didampingi istri masing-masing. Pesan yang terlontar untuk pendamping setia suami hendaknya jadilah motivator, pendorong bagi suami untuk mencapai prestasi.
Hadir pada acara pelantikan ini, Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili, Muspida Belu, kepala badan/dinas/kantor/bagian se-Kabupaten Belu, saksi rohaniawan, pimpinan organisasi wanita serta PNS lingkup Setda Belu. (humas setda belu)
Read More...

Petani Lakmas kembangkan nilam

Laporan Edy Hayong, Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Para petani di wilayah Lakmaras, Kecanatan Lamaknen, Belu, siap mengembangkan tanaman nilam asalkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu memperhatikan dan mendukungnya. Tanaman ini memiliki nilai jual tinggi mencapai Rp 400.000,00/kg.
Tokoh masyarakat Belu, Blasius Manek, B.A, mengatakan hal ini kepada SPIRIT NTT di Atambua, Rabu (5/3/2008). Manek menjelaskan, masyarakat Belu umumnya belum mengetahui wujud tanaman nilam. Tanaman itu sudah sejak lama diperkenalkan di wilayah Flores, sementara di Timor baru diperkenalkan dua tahun belakangan ini.
Di Belu, jelas Manek, tanaman itu mulanya diperkenalkan seorang warga yang berlibur ke Pulau Kalimantan dan mendapatkan warga di daerah itu mengembangkannya. Tertarik dengan tanaman ini, warga Lakmaras itu kemudian meminta sebagian anakan dibawa ke Belu untuk diujicoba. Sebab, dari segi alam tidak jauh berbeda dengan Kalimantan.
"Warga dari Lakmaras itu kemudian datang ke Belu mencoba menanam di kebunnya. Ternyata tumbuh dengan baik. Sekarang sudah mencapai 25 hektar tanaman nilam yang dikembangkan warga di Lakmaras. Warga sudah mulai berdikari untuk mengembangkan tanaman yang punya nilai jual tinggi," jelasnya.
Menurut anggota DPRD Belu ini, nilam yang dikembangkan di wilayah Lakmaras jenis nilam aceh. Sudah dua tahun berjalan dilakukan uji coba di STM Nenuk, Atambua dan hasilnya cukup memuaskan. Minyak nilam ternyata memiliki nilai jual yang sangat mahal mencapai Rp 400.000,00/kg.
"Sekarang petani sudah siap bekerja dan mengembangkan program ini. Saya minta pemerintah turut mendukung keberadaan program nilam ini. Beberapa waktu lalu sudah ada bantuan dari pemerintah senilai Rp 30 juta untuk pengadaan alat penyulingan. Saya berharap dukungan itu terus berlanjut sehingga program ini tidak macet di tengah jalan," tambahnya.
Tentang pasaran, Manek menjelaskan, sesuai informasi yang diperolehnya, pemasaran ke Pulau Jawa. Namun, ia berharap ada kemauan pemerintah membangun pabrik pengolahannya sehingga bisa menyerap tenaga kerja di wilayah ini. *
Read More...

Sejarah Liurai

Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

* LIURAI VII
Perkawinan Liurai VI dengan anak raja Larantuka ini melahirkan Dasin Liurai Muskita sebagai Liurai VII. Sampai di sini selesailah garis hukum keturunan Liurai yang biasa diambil dari garis patrilineal, maka sejarah mencatat bahwa untuk selanjutnya Liurai diambil dari garis matrilineal hingga sekarang sesuai hukum adat warga Wesei Wehali.
* LIURAI VIII
Muskita memperistri Dasin Bano Tae Liurai dari garis keturunan matrilineal anak raja Babotin, lahirlah Seran Tae Boboto Rui Makerek II, yang diangkat sebagai Liurai VIII dan memerintah di Sasitamean. Liurai VIII ini turunan langsung dari garis ketururan raja Bobotin bernama Dasin Tere Tae
* LIURAI IX
Liurai VIII (Liurai Sasitamean) ini kawin dengan Telek Masan Rai III melahirkan Dasin Tei Seran Liurai yang kelak diangkat sebagai Liurai IX dan Nai Kmesak Maunbon.
* LIURAI X
Kelak Liurai IX ini kawin dengan Dasin Telek Bian Manlea. Dari perkawinan ini lahirlah Dasin Tere Atok Liurai yang dimahkotai sebagai Liurai X.
* LIURAI XI
Liurai X mempunyai dua isteri. Isteri pertama namanya Dasin Luruk Tey Seran dan dari perkawinan ini lahirlah Dasin Tere Atok II yang diangkat menjadi Liurai XI.
* LIURAI XII
Sedangkan dengan istri kedua bernama Dasi Telek Tey Seran lahirlah Dasin Tey Seran Liurai, yang diberi gelar Liurai XII, raja Fatuaruin yakni bapak dari almarhum Liurai Terakhir (Louis Sanaka Tey Seran).
* LIURAI XIII
Ketika Liurai XII ini meninggal, anaknya (Louis Sanaka Tey Seran) masih kecil. Ketika itu pemerintah mengambil inisiatif untuk mengisi kekosongan dengan memilih Josef Seran Fahik yang dikenal sebagai Nai Bot Liurai Malaka. Josef Seran Fatin dalam percaturan politik pembentukan swapraja dipercaya untuk menjadi tampuk pimpinan Swapraja Malaka dan Belu.
* LIURAI XIV
Dikisahkan, Liurai XII kawin dengan Kolo Bian dari Sonaf Uimriso, turunan Ae Bian Manlea. Hasil Perkawinan ini adalah Anton Tey Seran yang sudah dinobatkan sebagai Liurai XIV tapi mendadak ke Bima, Sumbawa untuk belajar dibiayai oleh pemerintahan Hindia Belanda mengenai kesultanan. Ia meninggal dan terakhir kerangkanya dipindahkan untuk dimakamkam di Belu.
* LIURAI XV
Louis Sanaka Tey Seran, adik kandung Anton Manek Tey Seran dinobatkan menjadi Liurai XV. Ia memperisteri Theresia Bete Niis, anak raja Bea Neno / Pah Un Bea Neno dan memiliki 10 anak. Mereka adalah Gaudensia Luruk Tei Seran, Maria Hoar Tei Seran, Antonius Tei Seran, Magdalena Muti Tei Seran, Demitrius Nana Tei Seran, Natalia Adelina Bendita Tei Seran, Dominggus Arenkian Aria Neno Tei Seran, Yulianus Antonius Liurai, Flora Diana Mako Tei Seran dan Dominikus Hilarius Liurai. (Sumber: Belu, Pemimpin dan Sejarah) (pde@belukab.go.id) Read More...

Sejarah singkat Kabupaten Belu (1)

Spirit NTT, 10-16 Maret 2008

* Gambaran umum masyarakat Belu
DITINJAU dari segi budaya dan antropologis, penduduk Kabupaten Belu dalam susunan masyarakatnya terbagi atas empat sub etnik yang besar, yaitu Ema Tetun, Ema Kemak, dan Ema dawan Manlea.
Keempat sub etnik mendiami lokasi-lokasi dengan karerkteristik tertentu dengan kekhasan penduduk bermayoritas penganut agama Kristen Katolik. Masing-masing etnik tersebut mempunyai bahasa dan praktek budaya yang saling berbeda satu sama lain dan kesamaan dilain segi.
Kendati demikian masyarakat Belu dapat dengan mudah hidup rukun dikarenakan aspek kesamaan-kesamaan spesifik. Mata Pencaharian utama adalah bertani yang masih dikerjakan secara ekstensif tradisional.
Dari aspek ekologis, kondisi tanah Belu sangat subur karena selain memiliki lapisan tanah jenis berpasir dan hitam juga dikondisikan dengan curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun. Daerah Belu yang subur tersebut membuatnya potensial untuk dikembangkan menjadi daerah peternakan dan pertanian.
Sub sektor perikanan dengan kawasan pantai yang membentang dari Belu bagian selatan sampai utara turut mempengaruhi pemerataan pekerjaan dan pendapatan.
Selain itu, dari sub sektor kehutanan kontribusi yang diperoleh juga signifikan dengan beberapa jenis pohon produktif seperti cendana, eukaliptus, kayu merah dan jati.
Dari sektor dan sub sektor lainnya seperti perdagangan dan jasa, industri dan lainnya juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan PDRB dan peningkatan PAD.
* Sejarah singkat orang Belu
Sesuai berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah di Belu, manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah 'Suku Melus.' Orang Melus dikenal dengan sebutan Emafatuk oan ai oan (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar orangnya dan bertubuh pendek.
Selain para pendatang, yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari Sina Mutin Malaka. Malaka sebagai tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka.
Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati Demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.
Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga saudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan.
Dari makoan Fatuaruin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbay (Dawan). Namun menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Naik.
Bahwa para pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dan masyarakatnya. Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan.
Sedangkan dari semua pendatang di Belu itu pimpinan dipegang oleh Maromak Oan Liurai Nain di Belu bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing Maromak Oan kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Belu, maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Fatuaruin, Sonabi dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali.
Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana yang terjadi sekarang.
Menurut para sejarahwan, pembagian Belu menjadi Belu bagian selatan dan utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan Belanda untuk mempermudah sistem pengontrolan terhadap masyarakatnya.
Dalam keadaan pemerintahan adat tersebut muncullah siaran dari pemerintah raja-raja dengan apa yang disebutnya Zaman Keemasan Kerajaan. Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Belu). Di Dawan ada kerajaan Sonbay yang berkuasa di daerah Mutis. Daerah Dawan termasuk Miamafo dan Dubay sekitar 40.000 jiwa masyarakatnya.
Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Sang Maromak Oan mengirim para pembantunya ke seluruh Belu sebagai Loro dan Liurai.
Tercatat nama-nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak.
Selain itu, ada juga nama seperti Dafala, manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.
Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As Tanara membawahi Dasi Sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat, Asumanu, Lasaka, Dafala, Manukleten, Sobau, LIdak, Tohe Manumutin, dan Aitoon.
Dalam berbagai penuturan di utara maupun di selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain.
Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal รป usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah. (sumber: Bappeda Kabupaten Belu) (pde@belukab.go.id/bersambung)
Read More...

Hurek: Revitalisasi sumber daya kesehatan

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Wakil Walikota, Drs Daniel Hurek, meminta agar program di bidang kesehatan perlu direvitalisasi, terutama yang berkaitan dengan sumber daya kesehatan, kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan.
Revitalisasi lainnya perihal lingkungan sehat, perilaku hidup sehat, perbaikan gizi masyarakat, penanganan terhadap obat, makanan dan bahan berbahaya.
Permintaan Hurek ini disampaikan pada rapat kerja kesehatan dan perencanaan program kesehatan tingkat Kota Kupang di Aula Bappeda Kota Kupang, Selasa (26/2/2008).
Hurek menyebut beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Pertama, revitalisasi program bidang kesehatan. Kedua, meningkatkan pelayanan kesehatan baik melalui tindakan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitasi, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu karena faktor kemiskinan sebagai salah satu penyebab utama timbulnya persoalan kesehatan.
Hurek juga menyebut hal penting lainnya adalah
proses pengambilan keputusan, data dan informasi yang mempunyai peran strategis. Karena itu, katanya, Dinas Kesehatan Kota Kupang harus mengembangkan data base kesehatan yang mampu menyediakan informasi kesehatan yang bersifat inpiratif dan motivatif bagi pimpinan untuk perumusan dan penetapan kebijakan guna memberikan layanan yang terbaik, berkualitas dan tepat sasaran.
Menurut Hurek, berbagai program pembangunan di Kota Kupang ini, termasuk pembangunan kesehatan, harus berpedoman pada RPJPD dan RPJMD Kota Kupang sebagai blue print pembangunan Kota Kupang ke depan. Dengan demikian visi dan misi telah yang dicanangkan dapat diwujudkan.
"Keberhasilan atau kegagalan program kesehatan yang kita rencanakan sangat bergantung pada keberhasilan atau kegagalan pengelolaan dan kelembagaan. Untuk itu marilah kita pertimbangkan secara proprosional setiap program yang dirancang agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terprioritas sesuai urgensitas penanganan dan terkoordinasi dengan baik dengan semua pihak atau instansi terkait," ujarnya.
Ketua Panitia, Rudy Priyono, SKM, M,Kes dalam laporannya menyebutkan raker tersebut diikuti 80 orang dari berbagai unsur terkait.
Menurutnya, proses perencanaan program-program kesehatan khususnya di tingkat operasional, dalam hal ini puskesmas dan kabupaten/kota serta propinsi masih terdapat kesenjangan sehingga kegiatan perencanaan dan penganggaran tidak dilakukan dengan benar. "Kesenjangan itu akibat kurangnya koordinasi dalam pelaksanaan perencanaan program pembangunan kesehatan dan kapasitas manajerial tenaga kesehatan yang masih terbatas," ujarnya. (infokom kota kupang)
Read More...

PMII agar tingkatkan kadar intelektual

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) diminta menunjukkan komitmen yang kuat untuk meningkatkan kadar intelektual diri, memperkaya wawasan dan khazanah berpikir. Selain itu, memperkuat integritas jati diri dan moralitas serta memperkokoh iman ketaqwaan kepada Tuhan.
Pesan ini disampaikan Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, pada acara pelantikan dan penerimaan anggota baru (Mapaba) PMII periode 2007-2008 di Aula Asrama Haji Kupang, Kamis (21/2/2008).
Hurek juga meminta anggota PMII untuk menampilkan peran masing-masing secara optimal sesuai tuntutan dan dinamika pembangunan dan kemasyarakatan saat ini maupun di masa mendatang.
Daerah ini, kata Hurek, membutuhkan sosok-sosok pemimpin masa depan yang memiliki visi perubahan, kepeloporan, keiklasan, kesetiaan, kejujuran, memiliki jiwa enterpreneurship yang mampu mempengaruhi dan mengubah keadaan ke arah yang lebih mandiri, lebih kompetititf dan lebih sukses.
Melalui PMII, kata Hurek, mahasiswa dapat melakukan fungsi kontrol sosial terhadap berbagai fenomena yang terjadi di daerah ini sekaligus mampu mengkritisinya secara proporsional melalui kajian-kajian yang sistematis, konstruktif dan memiliki kadar ilmiah serta dapat mempertanggungjawabkannya secara akademis.
Untuk anggota yang baru dilantik, Hurek mengharapkan agar secepatnya melakukan adaptasi terhadap setiap aturan main yang berlaku dalam sebuah organisasi. Sebab, konsekuensi dari sebuah keanggotaan adalah ketaatan dan kepatuhan terhadap segala mekanisme yang telah diatur dalam anggaran dasar dan rumah tangga organisasi.
Kepada pengurus PMII, Hurek meminta agar tidak mengembangkan pandangan primodialisme yang mengarah pada sikap fanatisme sempit karena hal itu sangat kontra produktif terhadap semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang telah terjalin baik selama ini.
"Pertahankan independensi organisasi ini agar tidak dijadikan sebagai senjata oleh pihak lain untuk mempresure atau mendiskriditkan orang per orang atau kalangan tertentu terutama menjelang pilkada," pesan Hurek. (infokom kota kupang)
Read More...

98 PNS ikut bimtek analisis beban kerja

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT NTT-- Sebanyak 98 orang pejabat eselon II dan IV pada dinas, badan, kantor, bagian, kecamatan dan kelurahan lingkup Pemkot Kupang mengikuti bimbingan teknis (bimtek) analisis jabatan dan beban kerja di Aula Sasando Kantor Walikota Kupang, 18-21 Februari 2008.
Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, dalam sambutannya ketika membuka bimtek tersebut, mengatakan, penataan kelembagaan daerah membutuhkan hasil analisis jabatan dan analisis beban kerja untuk mengetahui beban kerja masing-masing jabatan dan organisasi di lingkup Pemkot Kupang.
Hurek menegaskan, dengan dikeluarkannya PP 41/2007 tentang organisasi perangkat daerah, maka di setiap daerah telah melakukan pembenahan kelembagaan daerah masing-masing, termasuk merumuskan rincian tugas, fungsi dan tata kerja organisasi perangkat daerah untuk menjawabi kebutuhan masyarakat. "Oleh karena itu Pemkot Kupang berupaya mengimplementasikan PP tersebut seiring dengan tuntutan peningkatan kualitas layanan publik dan penerapan standar pelayanan minimal (SPM)," tegasnya.
Hurek mengakui bimtek tersebut memiliki tujuan strategis karena berkaitan dengan upaya menyiapkan sumber daya aparatur Kota Kupang yang berkualitas untuk melaksanaan tugas terutama menghitung beban kerja karyawan dan organisasinya dalam rangka penataan lembaga daerah, penatalaksanaan, penataan kepegawaian dan penataan program pendidikan, pelatihan dan pengawasan.
Panitia penyelenggara melaporkan tujuan bimtek untuk menciptakan aparatur terlatih dan handal dalam menganalisis beban kerja pada setiap unit kerja dalam rangka penataan kelembagaan, ketatalaksanaan dan kepegawaian. (infokom kota kupang)
Read More...

Tim Penggerak PKK ikut pelatihan TTG

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Tim penggerak PKK tingkat kecamatan dan kelurahan se-Kota Kupang mengikuti pelatihan teknologi tepat guna (TTG) di Aula Rumah Jabatan Walikota Kupang, Selasa (26/2/2008). Pelatihan ini dibuka Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang, Ny Welmintje Adoe-Benjamin.
Dalam sambutannya, Ny Adoe-Benjamin menyebut makna pelatihan TTG untuk meningkatkan keterampilan pengurus, selain berkenaan dengan program kerja PPK soal pangan.
"Para pengurus tim penggerak PKK agar dapat meningkatkan kemampuan dan kinerjanya dalam pelayanan kepada masyarakat secara baik. Juga agar kegiatan ini membawa perubahan dalam hal peningkatan ekonomi keluarga," harapnya.
Kepada peserta pelatihan, Ny Adoe-Benjamin berpesan agar apa yang diperoleh dalam pelatihan ini ditularkan kepada masyarakat di lingkungan masing-masing, paling tidak untuk sesama anggota PKK di tingkat kelurahan. "Apa yang telah diperoleh dari kegiatan ini dapat dikembangkan lagi dalam bentuk usaha kecil yang dapat berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga," katanya.
Ketua Panitia, Theodora Ewalde Taek, S.Pd dalam laporannya menyebut tujuan pelatihan agar peserta dapat meningkatkan kemampuan dalam bidang keterampilan untuk meningkatkan taraf hidup anggota.
Materi yang diberikan berupa teori dan praktek cara membuat stik beras ketan, siam jentik manis, sambal botol, roti jentrid dan golden egg.
Theodora mengatakan, pelatihan yang berlangsung selama empat hari, 26-29 Februari 2008, ini diikuti 126 orang, terdiri dari ketua TP PKK dan Ketua Pokja III masing-masing dua orang serta ketua dan Ketua Pokja III dari kecamatan dan kelurahan se-Kota Kupang. (infokom kota kupang)
Read More...

Mahasiswa Politani Kupang tanam 340 anakan

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Mahasiswa Politeknik Pertanian Kupang melakukan penghijauan di Kelurahan Naioni, Senin (18/2/2008) hingga Rabu (20/2/2008).
Di atas lahan yang dihijaukan, para mahasiswa menanam 340 anakan sukun, nangka, asam, gamalia, kemiri dan mahoni. Sisanya 720 anakan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di halaman rumah masing-masing.
Pencanangan kegiatan penghijauan itu ditandai dengan penanaman secara simbolis oleh Asisten II Setda Kota Kupang, Dra. Balina Uly, mewakili Walikota Kupang.
"Atas nama Pemkot Kupang, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus dan mendukung sepenuhnya kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh mahasiswa Politeknik Pertanian Kupang.
Balina Uly mengharapkan agar tanaman yang telah ditanam itu dijaga dan dipelihara agar hasilnya bisa bermanfaat dan dapat dinikmati terutama dalam rangka mengurangi pemanasan global. "Saya mengharapkan kegiatan seperti ini bisa berlanjut setiap tahun," katanya.
Pembantu Direktur III Politeknik Negeri Kupang, Ir. Yandres Hege, mengatakan pada intinya pihak perguruan tinggi dalam hal ini Politeknik Pertanian Kupang sangat mendukung program-program pemerintah termasuk penghijauan yang sementara dilaksanakan dimana program-program pemerintah dipadukan dengan kegiatan-kegiatan kampus.
Dia mengatakan, politeknik berharap bisa dilibatkan dalam kegiatan penghijauan di Kota Kupang dengan memberikan satu kapling penghijauan di Jalan El Tari II karena ada kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa pada hari Sabtu bisa digunakan untuk kegiatan penghijauan sekaligus merawat tanaman tersebut.
Jumlah anakan yang merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Propinsi NTT sebanyak 1.060 anakan, yang sudah ditanam sebanyak 340 anakan, sisanya dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di lahan sendiri.
Kegiatan penghijauan itu juga dihadiri oleh Kadis Pertanian Kota Kupang, Hendrik Saba; Kadis Infokom, Drs. Dien Latief; Camat Alak, Adam Herewila; pihak Koramil Kecamatan Maulafa serta dari pihak politeknik negeri. (infokom kota kupang)
Read More...

Keterampilan anggota PKK masih kurang

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang, Nyonya Welmintje Adoe-Benyamin, menegaskan, keterampilan yang dimiliki anggota tim PKK di wilayah itu untuk meningkatkan pendapatan keluarga masih sangat kurang. Solusinya, anggota PKK harus
secara kontinyu meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan teknologi tepat guna (TTG).
Nyonya Welmintje mengatakan hal ini ketika membuka pelatihan TTG di Aula Rumah Jabatan (Rujab) Walikota Kupang, Selasa (26/2/2008). TTG, kata Welmintje, menjadi salah satu cara yang bisa ditempuh para ibu untuk membantu para suami dalam meningkatkan pendapat ekonomi rumah tangga.
Keterampilan bagi para anggota Tim PKK Kota Kupang, kata Nyonya Welmintje, selama ini masih kurang. Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan dan dipengaruhi adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Keterampilan TTG, kata Nyonya Welmintje, selain meningkatkan pendapatan ekonomi juga untuk menambah kualitas sumber daya manusia dalam pelayanan kepada masyarakat di tingkat kelurahan.
PKK dalam melaksanakan program kerjanya, kata Nyonya Welmintje, tidak berjalan sendirian tetapi melakukan kerja sama dengan instansi terkait untuk saling menunjang program kerja masing-masing.
Keterampilan yang dipelajari para anggota Tim PKK itu, yakni cara membuat stik beras ketan, siam jentik manis, pembuatan sambal botol, roti jentrid dan pembuatan golden egg. (infokom kota kupang)
Read More...

Leo Lopez dan tiga kriteria

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008


DI TENGAH memanasnya pertarungan para kandidat Bupati dan Wakil Bupati Sikka memperebutkan kursi jabatan tersebut pada periode 2008-2013, warga pemilih pun memasang criteria tentang sosok pemimpin untuk kabupaten Sikka lima tahun ke depan.
Hal tersebut menurut banyak kalangan merupakan cerminan sikap politik yang matang pada tatanan kehidupan masyarakat sebelum menjatuhkan pilihan dalam ajang Pilkada 2008.
Pandangan tersebut antara lain dikemukan oleh Aisisten Tata Praja Setda Sikka, LB da Lopez. Menurutnya, ada tiga kriteria yang diperlukan dalam menentukan pemimpin kabupaten Sikka saat ini dan pada masa yang akan datang.
Kriteria yang dipasang da Lopez itu pada prinsipnya didasarkan pada latar belakang budaya dan pandangan masyarakat kabupaten Sikka sendiri tentang siapa pemimpin berdasarkan pengalaman dan budaya kepemimpinan, yakni Ata Bisa Ngasiang, Ata Mo'ang dan Ata ola Plewo Pla'a, Nao Toneng.
LB da Lopez menguraikan, pemimpin yang kita butuhkan adalah orang yang pintar dan cerdas, namun kepintaran sebatas kemampuan intelektual saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan orang yang bijaksana atau Ata Bisa Ngasiang. Sedangkan sosok pemimpin sebagai Ata Mo'ang mencerminkan sikap mengayomi.
Da Lopez memandang penting dimensi ini karena seorang bupati dan wakil bupati adalah pemimpin masyarakat Sikka yang sangat beragam baik dari aspek budaya, ras, suku, agama dan golongan.
Sebagai bupati dan wakil bupati, keduanya harus mampu menggerakan roda birokrasi dengan kemampuan manajemen yang baik. Kepada SPIRIT NTT LB da Lopez mengatakan, program pembangunan bisa sukses kalau kemampuan manajemen perlu didukung kemampuan berkomunikasi atau human relation yang boleh disama-artikan dengan kebiasaan Plewo-Pla'a, Nao Toneng. Kalau ada PNS yang salah perlu ditegur kemudian diarahkan untuk memperbaiki kesalahannya dan bekerja lebih produktif.
Demikian pun kalau ada anggota masyarakat yang salah bertindak atau melakukan pelanggaran. "Seorang pemimpin harus bisa menyapa mereka dengan penuh kebapakan dan menyadarkan mereka untuk bisa mengubah perilakunya yang tidak benar," kata da Lopez di tengah perbincangannya dengan SPIRIT NTT, Selasa 20 Februari lalu. (el)
Read More...

Bram siap jadi pemimpin

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

USIANYA belum genap 12, namun ia sudah memiliki keberanian yang jarang ditemukan pada anak-anak seusianya.
Keberanian yang dimiliki Bram ini ditunjukkan ketika memimpin upacara Apel Siaga Gugus Depan Pramuka Teretorial Kwartir Ranting Kecamatan Nita, di Lapangan Apel SMP Negeri 1 Nita, Jumat (15/2/2008). Saat itu tampil sebagai pembina upacara adalah Dandim Sikka, Agus Abdulrauf.
Dengan suara lantang, Bram yang bernama lengkap Paulus Veldebram Nai, ini tampil percaya diri. Dia terlihat berani dan bertanggung jawab memimpin apel tersebut.
"Saya tidak menyangka dipercayakan menjadi pemimpin upacara bersama Bapak Dandim. Sebagai anggota pramuka, saya harus siap menjadi pemimpin. Habis kapan lagi bisa pimpin bersama Bapak Dandim dan kakak-kakak pembina anggota pramuka," jawab Bram ketika ditanya SPIRIT NTT usai apel.
Anak sulung dari empat bersaudara dari Bapak Stevanus Edison dan Mama Teodora Toje, ini juga mengakui bahwa sejak menjadi anggota pramuka dirinya dan teman-teman sudah mengalami banyak perubahan. "Dulu, sebelum menjadi anggota pramuka, Bram cenderung lebih banyak melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. Seperti bermain dan menembak burung, sehingga lupa dan mengabaikan belajar dan pekerjaan rumah yang ditugaskan orangtua," cerita Bram.
Sejak mendaftarkan diri masuk sebagai anggota pramuka, pelajar kelas VI SD Nita II ini mengaku perubahan yang dialaminya ini berkat binaan dari Yunus Bala, selaku Pembina Pramuka di sekolahnya. Kini Bram kelahiran Maumere, tepatnya 29 Juni 1996 ini sudah mulai rajin berdoa, bekerja dan belajar.
Dengan perubahan yang dimilikinya, Bram mengajak teman-teman sebayanya yang ada di Kabupaten Sikka supaya mendaftarkan diri menjadi anggota pramuka di sekolahnya. Menurutnya, pramuka membawa dampak besar terhadap perubahan dan perilaku. Untuk itu, Bram sekali lagi mengajak teman-teman untuk mendaftarkan diri menjadi anggota pramuka. (john oriwis)
Read More...

Kunjungan DPRD Sikka ke Palue

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

PALUE? Kini semakin maju. Warganya tak lagi minum air pisang. Bepergian pun tak sulit. Sarana transportasi selalu tersedia. Ojek! Ini
sarana transportasi andalan. Sebelumnya, warga berjalan kaki jika ke desa lainnya. Sejak ada rabat semen, wilayah kecamatan pun semakin mudah dijangkau.
Adalah Thomas Teka, Kepala Desa Rokirole Kecamatan Palue, mencitrakan PaluE ini ketika
berdialog dengan Tim VI DPRD Sikka yang berkunjung ke wilayah itu, Kamis (21/2/2008). Tim Dewan didampingi wakil dari dinas/instansi Pemkab Sikka. Dialog itu dihadiri Camat Palue, para kepala desa dan masyarakat se-Kecamatan Palue.
Tim DPRD Sikka ke Palue dalam rangka menjaring aspirasi masyarakat terhadap Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati/Wakil Bupati Sikka Periode 2003-2008 dan LKPJ Bupati Sikka Akhir Tahun Anggaran 2007.
Dalam sambutannya, Camat Palue, Esternus Noe, BA, mengatakan, melalui momen ini, di hadapan para wakil Rakyat, masyarakat diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan penilaian terhadap kinerja kerja Bupati/Wakil Bupati Sikka periode 2003-2008.
"Masyarakat diharapkan memberi penilaian yang sejujur-jujurnya berdasarkan apa yang dialami dan dirasakan selama lima tahun terakhir ini," kata Noe.
Anggota Tim DPRD Sikka, Alfridus Melanus Aeng, S.H, dari Fraksi Gabungan yang berasal dari Partai Persatuan Daerah (PPD) dalam sambutannya, mengatakan, melalui kesempatan itu, sebagai wakil rakyat, mereka ingin mendengar langsung dari masyarakat bagaimana penilaian masyarakat terhadap kinerja Bupati/Wakil Bupati Sikka periode 2003-2008 dengan visi, misi dan filosofi GEMBIRA apakah sudah tercapai, berjalan di tempat atau malahan mundur.
Ketua Tim DPRD Sikka, Fransiskus Cinde, S.E, dalam sambutannya mengatakan mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya yang perlu dilihat sekarang adalah apakah angka kemiskinan masyarakat bertambah atau berkurang.
Menindaklanjuti permintaan penilaian tersebut,
masyarakat Palue melalui tokoh masyarakat menilai apa yang dilaksanakan selama lima tahun terakhir, untuk masyarakat Palue, cukup berhasil. Hanya ada beberapa catatan bagi pemerintah untuk diperhatikan ke depan, di antaranya untuk pembangunan fisik, kalau dimungkinkan oleh aturan, sebaiknya dilakukan dengan sistem swakelola. Sebab, yang dilihat dan dialami oleh masyarakat selama ini, proyek fisik yang dikerjakan secara swakelola lebih berhasil dibandingkan dengan yang dilaksanakan oleh kontraktor. Hal ini diutarakan oleh Avelinus dan Kepala Desa Nitunglea.
Sedangkan di bidang pendidikan dan kesehatan, masyarakat mengharapkan perhatian dari pemerintah agar melanjutkan pembangunan yang sudah ada sekarang ditambah sarana prasarananya serta dilengkapi tenaga guru dan medis yang memadai.
Masyarakat Palue melalui Herman Yosep Soru juga mengharapkan agar tim DPRD yang melakukan kunjungan kerja ke Palue harus menyuarakan apa diinginkan oleh masyarakat Palue, jangan menyuarakan apa yang merupakan keinginan/kehendak sendiri.
Kunjungan kerja tim DPRD Sikka ini dilaksanakan dua hari, 20-21 Februari 2008. (john xaverius)
Read More...

Mega: Ratu Valentine

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SENYUM manis dari bibir Mega Theodoris, cara berjalan yang anggun serta busana yang sesuai tema acara, mengantarnya terpilih sebagai Queen Valentine (Ratu Valentine) dalam acara Valentine Party 2008 yang digelar Vaganzha Indo Production (VIP) di Aula El Tari, Sabtu (23/2/2008) malam.
Siswi SMA Kristen Mercusuar ini memang pantas menang. Sejak awal ia langsung dijagokan oleh sebagian besar penonton untuk terpilih menjadi ratu.
Ditemui usai acara tersebut, putri pasangan Yohanes Theodoris dan Lilian ini mengaku tidak menyangka bisa terpilih menjadi ratu. Karena itu, ketika ditunjuk sebagai pemenang, dia begitu bahagia. "Saya tidak menyangka bisa memang. Karena itu, pastilah saya senang," ujar Mega sumringah.
Mega mengakui, sejak masa kanak-kanak dirinya sudah menyukai dunia modeling. Ia suka tampil bergaya dan disaksikan banyak orang. Beberapa kali dia ikut berbagai kegiatan lomba dan tercatat sudah dua kali menjuarai ajang pemilihan wanita cantik.
"Saya memang suka modeling. Dari kecil sudah suka ini. Saya suka bergaya. Jadi ikut dalam acara ini juga karena hobi, ingin menyalurkan bakat," jelas wanita kelahiran Kupang 17 November 1991 yang tinggal bersama kedua orangtuanya di bilangan Walikota Baru-Kupang.
Gadis yang merahasiakan nama pacarnya ini mengaku, hobinya itu mendapat dukungan dari orangtuanya. Berbagai persiapan termasuk gaun, dibantu oleh orangtuanya.
Meski demikian, gadis murah senyum ini tidak mau menggantungkan harapan pada dunia modeling. Ia lebih memilih mengejar prestasi di sekolah. Modeling hanya sekadar mengisi waktu luang dan menyalurkan hobi saja. (alf)
Read More...

Prestasi Dewan

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SIDANG Paripurna DPRD NTT, Kamis (25/2/2008), menjadi forum yang tepat untuk memberi penilaian dan catatan kritis terhadap empat rancangan peraturan daerah (ranperda) yang diajukan eksekutif dan legislatif.
Dari empat ranperda tersebut, Ranperda Usul Prakarsa DPRD NTT menjadi titik fokus pencermatan Dewan. Adalah M Jack Kasman, S.Ip, Juru Bicara Fraksi PPDI DPRD NTT, dalam pemandangan umum fraksinya melukiskan keberadaan Ranperda Usul Prakarsa DPRD NTT sebagai prestasi dan wujud perhatian serius Dewan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
Di hadapan Ketua Dewan, Drs. Melkianus Adoe, didampingi Wakil Ketua Dewan, Drs. Kristo Blasin, yang memimpin sidang, Jack Kasman juga memberi catatan kritis terkait pengajuan Ranperda Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. Fraksi PPDI, katanya, menyambut baik pengajuan rancangan peraturan daerah tersebut oleh pemerintah agar pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan sesuai tujuannya yaitu penciptaan pengelolaan keungan yang tertib, efektif, efisien, ekonomis, transparan, akuntabel, dan taat asas.
Menyoal hadirnya Perda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah, Jack Kasman, menyatakan sebagai sesuatu yang esensil untuk memberi arah dalam pengelolaan aset daerah secara tertib, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Namun dalam pengelolaannya membutuhkan sumber daya aparat yang berkualitas agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan Daerah Nusa Tenggara Timur.
Peraturan daerah yang akan menjadi produk hukum ini, diakui Jack Kasman, diharapkan menjadi arah dan pedoman bagi setiap aparat yang memberikan pelayanan bagi kepentingan umum sesuai standar minimal yang ditetapkan.
Tentang Perda Standar Pelayanan Minimum (SPM), Jack Kasman mengemukakan pertanyaan retoris, "Apakah perda ini akan efektif jika banyak sektor belum memiliki standar pelayanan minimum. Bagaimana aparat memberikan pelayanan yang standar kalau SPM itu belum ada? Selain itu, bagaimana kita dapat melakukan evaluasi bahwa sebuah pelayanan telah memenuhi ketentuan baku?"
Selanjutnya, demikian Jack, jika sudah ditetapkan standar pelayanan minimum, pertanyaan berikutnya adalah, "Apakah SPM itu disusun secara bersama-sama dengan orang yang dilayani sehingga pelayanan tersebut dapat memenuhi asas grafikasi atau dilakukan secara sepihak oleh orang yang memberi pelayanan?"
"Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk menggugah setiap sektor pelayanan publik agar segera menetapkan standar pelayanan minimum yang demokratis dan berkualitas. Dengan cara inilah para abdi negara benar-benar memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat umum demi kesejahteraan," ujar Jack.
Sebelum mengakhiri pemandangan umum fraksinya, Jack Kasman mengingatkan semua pihak bahwa persoalan tidak dikelolanya daerah aliran sungai di wilayah NTT secara baik telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat.
"Dalam catatan kita, telah banyak nyawa yang melayang, harta benda lenyap, infrastruktur yang dibangun dengan dana miliaran rupiah musnah hanya karena bencana banjir atau tanah longsor," katanya.
Oleh karena itu, lanjutnya, munculnya Rancangan Peraturan Daerah Pengelolaan Terpadu Daerah Aliran Sungai di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diharapkan dapat menggerakkan semua komponen untuk memberikan perhatian bagi perlindungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam suatu penanganan yang terpadu. (gaa/humas dprd ntt)
Read More...

Jabatan pemerintahan bukan turun-temurun

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT-- Mengemban suatu jabatan dalam suatu organisasi bukan untuk turun-temurun, termasuk jabatan dalam pemerintahan. Sebab, pada saatnya tongkat kepemimpinan itu akan diserahkan kepada pejabat pengganti.
Penegasan ini disampaikan Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Kupang, Drs. Johanis Adoe, yang mewakili Bupati Kupang, pada acara serah terima jabatan eselon II lingkup Setda Kabupaten Kupang di Ruang Rapat Kantor Bupati Kupang, Jumat (1/2/2008).
Hari ini (1/2, Red), katanya, Kadis Pendidikan Nahason Abineno, S.H, harus menyerahkan tugas kepada Pelaksana Tugas, Ir. Karel Soleman Isliko, M.Si, demikian juga Inspektorat Daerah Kabupaten Kupang, Nahason Abineno, S.H menyerahkan tugas kepemimpinannya kepada Drs. Otniel Yusuf Nenabu, selaku pelaksana tugas.
"Serah terima jabatan ini karena pejabat lama telah memasuki masa purna bakti, sehingga suka atau tidak jabatan ini harus diserahkan kepada pejabat pengganti. Untuk itu, saya selaku Asisten Administrasi, mewakili Pemerintah Kabupaten Kupang bersama seluruh jajaran menyampaikan limpah terima kasih atas pengabdian dan pengorbanan serta segala karya yang saudara telah dibuat untuk kesejahteraan masyarakat di wilayah Kabupaten Kupang," katanya.
Adoe mengatakan, tidak ada yang lebih berharga berupa emas dan perak yang dapat kami berikan sebagai suatu kenang-kenangan. Tetapi walau hanya ucapan terima kasih disertai doa, kiranya Tuhan Yang maha kuasa senantiasa menyertai langkah kehidupan saudara.
Kepada pejabat baru menerima tugas kepemimpinan, Adoe mengharapkan agar dapat melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dapat membina hubungan secara harmonis di antara sesama pegawai negeri, baik antara atasan dengan bawahan dan jadikanlah mereka sebagai mitra kerja dalam pelaksanaan tugas yang diemban.
Pada tempat yang sama, Sabtu (2/2/2008), juga telah dilakukan serah terima jabatan dari Kadis Peternakan Kabupaten Kupang Ir. Abraham Thome kepada Ir.Yermias Baghe Billi, M.Si sebagai pelaksana tugas Dinas Peternakan dan Kadis Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Kupang, Drs. Anton Kana kepada Charles Yohanes Amheka, S.Ip, selaku pejabat pelaksana tugas Kadis Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Kupang. Serahterima jabatan ini disaksikan Asisten Administrasi Umum, Drs.Yohanes Adoe atas nama Bupati Kupang dan undangan lainnya. (humas Kab. Kupang)
Read More...

Musrenbangcam Taebenu berlangsung alot

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT-- Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) Taebenu, Sabtu (23/2/2008), berlangsung alot. Pasalnya, warga yang hadir menuntut agar tim SKPD mengakomodir semua program yang telah diusulkan, termasuk pembangunan ruang kelas SMAN Baumata sebagai prioritas utama.
Camat Taebenu, Jeremias Manoe, S.H, yang memimpin musrenbangcam menjelaskan, dari beberapa program yang diusulkan, ada lima program prioritas utama. Pertama, di bidang
pendidikan diusulkan penambahan sembilan ruang belajar baru bagi SMAN Baumata. Sebab, ruang kelas yang ada tak bisa menampung rombongan belajar yang kini berjumlah 104 siswa, sementara ruang belajar saat ini hanya dua ruangan.
Kedua, di bidang kesehatan yang menjadi prioritas utama adalah penambahan tenaga medis, penambahan pustu-pustu yang belum tersedia di semua desa. Diusulkan intensif untuk kader-kader posyandu yang selama ini belum dapat, pengadaan askeskin, pengadaan obat-obatan, serta bantuan makanan tambahan untuk balita dan lansia.
Ketiga, di bidang pengembangan ekonomi masyarakat, yang menjadi prioritas utama adalah pengadaan sapi kopel, penggemukan babi, pengadaan pupuk dan obat-obatan serta pengadaan bibit.
Keempat, di bidang sarana dan prasarana disepakati pengaspalan jalan, pembangunan jalan baru serta melanjutkan program air bersih, pengerasan jalan ke sumber mata air.
Kelima, di bidang pemerintahan umum di usulkan pengadaan mesin tik untuk semua desa, pengurusan sertifikat tanah masyarakat, pengadaan komputer untuk kantor camat dan kantor desa serta pengadaan maubeler. Sedangkan program-program yang belum masuk dalam program prioritas secara bertahap akan diakomodir setiap tahunnya sampai tahun 2013.
Ketua Bappeda yang diwakili oleh J Haning, mengatakan, semua yang diusulkan ada yang menjadi usulan prioritas, tetapi tentunya tidak semua program yang diusulkan dapat diakomodir karena semuanya tergantung kemampuan keuangan daerah. (humas)
Read More...

Maximilian Ulin terpilih jadi Kades Bolok

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Maxilian OUllin terpilih menjadi Kepala Desa (Kades) Bolok periode 2008-2014. Dalam pemilihan yang berlangsung 14 Februari 2008, Ullin mendulang 267 suara dari jumlah pemilih 1.168 orang, mengalah tujuh kandidat lainnya.
Berdasarkan pantauan SPIRIT NTT, pemilihan berlangsung mulai 09.00 wita berakhir pukul 16.00 wita. Ribuan masyarakat hadir mengikuti pemilihan, baik sebagai pemilih maupun sebagai pemantau dari desa tetangga. Usai pencoblosan, masyarakat tetap bertahan untuk menunggu hasil perhitungan suara. Masing-masing pendukung memberikan aplaus ketika calon yang didukung mendapatkan suara.
Akhir dari perhitungan suara, Maxilian O Ullin mendapat suara terbanyak yaitu 267 suara mengalahkan tujuh calon lainnya.
Kepala Desa Bolok terpilih, Maxilian O Ullin, mengatakan, pada saat kampanye, ia mengangkat beberapa isu yang berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat setempat, seperti bidang ekonomi. Menurut Ullin, masih banyak warga yang menghendaki agar pemerintah desa benar-benar memperhatikan modal usaha bagi masyarakat untuk mendukung usaha ekonomi produktif.
Ditambahkannya, karena Desa Bolok teletak dekat pantai, maka Pemerintah Desa Bolok harus berjuang untuk menambah modal usaha rumput laut yang selama ini sudah dijalankan dengan baik oleh warga setempat. (humas)
Read More...

Warga Pulau Semau diserang ispa

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Perubahan cuaca dari musim panas ke musim hujan sering berdampak pada mewabahnya penyakit seperti yang dialami oleh masyarakat Kecamatan Sulamu.
Selama bulan Januari dan Februari 2008 dari total 1.888 perkunjungan warga Semau ke puskesmas setempat tercatat berbagai keluhan penyakit. Namun yang dominan menyerang warga setempat adalah penyakit infeksi penapasan akut (ispa) atau 60 persen ari total perkunjungan atau 1.133 orang adalah pasien ispa.
Hal ini diungkapkan salah seorang staf Puskesmas Sulamu, Siprianus Klau, saat diwawancarai SPIRIT NTT di Puskesmas Sulamu, 19 Februari 2008.
Dalam kehidupan, katanya, masyarakat menginginkan suatu kehidupan yang penuh damai tanpa diganggu oleh sesuatu hal yang menghambat aktifvitas setiap hari, termasuk perubahan musim atau cuaca.
Untuk mencegah penyakit yang sering dialami dan diderita oleh masyarakat Sulamu, kata Klau,
petugas kesehatan bersama dengan masyarakat secara terpadu mengadakan penyuluhan kepada masyarakat untuk selalu membersihkan lingkungan tempat tinggal sehingga mengurangi tempat bagi nyamuk untuk bersarang.
Klau meminta masyarakat agar selalu waspada terhadap segala kondisi yang dapat menimbulkan penyakit, terutama pada musim hujan seperti saat ini.
Dia mengimbau masyarakat agar selalu melindungi diri dan keluarga dari segala situasi, kondisi dan penyakit. (humas Kab. Kupang)
Read More...

Ponu jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi TTU

Laporan Julianus Akoit, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KEFAMENANU, SPIRIT-- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Utara (TTU) akan menjadikan Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. Hal ini direalisasikan pada tahun anggaran 2008-2017 dengan membangun Ponu menjadi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan pantai utara, pada tahun anggaran 2008-2017.
Program ini sudah disetujui dan dicanangkan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) di Jakarta, Senin (18/2/2008) lalu.
Demikian dijelaskan Kadis Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Nakertransduk) Kabupaten TTU, Drs. Fredy Meol, kepada wartawan di Kantor Bupati TTU, Selasa (26/2/2008). "Secara prinsipiil Departemen Nakertrans di Jakarta sudah menyetujui, bahkan mencanangkan untuk membangun Kota Terpadu Mandiri Ponu di Kecamatan Biboki Anleu," jelas Meol.
Sebelum membuat keputusan menyetujui dan mencanangkan dimulainya pembangunan KTM Ponu, lanjut Meol, Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, melakukan presentasi rencana program ini di hadapan Dirjen Pembangunan dan Pengembangan Masyarakat Kawasan Transmigrasi (P2MKT), Ir. Joko Sidik Pramono serta para staf ahli, di Kantor Departemen Nakertrans di Jakarta, Senin (18/2/2008) lalu.
Presentasi program ini dihadiri Dirjen P2MKT, staf ahli menteri pengembangan bidang otonomi daerah, staf ahli menteri Nakertrans, staf ahli dari departemen terkait, seperti Kesehatan, Pertanian, Peternakan, Pendidikan, Industri, Koperasi dan UKM. Sedangkan dari daerah hadir utusan pejabat Pemkab TTU dan DPRD TTU serta pejabat Pemprop NTT di Kupang.
Ditanya wartawan tentang program KTM Ponu, Meol menjelaskan bahwa KTM Ponu adalah program untuk membangun sebuah kota mandiri yang merupakan pusat kegiatan dan pengembangan perikanan, pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan dan pariwisata bahari. "Kelak KTM Ponu menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi industri baru di kawasan pantai utara didukung Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) yang berkembang pesat. Kelak menjadi satu aset yang memberikan kontribusi besar bagi pembangunan di Kabupaten TTU yang ditandai dengan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar," jelas Meol.
Dikatakannya, wilayah pusat KTM Ponu di Kelurahan Ponu mencapai luasan 2.000 hektar. Sedangkan wilayah pengaruh KTM Ponu mencakup daerah hiterland sejumlah desa dan kelurahan dengan luasan sekitar 662.220 hektar.*
Tiga Kawasan Pengembangan KTM Ponu
* Satuan Kawasan Pemukiman (SKP) I Ponu sebagai pusat KTM didukung kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, pariwisata, industri, dan fasilitas penunjang KTM
* Satuan Kawasan Pemukiman (SKP) II Mena sebagai pusat pengembangan pertanian (agropolitan) peternakan, perikanan, pengembangan pemukiman transmigrasi serta kehutanan
* Satuan Kawasab Pemukiman (SKP) III Wini sebagai fungsi utama kota satelit untuk pemukiman perkotaan, pelabuhan, pegembangan perikanan, industri, peternakan dan lahan kering. Read More...

Jelang UN, Dikbud Flotim sosialisasikan Permendiknas 342

Laporan Martin Lau, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008
LARANTUKA, SPIRIT-- Menyukseskan ujian nasional (UN) tahun ajaran 2008, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Flores Timur (Flotim) menggelar sosialisasi Permendiknas No. 342.2007 tentang Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMP dan SMA/MA/SMK dan Permendiknas No. 9/2007 tentang ujian akhir berstandar nasional untuk tingkat SD. Sosialisasi ini dilakukan sejak awal Januari 2008.
Sementara itu, sebanyak 4.561 siswa kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Flores Timur (Flotim) telah mendaftar sebagai peserta tetap, dan mereka siap mengikuti ujian nasional (UN) tahun 2008.
Kepala Bidang (Kabid) Kurikulum dan Bina Prrogam PLS Dinas Dikbud Flotim, Plasisus Fernandes, S.E, membenarkan hal ini ketika dihubungi SPIRIT NTT di ruang kerjanya, Rabu (27/2/2007).
Menyoal persiapan sekolah SD, SMP dan SMA yang siswanya menjadi peserta UN 2008, Plasidus antara lain melaksanakan les ekstra pelajaran pada sore hari di luar jam sekolah. Materi pelajaran yang disajikan, yakni penyelesaian soal yang berfokus pada sistem kompetensi yang ditentukan badan standar nasional pendidikan/BSNP.
"Sebab materi ujian diambil dari kurikulum 1994, 2004 dan kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006. Flotim optimis UN tahun ini akan lebih baik," ujar Diston.
Selain itu, kata Diston, sekolah di Flotim juga melakukan latihan menghitamkan lembaran jawaban komputer. "Peserta UN 2008 dinyatakan lulus bila mempunyai rata-rata minimal 5,25 untuk nilai rata-rata pelajaran UN yang ditunjukkan dengan tidak ada nilai di bawah 4,25. Untuk SMK rata-rata pelajaran kompetensi keahlian minimal 7,000. Sedangkan syarat untuk tamat/lulus satuan pendidikan siswa SMP dan SMA harus lulus UN dan juga lulus ujian sekolah yang ditentukan pihak sekolah dengan mengacu pada ketentuan standar nilai kelulusan tidak boleh lebih rendah dari nilai UN," jelasnya.
Kepala SMK Lamaholot, Rofinus B Doren, ditemui di Dinas Dikbud Flotim, menjelaskan, siswa di sekolahnya saat ini 252 orang. Siswa kelas tiga peserta UN tahun 2008 sebanyak 68 orang pada jurusan administrasi perkantoran dan akutansi. "Kami pakai strategi para guru membuat rangkuman bahan pelajaran baik untuk ujian sekolah maupun UN, serta melaksanakan les sore secara ketat dengan kontrol orangtua," tegasnya. *
Peserta UN di Flotim
* SMP 2.984 siswa (58 sekolah)
* SMA 1.240 siswa (15 sekolah)
* SMK 328 siswa (4 sekolah)


Kelas VI ikut USBN

KEPALA Bidang (Kabid) Kurikulum dan Bina Program Pendidikan Luar sekolah (PLS) Dinas Dikbud Kabupaten Flores Timur (Flotim), Plasidus Fernandez, S.E, Selasa (26/2/2008) mengatakan, untuk tahun ajaran 2008 siswa kelas enam sekolah dasar (SD) dan madrasah Ibtidayah (MI) di Flotim akan mengikuti ujian sekolah berstandar nasional (US/BN) membut beban dan memberatkan tanggung jawab Dinas Dibud Kabupaten Flotim.
Untuk itu, peserta US/BN untuk 279 SD/MI termasuk sekolah dasar luar biasa/SDLB dengan jumlah 4.661 siswa dengan rincian 260 sekolah dengan siswa peserta US/BN 4.449 siswa 18 MI dengan jumlah siswa US/BN 203 dan SDLB satu sekolah dengan 9 siswa. *
Read More...

Perempuan minta perlindungan hukum

Laporan Martin Lau, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

LARANTUKA, SPIRIT--Sejak beroperasinya Bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Bagian Reskrim Polres Flotim pada bulan Januari 2008 lalu, banyak perempuan dan anak-anak di Flotim meminta perlindungan hukum di lembaga ini. Hal ini mengindikasikan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masuk ke bagian ini terus meningkat. Selain itu, perempuan dan anak di Flotim mulai menyadari hak-haknya yang tertindas dan meminta perlindungan yang adil untuk diselesaikan secara hukum.
Kapolres Flotim, AKBP Abdul Syukur, melalui Kepala Unit PPA, Aiptu Erna Romakia, mengatakan hal ini di ruang kerjanya, Selasa (26/2/2008). Dia ditemui terkait ramainya aktivitas pemeriksaan di Bagian PPP yang setiap hari dikunjungi 5-10 perempuan dan anak dengan berbagai kasus yang menimpa mereka.
"Sejak sosialisasi adanya Bagian PPA, terdaftar jumlah kasus yang ditangani meningkat. Namun karena belum ada ruang khusus sehingga masih ditangani bersama-sama kasus kriminal lainnya. Namun sejak Januari 2008 setelah ada Bagian PPA dan ada ruangan khusus, maka banyak laporan kasus KDRT yang masuk. Delapan puluh lima persen kasus yang ditangani umumnya suami menganiaya istri, suami tidak nafkahi istri dan anak, kasus menelantarkan istri dan anak karena ada perempuan simpanan dan kasus perkosaan. Selebihnya 15 persen kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan orangtua dan masyarakat," jelas Erna.
Menurutnya, untuk menegakkan secara hukum kasus KDRT, pihaknya menjalin kerja sama dengan organisasi perempuan yang ada di Kabupaten Flotim, termasuk Forkom Pemerhati dan Pemberdayaan Hak Perempuan serta Bagian Pemberdayaan Perempuan.
Pantauan SPIRIT NTT, ibu rumah tangga dan puluhan gadis serta anak memenuhi halaman dan ruang PPA Polres Flotim mengadukan kasus yang menimpa dan merampas hak mereka. Pengaduan kasus KDRT ditangani tiga anggota Polwan.
"Ini ruang darurat. Kami sedang bangun ruangan PPA dengan dana Rp 50 juta dibantu Pak Bupati Flotim dan akan dimanfaatkan pada bulan Mei nanti," kata Erna. *
Read More...

Mengenal tradisi kontas gabungan di Flores Timur

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SEBAGAI daerah Katolik, dengan devosi Katolik sangat kuat, orang Flores mengisi bulan Oktober ini dengan KONTAS GABUNGAN keliling. KONTAS itu sebutan khas Flores untuk ROSARIO, butir-butir tasbih yang dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria, dalam doa rosario.
Bagi orang Flores Timur, Oktober dan Mei adalah BULAN MARIA yang tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Kontas alias rosario ini bahkan sering dijadikan kalung di leher. Padahal, belum tentu pemakai kalung rosario itu berdoa rosario tiap hari.
Selain berkunjung dan berdoa di tempat-tempat ziarah, doa rosario berkeliling dari rumah ke rumah tak boleh tak ada. Tradisi ini sudah berjalan puluhan, bahkan ratusan tahun, sehingga orang Flores umumnya merasa 'kering' jika tiap bulan Mei dan Oktober tidak ada acara KONTAS GABUNGAN atau doa rosario keliling.
Di Jawa, sembahyangan rosario juga digelar di lingkungan-lingkungan, tapi tidak seintensif di Flores. Karena umat Katolik di Jawa sangat sedikit, tinggal di antara umat Islam, sibuk kerja siang malam, doa rosario tiap hari selama Oktober dan Mei sulit ditradisikan. Tapi pastor selalu mengimbau agar umat setidaknya berdoa rosario sendiri-sendiri di rumahnya.
Saat menjadi pengurus lingkungan di Paroki Santo Paulus Jember, saya mencoba mentradisikan doa rosario tiap hari selama Mei/Oktober. Bisa jalan, tapi yang datang tidak sampai 10 persen. Hanya pasangan suami/istri saja yang nongol. Anak-anak, remaja, pemuda, orang tua, tidak kelihatan. Saya akhirnya sadar bahwa tradisi devosi di Flores sangat sulit diterapkan di Jawa atau tempat lain di Indonesia di mana Katolik sangat minoritas.
Doa rosario bersama atau kontas gabungan di kampung saya, pelosok Flores Timur, menjadi momentum yang tak dilalui begitu saja. Tiap GABUNGAN (umat Katolik di Jawa Timur menyebutnya 'lingkungan' atau 'kring') berlomba-lomba mengemas sembahyangan rosario sebagus mungkin. Tiap GABUNGAN punya PANJI dengan slogan yang khas.
PANJI itu lukisan Bunda Maria di kayu yang diusung dari rumah ke rumah. Kalau doa rosario digelar di rumah A, maka PANJI diantar ramai-ramai ke rumah A malam sebelumnya. Keluarga A berkewajiban menyiapkan bunga, salib, lilin, serta peralatan liturgi. Setelah KONTAS GABUNGAN di rumah A, umat ramai-ramai membawa PANJI Bunda Maria ke rumah B yang akan ketempatan besok malam. Dan seterusnya... sampai 30 hari.
Rumah orang kampung yang sederhana, kecil, atapnya alang-alang, bukan masalah untuk KONTAS GABUNGAN. Toh, umat bisa duduk lesehan di tikar, bahkan di atas batu, di halaman. Suasana remang-remang karena listrik tidak ada. Penerangan pakai lampu minyak tanah (oncor) atau lilin yang dibawa masing-masing. Pada 1980-an hingga 1990-an, ketika masyarakat masih sangat tradisional, tiap malam hampir semua umat ikut KONTAS GABUNGAN. Cuek bebek atau acuh tak acuh di rumah bisa jadi gunjingan warga lain.
Doa rosario sendiri sama saja dengan di Jawa dan tempat-tempat lain di Indonesia. Diawali Credo (Aku Percaya), tiga kali Salam Maria, kemudian merenungkan peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus Kristus: peristiwa gembira, sedih, mulia. Mendiang Paus Yohanes Paulus II menambahkan satu peristiwa lagi: peristiwa cahaya.
Kemudian, mendaraskan 50 kali doa Salam Maria sesuai dengan jumlah KONTAS alias tasbih katolik. Doa Salam Maria diucapkan secara bergantian. Bagian awal diucapkan satu orang (Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus). Lalu, semua umat menjawab: "Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin."
Salam Maria atau bahasa Latinnya AVE MARIA merupakan doa yang sangat sederhana, diulang-ulang, bisa dibawakan kapan saja sesuai kebutuhan. Tak harus bulan Mei/Oktober, umat Katolik di kampung saya sejatinya tiap hari mendaraskannya. Doa ini bahkan sering dipakai untuk mengusir setan atau hantu di kampung. Hehehe....
Jika orang kampung saya melintas di tempat-tempat angker, pohon besar, dia akan bikin tanda salib, kemudian berdoa rosario sambil jalan. Orang pun beroleh keberanian karena merasa sedang dilindungi oleh Tuhan. "Tuhan terang dan selamatku, aku tak gentar...," begitu lagu rohani yang sangat populer di kampung.
Apa yang menonjol dari KONTAS GABUNGAN di Flores Timur. Pertama, doa didaraskan secara melodius. Doa-doa hafalan utama (Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan, Yesus yang Baik, Doa Malam, dan sebagainya) diucapkan dengan nada yang khas. Ada semacam 'kesepakatan' harus memenggal di bagian mana, tidak cepat-cepat, kompak, serempak. Suara tidak terlalu keras, tidak terlalu lemah. Jangan berbisik atau doa dalam hati karena ini KONTAS GABUNGAN.
Di Jawa, saya lihat banyak yang hanya komat-kamit alias doa dalam hati. Juga belum ada pakem macam di Flores sehingga ada umat yang doanya cepat sekali, ada yang lambat sekali. Maklumlah, umat Katolik di Jawa yang minoritas belum bisa menciptakan tradisi katolik.
Kedua, diselingi banyak lagu. Umat Katolik di kampung senang menyanyi dan menciptakan harmoni sendiri. Secara spontan umat bikin suara satu, dua, tiga, sehingga tercipta paduan suara alamiah. Padahal, tidak ada dirigen, tidak ada latihan.
Biasanya, lagu-lagu devosi Maria diambil dari buku JUBILATE, SYUKUR KEPADA BAPA, EXULTATE, atau lagu-lagu rohani populer yang jumlahnya banyak sekali. Umat paling senang menyanyikan lagu-lagu berbahasa daerah Lamaholot, misalnya INA MARIA (Bunda Maria).
Ketiga, langsung ditutup dengan SEMBAHYANG MALAM atau completorium.
Tradisi Katolik ini jarang saya temui di Pulau Jawa. Umat di kampung hafal sembahyang malam di luar kepala, periksa batin, refleksi, kemudian menyanyikan Salve Regina atau Alma Redemptoris Mater sebelum tidur. Nah, doa-doa pribadi ini disatukan di KONTAS GABUNGAN.
Keempat, tidak pakai konsumsi. Di Jawa Timur, umat yang ketempatan doa diam-diam keberatan karena harus menyediakan konsumsi (makan, minum) untuk peserta doa. Ini juga yang saya kira membuat tradisi doa bersama kurang berkembang di Jawa. Umat yang kaya menyediakan makanan enak, lezat, mahal, umat miskin hanya bisa kacang goreng atau air putih. Perbedaan kelas sosial ini menimbulkan rasa rendah diri di kalangan si miskin.
Di Flores mustahil menyediakan konsumsi. Kenapa? Selain umatnya miskin, peserta KONTAS GABUNGAN itu separo rukun tetangga (RT), bahkan penduduk seluruh RT. Bagaimana kita menyediakan makanan dan minuman sebanyak itu. Biasanya, anak-anak membawa bekal sendiri.
Kelima, perarakan PANJI gabungan. PANJI atau simbol GABUNGAN (lingkungan/kring) bergambar Bunda Maria dengan tulisan salah satu gelar Maria, misalnya Ratu Para Rasul, Bunda Penolong, Pelindung Orang Miskin... diarak setelah doa rosario dan doa malam (completorium) kelar.
Umat ramai-ramai mengantar PANJI itu sambil menyanyikan 'Ave, Ave, Ave Maria...'. Lalu, tuan rumah menerima PANJI itu sebagai tanda bahwa besok malam KONTAS GABUNGAN diadakan di rumahnya. Lalu, umat kembali ke rumahnya masing-masing.
Karena KONTAS GABUNGAN hanya diadakan 30 hari, sementara jumlah keluarga di satu GABUNGAN lebih dari itu, ketua gabungan/stasi sudah mengatur sedemikian rupa agar semuanya kebagian. Mereka yang belum ketempatan akan dapar giliran bulan Mei atau Oktober mendatang. Jangan khawatir, semua keluarga akan didatangi PANJI Bunda Maria.
Umat akan sangat sedih jika rumahnya tidak dijadikan tempat KONTAS GABUNGAN atau doa bersama bulan Mei/Oktober. Karena itu, pengurus gabungan harus benar-benar teliti agar tidak ada yang kelewatan.
Keenam, penutupan Bulan Maria bersama-sama.
Tanggal 31 Oktober (atau 31 Mei) adalah penutupan Bulan Maria. KONTAS GABUNGAN ditiadakan. Sebagai gantinya, digelar kebaktian bersama di gereja. Semua GABUNGAN bersekutu di gereja untuk melepaskan bulan rosario bersama-sama. Karena pastor sangat sedikit, sementara umat sangat banyak (rasio pastor sangat rendah), penutupan bulan rosario dilakukan dengan ibadat sabda tanpa imam. Meriah sekali! Apalagi, stasi yang kebetulan saat itu ada pastornya.
Devosi Katolik yang sangat kental di Flores Timur terus membekas dalam diri kami, orang-orang kampung. Ketika tiba di Jawa, di lingkungan baru yang orang Katoliknya nyaris tidak ada, kami sering kehilangan orientasi. Ada teman yang mengalami gegar budaya, cultural shock, karena tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada yang ikut arus, dan sebagainya.
Para perantau Flores di Pulau Jawa, yang kebetulan banyak menjadi pengurus paroki atau lingkungan, membawa tradisi KONTAS GABUNGAN di gerejanya. Contohnya di Surabaya bagian Selatan. Kebetulan paroki-parokinya dipimpin pastor-pastor SVD (Societas Verbi Divini) yang sebagian besar orang Flores dengan tradisi devosi sangat kuat. (lambert hurek)
Read More...

Mati Ketawa ala Maumere (1)

Oleh Even Edomeko

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SEMALAM di Sadangbui
SEKELOMPOK pemuda bersama dua turis asing menikmati malam minggu di Pelabuhan Sadangbui Maumere. Di tengah mereka ada moke, ada lurun magewair, ada rumpu-rampe. Makin malam, mereka makin mabuk. Saat hendak kencing, seorang turis terpeleset dan tercebur ke air. Sialnya, dia tak bisa berenang. Dia kebe-lemer setengah mati.
Turis: Help me! Help me!
Lukat: Hoi bodoh-Ngangan, belajar berenang sudah! Jangan lagi belajar omong Inggris!


Pemimpin tradisional
GURU: Di Flores ini setiap kampung punya pemimpin tradisional. Di Ende dan di Lio ada Mosalaki-Riabewa, di PaluE ada Lakimosa, di Maumere ada Moan Tana Puan. Siapakah contoh Moan Tana Puan di Sikka??? Coba kau Jose.
Jose: Sentus Botha. *

Barata MALL
DUA sahabat karib, yang sudah lama berpisah karena tinggal di kampung yang berbeda, baku ketemu di Barata Mall Maumere, di suatu hari Minggu yang ramai. Mereka sama-sama tercengang akan keramaian mall, tapi sama-sama tidak mau omong duluan, takut diejek. Tapi akhirnya seorang dari mereka tak tahan.
Wokowula: Eja, mall itu artinya apa?
Jose: Mall itu pasar.
Wokowula: Iya ka? Tapi kenapa mereka tidak kasih nama 'Pasar Barata'?
Jose: Mereka takut.
Wokowula: Takut apa na? Takut sama siapa na?
Jose: Takut kau pikul kau pu ubi, pisang, kambing, babi, datang jual juga di sini.

MARI Pak, Mari
HARI sudah hampir jam satu siang, tapi kambing yang dijual Bapak Wokowula belum laku. Saat memutuskan hendak pulang, datanglah seorang Jawa menawar kambing itu. Sayangnya mereka belum ketemu harga yang cocok. Mas Jawa itu lalu pamit.
Mas Jawa: Mari, pak. Mari
Wokowula: (Melongo sejenak lalu menyeret kambingnya mengikuti Mas Jawa dari belakang)
Tak lama berjalan, Mas Jawa masuk di sebuah warung dan makan. Wokowula ikut masuk dan juga makan. Usai makan, sebelum pergi, Wokowula mendekati pemilik warung.
Wokowula: Soto satu, sate satu, uang minta sama dia (ditunjuknya Mas Jawa).
Mas Jawa : Lho, emangnya siapa yang nraktir Bapak?
Wokowula: Aduh, kau to yang ajak saya 'mari, mari, mari' tadi?
Mas Jawa: Astaga. Itu saya pamit sama Bapak.
Wokowula: Astaga kau pu telor. Nama saya Wokowula, bukan Astaga! Saya ni rambut su putih. Jangan main gila dengan saya e?!

Kecuali SAYA
PULANG dari kunjungan ke desa bersama rombongan bupati, Niko cerita ke Niki:
Niko: Oi, tadi, pas naik jalan kaki di tanjakan, tiba-tiba ada yang jatuh terguling. Semua orang tertawa ngeri-ngeri, kecuali saya.
Niki: Kenapa? Kau kasian dengan yang jatuh ko?
Niko: Tida, teman... Yang jatuh tu saya.

Moan jaga UWOK
SAAT diketahui ada aktivitas vulkanologis di Gunung Api Egon dan Gunung Api Rokatenda, Pemda memanggil dua orang penjaga gunung atau moan jaga uwok (= uap/asap) dari masing-masing gunung dan Moan Wokowula sebagai tokoh masyarakat untuk diskusi bersama vulkanolog dari ITB Bandung. Usai diskusi, ketiganya minum moke sampai mabuk di sebuah warung RW.
Moan Egon: Supaya kamu tahu, saya ini Moan Jaga Uwok di Egon. Egon meletus tapi manusia selamat, karena sudah saya pagar.
Moan Rokatenda: Supaya kamu tahu, saya juga Moan Jaga Uwok di Rokatenda. Tapi dia tidak akan meletus karena sudah saya jampi-jampi.
Moan Wokowula: Supaya kamu dua tahu, sayalah tukang buat uwok itu. Kamu enak, karena saya lagi malas.

DUDUK di aspal
NAIK oto sore-sore dari desa ke kota, Si Kecil Lado terheran-heran lihat di sepanjang jalan ada orang-orang duduk rame-rame di badan jalan aspal. Terdorong rasa ingin tahu, dia tanya ke bapaknya Jose.
Lado: Baba we, kenapa orang senang duduk di aspal?
Jose: Sore begini udara dingin.
Lado: Pake jeket to? Kenapa harus duduk di aspal macam mereka punya bale-bale?
Jose: Anak, kalau sore aspalnya panas. Mereka kasi hangat mereka punya 'barang.'

BULOK (bule lokal)
SAMBIL menyusuri trotoar dari Patung Tekaiku ke Stasiun Radio Suara Sikka, Moat Wokowula dan Moalaki Jose ngobrol asyik matipunya. Tiba depan Kantor Pos, Jose diam menganga heran sambil liat seseorang sedang isi surat di kotak pos.
Jose: Teman, kau bisa Inggris sedikit to, coba kau ajak itu turis omong ka...
Wokowula : (memandang heran ke Jose) 'Mana turisnya?'
Jose: Itu tu, yang putih tinggi gaga-gaga tu... Nah itu pas dia ketawa tu...
Wokowula : 'Gila kau Jose, itu tu bura wulan dari Wolomude. Albino, tau?'


Ayam dari MAMA
NIKO diam-diam telan air liur waktu dengar teman-temannya cerita bagaimana mereka dijamu oleh warga desa, saat dampingi bupati berkunjung ke desa.
Besoknya ada kunjungan lagi. Niko ikut.
Sayangnya, desa yang dikunjungi saat itu adalah desa yang tertimpa bencana, sehingga tak ada 'perjamuan istimewa.'
Sore-sore, saat rombongan bupati mau pulang, Niko ke belakang mau pipis. Saat itu, di dekat dapur yang apinya menyala bagus, dilihatnya seorang Mama Tua sedang menangkap seekor ayam jantan besar. Niko spontan bertindak.
Niko: Mama jangan potong! Mama jangan potong!! Kami su mau pulang...
Mama Tua: Tida, Nak. Mama hanya mau kasi nae ini ayam ke kandang ka...
(bersambung ke MATI KETAWA SARA SIKKA) Read More...

Koalisi wartawan dan ornop datangi DPRD Mabar

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Wartawan dan Organisasi Non Pemerintah (Ornop) Se-Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi damai di halaman Kantor DPRD Manggarai Barat (Mabar), pekan lalu.
Aksi damai itu sebagai reaksi atas kekerasan yang dialami Wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru, yang dilakukan oleh empat pemuda di Labuan Bajo, Minggu (17/2/2008).
Koalisi Perhimpunan Wartawan dan Ornop yang melakukan aksi damai itu, antara lain Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB), Aliansi Wartawan Manggarai atau AWAM, Perhimpunan Wartawan Flores atau PWF, Yayasan Komodo Indonesia atau Yakomindo, Lembaga Diaspora, Lira dan Lembaga Pemberdayaan dan Advokasi Masyarakat atau LPAM.
Mereka tiba di Kantor DPRD Mabar sekitar pukul 11.00 wita. Selanjutnya para wartawan secara bergantian melakukan orasi. Dalam orasinya, para wartawan mengutuk tindakan kekerasan yang dilakukan-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Robert Perkasa, wartawan Komodo FM Labuan Bajo, dalam orasinya dengan tegas mengatakan fenomena kekerasan yang kian merajalela dan kekerasan dalam bentuk apapun harus dilawan. Sebab, kekerasan merupakan kejahatan kemanusiaan yang merendahkan sekaligus ancaman serius bagi martabat manusia.
Dikatakannya, perilaku premanisme terhadap pers maupun insan pers yang dialami Wartawan Pos Kupang merupakan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena itu, mereka meminta kasus kekerasan tersebut harus dijadikan sebagai musuh bersama yang harus dilawan.
"Kekerasan merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus dilawan. Ini tidak bisa ditolerir. Dan, kami berharap kasus ini dijadikan persoalan bersama yang harus segera dihentikan," tandasnya.
Selain Perkasa, Kanis Lina Bana, Wartawan Pos Kupang Biro Riteng, dalam orasinya meminta kepada seluruh komponen, baik aparat keamanan, pemerintah, aparat penegak hukum maupun masyarakat harus proaktif menyelesaikan kasus ini dalam waktu yang singkat. Karena jika tidak, dikhawatirkan kekerasan terhadap wartawan akan terus dan terus berlanjut.
"Kami minta kasus ini harus segera diatasi dalam waktu singkat. Jangan biarkan kasus ini berlarut-larut," tegas Lina Bana, yang diamini rekan-rekan wartawan lainnya.
Kanis Lina Bana pun membacakan pernyataan sikap para wartawan. Sedikitnya ada lima pernyataan sikap yang mereka sampaikan. Pertama, mendesak seluruh jajaran kepolisian, baik tingkat lokal, regional dan nasional untuk senantiasa memberi rasa aman dengan melindungi, mengayomi warga negara.
Kedua, mendesak aparat kepolisian Manggarai Barat agar mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dialami Wartawan Pos Kupang serta menangkap aktor intelektual di balik kasus kekerasan tersebut.
Ketiga, mendesak aparat penegak hukum, polisi, jaksa dan hakim agar menjalankan tugas dan kewenangannya dalam rangka penegakan supremasi hukum di wilayah ini tanpa diskriminatif.
Keempat, mendesak DPRD Manggarai Barat untuk ikut menyikapi berbagai fenomena sosial seperti perilaku premanisme dan kekerasan yang semakin berkembang di daerah ini.
Kelima, mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat agar memperhatikan secara serius berbagai kebijakan pembangunan di wilayah itu agar mampu mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan terutama masalah sosial kamtibmas demi terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera.
"Kami juga minta agar Pemkab Mabar memperhatikan secara serius berbagai kebijakan pembangunan di wilayah ini," kata Kornelis Rahalaka, wartawan Majalah Diaspora terbitan Labuan Bajo.
Harus disikapi
Sementara itu, Perhimpunan Wartawan Flores/PWF dalam surat dengan No. 03/PWF/E-II.2008 yang ditandatangani Ketua Umum, Hieronimus Bokila dan Sekretaris Umum, Bernadus Barat Daya, antara lain menambahkan, jika pernyataan sikap ini tidak ditanggapi dan disikapi, PWT dan organisasi wartawan seluruh Flores akan melakukan perlawanan keras hingga pernyataan sikap ini disikapi dan dituntaskan.
Usai berorasi di halaman Kantor DPRD Mabar, para wartawan meminta DPRD untuk menerima kedatangan mereka. Dan, tidak lama berselang, Wakil Ketua DPRD Mabar, Yohanes Suherman, menemuai para wartawan yang menggelar aksi damai.
Suherman mempersilakan para wartawan untuk masuk ke dalam ruangan sidang utama DPRD Mabar. Mereka diterima Ketua DPRD Mabar, Matheus Hamsi; Wakil Ketua, Ambros Janggat dan Yohanes Suherman serta anggota Dewan lainnya seperti Thobias Wanus, Safrudin, Edi Endi, Lambert Landing, Frans Sukmaniara, Karolus Kapu, Blasius Jeramun dan Agustinus Jiik.
Untuk diketahui, aksi wartawan ini diawali doa peneguhan dipimpin wartawan Pos Kupang, Kanis Lina Bana, yang berlangsung di Clinik St. Yoseph, tempat Obby dirawat. Dalam doa peneguhan itu mereka mengharapkan agar Obby mendapat kekuatan dan segera sembuh. Dari Clinik St. Yoseph, wartawan bergerak menuju Mapolres Manggarai Barat menggelar orasi sambil mengangkat spanduk, satu dari sekian spanduk bertuliskan, "STOP KEKERASAN TERHADAP WARTAWAN."
Dari Mapolres mereka menuju Kantor DPRD Mabar. Dari kantor DPRD, koalisi wartawan dan Ornop ini juga mendatangi Kantor Bupati Manggarai Barat. Mereka diterima Wakil Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch Dula; Sekab, Drs. Benediktus Ngete; dan Kepala Kesbang Linmas, Drs. Valens Gampur, M.Si.
Di hadapan Wabup Mabar, Gusti Dula, para wartawan menyampaikan tuntutan dan pernyataan sikap seperti yang mereka sampaikan di DPRD Mabar. Baik di Mapolres, Kantor DPRD maupun di Kantor Bupati Mabar, koalisi wartawan dan ornop menyerahkan pernyataan sikap. Pernyataan sikap itu ditandatangani oleh semua wartawan dan ornop yang bergabung. Mereka antara lain Kanis Lina Bana (Wartawan Pos Kupang Biro Ruteng); Petrus Nasarani (Radio El Sintha untuk wilayah peliputan Manggarai dan Manggarai Barat); Valens Blikololong (Metro TV daratan Flores); Enok Tanggur (RCTI wilayah Flores); Jo Kenaru (ANTV wilayah Flores); Paul Bataona, Andre Durung dan Kristo Lawudin (Flores Pos); Bernadus Barat Daya, Robert Perkasa dan Yos da Putra (Komodo FM Labuan Bajo); Ferdinandus Jemaun, Frumen Amas dan Marcel Pahun (HU Media Rakyat); John Lewar, Plasidus Masdi (HU Patroli Post); Kornelis Rahalaka (Diaspora); Titus Untung (Demokratik); Sofiandi (LPAM) dan Vinsen Burhamanse (Yakomindo Labuan Bajo). (infokom manggarai barat)
Read More...

Semua komponen bersatu membangun Mabar

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Barat, Matheus Hamsi, mengajak masyarakat dan segenap komponen lainnya di daerah itu untuk bersatu membangun Manggarai Barat (Mabar).
Sebab, untuk mendorong percepatan pelaksanaan pembangunan yang ada di Manggarai Barat tidak bisa dengan cara sendiri-sendiri tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak terutama media massa.
Ajakan Matheus Hamsi ini disampaikan ketika menerima Koalisi Wartawan dan Ornop sedaratan Flores di Ruang Sidang Utama DPRD Manggarai Barat, Selasa (19/2/2008). Koalisi wartawan mendatangi Kantor DPRD Mabar untuk melakukan aksi damai mengutuk kasus kekerasan yang dialami Wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru.
"Saya mengajak masyarakat dan seluruh komponen yang ada di Manggarai Barat agar secara bersama-sama membangun daerah ini ke arah yang lebih baik," katanya.
Menurutnya, peran menyebarluaskan informasi untuk pembangunan telah dijalankan oleh teman-teman wartawan. Jika demikian, mestinya para wartawan hendaknya dipandang sebagai mitra kerja yang strategis, bukan sebaliknya.
=======pol out==========
"Jika kita sepakat kalau wartawan sebagai mitra kerja, mengapa kita melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka? Sebagai pribadi saya mengutuk tindakan kekerasan tersebut."
==Matheus Hamsi==
=================================

Di hadapan seluruh wartawan, Ketua DPRD Matheus Hamsi, menegaskan, tindakan kekerasan yang dialami oleh Wartawan Pos Kupang atas nama Oby Lewanmeru sebagai bukti bahwa memang di daerah ini ada masalah yang serius. Karena itu, dirinya sepakat untuk menghentikan kekerasan terhadap wartawan dengan cara apapun dan mengutuk keras tindakan kekerasan oleh oknum-oknum preman itu. "Ini bahaya, jangan sampai gaya-gaya premanisme berkembang di Manggarai Barat," tegasnya.
Target narasumber
Sementara itu, anggota Dewan, Tobhias Wanus, yang turut hadir menerima kehadiran aksi damai wartawan tersebut, meminta aparat kepolisian meningkatkan kewaspadaan di massa yang akan datang. Bahwa aktivitas premanisme sudah ada dan berkembang di Labuan Bajo. "Saya minta aparat kepolisian segera meningkatkan kewaspadaan pada masa yang akan datang," pintanya.
Jika ada pihak yang sudah berani melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan, katanya, berarti masalah berikutnya adalah muncul tindakan kekerasan terhadap nara sumber. Pasalnya, wartawan hanya menulis pernyataan dari seorang narasumber yang berusaha mengungkapkan kebenaran, bukan pernyataan sendiri.
"Karena itu, jika wartawan saja sudah dipukul, dianiaya, lantaran menulis apa yang orang lain omong, maka dapat disimpulkan bahwa target berikutnya adalah narasumber. Hal ini berarti melarang orang lain untuk berbicara soal kebenaran. Dan, lembaga DPRD ini tidak mungkin melakukannya, sebab yang pasti kita akan mengatakan sesuai fakta dan yang terjadi sebenarnya," tutur Thobias.
Anggota DPRD Mabar lainnya seperti Edi Endi, Frans Sukmaniara, Lambert Landing, Blasius Jeramun dan Agustinus Jik juga menyampaikan keprihatinan yang sama. Merekapun sepakat menjadikan kasus ini sebagai prioritas utama yang harus disikapi oleh lembaga DPRD.
Sebagai tindak lanjut dari pernyataan itu, DPRD Mabar berjanji menggelar pleno khusus untuk mengambil sikap lembaga hingga direkomendasikan kepada pihak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas atas kejadian yang menimpa Wartawan Pos Kupang, Oby Lewanmeru.
Selain itu, pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat saat menerima kehadiran para wartawan juga akan menyampaikan dukungan yang sama. Dukungan tersebut intinya mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus kekerasan tersebut. (infokom manggarai barat)
Read More...

DPRD NTT seleksi Panwas Pilgub

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) segera melakukan seleksi calon anggota panitia pengawas (panwas) untuk melaksanakan tugas pengawasan selama proses pemilihan gubernur NTT berlangsung.
"Kita segera mengumumkan pendaftaran calon untuk seleksi. Paling lambat pekan depan sudah ada penetapan keanggotaan panwas karena waktu pembentukannya hanya sampai 10 Maret mendatang," kata Wakil Ketua DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin, di Kupang, Senin (25/2/2008), terkait rencana pembentukan Panwas Pilgub NTT.
Semua orang yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota panwas akan mengikuti uji kelayakan dan kepantasan untuk menetapkan salah satu dari semua calon yang mendaftar.
Dia mengatakan keanggotaan Panwas Pilgub NTT tanpa kaum profesional yakni akademisi dan pers. Panwas hanya beranggotakan tiga orang, dari unsur kejaksaan, kepolisian dan tokoh masyarakat.
Asisten Tata Praja Setda NTT, Drs. Yos Mamulak, yang dihubungi terpisah mengatakan, KPU, DPRD dan Pemerintah NTT telah sepakat bahwa keanggotaan Panwas hanya tiga orang.
Dia mengatakan kesepakatan itu dibuat berlandaskan pada UU Nomor 22 Tahun 2007. Undang-undang tersebut menegaskan bahwa dalam hal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung sebelum terbentuknya Bada Pengawas Pemilu (Banwaslu) berdasarkan UU 22/2007, maka pembentukan panwas berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum UU 22/2007 diundangkan.
Artinya, jumlah keanggotaan Panwas Pilgub berbeda dari jumlah anggota panwas sebelumnya yang berjumlah lima orang yakni unsur kejaksaan, kepolisian, akademisi, pers dan tokoh masyarakat dengan merujuk pada UU Nomor 32/2003, katanya.
Kesepakatan ini menimbulkan pro dan kontra karena karena mekanisme proses rekruitmen anggota panwas menggunakan regulasi sebelumnya yakni UU Nomor 32/2003 dan PP 6 Tahun 2005, tetapi jumlah anggota mengacu pada UU No: 22 Tahun 2007.
"Mekanisme perekrutan memang mengacu pada regulasi sebelumnya yakni UU 32/2003, tetapi jumlah keanggotaan mengacu pada UU 22/2007. Ini selaras dengan rujukan finansial Permendagri No 44 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah," kata Mamulak.
Jika keanggotaan panwas berjumlah lima orang, maka tidak ada sumber dana yang bisa digunakan untuk membayar dua anggota lain karena Permendagri hanya memberi ruang bagi daerah untuk mengeluarkan biaya bagi tiga anggota panwas, katanya.
"Kalau kita rekrut lima orang dengan merujuk pada UU 32/2003, lalu dari mana uangnya untuk membayar honor mereka," katanya. (antara)
Read More...

Penghapusan tanah-bangunan harus disetujui Dewan

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan, Kornelis Soi, S.H, mengatakan, penghapusan tanah dan bangunan harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan.
Soi mengemukakan hal ini ketika membacakan pemandangan umum Fraksi PDIP terhadap Ranperda Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah, di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD NTT, Senin (25/2/2008).
Rapat paripurna ini dipimpin Ketua Dewan, Drs. Melkianus Adoe, didampingi Wakil Ketua, Drs. Kristo Blasin, dihadiri Sekda NTT, Dr. Ir. Djamin Habib, MM serta seluruh jajaran eksekutif lainnya.
Fraksi PDI Perjuangan yang dikomandoi Drs. John Umbu Deta, seperti yang disampaikan Sekretaris Fraksi, Kornelis Soi, S.H, bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pengelolaan Barang Milik Daerah adalah Ranperda yang strategis dan mendasar bagi pelaksanaan pembangunan di daerah ini.
Mengapa? Tak dapat dipungkiri bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan, keuangan daerah dan barang milik daerah adalah dua instrumen yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya, selain instrumen lainnya.
"Indikator kinerja pemerintah daerah, antara lain sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola keuangan daerah dan barang milik daerah yang dibingkai dalam prinsip transparasi, akuntabilitas, dan partisipatif," kata Soi.
Menyoroti ranperda tentang pengelolaan barang milik daerah, Kornelis Soi, S.H, menegaskan, meskipun ranperda ini secara keseluruhannya mengacu pada peraturan yang sudah ada, yakni PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, namun "muatan" pasal-pasal dan ayat-ayat dalam ranperda ini berkaitan langsung dengan "kepentingan" dan "kondisi" lokal di daerah ini, yang mesti disikapi dengan kebijakan "lokal". Kebijakan lokal yang disebutkan ini, katanya, tidak bisa serta merta dikatakan bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi.
"Kebijakan lokal demi kepentingan dan kondisi lokal daerah bisa diputuskan sejauh masih dalam bingkai ketentuan yang lebih tinggi," tegasnya.
Seperti disaksikan SPIRIT NTT di ruang sidang utama gedung DPRD NTT, Kornelis Soi, S.H dengan nada tinggi menegaskan bahwa penghapusan barang milik daerah berupa tanah atau bangunan "tanpa kecuali" harus mendapat persetujuan DPRD sebagaimana sudah diatur dalam poin a ayat (1) pasal 61, yang berbunyi: pemindahtanganan tanah atau bangunan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur setelah mendapat persetujuan dari DPRD. Penegasan tersebut tentunya mempunyai alasan-alasan mendasar. Pertama, sebagai representasi rakyat, DPRD dapat melihat dari berbagai aspek dan dimensi terhadap tanah atau bangunan yang dihapus itu.
Kedua, secara prinsip, tanah tidak akan berkembang atau bertambah, sementara jumlah penduduk terus berkembang atau bertambah. Adalah sebuah "kebijakan lokal" apabila tanah atau bangunan tidak boleh dipermudah untuk dihapus.
Ketiga, agar proses penghapusan tanah atau bangunan tidak mudah dimanipulasi secara sepihak oleh Eksekutif dengan berbagai macam alasan sekedar alibi. Masih segar dalam ingatan kita masalah penghapusan Rumah Jabatan Wali Kota Kupang yang kontroversial itu beberapa waktu yang lalu. (gaa/humas dprd ntt)
Read More...