Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kades jangan main perintah

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Kepala desa bertugas membimbing masyarakat menuju kesejahteraan. Karena itu berusahalah untuk memahami dan mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan rakyat. Jangan main perintah, tetapi sedapat mungkin diupayakan melalui musyawarah dalam menentukan pola pengembangan desa yang membawa dampak positif untuk kemajuan pembangunan.
Hal ini diungkapkan Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, ketika melantik tiga orang kepala desa di Kecamatan Haharu di Aula Kantor Camat Haharu, Jumat (18/1/2008).
Turut hadir pada kesempatan itu, Wakil Bupati Sumba Timur, Sekretaris Daerah, anggota DPRD, pimpinan dinas, badan, kantor, unit kerja, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda.
Bupati Mehang menyampaikan apresiasi kepada calon kepala desa yang tidak terpilih, namun berkenan menghadiri acara pelantikan tersebut. Hal itu menandakan bahwa kehidupan demokrasi di desa menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan dan menggembirakan. "Hal ini patut dipertahankan dan ditingkatkan demi kelangsungan pembangunan secara keseluruhan," ujar Mehang.
Kepada para kepala desa yang baru terpilih dan dilantik, yaitu Kades Wunga, Mbatapuhu dan Kadahang, Bupati Mehang berpesan agar ke depan lebih memrioritaskan program pengentasan kemiskinan, dan bersama masyarakat merancang berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan harkat dan martabat serta pendapatan masyarakat.
Di akhir sambutannya, Bupati Mehang mengimbau kepada kepala desa yang baru agar lebih memiliki kepekaan bersama masyarakat membangun desa dalam kebersamaan. (humas sumba timur)
Read More...

Bupati Mehang buka Muscab Pramuka

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, membuka musyawarah cabang (muscab) Gerakan Pramuka Cabang Sumba Timur di Aula SMUN 1 Waingapu, belum lama ini.
"Muscab yang dilaksanakan ini merupakan suatu momentum penting bagi perjalanan Gerakan Pramuka Cabang Sumba Timur dalam pejalanannya membina generasi muda sebagai pembinaan pendidikan di luar sekolah," ujar Bupati Mehang ketika memberikan sambutan.
Bupati Mehang mengharapkan organisasi yang telah dibina sekian lama ini hendaklah jangan dicampuri dengan muatan kepentingan politik. Oleh karena itu, pintanya, para pengurus yang dipilih adalah orang-orang yang mempunyai komitmen untuk menjalankan aturan organisasi sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Bupati Mehang juga berharap agar pengurus yang dipilih berdomisili di Waingapu, paling tidak sampai dengan selesainya masa jabatannya.
Bupati Mehang memesan kepada para pengurus yang baru agar dalam menyusun program kerja yang berkaitan dengan pendanaan disesuaikan dengan jadwal pembahasan anggaran pemerintah daerah. Hal itu untuk memudahkan pemerintah dalam mengalokasikan dana bagi peruntukan kegiatan pramuka.
Acara pembukaan muscab tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Sumba Timur, Ketua Pengadilan Negeri Waingapu, unsur muspida, para kepala dinas/badan/kantor/unit kerja dan pengurus pramuka tingkat kecamatan. (humas sumba timur)
Read More...

Sekilas Kecamatan Haharu

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

* HAHARU
- Letak Geografis: Luas Kecamatan Haharu 846,7 km2 atau 84.670 hektar dengan letak umumnya sepanjang pantai Utara berbukit dan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun. Musim penghujan relatif pendek dibandingkan musim kemarau.
- Pemerintahan: Kecamatan Haharu mempunyai wilayah administrastif yang terdiri dari 11 desa, 22 dusun, 46 rukun wilayah, 117 rukun tetangga, 2.922 rumah tangga. Jumlah penduduk sebanyak 12.139 orang dan luas wilayahnya 846,7 km2. Jadi, kepadatan penduduk Kecamatan Haharu per km2 sebanyak 14 orang.
- Letak: Umumnya sepanjang Pantai Utara berbukit dengan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun, dimana musim penghujan relatif pendek dibandingkan musim kemarau. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani.
* MATAWAI LA PAWU
-Letak Geografis: Luas Kecamatan Matawai La Pawu 612,4 km2 atau 16.240 hektar dengan letak yang umumnya berbukit dan berlereng yang cukup subur.
- Pemerintahan: Kecamatan Matawai La Pawu mempunyai wilayah administratif yang terdiri dari 8 desa, 16 dusun, 30 rukun wilayah, 71 rukun tetangga, 1.411 rumah tangga. Jumlah penduduk sebanyak 6.472 orang dan luas wilayahnya 602,4 km2. Jadi, kepadatan penduduk Kecamatan Matawai La Pawu sebanyak 11 orang.
- Letak: Kecamatan Matawai La Pawu umumnya berbukit dan berlereng yang cukup subur. Hampir sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani.
* PINU PAHAR
- Letak Geografis: Luas Kecamatan Pinu Pahar 246,6 km2 atau 24.660 hektar dengan letaknya yang umumnya di sepanjang pantai Utara berbukit dan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun, dimana musim penghujan relatif pendek dibanding musim kemarau.
- Pemerintahan: Kecamatan Pinu Pahar mempunyai wilayah administratif yang terdiri dari 5 desa, 12 dusun, 30 rukun wilayah, 64 rukun tetangga, 1.526 rumah tangga. Jumlah penduduk sebanyak 6. 294 orang dan luas wilayahnya 246,6 km2. Jadi, kepadatan penduduk Kecamatan Pinu Pahar per km2 sebanyak 26 orang.
- Letak: Kecamatan Pinu Pahar umumnya di sepanjang pantai utara berbukit dengan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun. Musim penghujan relatif pendek dibanding musim kemarau. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak.
* RINDI
- Letak Geografis: Luas Kecamatan Rindi 366,5 km2 atau 36.650 hektar dengan letak yang umumnya di sepanjang utara berbukit dan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun, dimana musim penghujan relatif pendek bila dibandingkan musim kemarau.
- Pemerintahan: Kecamatan Rindi mempunyai wilayah administratif yang terdiri dari 8 desa, 16 dusun, 34 rukun warga, 68 rukun tetangga, 2.051 rumah tangga. Jumlah penduduk Kecamatan Rindi per Km2 sebanyak 23 orang.
- Letak: Kecamatan Rindi umumnya di sepanjang utara berbukit dengan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun. Musim penghujan relatif pendek bila dibandingkan musim kemarau. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan peternak. (kpde sumtim/bersambung) Read More...

Bukan semata-mata pecahkan rekor

Laporan Humas Sumba Timur, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Forum diskusi tokoh masyarakat Sumba Timur dengan unsur pemerintah daerah setempat menyepakati pemberian nama kain dan sarung terpanjang dalam rangka mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Sumba.
Pemberian nama juga untuk mendorong dan menyebarluaskan hasil kerajinan kain tenunan bekerja sama dengan Dekranasda Kabupaten Sumba Timur yang diketuai Ny. Silvya Anggraini.
Menindaklanjuti diskusi tokoh masyarakat tentang pemberian nama kain dan sarung tersebut dicapai suatu kesepakatan yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 yang isinya menetapkan pemberian nama terhadap tenun ikat (Hinggi) dan tenun Pahikung (Lawu) terpanjang di Kabupaten Sumba Timur.
Nama dari tenun ikat tersebut yaitu "Hinggi Humba A'nda Ukurungu" yang panjangnya 50 meter, artinya jalan bersama- sama. Sementara "Lawu Pahikung Maranongu" berarti sebuah persembahan yang mulia. Acara peresmian pemberian nama ini berlangsung di halaman rumah Jabatan Bupati Sumba Timur, Jumat (11/1/2008).
Hadir dalam acara tersebut perwakilan Museum Rekor Indonesia (MURI), Paulus Pangka. Dalam sambutannya, Pangka mengatakan bahwa pembuatan kain dan sarung tersebut merupakan suatu karya besar yang dihasilkan dan baru pertama ada di negara RI.
"Untuk itu peresmian/peluncuran kain dan sarung ini bukan semata-mata untuk memecahkan rekor tetapi yang terpenting adalah merangsang masyarakat Sumba Timur untuk mencintai produknya sendiri serta terus meningkatkan dan menjaga mutu dan kualiatasnya," katanya.
Hal lain yang menarik dalam peluncuran kain dan sarung ini adalah kehadiran ribuan warga Waingapu yang menyaksikan secara langsung peluncuran, serta para undangan yang hadir menggunakan pakaian adat Sumba Timur.*
Read More...

Dipercepat, penyerahan DIPA ke dinas-dinas

Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT 4-10 Februari 2008
WAINGAPU, SPIRIT--Wakil Bupati Sumba Timur (Sumtim), Drs. Gidion Mbilijora, mengatakan, tahun ini pemerintah setempat mempercepat penetapan dan penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) ke dinas/instansi setempat. Sebelumnya, penetapan dan penyerahan DIPA ke unit-unit kerja yang ada sering terlambat.
Ditemui SPIRIT NTT di ruang kerjanya, Rabu (30/1/2008), Gidion mengatakan, percepatan penyerahan DIPA itu antara lain untuk mengejar penyelesaian pengelolaan anggaran yang ditetapkan pemerintah pusat 31 Desember 2008. Gidion mengatakan, dengan penyerahan DIPA ke unit kerja lebih awal, maka unit-unit kerja akan lebih awal pula merancang berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun anggaran.
"Kita berharap dengan penyerahan DIPA ke unit kerja lebih awal, pelaksanaan anggaran tahun ini tepat waktu," katanya.
Gidion menjelaskan, pemerintah daerah mempercepat penyerahan DIPA karena pada April 2008 sudah masuk perhitungan penggunaan APBD 2007 dan Juni 2008 Sumtim sudah masuk pada agenda pembahasan kebijakan umum anggaran (KUA) tahun 2009.
Gidion meminta pimpinan unit kerja agar lebih kreatif dalam merancang kegiatan. "Jangan sedikit-sedikit minta petunjuk. Kecuali hal yang sangat teknis baru konsultasi. Kalau semuanya minta petunjuk, kapan kerjanya. Yang penting kerja sesuai aturan, pasti lancar," demikian Gidion. *
Read More...

Masyarakat perbatasan gelar deklarasi bersama

Laporan Humas Belu, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Masyarakat di perbatasan Indonesia (Belu)-Timor Leste menggelar deklarasi bersama di Lantai I Kantor Bupati Belu, pekan lalu. Deklarasi itu bermisikan mencegah konflik antarnegara di perbatasan.
Alasan pendeklarasian karena secara kultural masyarakat adat Pulau Timor adalah satu dalam berbagai aspek kehidupan, yang dimaknai secara adat dengan istilah Kobalima. Kobalima menggambarkan kelima nenek moyang bersaudara, dengan pusat kerajaannya, Wewiku-Wehali.
Dalam perkembangannya Kerajaan Wewiku-Wehali membagi wilayah teritorialnya secara adat dengan tidak menunjuk batas-batas wilayah kerajaan secara jelas. Namun, pada zaman kolonial, Pulau Timor dibagi menjadi Pulau Timor bagian timur, dijajah oleh Portugal dan Pulau Timor bagian barat dijajah oleh Belanda, dengan menunjuk batas-batas wilayah yang ditandai dengan kali, bukit, batu dan pohon-pohon besar (batas alam).
Pada kondisi saat ini, pemisahan wilayah Negara Republik Indonesia (RI) dan Republic Democratic Timor Leste (RDTL) telah berdampak pada munculnya persoalan-persoalan kursial masyarakat adat yang sering terjadi di perbatasan kedua negara.
Adapun persoalan yang sering terjadi di perbatasan RI-RDTL pada saat ini adalah persoalan sosial, budaya, ekonomi dan keamanan yang muaranya mempengaruhi hubungan sosial kemasyarakatan yang harmonis, langgeng dan saling menguntungkan.
Untuk mengatasi persoalan-persoalan yang sering terjadi di perbatasan RI-RDTL, Yayasan Bentara Sabda Timor (YBST) di Nenuk-Atambua dari Indonesia bersama Peace and Democracy Foundation (PDF) yang bertempat di Dili dari Timor Leste, dengan mendapat dukungan dana dari The Asia Foundation dan USAID, melakukan kegiatan dialog perbatasan bersama-sama dengan masyarakat adat perbatasan kedua negara.
Dialog bertujuan mencegah konflik antarmasyarakat di perbatasan guna menyuarakan aspirasi masyarakat, membangun rasa saling percaya, menghilangkan rasa curiga dalam memperjuangkan kepentingan sosial, budaya dan ekonomi, serta keamanan masyarakat perbatasan kedua negara.
Dari hasil dialog batas dan Sub Committee Meeting antar masyarakat adat lintas batas Kabupaten Belu/RI dengan District Bobonaro/RDTL yang dilaksanakan dalam tiga tahap dan tahap terakhir tanggal 16 Januari 2008 di Motaain-Desa Silawaan Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu, telah menghasilkan enam kesepakatan bersama.
Dari keenam kesepakatan itu, maka dilakukan penandatanganan rekomendasi deklarasi bersama, di Lantai I Kantor Bupati Belu, atas nama Masyarakat Adat Bobonaro/RDTL, Pedro Das Dores dan Masyarakat Adat Perbatasan Kabupaten Belu/RI, Yosef Untung, disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat Kabupaten Belu dan District Bobonaro, Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, Wakil Bupati Belu, drg.Gregorius Mau Bili,F.DDPH, Bupati Bobonaro, Dominggus Martins; Pimpinan YBST, Pater Marsellus Baonule, SVD, dan Pimpinan PDF Dili, Estanislau Salsinha Martins.
Deklarasi ini dibaptis dengan nama Delkarasi Bersama Masyarakat Perbatasan District Bobonaro/RDTL dan Kabupaten Belu/RI. *
ENAM POINT DEKLARASI
Pertama, pemberlakuan Pas Lintas Batas (PLB) sebagai instrumen yang urgen untuk memfasilitasi hubungan sosial, budaya, ekonomi dan keamanan kedua negara di perbatasan.
Kedua, membangun hubungan ekonomi kerakyatan melalui pasar perbatasan/pasar tradisional untuk menjawabi kebutuhan dasar masyarakat perbatasan.
Ketiga, membangun komunikasi dan koordinasi masyarakat perbatasan menjadi penunjang dalam menjalin hubungan yang harmonis, kondusif dan langgeng.
Keempat, dialog adalah media untuk membangun budaya aman dan damai di antara masyarakat perbatasan kedua negara, oleh karenanya perlu terus digalakkan.
Kelima, perlunya pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya alam guna mensejahterakan dan memacu kemakmuran masyarakat perbatasan.
Keenam, masyarakat perbatasan District Bobonaro/RDTL dan Kabupaten Belu/RI berjanji dan siap sebagai subyek (pemerintah desa, tua-tua adat) menjadi mediator dan turut serta menyelesaikan konflik sosial yang terjadi di perbatasan secara damai dengan tetap menghormati, menghargai hukum yang berlaku di kedua negara. *
Read More...

Nilai-nilai adat tidak boleh diabaikan

Laporan Humas Belu, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Deklarasi bersama masyarakat perbatasan District Bobonaro/RDTL dan Kabupaten Belu/RI adalah peristiwa besar dalam hubungan antarnegara. Karena itu nilai-nilai adat tidak boleh diabaikan dalam membangun relasi tersebut.
Pesan ini disampaikan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, ketika memberikan sambutan pada acara deklarasi bersama masyarakat perbatasan District Bobonaro dan Kabupaten Belu di Lantai I Kantor Bupati Belu, Rabu (16/1/2008) lalu.
Menurutnya secara kultural, masyarakat adat Pulau Timor adalah satu dalam berbagai aspek kehidupan, karena keberadaannya dalam suatu wilayah teritorial adat tidak ada batas dan perbedaan. Dengan demikian masyarakat Pulau Timor perlu membangun komunikasi yang baik dalam membina kebersamaan sebagai masyarakat Pulau Timor.
Guna membangun masyarakat Pulau Timor secara menyeluruh, baik itu masyarakat Timor Leste atau masyarakat Timor Barat yang ada di perbatasan, Bupati Lopez menyebut hal yang perlu diperhatikan adalah nilai-nilai adat tidak boleh diabaikan dan saling percaya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan perbatasan.
"Kita juga perlu menghargai aturan-aturan internasional yang mengatur persoalan antar negara, tetapi di sisi lain dari aturan-aturan yang ada, perlu digali bersama potensi yang ada pada masyarakat kedua negara, berupa muatan lokal, yakni faktor sosial budaya dan hukum adat," kata Lopez.
Dia menambahkan bahwa warga masyarakat perbatasan dengan rekomendasi deklarasi yang ada telah memberikan kontribusi yang berarti dalam proses pembangunan perbatasan dan menciptakan kehormanisan serta perdamaian bagi warga masyarakat perbatasan.
Administrator District Bobonaro, Dominggus Martins, mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak terutama Pimpinan Yayasan Bentara Sabda Timor (YBST), Nenuk-Atambua dan Peace and Democracy Foundation (PDF) yang bertempat di Dili-Timor Leste, yang dengan caranya telah berupaya melakukan dan memfasilitasi dialog batas bersama-sama dengan masyarakat adat perbatasan kedua negara, yakni, District Bobonaro dan Kabupaten Belu.
Martins mengatakan bahwa isu-isu yang diangkat dalam dialog yang direkomendasikan dalam Deklarasi Masyarakat Perbatasan adalah isu internasional yang perlu ditindaklanjuti oleh kedua negara sehingga bisa menciptakan iklim kondusif bagi masyarakat perbatasan.
Dirinya meminta agar kedua negara bisa menghargai hasil rekomendasi dari hasil Deklarasi Masyarakat Perbatasan District Bobonaro dan Kabupaten Belu, dan segala persoalan perbatasan, terutama masalah sosial budaya dapat diselesaikan sesuai kultural yang ada pada masyarakat perbatasan kedua negara. *
Read More...

Arogansai anggota TNI-AD harus dikurangi

Laporan ANTARA, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Komandan Kodim 1605/Belu, Letnan Kolonel Infantri Samuel P Hehakaya, menegaskan, berbagai upayanya untuk meredam kesombongan atau arogansi personel TNI-AD di wilayah kerjanya agar konflik sosial-keamanan tidak perlu terjadi lagi.
"Salah satunya adalah menegakkan aturan dan disiplin serta penyadaran kepada anggota tentang jati diri kami sebagai tentara rakyat dan tentara pejuang. Bahwa masih terjadi pelanggaran d isana-sini, itu kami akui dan kami minta maaf kepada masyarakat sambil terus berupaya membenahi diri," katanya di Atambua, Kamis (31/1/2008).
Hehakaya menyatakan hal itu terkait insiden pemukulan terhadap seorang pastor, John Oki, Pr, oleh personil Batalion Infantri 744/Satya Yudha Bhakti, Kopral Dua Yunus Kadoho, beberapa hari lalu.
Jika tidak segera diredam dibarengi dengan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat serta penegakan hukum, maka tidak mustahil insiden itu berkembang menjadi gejolak sosial yang mengganggu keamanan setempat. Salah satu bekal yang patut menjadi panduan bagi seluruh anggota TNI-AD di lingkungan Kodim 1605/Belu, kata Hehakaya, adalah Delapan Wajib TNI.
"Salah satunya menyatakan secara tegas, jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat. Itu harus selalu jadi pedoman dan saya terus menuntut hal itu bisa dilakukan oleh seluruh anggota TNI-AD di sini," katanya.
Komandan Subdetasemen Polisi Militer IX/I-3, Kapten CPM Amal A Tarigan, langsung memmintai keterangan Kadoho dan disidik. Setelah itu, berkasnya langsung dikirim ke satuan atas di Kupang agar proses hukum bisa berjalan semestinya.
"Kami serahkan kepada Polisi Militer untuk menangani kasus ini yang nantinya akan diserahkan kepada Oditurat Militer di Kupang," kata Yunianto, menanggapi perkembangan kasus yang menimpa anak buahnya.
Sementara itu, untuk mencegah agar insiden itu tidak berkembang ke arah yang tidak menguntungkan, pihak Keuskupan Atambua menggelar pertemuan perdamaian antara pihak militer, masyarakat, adat, dan Gereja Katholik sendiri, di Gedung Emaus, Kompleks Keuskupan Atambua. *
Read More...

Hak politik rakyat tak boleh diintervensi

Laporan Edy Hayong, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

ATAMBUA, SPIRIT -- Aparatur pemerintah di Kabupaten Belu mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan dan tingkat kabupaten, jangan menakut-nakuti rakyat sebagai bentuk intervensi dalam kaitan dengan pelaksanaan pilkada tahun ini. Aparat harus menciptakan suasana yang kondusif untuk warga secara bebas melaksanakan hak-hak politiknya.
Peringatan ini disampaikan Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili saat ditemui SPIRIT NTT di Atambua, Rabu (30/1/2008). Mau Bili menjelaskan, tahun ini Kabupaten Belu melaksanakan pemilihan langsung kepala daerah dan wakil kepala daerah. Siapapun, kata dia, tidak boleh mengintervensi hak-hak politik masyarakat dalam menentukan pilihannya. Sebab, masyarakat sudah dewasa dalam berpolitik.
"Aparat pemerintah itu diangkat untuk menjalankan roda pemerintahan, apakah itu di tingkat desa, kelurahan, kecamatan maupun di kabupaten. Tidak pantas melakukan kampanye terselubung dengan menakut-nakuti rakyat. Sudah bukan zamannya lagi aparatur memasung suara rakyat. Rakyat sudah pandai menilai mana yang benar dan mana yang tidak benar. Kalau aparatur pemerintah yang tugasnya mengumbar janji di masyarakat, maka sebaiknya mengundurkan diri dari PNS," tegas Mau Bili.
Dia menegaskan bahwa aparat pemerintah harus memposisikan dirinya sebagai orang netral dan bukan menyebarkan kelemahan pihak lain di tengah masyarakat. Bahkan yang lebih memprihatinkan, jelas Mau Bili, ada pihak-pihak tertentu sudah mulai "menyerang" privasi orang lain. Untuk itu, Mau Bili meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing dengan segala intrik-intrik politik menjelang Pilkada.
Ditanya tentang wacana yang menyebutkan bahwa dirinya maju sebagai kandidat bupati dalam Pilkada nanti, Mau Bili menegaskan bahwa saat ini dirinya masih tetap berkonsentrasi pada tugas-tugasnya selaku wakil bupati.
"Sekarang kita kerja dulu. Toh nanti pada waktunya rakyat yang akan menentukan pilihan siapa yang terbaik untuk memimpin Belu. Banyak calon pemimpin masa depan Belu, biarkan kita serahkan pada masyarakat yang menilai," ujarnya. *
Read More...

Tuntaskan temuan pengawas

Laporan Gerardus Manyella, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KUPANG, SPIRIT--Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Nota Kesepakatan Kebijakan Umum APBD 2008 belum lama ini mengingatkan Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT serius menuntaskan kasus-kasus hasil temuan aparat pengawas fungsional, khususnya yang belum ditindaklanjuti. Jika perlu hasil temuan itu diserahkan kepada aparat penegak hukum (polisi dan jaksa) untuk diproses secara hukum.
Nota kesepakatan itu ditandatangani Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe, Wakil Ketua, Drs. Kristo Blasin, Drs. Paulus Moa dan Markus Hendrik.
Dewan menyebut permasalahan lain dalam bidang hukum adalah lambannya penanganan disiplin pegawai negeri sipil (PNS) dan belum memadainya produk hukum berupa peraturan daerah (Perda). Dewan mengingatkan perlu ada tindakan tegas dalam hal pemberantasan korupsi dan pelaksanaan reformasi birokrasi yang bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN).
Dirincikannya, tahun 2006 terdapat 3.102 kasus hasil temuan lembaga pengawas yang hingga saat ini belum dituntaskan. Dewan pun salut atas target pemerintah yang telah tercapai, dimana tahun 2007, telah menuntaskan 3.000 kasus. "Diharapkan temuan itu bisa dituntaskan tahun 2008 ini, dengan mengacu pada prioritas pembangunan bidang pemerintahan dan hukum," ujar Adoe.
Dewan mengharapkan, pembangunan pemerintahan umum yang diarahkan pada upaya peningkatan pelayanan kelembagaan pemerintahan, pengelolaan keungan daerah tetap dalam semangat birokrasi yang bersih dan berwibawa, bebas dari praktek KKN. Pemerintah juga diminta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, (polisi, kejaksaan, pengadilan) untuk memberi penyuluhan hukum kepada lembaga pemerintah sampai ke tingkat desa tentang tindak pidana korupsi dan dampak hukumnya.
"Jika semua pejabat memahami hukum, Dewan yakin tindakan penyimpangan semakin diminimalisir, bahkan hilang," demikian Dewan.
Dewan berjanji tetap mengawal langkah-langkah lembaga pengawas, tindakan aparat penegak hukum, sehingga hasil kerjanya sesuai harapan masyarakat. Saat ini, demikian Dewan, masyarakat NTT mengharapkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, bebas KKN, sehingga harapan terwujudnya kesejahteraan rakyat bisa tercapai. *
Read More...

Dina Takalapeta: Cinta Tenun Ikat

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

CINTANYA terhadap tenun ikat Alor semakin lengket. Tiada hari dilewatkan tanpa kampanye tenun ikat. Misinya itu sangat mulia agar tenun ikat Alor laris manis di pasaran, pendapatan ekonomi keluarga pun meningkat.
Misi inilah yang diusung ketika Ketua Tim Penggerak PKK Alor, Ny . Dina Takalapeta-Meller, mengunjungi kelompok tenun ikat di Desa Air Mancur, Kecamatan Alor Timur Laut, pekan lalu. Sebelum meluncur ke Air Mancur, Ny. Dina melakukan sosialisasi tentang gizi kepada pengurus PKK dan kader posyandu di Kecamatan Teluk Mutiara. Tugasnya seabrek, namun pengembangan tenun ikat tak mungkin dilupakannya.
Saat kunjungan itu, Ny. Dina, yang didampingi Wakil Ketua TPP KK Alor, Ny. Matilda Maulaka, dan Ketua Persit, Ny. Desi Siregar, menyertakan seorang fotografer untuk memotret kegiatan kelompok tenun. Selain itu, untuk kepentingan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu anggota dekranasda.
Di Desa Air Mancur, Ny. Dina mengunjungi kelompok tenun ikat Bogenvile, Flamboyan, dan Sinar. Pada sentra pengembangan tenun ikat itu, Ny. Dina memotivasi para penenun agar tekun mengembangkan tenun ikat sebagai industri rumah tangga. "Tenun ikat Alor, selain memiliki nilai ekonomis, juga memiliki kekhasan atau identitas diri," ujarnya memberi semangat.
Sebentar lagi Expo Alor 2008 segera digelar. Saat itu, Ny. Dina meminta anggota kelompok tenun ikat untuk mendaftarkan diri memamerkan produknya pada ajang expo. "Kelompok harus siap untuk mengambil bagian even akbar itu," katanya.
Ny. Dina meminta setiap kelompok tenun ikat di daerah itu menekuni industri rumah tangga, khususnya tenun ikat, secara profesional dan menjalankan program pembinaan secara periodik. "Dalam kelompok tenun ikat kembangkan juga kegiatan lainnya seperti arisan," sarannya. *
Read More...

Nyanyian bebatuan dari dapur-dapur itu meredup...

Spirit NTT 4-10 Februari 2008
SAYA beruntung punya adik, Linda, di Jakarta. Gadis manis campuran Flores Timur-Betawi ini, menariknya, punya apresiasi tinggi pada adat dan budaya Flores.
Ayahnya, Kanis Kia Hurek, masih tergolong sepupu dengan ayah saya, Nikolaus Nuho Hurek. Ama Kia ini tergolong orang Flores yang 'berani' merantau, keluar kandang, dan akhirnya melahirkan keturunan dengan mixed blood, darah campuran, yang unik. Anak-anak muda generasi kedua (campuran Flores non-Flores) ini akan semakin banyak ditemukan di Tanah Air.
Dari Linda, saya sering mendapat kiriman paket khusus, kilat, nan spesial, jagung titit. Saya selalu menikmati emping jagung khas Flores Timur ini dengan penuh syukur. Jagung titi tak sekadar makanan kecil (snack), tapi juga simbol lewotanah (Tanah Air) bagi warga Flores Timur (Lembata, Adonara, Solor, Flotim Daratan).
Di Surabaya dan Sidoarjo, saya juga kerap menikmati jagung titi di rumah sahabat atau kenalan. Makanan ini punya nilai tinggi karena sangat langka di Jawa. Sebagai barang langka, dia mahal, selalu dicari, ingin terus dinikmati dan dinikmati. Mau tahu cerita tentang jagung titi atau dalam bahasa daerah (Lamaholot): Wata Nengen? Baiklah.
***
Di kampung halaman, Lembata, semua rumah pasti punya alat pembuat jagung titi. Sederhana saja: batu kali (pantai) yang kokoh dan lempeng, sebagai landasan, kemudian sebuah batu sebesar genggaman tangan orang dewasa untuk 'meniti.' Titi dalam bahasa melayu lokal (Larantuka) berarti memukul sampai lempeng. Dari sinilah asal mula nama JAGUNG TITI itu tadi.
Di samping bebatuan sederhana tadi, ada tungku tiga batu, yang juga dipakai untuk keperluan memasak makanan sehari-hari di rumah, di pondok, di kebun, atau di mana saja ada orang kami bermalam.
Berbeda dengan emping melinjo atau produk-produk snack di Jawa, yang digarap oleh sejumlah pengusaha kecil (home industry), emping jagung alias jagung titi di Flores Timur ini dibuat di semua rumah. Bukan orang Lembata (Flores Timur) kalau perempuannya tak bisa buat jagung titi.
Makanan pokok di sana, khususnya sebelum 1980-an, memang jagung, sehingga jagung adalah hidup dan kehidupan warga itu sendiri.
Saya masih ingat benar suara batu-batu saling bersahutan dari rumah ke rumah setiap subuh. Mirip suara azan di Jawa yang bersahutan setiap subuh, membangunkan warga untuk salat. Suara batu itu tak lain dari dapur-dapur rumah penduduk. Ya, proses meniti jagung sedang terjadi. Paling afdol memang dilakukan pukul 04.00-06.00 wita. Hasilnya nanti untuk sarapan atau disimpan, kapan saja bisa dimakan.
Cara membuat jagung titi sangat sederhana, tapi cukup 'menyiksa' bagi mereka yang belum biasa. Jagung dipipil dari tongkolnya, disangrai 5-7 menit hingga setengah matang. (Terlalu lama disangrai, jadilah jagung bunga) Penyangraian harus di periuk/belanga tanah liat. Agar proses transfer panas lebih lambat, tapi merata ke seluruh bagian jagung pipilan. Jangan sekali-kali menggunakan periuk/wajan dari logam karena dijamin akan rusak berat. Letak batu penumbuk (peniti) berada di kanan tungku, karena jarang ada orang Flores yang kidal.
Nah, usai penyangraian (roasting), irama 'musik batu' itu pun mulai terdengar. Kaum wanita (ibu-ibu) secara otomatis menambil 5-7 butir jagung panas, ditaruh di atas batu landasan, dan tangan kanan meniti. Butiran jagung panas pun langsung memipih. Jadilah jagung titi. Dua tiga butir berdempetan.
Di depan batu landasan ada wadah (anyaman dari daun siawalan) yang siap menampung hasil titian tadi. Jagung titi yang masih panas-panas, hhhmmmm, nikmat luar biasa!!!!
Apa tangan si ibu/wanita itu (sebab, seumur-umur saya belum pernah melihat laki-laki membuat jagung titi) tidak kepanasan? Tangan tidak rusak. Waktu belum masuk SD, saya pun bertanya begitu. Alah bisa karena biasa. Tentu saja panas, tapi karena sudah jadi kebiasaan, bahkan budaya, panas itu tak terasa. Justru sangat dinikmati.
Karena itu, sebelum tahun 1980-an, praktis tangan kaum perempuan Lembata/Flores Timur tebal-tebal dan cenderung 'mati' rasa panas. Tangan-tangan rajin ini pun banyak yang berwarna hitam pekat karena dipakai untuk mengolah tarum (bahasa daerah TAUM) sebagai bahan pewarna sarung. Benar-benar hitam!
Jagung titi berkualitas tinggi, menurut saya, harus gurih, tipis, tidak alot saat dikunyah, bahannya benar. Karena itu, memilih jagung untuk dititi butuh pengalaman dan naluri budaya yang luar biasa. Memang, semua wanita di Lembata pada dasarnya bisa membuat jagung titi, karena gampang, tapi hasilnya tidak dijamin bagus. Bisa jadi kekuatan pukulnya kurang, sehingga kurang pipih.
Jagung titi berwarna putih bersih rata-rata sangat dipuji. Saya ingat betul, di Mawa, Ileape, Lembata, jagung titi garapan Kak Wara Hurek dan Kak Paulina Hurek dikenal paling berkualitas, membuat orang ketagihan.
Jagung titi berasa khas, tapi musiman, adalah jagung titi muda. Bahannya diambil dari jagung yang baru saja dipanen. Kulitnya dibuka, dijemur sampai kering benar (kadar air harus rendah) baru dititi. Enak sekali! Kalau dijual, saya rasa harganya bisa dua kali lebih mahal ketimbang jagung titi biasa. Stoknya sangat terbatas karena hanya ada pada saat panen.
Karena kadar airnya rendah, si jagung titi sangat awet disimpan. Lebih awet ketimbang jajanan biasa karena dia tidak punya minyak dan gula. Akan lebih awet lagi manakala disimpan rapat-rapat di dalam kaleng kedap udara. Warga kampung saya, dulu, punya kebiasaan menyimpan jagung titi di dalam kaleng biskuit Khong Guan yang gambarnya khas itu.
Maka, jika Anda bertandang ke rumah-rumah di kampung dan menemukan beberapa kaleng Khong Guan, saya pastikan isinya jagung titi. Biskuit aslinya sih sudah lama habis. Jika disimpan rapat-rapat, tidak kemasukan air, saya jamin disimpan enam bulan pun si jagung titi ini tetap awet.
Agar lebih khas, plus tambah protein nabati, lazimnya jagung titi ini dicampur dengan kacang tanah sangrai. Hmm lebih enak. "Supaya lebih kenyang siram dengan air," begitu nasihat mama-mama di kampung.
Anak-anak sekolah di kampung biasanya mengandalkan jagung titi untuk sarapan. Akan lebih afdol lagi, makanan ini diperkaya gizinya dengan ikan bakar, apalagi gurita, sebagai sumber protein hewani. Makanan laut di kampung sebetulnya sangat berlimpah karena kampung saya di Lembata itu benar-benar di pinggir laut. Rumah saya, misalnya, berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.
***
RODA zaman terus bergulir. Politik beras ala rezim Orde Baru membuat Nusa Tenggara Timur, yang nota bene tidak memproduksi beras, dikondisikan untuk makan nasi (rice) ala Jawa, Sumatera, Kalimantan. Guru-guru dan pegawai negeri sipil seperti bapak saya diberi jatah beras tiap bulan. Citra beras pun terangkat tinggi, imej jagung terus memudar.
Pada 1980-an, ketika Ben Mboi menjabat gubernur NTT selama dua periode, pernah ada usul agar guru-guru dan PNS diberi jatah jagung, bukan beras. "Masa, guru-guru dikasih beras? Kita kan nggak bisa menghasilkan beras untuk kebutuhan warga?" kata Ben Mboi, gubernur yang menurut saya paling hebat dalam sejarah NTT.
Protes besar pun terjadi. Dus, usulan Ben Mboi ini hanya sekadar wacana yang tak pernah terealisasi.
Di sisi lain, sekolah-sekolah berhasil melahirkan generasi baru yang wawasannya lebih baik. Gaya hidup berubah. Orientasi tidak lagi ke dalam, tapi merantau atau sekolah di luar Flores. Maka, gadis-gadis muda mulai enggan berpanas-panas di dapur, membawakan irama musik batu setiap subuh, bikin jagung titi. Takut, tangannya 'kapalan', tidak mulus lagi.
Yah zaman berubah. Gadis-gadis semakin memperhatikan penampilan, kosmetik, menganggap tradisi meniti jagung bisa merusak tangannya yang halus mulus. Doyan makan jagung titi, tapi tidak mau bikin sendiri. Mau konsumsi, tapi enggan memproduksi. Kayak orang Indonesia sekarang lah!
Sejak itulah irama batu pembuat jagung titi di pagi subuh makin redup kendati belum hilang sama sekali. Yang belum hilang ini, saya rasa, ibu-ibu yang telah berhasil melihat jagung titi sebagai peluang bisnis.
"Harganya mahal sekali. Saya baru pulang dari Riangkemie (dekat Larantuka), satu gelas saja Rp 1.000," cerita Mbak Wahyuni, warga Kampung Dinoyo, Surabaya, yang kebetulan suaminya orang Flores Timur.
Jagung titi sejak 1990-an memang jadi komoditas di pasar, termasuk di kampung. Kalau dulu, waktu saya kecil, jagung titi ibarat 'barang bebas' yang tanpa harga, sekarang berubah menjadi 'barang ekonomis.' Ada uang ada barang!
Saya sering menjemput orang Lembata, termasuk adik saya Is dan Ernie, di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di perjalanan ke pelabuhan saya hanya jagung titi, jagung titi, jagung titi. Nah, setelah berbasa-basi, tanya kabar, kesehatan saya pun melontarkan pertanyaan krusial itu.
"Mete wata nengen aya le take?" (Bawa jagung titi banyak atau sedikit?)
"Kame mete hala. Pi wata negen teti lewo pe welin-welin." (Sekarang jagung titi di kampung sangat mahal.)
Saya langsung kecut. Selera untuk bertanya lebih jauh pun hilang sama sekali. "Sekarang jagung titi sangat mahal," ulang saya di dalam hati.
Kesimpulannya jelas. Orang Flores Timur yang lahir pada awal 1980-an tidak pernah lagi menikmati the song of stones, nyanyian bebatuan, dari dapur-dapur setiap subuh. Jagung titi bukan lagi makanan siap saji di rumah-rumah, melainkan komoditas cendera mata yang hanya bisa DIBELI di tempat-tempat tertentu.
Sejak bertemu pengalaman 'buruk' di Pelabuhan Tanjung Perak. Banyak orang Lembata ternyata tidak membawa oleh-oleh jagung titi, karena mahal. Saya pun kehilangan selera untuk memesan jagung titi dari kampung. Saya tak ingin mereka harus membeli ke mana-mana, karena di rumah tak ada lagi produksi jagung titi.
Bukan tak mungkin, 20 hingga 50 tahun lagi jagung titi tinggal sejarah di Flores Timur. Sekarang saja, tahun 2006, saya justru mendapat kiriman jagung titi dari Jakarta, bukan dari kampung pelosok Flores Timur. Alamak! (lambertus h hurek)
Read More...

Sekilas perekonomian Flotim

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

a. Produk Domestik Regional Bruto
Pada tahun 1999 struktur PDRB memperlihatkan peranan kelompok sektor tersier lebih besar yakni 34,87 persen dibandingkan dengan sektor sekunder 26,57 persen dan sektor primer 13,25 persen, sektor jasa merupakan penyumbang terbesar dalam kelompok sektor tersier sedangkan kelompok sektor sekunder yang terbesar adalah sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor industri hanya memberikan sumbangan sebesar 1,67 persen dari total PDRB.
b. Tingkat pendapatan
Pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Flores Timur pada tahun 2000 sebesar Rp 1.422.168,- meningkat menjadi Rp 1.664.892,- atau mengalami pertumbuhan sebesar 15,44 persen per tahun.
* SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI
Kondisi prasarana jalan semakin meningkat dari tahun ke tahun dimana sebagian besar dana pembangunan justru diinvestasikan untuk membangun prasarana jalan di kabupaten.
Perkembangan kondisi jalan adalah sebagai berikut :
Panjang jalan menurut permukaan: aspal 570.440 km, pengerasan 277.550 km, tanah 465.970 km.
Panjang jalan menurut status jalan: negara 66.900 km, propinsi 199.160 km, kabupaten 1.026.800 km.
Kondisi jalan: baik 559.840 km, rusak 453.320 km.
Pada umumnya semua ibu kota kecamatan telah dihubungi oleh jalan dengan kondisi yang semakin matang sebagai upaya mendorong berperannya pusat pertumbuhan SWP-SWP yang menghubungkan pula kantong-kantong produksi dengan titik-titik simpul yang dilengkapi pula dengan pelabuhan lokal maupun nasional.
Pembangunan prasarana jalan dipadukan pula dengan pembangunan pelabuhan laut di antaranya berfasilitas dermaga dua buah yakni Larantuka dan Waiwerang. Yang lainnya telah mewakili fasilitas dermaga kayu/tambatan perahu yang juga penting artinya bagi pelayaran rakyat sebanyak enam buah, yakni Tobilota, Waiwerang, Pamakayo, Ritaebang, Menanga dan Waidoko.
Selebihnya adalah lokasi pelabuhan yang belum dilengkapi fasilitas tambatan perahu berupa kayu dan coran beton. Kegiatan transportasi laut secara lokal di pulau-pulau sebagian besar berpusat di Larantuka. (bappeda flotim) Read More...

Wabup Flotim minta warga Klubagolit basmi bekicot

Laporan Martin Lau, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

LARANTUKA, SPIRIT--Wakil Bupati (Wabup) Flores Timur (Flotim), Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos, meminta camat, kepala desa serta warga Kecamatan Klubagolit agar bergotong-royong membasmi hama bekicot yang menyerang 309,4 hektar tanaman padi gogo, jagung, kacang tanah dan ketimun di kecamatan itu.
Serangan bekicot (keong emas) ini terjadi sejak Desember 2007.
Kepada SPIRIT NTT di Larantuka, Rabu (30/1/2008), usai menerima laporan dari Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Flotim, Ir. Elisabeth Kendari Halan, Wabup Yosni Herin menjelaskan, berdasarkan pendataan petugas lapangan UPTD Distanak, di Klubagolit terdata padi gogo 44,9 ha milik 195 KK rusak ringan, 41,3 hektar rusak sedang dan 3,6 hektar rusak berat. Kerusakan padi gogo terdapat di Desa Lambunga 10 ha milik 20 KK, Desa Pepakelu 8 hektar milik 40 KK, Desa Keluwain 4 ha milik 20 KK, Desa Hinga 3,6 ha milik 18 KK, Desa Horinara dan Desa Adobala masing-masing 3 ha milik 30 KK, Desa Muda dan Desa Redontena masing-masing 2,5 ha milik 25 KK, Desa Sukutokan 2,3 ha milik 12 KK, Desa Nisakarang, Desa Mangaaleng dan Desa Lamapaha masing-masing 2 ha milik 30 KK.
Pengendalian
Menurut Wabup Yosni Herin, sejak ditemukan hama bekicot yang menyerang tanaman pangan milik 2.385 KK tani di 12 desa, Distanak melalui petugas lapangan kerjasama dengan petani di 12 desa telah melakukan pengendalian dengan membasmi menggunakan pestisida snail down. "Namun keong emas tampak telah kawin dengan keong lokal sehingga populasinya sangat cepat berkembang dan menyerang tanaman pangan (padi, jagung dan ketimun) yang masih muda. Saat ini pemkab menyiapkan beras untuk petani di tiap desa yang gotong-royong membasmi bekicot. Petani di 12 desa juga diminta menanam pisang dan ubi keladi di sekeliling kebunnya karena bakicot menyukai tanaman berair sehingga lebih banyak berkumpul di pisang dan ubi keladi untuk mengurangi penyerangan terhadap tanaman pangan lainnya," jelasnya.
Hingga Selasa (29//-2008), kata Wabup Herin, berhasil dikendalikan 10 ha tanaman padi gogo, 37 ha tanaman jagung, 68 ha tanaman kacang tanah dari serangan bekicot. Sedangkan 44 ha ketimun tidak dapat dikendalikan karena telah puso. *
Read More...

Bupati TTU serahkan bantuan PNPM

Laporan Akoit Julianus, Spirit NTT 4-10 Februari 2008
KEFAMENANU, SPIRIT--Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Drs. Gabriel Manek, M.Si, menyerahkan secara simbolis bantuan untuk para siswa SD/MI dan SLTP/MTs dalam wilayah Kecamatan Kota Kefamenanu di gedung SDN Kenari, Selasa (29/1/2008) siang. Bantuan ini disalurkan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) untuk mewujudkan Program Nasional Pengembangan Masyarakat (PNPM) Generasi Sehat dan Cerdas yang dilaksanakan mulai bulan Juli 2007 lalu.
Bantuan tersebut berupa seragam nasional, seragam pramuka, seragam olahraga termasuk sepatu sebanyak 4.545 pasang. Selain bantuan seragam, PNPM Generasi Sehat dan Cerdas juga memberikan bantuan beasiswa, honor bagi guru, les privat komputer bagi siswa, biaya penggandaan bahan ujian serta ATK sekolah maupun biaya penyuluhan pendidikan.
Selain itu ada bantuan kesehatan seperti pemberian makanan tambahan bagi bayi dan balita serta ibu hamil, pemeriksaan kehamilan dan biaya nifas, transportasi bagi bidan dan kader posyandu, pengadaan meubeler dan alat timbang serta penyuluhan kesehatan. Kegiatan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas ini menelan dana Rp 750 juta.
Dalam menyerahkan bantuan, Bupati Manek didampingi Ketua DPRD Kabupaten TTU, Agustinus Talan, S.Sos, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) TTU, Drs. Anton Amuna, Kadis Kesehatan TTU, dr. Michael Suri, M.M, Direktur RSUD Kefamenanu, dr. Hartono. Turut hadir, Konsultan Manajemen Kabupaten (KMK) PPK di Kabupaten TTU, Ny. Adolfince Nubatonis, Sekretaris Tim Koordinasi PPK, Ny. Rosalinda Nggadas, Camat Kota Kefamenanu, Hironimus Bana, S.H, serta para lurah di Kota Kefamenanu.
Konsultan Manajemen Kabupaten (KMK) PPK di Kabupaten TTU, Ny. Adolfina Nubatonis, mengatakan tujuan program ini adalah untuk meningkatkan derajat pendidikan dan kesehatan keluarga miskin, yaitu ibu hamil, balita dan anak-anak, terlebih anak yang sedang bersekolah, yang selama ini belum mendapat sentuhan bantuan dari pemerintah setempat.
Bantuan pendidikan dan kesehatan itu, rinci Ny. Nubatonis, meliputi 10 kelurahan, yaitu Kelurahan Tublopo, Sasi, Maubeli, Kefamenanu Selatan, Benpasi, Bansone, Kefamenanu Tengah, Aplasi, Tubuhue, serta Kefamenanu Utara.
"Jadi, selain bantuan seragam, PNPM Generasi Sehat dan Cerdas juga memberikan bantuan beasiswa, honor bagi guru, les privat komputer bagi siswa, biaya penggandaan bahan ujian serta ATK sekolah maupun biaya penyuluhan pendidikan. Selain itu, ada bantuan kesehatan seperti pemberian makanan tambahan bagi bayi dan balita serta ibu hamil, pemeriksaan kehamilan dan biaya nifas, transportasi bagi bidan dan kader posyandu, pengadaan meubeler dan alat timbang serta penyuluhan kesehatan. Kegiatan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas ini digulirkan sejak bulan Juli 2007 lalu dan menelan dana Rp 750 juta," jelas Ny. Nubatonis. *
"Cobalah masuk ke kecamatan"
BUPATI TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, dalam sambutannya mengatakan, pihak pemerintah berterimakasih kepada semua manajer, fasilitator, tim pengelola kegiatan, serta pengelola program tingkat kelurahan, yang telah bekerja sangat keras demi terwujud dan terlaksananya bantuan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. "Dan, kalau boleh, jangan hanya berhenti saja di sini. Cobalah masuk ke kecamatan dan kelurahan lainnya di pinggiran kota," tukasnya.
Bupati Manek juga meminta para murid dan siswa untuk menunjukkan rasa terima kasih dengan belajar giat serta taat kepada guru dan orang tua.
"Saya juga minta supaya seragam sekolah, sepatu dan seragam olahraga, jangan digunakan saat bermain, pergi potong rumput atau menggembalakan ternak dan sebagainya. Gunakan fasilitas yang diberikan itu untuk kegiatan belajar mengajar semata," pinta Bupati Manek. *
Read More...

TTU sambut baik pemberlakuan PLB

Laporan Akoit Julianus, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KEFAMENANU, SPIRIT--Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Drs. Gabriel Manek, M.Si, menyambut baik keputusan politik pemerintah Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) untuk memberlakukan pas lintas batas (PLB) bagi warga yang berdomisili di sepanjang garis perbatasan Indonesia (TTU)- RDTL (Distric Oecusse), mulai Juli 2008 mendatang.
"Pada prinsipnya, Pemkab TTU sangat antusias dan menyambut baik keputusan politik pemerintah RDTL untuk memberlakukan pas lintas batas (PLB) bagi warga yang berdomisili di sepanjang garis perbatasan Indonesia (TTU)-RDTL (Distric Oecusse), mulai Juli 2008 yang akan datang. Kebijakan pemberlakukan PLB sebenarnya sudah disepakati sejak tahun 2003 lalu. Tetapi tertunda terus karena situasi politik di negara RDTL yang belum stabil dan selalu bergolak," jelas Bupati Manek di Kefamenanu, Selasa (29/1/2008) siang.
Pernyataan Bupati Manek ini disampaikan, menanggapi pertemuan terbatas antara pemerintah RDTL yang diwakili sebuah tim Kementerian Luar Negeri RDTL, yang dipimpin Marcos da Costa sebagai Direktur Departemen Bilateral Kementerian Luar Negeri, dengan pemerintah RI yang diwakili oleh Pemkab Belu di Atambua, Sabtu (26/1/2008) lalu.
Menurut Bupati Manek, wilayah Kabupaten TTU berbatasan langsung dengan Districk Oecusse (wilayah enklave) RDTL, terkena dampak dari keputusan politik itu.
"Dan, saya kira keputusan politik ini juga menguntungkan kedua negara. Pasalnya, dengan adanya PLB itu, tiga unit pasar perbatasan yang dibangun di wilayah perbatasn TTU, bisa segera difungsikan. Pasar perbatasan ini dibangun untuk mengeliminir perdagangan gelap di perbatasan melalui jalan tikus," jelas Bupati Manek.
Ditanya, bagaimana konsep PLB yang dirancang Pemkab TTU, Bupati Manek mengatakan hal itu harus dibicarakan bersama dan pemerintah perwakilan RDTL di Districk Oecussie. *
Read More...

Atasi belalang, FAO bantu obat penyemprot hama

Laporan Akoit Julianus, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KEFAMENANU, SPIRIT--Tim dari Food and Agricutural Organization (FAO) telah menyerahkan bantuan obat-obatan penyemprot hama belalang sebanyak 2.500 liter ditambah 50 set pakaian lengkap untuk petugas penyemprot hama belalang. Bantuan ini diserahkan kepada Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Drs. Juandi David, Sabtu (26/1/2008) pagi.
Selanjutnya, pekan depan, FAO akan menyerahkan bantuan lainnya, yaitu 9 unit sepeda motor roda tiga ditambah 10 unit tanki air serta satu unit kendaraan roda empat. Bantuan sejumlah kendaraan ini untuk memobilisasi petugas penyemprot hama belalang, obat-obatan dan peralatan semprot dan lain sebagainya.
"Memang benar, tadi FAO sudah diserahkan bantuan 2.500 liter obat pembasmi belalang dan 50 set pakaian lengkap bagi petugas penyemprot hama belalang. Pakaian untuk petugas penyemprot itu sangat lengakap, terdiri dari baju dan celana, sepatu bot, sarung tangan, masker hidung dan mulut serta topi," jelas David, ketika dihubungi di Kefamenanu, Sabtu siang.
Selain obat dan pakaian bagi petugas penyemprot, pekan depan, FAO akan menyerahkan bantuan lainnya berupa 9 unit sepeda roda tiga, 10 unit tanki penampung air serta satu unit kendaraan roda empat. "Kendaraan itu akan digunakan untuk memobilisasi petugas penyemprot, serta mengangkut obat-obatan dan peralatan," jelas David.
Serah terima bantuan dilaksanakan di Kantor Distanbun TTU, Sabtu pagi, dari pimpinan Kantor Cabang FAO di Kupang, Drs. Andreas Bria, M.A kepada Kepala Distanbun TTU, Drs. David Djuandi, disaksikan oleh konsultan teknis FAO, Ir. Blasius Lema.
Ditanya tentang bagaimana perkembangan usaha mengendalikan serangan hama belalang di 11 desa di Kabupaten TTU, David mengatakan sudah relatif terkendali. "Untuk 6 desa di Kecamatan Miomaffo Timur, saya berani katakana sudah dapat dikendalikan. Sabtu siang ini, petugas sedang diterjunkan di Desa Banain A, Desa Banain B dan Desa Banain C. Sedangkan tiga desa lainnya, yaitu Desa Sainoni, Desa Tes dan Desa Napan sudah selesai diberantas," tukasnya.
Sisa lima desa di Kecamatan Insana, Insana Utara dan Biboki Utara, sedang dalam proses penyemprotan oleh petugas. "Dalam satu atau dua hari lagi, lima desa di tiga kecamatan lainnya, yaitu Insana, Insana Utara dan Biboki Utara sudah bias dikendalikan. Jadi tidak perlu cemas lagi," tukasnya.
Informasi lainnya yang diperoleh SPIRIT NTT, Minggu (27/1/2008) siang, serangan hama belalalang hijau sudah menyerang lagi lima desa di Miomaffo Timur. Yaitu Desa Taekas, Tuntun Selatan, Jak, Manamas dan Maurisu. "Serangan belalang bukan hanya menimpa enam desa di Miomaffo Timur, tetapi juga sudah menyerang lima desa lainnya di Miomaffo Timur, yaitu Taekas, Tuntun Selatan, Manamas, Jak, dan Maurisu," jelas Andreas Talan Kefi, salah satu warga Desa Jak.
Ia meminta agar petugas penyemprot segera diutus ke Jak dan desa sekitarnya karena hama belalang hijau sudah menyerang tanaman warga. "Ada sekitar 50 hektar ladang jagung yang terancam rusak diserang hama belalang, jika tidak segera ditangani oleh petugas," tambah Talan. *
Read More...

Bupati Manek canangkan Gerakan PGBD

Laporan Akoit Julianus, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KEFAMENANU, SPIRIT--Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Drs. Gabriel Manek, M.Si, mencanangkan Gerakan Penanggulangan Gizi Buruk dan Diare (PGBD) pada Juli 2008 mendatang. Gerakan ini dibutuhkan untuk mengurangi angka kasus gizi buruk dan diare di Kabupaten TTU.
Rencana ini dikemukakan Bupati Manek di hadapan para wartawan di Kefamenanu, Rabu (30/1/2008), menanggapi kasus gizi buruk yang kini cenderung naik di awal bulan Januari 2008.
"Bersama Kantor Bappeda TTU, kami sedang buatkan konsep untuk mencanangkan Gerakan Penanggulangan Gizi Buruk dan Diare di Kabupaten TTU. Menurut rencana pencanangan gerakan ini akan dimulai bulan Juli 2008," jelas Manek. Ia tidak merinci alasan, kenapa gerakan itu baru dicanangkan pertengahan tahun ini.
Dalam bagian lain penjelasannya, Bupati Manek mengatakan, pencanangan gerakan ini berdampak pada membengkaknya anggaran belanja kesehatan. "Tentunya kami akan berupaya mencari sumber dana lain selain dari APBD II TTU," tukasnya berharap.
Kadis Kesehatan Kabupaten TTU, dr. Michael Suri, M.M, yang dikonfirmasi terpisah, mengatakan pada TA 2008 ini, pihaknya mendapat alokasi anggaran dari APBD II TTU sebesar Rp 600 juta untuk penanganan gizi buruk. "Sumber dana ini memang tidak begitu cukup. Kami juga berusaha mencari sumber dana dari Asian Development Bank (ADB), dari APBD I dan bantuan dana yang bersumber dari APBN," jelas Suri.
Tentang menghilangnya bantuan dana bagi pasien gizi buruk di RSUD Kefamenanu sejak tahun 2006 lalu, dr. Suri mengatakan dana itu diadakan ketika muncul KLB gizi buruk pada tahun 2005 lalu. "Setelah tidak ada KLB gizi buruk, dana itu tidak perlu lagi. Toh, nanti pasien itu akan diurus lebih lanjut di Panti Rawat Gizi. Dan di panti ini, ada dana khusus untuk merawat pasien gizi buruk," jelas dr. Suri. *
Read More...

Hari Minggu

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

SEPERTI biasanya, Darmi yang duduk di kelas 5 SD minta izin kepada ayahnya untuk pergi ke sekolah.
"Pak, saya berangkat sekolah dulu," kata Darmi.
"Iya..ayo berangkat sono, awas jangan ada yang kelupaan, lho.. celana seragammu mana? Kok nggak dipakai?" tanya sang ayah melihat Darmi masih pakai cawet bergambar Sponge Bob.
"Oh iya Pak! Aku lupa," kata Darmi tergopoh-gopoh masuk ke kamar lagi.
"Dasar, bocah pelupa!" gumam sang ayah.
Keesokan harinya Darmi mau berangkat ke sekolah, seperti biasa ia minta izin.
"Pak, saya berangkat sekolah, hari ini nggak ada lagi yang ketinggalan," kata Darmi.
"Yakin? Buku gambarmu? Buku gambar sudah masuk tas belum?" tanya sang ayah memastikan.
"Waduh iya Pak, aku lupa!" sahut Darmi sambil garuk-garuk kepala.
"Kamu ini gimana to' Mi, masih kecil udah pikun, gimana kalo besar nanti?" kata sang ayah dengan setengah jengkel.
Keesokan harinya Darmi minta izin lagi pada bapaknya.
"Pak, saya berangkat sekolah dulu, pokoknya semua wis komplit, seragam sekolah, tas, sepatu, buku gambar dan penggaris..komplit plit! Pokoknya aku nggak lupa lagi pak!" kata Darmi optimis.
Pletakkk..!! Darmi dijitak sang ayah dari belakang dengan diiringi dampratan, "Bocah gemblung! ini kan hari minggu Miii....!"

Pembohong
"ISTRIKU seorang pembohong!" ujar seorang suami yang lagi BT dengan istrinya kepada seorang temannya.
"Bagaimana kamu tau kalau dia bohong sama kamu?" sahut temannya.
"Soalnya dia nggak pulang kemaren, dan waktu saya tanya dia kemana, dia bilang nginap di rumah saudaranya Mina," ujar sang suami.
"Tetap aja nggak bisa dibilang dia bohong," ujar temannya
"Soalnya kemaren saya nginap di rumah Mina," sahut sang suami tanpa rasa bersalah.

Bayar dengan SENYUM
DIREKTUR Jenderal Pajak sedang melakukan dengar pendapat dengan komisi IX DPR dan para pengusaha.
''Adalah suatu kehormatan bagi kita sebagai warga negara untuk membayar pajak dengan tersenyum,'' ujar direktur pajak memaparkan program-programnya.
Si Udin yang kebetulan mempunyai bisnis di daerahnya cukup besar, langsung berteriak kegirangan.
''Syukurlah, tadinya kusangka bahwa pajak harus dibayar dengan uang,'' ujar Udin dengan senyum mengembang. (kapanlagi) Read More...

Nati gelap dong dunia ini...

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

ADA dua orang gila yang sedang berdialog di rumah sakit jiwa Grogol.
Orang gila 1: (sambil naik meja) "Tahu nggak kamu?"
Orang gila 2 : "Nggak, apaan?"
Orang gila 1 : "Saya itu matahari (sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi ) lihat lah terang dunia ini oleh ku!"
Orang gila 2 : (dalam hati) "Jangan-jangan nih orang tambah gila aja, aku laporin sama dokter biar dia diperiksa..."
Sambil berlari orang gila ke-2 tadi pergi ke ruangan dokter dan melapor.
Orang gila 2 : "Dokter, teman saya itu mungkin bertambah gilanya."
Dokter : "Kenapa?"
Orang gila 2 : "Benar dokter, dia naik ke atas meja sambil mengangkat tangannya dan bilang bahwa dia itu adalah matahari sehingga dunia ini terang dia buat."
Dokter : "Kalau gitu suruhlah temanmu itu turun."
Orang Gila 2 : "Ah jangan dokter, nanti kalau dia turun gelap dong dunia ini nanti..."


PENGEMIS dan pemilik warung
SUATU hari ada seorang pengemis yang kelaparan pergi ke sebuah warung nasi dan bertanya, "Ada sisa makanan, Pak?"
Si pemilik warung pun menjawab, "Tidak ada !"
Pengemis itu pun mengeluh, "yaa, nasibku....." lalu dia pun berlalu pergi.
Keesokan harinya, pengemis tersebut pergi ke warung itu lagi dan bertanya pertanyaan yang sama. Begitu juga hari-hari yang berikutnya, tetapi dia tetap menerima jawaban yang sama yaitu 'tidak ada'.
Akibat bosan dengan pertanyaan yang sering ditanya oleh pengemis tersebut, akhirnya Bapak warung marah dan berkata, "Saya sudah saya katakan berkali-kali, saya tidak ada sisa makanan untuk diberikan kepada kamu, semuanya habis terjual! Jika kamu bertanya lagi, saya akan paku kaki kamu di lantai!!!!," kata bapak warang dengan emosi.
Keesokannya, pengemis itu datang lagi ke warung dan bertanya, "Ada paku Pak?"
"Tidak ada," jawab Bapak warung.
Pengemis bertanya lagi, "Ada sisa makanan, Pakkk?" (kapanlagi) Read More...

Penting, pendidikan seksualitas remaja

Oleh Ansel Open *
Spirit NTT 4-10 Februari 2008

PADA prinsipnya seks merupakan sesuatu yang nilainya sangat luhur dan suci yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia. Namun fenomena dewasa ini menunjukkan adanya indikasi semakin banyaknya orang merendahkan dan melecehkan seks dari nilai yang luhur dan suci itu menjadi nilai komersial dan komoditi yang pada akhirnya hanya sebagai pemuas nafsu kebinatangan belaka.
Gejala seperti ini terlihat jelas dewasa ini oleh adanya penyimpangan-penyimpangan dan kasus-kasus seks yang terjadi di mana-mana oleh berbagai tingkatan umur sebagai akibat dari maraknya kebiasaan 'Free Sex.'
Dari budaya free sex inilah muncul berbagai penyakit menular seksual dan permasalahan lain yang pada prinsipnya dapat merendahkan hak-hak seseorang sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang amat mulia dan bermartabat.
Dengan demikian potensi kreasi dan semangat hidup seseorang menjadi lumpah dan tak berdaya, terkapar pada keterbatasan pengatahuan dan pemahaman tentang seks dan kesehatan reproduksi, yang didikuti dengan pantang dan tabuhnya berbicara tentang kesehatan reproduksi dan seks dalam setiap kalangan dewasa ini.
Dengan demikian, maka akan semakin sulit juga upaya dan langkah penanganan kebiasaan free sex di kalangan kaum muda yang adalah pelanjut estafet pembangunan bangsa dan negara.
Dengan demikian, gema rencana pendidikan seks dan kesehatan reproduksi yang ditawar oleh para peneliti, ahli anak dan pihak LSM, adalah langkah obyektif penanggulangan dan pengurangan kebiasaan free sex, selain langkah dan bentuk pendekatan konpherensip dan berkelanjutan yang dibuat oleh orangtua dan keluarga. Tawaran ini positip. Langkah penyadaran anak ke arah itu, mau atau tidak mau, harus dibuat. Maka semestinya semua pihak yang merasa punya kepentingan dalam upaya tumbuh-kembang anak, harus sudah mulai mensikapi, dengan memikirkan mekanisme dan strategi penerapannya.
Tujuan mulia pendidikan seks dan kesehatan reproduksi adalah untuk membantu perkembangan anak sesuai dengan tahapannya, sehingga ia dapat mengintegrasikan seks-nya secara baik, benar dan wajar, karena seks itu sendiri merupakan bagian yang integral dari seluruh hidup manusia yang akan menjadi identitas dan memupuk harga diri dan kehormatan seseorang. Selain itu, pendidikan seksual, juga bertujuan menanamkan pengajaran nilai dan pelaksanaannya.
Dengan demikian pendidikan seks justru bertujuan memasukan nilai-nilai moral seksual ke dalam jiwa anak. Selanjutnya, nilai-nilai yang diperoleh itu disikapi dan ditindaklanjuti sehingga anak dapat membuat pilihan yang selektif, tahu membawa diri dengan bijak agar tidak terjebak dalam problem seks itu sendiri. Kedua dampak dari free sex ini, dampak positif dan negatif harus diketahui dan dipahamai anak.
Untuk itu, pendidikan seks menjadi sangat penting dalam membantu perkembangan kepribadian dan percaya diri anak dalam tahap pendewasaan menuju kemandirian hidup yang ulet dan mampu bersaing di tengah kemajemukan dunia.
Untuk itu seks jangan dianggap sebagai salah satu segi kodrati yang kurang menguntungkan sehingga perlu ditekan atau tidak digunakan sama sekali, apalagi memandangnya dengan penuh kecurigaan dan pra sangka. Dan, kalau dipandang demikian, maka akan mendatangkan hal-hal yang negatif atau kalau ditutup tutupi maka akan mendatangkan rasa ingin tahu yang juga bernilai negatip. Hasilnya kemudian, seks menjadi bahan komersial dan sarana hiburan bagi yang menyukainnya, diexploitasi sedemikian rupa sehingga kehilangan nilai hakikinya.
Dengan demikian, karena seks adalah karunia Tuhan yang sangat suci dan luhur, maka perlu diberi tempat yang sepatutnya dihormati, dihargai dan bukannya sebagai barang yang najis atau mainan pemuas nafsu belaka. Sungguh, peranan seks melampaui semua pandangan yang sempit itu dan oleh dia semua kita menjadi ada.
Untuk itu, dalam segala proses perjalanan pendidikannya, semua kita (pihak), orangtua, guru dan pihak lain, hendaknya kembali kepada tujuan asal dan ke nilai hakiki dari seks itu sendiri.*
* Penulis, Pelaksana Teknis Unit Pelayanan Terpadu Kabupaten Sikka.
Read More...

PKK dan Posyandu optimalkan pelayanan

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KALABAHI, SPIRIT --Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor, Ny . Dina Takalapeta Meller, S.Th, meminta semua pengurus PKK dan kader posyandu di daerah itu agar mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan daerah.
Permintaan Ny. Dina ini disampaikan pada acara sosialisasi upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK) dan praktek pengolahan MP-ASI lokal bagi para ketua kader posyandu se-Kecamatan Teluk Mutiara di aula kantor camat setempat, Rabu (30/1/2008). Saat itu Ny. Dina didampingi Camat Teluk Mutiara, Yahya Bana, S.E, M.Si, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK, Ny. Matilda Maulaka.
Sosialisasi ini menghadirkan sejumlah pemateri, antara lain Ny. Matilda Maulaka, membahas materi bertajuk potret wanita, Ny. Theresia Suratnama dari Dinkes Alor membedah kesehatan ibu dan anak, serta Ari Alfiyanto dari Dinkes Alor berbicara tentang gizi.
Pada kesempatan itu, Ny. Dina mengajak semua pihak memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak anak. Dengan kesetaraan gender, katanya, akan memberikan dukungan yang besar bagi kehidupan keluarga. Kesetaraan gender juga menghapus tindakan kekerasan terhadap perempuan.
"Saya amati, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi karena ibu-ibu dan bapak-bapak suka main pukul. Cara ini harus dihentikan," tandas Ny. Dina.
Selain gender, Ny. Dina minta PKK dan kader posyandu di desa memperhatikan kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak. "PKK dan posyandu harus mendukung upaya pelestarian lingkungan dengan menanam dan merawat pohon sebagai antisipasi pemanasan global," katanya.
Ny. Dina sempat menanyakan kepada pengurus PKK di desa dan kader posyandu yang hadir perihal dana yang dialokasikan pemerintah kepada mereka. Menurut Ny. Dina , dana untuk posyandu sudah dialokasikan sampai bulan Februari 2008 dan itu berada di tangan kader sehingga operasional kegiatan di lapangan berjalan baik.
Ny. Dina menyampaikan apresiasinya kepada LSM-LSM yang berkarya di Kabupaten Alor yang juga memfokuskan kegiatannya pada masalah ibu dan anak.
Ny. Theresia Suratnama dari Dinkes Alor, mengatakan, angka kematian ibu dan anak di daerah itu masih tinggi sehingga perlu ada perhatian serius dari semua komponen, termasuk PKK dan kader posyandu. *
Read More...

Jejak sejarah Kabupaten Alor (1)

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

MENURUT cerita yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.
Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.
Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa.
Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan. Galiau yang terdiri dari lima kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi lima kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Pendiri kelima kerajaan daerah pantai tersebut adalah lima Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua di antara mereka memerintah daerah tersebut. Mereka juga memiliki hubungan dagang, bahkan hubungan darah dengan aliansi serupa yang terbentang dari Solor sampai Lembata.
Jalur perdagangan yang dibangun tidak hanya diantara mereka tetapi juga sampai ke Sulawesi, bahkan ada yang menyebutkan bahwa kepulauan kecil di Australia bagian utara adalah milik jalur perdagangan ini.
Mungkin karena itulah, beberapa waktu lalu sejumlah pemuda dari Alor Pantar melakukan pelayaran ke Pulau Pasir di Australia bagian utara. Laporan pertama orang-orang asing tentang Alor bertanggal 8-25 Januari 1522, Pigafetta, seorang penulis bersama awak armada Victoria sempat berlabuh di pantai Pureman, Kecamatan Alor Barat Daya.
Ketika itu mereka dalam perjalanan pulang ke Eropa setelah berlayar keliling dunia dan setelah Magelhaen, pemimpin armada Victoria mati terbunuh di Philipina. Pigafetta juga menyebut Galiau dalam buku hariannya.
Observasinya yang keliru adalah penduduk pulau Alor memiliki telinga lebar yang dapat dilipat untuk dijadikan bantal sewaktu tidur. Pigafetta jelas telah salah melihat payung tradisional orang Alor yang terbuat dari anyaman daun pandan. Payung ini dipakai untuk melindungi tubuh sewaktu hujan.
***
Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil.
Pada tahun 1911, Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh.
Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah Kolonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran Kolonial Belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan. (kpde@alorkab.go.id/bersambung)

Read More...

Obyek wisata bawah laut Alor

Spirit NTT 4-10 Februari 2008

Taman Laut di antara Pulau Alor dan Pantar sangat indah. Mudah dijangkau dengan transportasi darat maupun transportasi laut dari Kota Kalabahi. Jarak dari darat sekitar 14-19 kilometer, sedangkan jarak dari laut 15 menit
Memiliki 18 titik selam yang disebut Baruna's Dive Sites at Alor, yaitu:
1. Baruna's Point
2. Never-Never wall
3. Cave Point
4. Barrel Sponge Wall
5. Mola-mola Point
6. Night Snacks
7. Alor Expree/Alor Dreaming
8. Rocky Point
9. Three Coconuts
10. Moving Pictures
11. Eagle Ray Point
12. Rahim's Point
13. Tuna Channel
14. Anemone Country
15. Sharks Reeway
16. Octopus Garden
17. Captain's Choice
18. The Refrigerator (kpde alor)
-copi sekilas minggu lalu sebagai tambahan- Read More...

Kekurangan air bersih picu penyakit koreng

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KALABAHI, SPIRIT--Wakil Bupati (Wabup) Alor, Drs. Abraham Maulaka menyebut salah satu penyebab penyakit koreng di daerah itu karena kekurangan air bersih.
Kini, tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Alor terus mengobati sekaligus memberikan penyuluhan kepada masyarakat penderita penyakit koreng di wilayah itu.
Setelah dua hari, Selasa-Rabu (29-30/1/2008), memberikan pelayanan di Puskesmas Lawahing, mulai Kamis (31/1/2008), tim turun ke Desa Alila Selatan, Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL).
Kepada SPIRIT NTT di Kalabahi, Wabup Maulaka, mengatakan penanganan penyakit koreng dilakukan secara terpadu dengan mempersempit areal penyebaran sekaligus mencegah penularan di wilayah terserang secara cepat. Desa Alila Selatan juga teridentifikasi terserang penyakit itu.
Menurut Maulaka, dari hasil penelusuran oleh tim kesehatan terungkap bahwa penyakit itu disebabkan oleh masalah air bersih. Tim melihat secara langsung semua persoalan, mulai dari penderita, sanitasi lingkungan, air bersih dan berbagai persoalan kesehatan lainnya. Tim juga melihat langsung persiapan petani menghadapi musim tanam.
Mengenai status dari penyakit itu, kata Maulaka, hanya wabah, dan upaya penanganannya sudah dilakukan. Sejumlah penderita sudah sembuh sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa atau KLB. "Jenis penyakit ini mudah ditangani, hanya jumlah penderitanya banyak sehingga membutuhkan waktu dan terlihat menonjol. Pemerintah belum bisa mengkategorikan KLB," tandas Maulaka.
Plt. Kadis Kesehatan Kabupaten Alor, Drs. Nikodemus Turwewi, mengatakan, untuk menangani penyakit koreng itu, telah dibentuk dua posko di Kopidil dan di Lawahing. Dua posko ini siap melayani pasien koreng 1 x 24 jam. Sementara itu dinkes juga memperluas pelayanan dengan membuka satu posko lagi di Desa Alila Selatan mulai Kamis (31/1/2008). *
Read More...

Cegah hama cendana, tanam pohon nimba

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT 4-10 Februari 2008

KALABAHI, SPIRIT--Kepala Dinas Kehutanan Alor, Drs. RJS Huan, memrogramkan menanam pohon nimba sebagai salah satu langkah pencegahan untuk mengatasi hama tanaman cendana yang kini menyerang daerah itu.
Kini, sejumlah petugas Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan (Dishut) Alor diturunkan ke kawasan hutan cendana di Puncak Omtel, Kabupaten Alor untuk mengidentifikasi jenis hama yang menyerang 1.000 lebih tanaman cendana yang dikembangkan di hutan tersebut.
Tindakan ini menyusul serangan hama terhadap tanaman cendana yang telah berusia dua tahun yang dikembangkan di kawasan hutan itu sehingga meranggas dan terancam mati.
Untuk diketahui, dikawasan Hutan Omtel pada bulan Desember 2006 dilakukan pencanangan program Indonesia Menanam oleh Menteri Kehutanan, MS Kaban. Saat itu secara simbolis menteri kehutanan melakukan penanaman anakan cendana. Anakan cendana yang ditanam ini ikut terserang hama.
Huan yang dikonfirmasi SPIRIT NTT di Kalabahi, Jumat (1/2/2008), menjelaskan, pihaknya sudah memantau ke lokasi diikuti dengan menurunkan petugas bidang perlindungan hutan untuk mengidentifikasi jenis hama yang menyerang tanaman itu.
Dari hasil identifikasi, kata Huan, pihaknya segera berkoordinasi dengan Balai Penelitian Kehutanan Kupang untuk sama-sama ke lokasi untuk melalukan pengamatan lebih cermat. Dari pengamatan ini akan diambil sampel untuk dibawa ke Kupang Balai Penelitian Kehutanan akan melakukan pengujian di laboratorium untuk diketahui jenis hama lalu diambil langkah penanganan secara teknis.*
Read More...

Hilangkan EGO sektor


Laporan John Oriwis, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
MAUMERE, SPIRIT--Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus, meminta setiap dinas, bagian dan badan di daerah itu untuk menghilangkan sikap ego sektor dalam melaksanakan program pembangunan. Utamakan kerja sama dan koordinasi lintas bagian sehingga pelayanan kemasyarakatan berjalan dengan baik.
Permintaan Bupati Longginus ini disampaikan ketika memberikan sambutan pada acara penandatanganan MoU kerja sama di bidang pelayanan kepengurusan akte kelahiran anak, antara Dinas Kependudukan, Dinas Kesehatan, Direktur Rumah Sakit TC Hillers dan Ikatan Bidan Indonesia di Kabupaten Sikka di Aula LK3I, Jalan Soekarno-Hatta, Maumere, Selasa (15/1/2008).
Penandatanganan MoU yang dilakukan dalam rangkaian acara lokakarya penguatan dan pengembangan pencatatan kelahiran di Kabupaten Sikka ini, menurut Longginus, merupakan sebuah langkah strategis dalam melakukan pencatatan angka kelahiran bayi di Sikka. "Saya berharap jalinan kerja sama ini terus dikembangkan dan dipertahankan serta diperluas dan menyentuh bidang-bidang lainnya yang menyangkut kepentingan masyarakat umum," ujar Longginus.
Bupati Longginus mengakui masih banyak anak-anak di Sikka belum memiliki akte kelahiran. Pada tahun 2006 sedikitnya 5.459 anak lahir hidup, namun hanya 3.964 anak yang mengurus dan mendapatkan akte kelahiran. Demikian pula pada tahun 2007 terdapat 4.885 anak lahir hidup, namun hanya 3.564 anak yang mendapatkan akte kelahiran.
"Selain masih rendahnya kesadaran masyarakat mengurus akte kelahiran, dari 190-an ribu jumlah pemilih sementara yang telah terdaftar untuk mengikuti Pilkada Sikka 2008, baru 50 persen pemilih yang mengurus dan memiliki kartu tanda penduduk, sisanya belum memiliki KTP," tegas Longginus.
Kegiatan sosialisasi oleh dinas/instansi terkait, kata Longginus, harus ditingkatkan agar masyarakat menyadari manfaat dan pentingnya kepemilikan akte dan KTP.
Menurutnya, kebijakan kepengurusan akte kelahiran gratis untuk anak usia 0-18 tahun di Sikka yang mulai dilakukan sejak 2004 lalu telah sangat membantu masyarakat. Meskipun Sikka tergolong kabupaten termiskin di Indonesia, namun kepengurusan akte kelahiran gratis merupakan suatu prestasi yang harus dipertahankan.
Proyek percontohan
Kabupaten Sikka telah ditetapkan menjadi proyek percontohan (pilot project) pencatatan kelahiran bagi kabupaten lain yang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini terjadi karena Sikka berhasil membuat manajemen pencatatan kelahiran dan pengurusan akte kelahiran bagi anak 0-18 tahun secara gratis.
Dikatakan Longginus, dengan ditetapkannya Sikka sebagai lokasi proyek percontohan, maka kabupaten ini menjadi tempat bagi kabupaten lain yang sedang berkembang untuk melakukan studi banding di bidang pencatatan dan pengurusan akte kelahiran anak.
Kepala Bidang Pencatatan Sipil pada Badan Kependudukan, Catatan Sipil dan Keluarga Kabupaten Sikka, Abraham Fransiskus, mengatakan, pada tanggal 21 Januari 2008, Dinas Kependudukan Kabupaten Sikka akan mendapat kunjungan tim dari Jakarta. "Tim ini akan mempelajari administrasi kepengurusan akte kelahiran gratis yang selama ini telah dilakukan Dispenduk Sikka," ujarnya.
Read More...

Bupati Longginus lantik Kades Pogon


Laporan John Oriwis, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
MAUMERE, SPIRIT--Bupati Sikka, Drs. Alex Longginus, melantik dan mengambil sumpah Kepala Desa (Kades) Pogon, Kecamatan Waigete, Arkadius Djong, di halaman Gereja Kloangrotat, Kamis (17/1/2008). Pelantikan Djong berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Sikka, No. 02/HK/2007.
Dalam sambutannya, Bupati Longginus, mengatakan, jabatan, termasuk kades, bukan milik keluarga tetapi milik masyarakat. Karena itu, kata Longginus, kades harus menjalin kerja sama dengan semua masyarakat dan merangkul semua pihak yang tidak sepaham selama proses pilkades.
Sementara mantan Kades Pogon, Vinsensiun Vinsen, mengatakan, untuk menyukseskan pelaksanaan pembangunan di desa dibutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai elemen yang ada. "Dengan demikian pelaksanaan pembangunan di desa dapat berjalan maksimal dan lebih baik," katanya.
Selama masa kepemimpinannya, diakui Vinsen, terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan serta berbagai kebijakan yang keliru. "Semua itu menjadi media pembelajaran bagi kita semua agar tidak terantuk pada kesalahan yang sama," ujarnya.
Kepala Desa Pogon, Arkadius Djong, dalam sambutannya mengharapkan dukungan dan kerja sama, baik dari masyarakat maupun elemen lain di Desa Pogon dalam melaksanakan dan melanjutkan pelaksanaan pembangunan di desa itu.

Sementara Bupati Longginus meminta masyarakat agar membangun kesadaran dan inisiatif untuk menggali dan menghidupkan kembali secara optimal sumber daya manusia dan alam yang ada di desa, antara lain dengan melakukan penghijuan di titik-titik sumber mata air.
Read More...

Camat Palue buka bimtek olah makanan lokal


Laporan Paulus Pega, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
PALUE, SPIRIT--Camat Palue, Eternus Noe, B.A, membuka bimbingan teknis (bimtek) pengolahan makanan ringan berbahan lokal di kantor camat setempat, Rabu (28/11/2007) lalu. Bimtek tiga hari hingga Jumat (30/11/2007) ini difasilitasi aparat Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kabupaten Sikka.
Dalam sambutannya, Camat Esternus Noe, mengatakan, pelaksanaan bimtek dimaksud memotivasi dan membangkitkan inisiatif masyarakat setempat untuk mengembangkan dan membuka usaha pengelolahan makan ringan menggunakan bahan lokal setempat.
Palue, diakuinya, merupakan salah satu kecamatan di Sikka yang memiliki sumber daya alam makanan lokal yang memadai seperti kacang- kacangan, umbi, pisang serta berbagai tanaman lokal lainnya yang dapat diolah menjadi makanan ringan khas Palue.
Bimtek pengolahan makanan lokal ini diikuti 40 orang peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK Desa Maluriwu 20 orang dan Desa Reruwairere 20 orang.
Camat Noe mengharapkan para peserta memasyarakatkan pengolahan makanan lokal di desa masing-masing agar diketahui banyak orang sebagai industri rumah tangga. "Pangan lokal yang diolah dalam bimtek ini adalah umbi khas Palue, uwi," ujarnya.
Sebelumnya, masyarakat mengolah uwi hanya dengan cara direbus atau mengukusnya kemudian dimakan. Dengan adanya bimbingan ini, katanya, wawasan masyarakat dalam mengolah makanan lokal diperluas.
Modal usaha
Materi bimtek antara lain pengolahan, kemasan, labeling dan strategi pemasaran. Selain itu, para pembimbing memotivasi peserta untuk membuka usaha rumah tanggamemanfaatkan pangan lokal.
Selama bimtek peserta melakukan praktek membuat tepung uwi, tepung pisang, tepung kelapa dan tepung singkong lokal. Para peserta juga diajarkan membuat biskuit uwi kacang, biskuit pisang kacang, ubi kelapa dan krupuk uwi.
Regina Laru, salah seorang peserta mengakui mengikuti bimtek tersebut dengan senang untuk meningkatkan keterampilan dalam membuat makanan ringan berbahan lokal. "Kami juga berharap kepada pemerintah agar memberikan modal usaha agar peserta membuka usaha kecil," katanya.
Read More...

565 Sarjana dan diploma rebut 33 kursi CPNSD


Laporan John Oriwis, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
MAUMERE, SPIRIT--Sebanyak 565 sarjana dan diploma di Kabupaten Sikka, Senin (14/1/2008), mengikuti testing penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) tahun anggaran 2007 memperebutkan 33 kursi.
Tes CPNSD 2007 dilakukan pada 18 ruang kuliah di Universitas Nusa Nipa (Unipa), Jalan Kesehatan-Maumere. Dikonfirmasi SPIRIT NTT di ruang kerjanya, Rabu (16/1/2008), Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sikka, Drs. JA Nong Baba, melalui Kepala Tata Usaha (KTU), Drs. D Mena da Silva, mengatakan, dari 587 orang pelamar yang terdaftar, hanya 565 orang yang mengikuti testing, sementara 22 orang lainnya tidak mengikuti testing tanpa pemberitahuan dan alasan yang jelas.
Mena menyebut kendala pelaksanaan tes CPNSD di Sikka berupa kekurangan bahan ujian untuk perserta testing diploma dua dan diploma tiga.
"Panitia harus menggandakannya lagi sebanyak 89 eksemplar dan masing-masing eksemplar digandakan lagi sebanyak 22 lembar. Meski demikian pelaksanaan tes CPNSD tetap berjalan aman, kondusif sesuai yang diharapkan," ujar Mena.
Mena da Silva yang didampingi Kepala Bidang Pengadaan, Mutasi, Pembinaan Disiplin dan Pensiun, Ludvina Mapa, B.A, menjelaskan, materi testing adalah Bahasa Inggris, pengetahuan umum dan materi profesi sesuai formasi.
Menurutnya, 565 peserta yang mengikuti testing akan memperebutkan 33 formasi CPNSD, terdiri dari 13 tenaga guru, 10 orang tenaga medis dan 10 tenaga teknis. Hingga hari H pelaksanaan testing, jumlah tenaga guru yang terdaftar sebanyak 228 orang pelamar, tenaga kesehatan terdaftar 144 orang dan untuk tenaga teknis 215 orang.
Informasi yang diperoleh SPIRIT NTT menyebutkan, hasil testing CPNSD ini akan di umumkan awal Februari mendatang. Pemeriksaan materi ujian dilakukan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Jakarta menggunakan komputerisasi untuk menghindari rekayasa atau manipulasi.
Pantau testing
Sekretaris Kabupaten (Sekab) Sikka, Drs. Sabinus Nabu, memantau jalannya pelaksanaan tes di Kampus Universitas Nusa Nipa-Maumere.
Sabinus yang didampingi Kepala Bagian Humas, Robertus Ray, S.Sos, dan Kepala BKD Sikka, Drs. JA Nong Baba, kepada para peserta testing meminta agar mengerjakan materi yang diuji dengan cermat dan teliti.
Selama testing, aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja terlihat melakukan penjagaan di setiap ruang ujian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Read More...

Kulababong: Makanya ikut 'kabe'


Laporan John Oriwis, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008

BELUM empat tahun menikah, pasangan Dede Poi (27) dan Magdalenam (20) sudah dikaruniai empat anak. Ngerinya lagi Magdalenam saat ini sedang hamil lagi lima bulan untuk anak kelima mereka.
"Apa karena kami ini pasangan usia subur ato pasangan usia kuat, tegor teran," keluh Dede Poi saat keduanya sedang duduk hendak menikmati makan malam.
"Jangan piker macam-macam lagi. Anak itu karunia Tuhan. Kan banyak anak banyak rejeki masuk," jelas Magdalenam.
"Anak itu memang karunia. Orang sebut karunia kalo kita sudah sepuluh tahun menika dan baru dapat anak. Ini setiap sembilan bulan satu, itu bukan lagi hanya karunia tapi kaya karunia. Apalagi semua laki-laki, dari mana rejeki masuk, kalo keluar pasti banyak. Apalagi kalo sampe jadi dengan anak tana, orang Maumere. Gading ambil dari mana. Kalo orang minta gading enam te yang ada baru empat. Peter satu, Yoan satu, Mario satu, No satu tamba saya punya satu. Itu saja baru lima," hitung Poi.
"Benar juga, itu saja baru untuk urus Peter yang sulung. Yang tiga lagi belum, kita ambil lagi gading dari mana?" Magdalenam ikut bimbang dan bingung.
"Omong-omong yang ini nanti kita kasih nama apa?" tanya Magdalenam, sambil mengelus anak yang sedang dikandungnya.
"Tida usa bingung. Kalo dia laki-laki kasih nama Uterus, sampe sembilan bulan ada lagi satu kasi nama lagi Suterus, kalo masi ada lagi kasi nama Stop Jangan Terus. Dengan harapan sebagai anak terakhir, si bungsu. Tapi kalo masih ada lagi, kita terpaksa kasi nama Lanjut Teruuus, dan kalo masi ada karunia, tinggal kasi nomor di belakang nama Lanjut Teruuus," sambung Poi dalam kondisi stres.
Bagaimana tida stres, di tengah kondisi hasil pertanian yang semberawut dan keadaan ekonomi keluarga yang serba kurang, Poi sebagai kepala rumah tangga harus urus satu istri dan anak- anak. Mana makan minum, mana sekolah, mana-mana lagi kebutuhan lain. Gila, kalo begini sapa saja bisa gila.
Konsultasi punya konsultasi. Dede Teke kasih saran, makanya ikut 'kabe' (KB; keluarga berencana). Kabe punya peran besar, mengurangi beban ekonomi, membatasi jumlah anak sesuai kemampuan dan kondisi perekonomian keluarga. Bagus, bagus sekali, bahkan bagus terus kalo Dede Poi ikut sehingga tida ada Terusan lagi.
"Poi we, kau ajak dengan Magdalenam supaya ikut kabe saja," ajak Teke. Tapi jangan lupa urus akte lahir anak mumpung gratis untuk anak usia 0 sampe 18 tahun. Ini kesempatan emas, jadi jangan sia-siakan.
Read More...

Kulababong: Makanya ikut 'kabe'


Laporan John Oriwis, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
BELUM empat tahun menikah, pasangan Dede Poi (27) dan Magdalenam (20) sudah dikaruniai empat anak. Ngerinya lagi Magdalenam saat ini sedang hamil lagi lima bulan untuk anak kelima mereka.
"Apa karena kami ini pasangan usia subur ato pasangan usia kuat, tegor teran," keluh Dede Poi saat keduanya sedang duduk hendak menikmati makan malam.
"Jangan piker macam-macam lagi. Anak itu karunia Tuhan. Kan banyak anak banyak rejeki masuk," jelas Magdalenam.
"Anak itu memang karunia. Orang sebut karunia kalo kita sudah sepuluh tahun menika dan baru dapat anak. Ini setiap sembilan bulan satu, itu bukan lagi hanya karunia tapi kaya karunia. Apalagi semua laki-laki, dari mana rejeki masuk, kalo keluar pasti banyak. Apalagi kalo sampe jadi dengan anak tana, orang Maumere. Gading ambil dari mana. Kalo orang minta gading enam te yang ada baru empat. Peter satu, Yoan satu, Mario satu, No satu tamba saya punya satu. Itu saja baru lima," hitung Poi.
"Benar juga, itu saja baru untuk urus Peter yang sulung. Yang tiga lagi belum, kita ambil lagi gading dari mana?" Magdalenam ikut bimbang dan bingung.
"Omong-omong yang ini nanti kita kasih nama apa?" tanya Magdalenam, sambil mengelus anak yang sedang dikandungnya.
"Tida usa bingung. Kalo dia laki-laki kasih nama Uterus, sampe sembilan bulan ada lagi satu kasi nama lagi Suterus, kalo masi ada lagi kasi nama Stop Jangan Terus. Dengan harapan sebagai anak terakhir, si bungsu. Tapi kalo masih ada lagi, kita terpaksa kasi nama Lanjut Teruuus, dan kalo masi ada karunia, tinggal kasi nomor di belakang nama Lanjut Teruuus," sambung Poi dalam kondisi stres.
Bagaimana tida stres, di tengah kondisi hasil pertanian yang semberawut dan keadaan ekonomi keluarga yang serba kurang, Poi sebagai kepala rumah tangga harus urus satu istri dan anak- anak. Mana makan minum, mana sekolah, mana-mana lagi kebutuhan lain. Gila, kalo begini sapa saja bisa gila.
Konsultasi punya konsultasi. Dede Teke kasih saran, makanya ikut 'kabe' (KB; keluarga berencana). Kabe punya peran besar, mengurangi beban ekonomi, membatasi jumlah anak sesuai kemampuan dan kondisi perekonomian keluarga. Bagus, bagus sekali, bahkan bagus terus kalo Dede Poi ikut sehingga tida ada Terusan lagi.
"Poi we, kau ajak dengan Magdalenam supaya ikut kabe saja," ajak Teke. Tapi jangan lupa urus akte lahir anak mumpung gratis untuk anak usia 0 sampe 18 tahun. Ini kesempatan emas, jadi jangan sia-siakan.
Read More...

Banu Nggulung, membidik 'naga' dengan leluasa


Dikutip dari Majalah Travel, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008

MENYEBUT nama Taman Nasional Komodo (TNK), wajar kalau orang langsung membayangkan hewan asli setempat sekaligus menjadi penguasa di sana yaitu komodo. Tapi sebenarnya, TNK bukan cuma punya reptil raksasa yang oleh wisatawan asing disebut dragon alias naga. Pun ternyata menyimpan beberapa obyek wisata alam yang masih alami dan menawan.
Nama TNK sudah lama dikenal baik oleh wisatawan mancanegara (wisman), terutama dikalangan dua kelompok turis yaitu the rich dan backpackers. Bagi turis kaya, mereka umumnya menyewa kapal pesiar besar maupun kecil (yacht) usai melancong dari Bali dan Lombok kemudian menyeberang ke TNK. Kapal pesiar mewah Spice Island Cruises salah satunya yang membawa para wisatawan berkantong tebal ke Pulau Komodo sejak dulu.
Sedangkan bagi turis yang senang berkelana dan berdana pas-pasan, memilih menggunakan rute umum dengan bus, kapal penumpang dan feri. Menurut John, turis sandal jepit asal Inggris, cara terakhir justru lebih menyenangkan, variatif, dan menantang.
Wisatawan yang hendak menikmati komodo dan obyek wisata alam lain yang ada di Pulau Komodo dapat membeli tiket masuk di Loh Liang. Sedangkan yang ingin ke Pulau Rinca, langsung ke pos Loh Buaya. Harga tiket masuk wisnus dan wisman berbeda. Tiket berlaku selama satu minggu untuk semua lokasi obyek wisata.
Beberapa tahun lalu jumlah pengunjung setiap tahun berkisar antara 35.000 sampai 50.000 dari berbagai penjuru dunia. Di mana sebagian besar atau sekitar 30.000 adalah wisman antara lain dari Belanda, Inggris, Italia, Prancis, dan Jepang. Jumlah wisman yang berkunjung langsung ke Loh Liang, Pulau Komodo jauh lebih banyak daripada wisnus. Karena kerap ramai didatangi turis asing selama beberapa hari, Loh Liang pun akhirnya dijuluki kampung turis.
Soal penginapan selama berkunjung di sana, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Akomodasi di Loh Liang cukup lengkap. Ada empat pondok penginapan yang mampu menampung puluhan pengunjung. Tarif kamarnya per malam untuk satu orang (single) dan berdua (double) cukup terjangkau. Selain itu, ada kafetaria yang menyediakan menu khas laut (sea food) serta koperasi yang menjual cendera mata menarik.
Jumlah wisnus dan wisman yang berkunjung ke TNK cukup baik dari tahun ke tahun. Kalaupun ada penurunan tidak terlalu drastis dan kemudian kembali diminati.
Soal tujuan berkunjung wisatawan ke TNK tetap tak berubah, umumnya para wisatawan ingin melihat dan mengamati secara langsung prilaku komodo. Banyak juga wisatawan yang semata bertujuan untuk ber-snorkeling dan diving di beberapa lokasi asri di kawasan TNK yang di antaranya sudah tersohor di kalangan wisman.
Satwa lain
Selain komodo sebagai daya tarik utama, kawasan TNK khususnya di Pulau Komodo juga mengoleksi beberapa obyek alam pantai maupun pegunungan, masyarakat nelayan yang menetap di sana serta habitat laut terutama aneka terumbu karang dan ikan hias.
Obyek-obyek wisata Pulau Komodo yang dapat dinikmati, antara lain Banu Nggulung, Pantai Merah, Poreng Sabieta, Gunung Ara dan Gunung Satalibo yang sejajar ke arah Timur, serta Kampung Komodo ke arah Barat dari pos Loh Liang.
Banu Nggulung merupakan lokasi untuk melihat dan memotret komodo dengan leluasa. Pengunjung yang pergi ke tempat ini wajib didamping petugas taman nasional atau biasa disebut jagawana. Jaraknya sekitar dua kilometer ke arah timur dari Pos Loh Liang, dapat ditempuh selama kurang lebih 45 menit dengan berjalan kaki santai menyusuri jalan setapak alami di antara pepohonan yang sebagian besar memiliki kesamaan dengan pepohonan yang ada di Kota Darwin, Australia.
Ini mungkin dipengaruhi oleh angin kering yang pada waktu-waktu tertentu berhembus dari negeri kangguru tersebut. Selama perjalanan menuju Banu Nggulung kerap bertemu beberapa komodo berukuran besar dan kecil. Obyek yang sama untuk melihat komodo ada di Pulau Rinca dan sejumlah pulau kecil di sekitarnya.
Sedangkan Pantai Merah atau yang dikenal turis asing Pink Beach, merupakan salah satu pesona alam terindah di TNK bahkan mungkin di dunia. Pantainya landai dan berpasir kemerah-merahan menjadi pilihan untuk berjemur sepuasnya. Perairannya memiliki pemandangan bawah laut dengan beragam terumbu karang serta ikan hias yang menakjubkan.
Buat wisatawan yang gemar melakukan kegiatan wisata bahari seperti berenang, snorkeling, menyelam atau sekadar berjemur, Pink Beach adalah tempat yang cocok. Dan yang membuatnya unik, tak jauh dari Pantai Merah yang juga pantai, pasirnya justru berwarna putih. Kalau tak percaya, coba saja naik ke bukit di atas pantai merah, pasti akan menemukan keunikan itu.
Lokasi Pantai Merah dapat dicapai lewat darat maupun laut, kalau dengan perahu motor sekitar 30 menit dari Loh Liang tapi bila menyusuri pantai dari Loh Liang memakan waktu lebih kurang 4,5 jam melewati hutan bakau dan gugusan tebing karang.
Selain Pantai Merah, obyek wisata yang sama dengan terumbu karang dan pantai landai, terdapat di Pulau Lasa dan Pulau Padar. Sedangkan Pulau Kalong adalah lokasi khusus untuk melihat sata kalong (Pteropus sp) yang jumlahnya ribuan.
Kalau bermaksud melihat kerbau liar dan panorama laut dari atas perbukitan, datang ke Poreng Sabieta. Letaknya 10 kilometer ke arah timur Loh Liang. Poreng Sabieta yang memiliki hamparan padang rumput savana, dapat dicapai lewat jalur pendakian alami (natural trail). Tapi harus ditemani jagawana.
Bila belum puas mendaki, lanjutkan perjalanan menuju Gunung Ara yang berada pada ketinggian 510 meter di atas permukaan laut (dpl). Di sana terdapat areal perkemahan buat wisatawan yang ingin berkemah di alam bebas. Untuk mencapai lokasinya melalui jalur pendakian sepanjang delapan km dari Loh Liang. Obyek yang sama juga ada di Loh Lima.
Dan terakhir ke Gunung Satalibo yang merupakan obyek kunjungan di Pulau Komodo yang letaknya paling jauh dari Loh Liang. Gunung ini sekaligus menjadi puncak tertinggi Pulau Komodo, tingginya 735 meter dpl. Dari puncaknya, wisatawan dapat menikmati pemandangan terbuka kawasan lain di seputar Pulau Komodo lengkap dengan hamparan laut serta pulau-pulau di sekelilingnya.
Setelah puas menyaksikan tingkah komodo dan menikmati semua pesona alam Pulau Komodo, jangan lewatkan untuk singgah ke Kampung Komodo. Lokasi yang kini menjadi tempat berkumpulnya orang asli Pulau Komodo jauh sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional, berada di pesisir pantai Pulau Komodo. Tepatnya sekitar tiga kilometer ke arah Barat dari Long Liang.
Banyak aktivitas menarik yang dapat dilihat di sana, bukan sekadar deretan perumahan panggung sederhana dengan lorong-lorong jalannya. Pun beragam aktivitas kehidupan nelayan yang lekat dengan laut serta panorama alam berupa aneka formasi batu karang, bukit-bukit bergelombang dan pesona matahari terbenam.
Rumah orang Kampung Komodo berukuran besar, biasa di tempati oleh beberapa keluarga. Ada sekitar 3.300 kepala keluarga yang tinggal di kampung Komodo. Warga setempat memanggil komodo dengan sebutan Ora. *
Read More...

Panti Cacat Damian dapat bantuan beras


Laporan Obi Lewanmeru, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
LABUAN BAJO, SPIRIT--Panti Cacat St. Damian Binongko, di Kelurahan Labuan Bajo, mendapat kunjungan istimewa dari pengelola lembaga sosial ekonomi dan investasi Lira Q Distrik Manggarai Barat (Mabar). Kunjungan itu sebagai rasa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama penghuni panti selain memberikan bantuan dan doa bersama. Saat kunjungan itu Lira Q memberi bantuan beras.
Pantauan SPIRIT NTT, Sabtu (12/1/2008) pukul 08.00 pagi, pimpinan distrik dan staf Lira Q dari dua kabupaten berada di lokasi rehabilitasi anak cacat di Binongko. Hadir dalam doa bersama Distrik Program Manager (DPM) Lira Q Mabar, Emerensiana N Mian, A.Md, Manager Personalia (MP), Ice Dima, dan sejumlah staf. Dari Distrik Manggarai hadir Manajer Personalia, Roni dan Supervisor Distrik Manajer, Oce Blaang.
Dalam kunjungan ke panti, pihak Lira Q kedua distrik memberikan bantuan berupa beras kepada pihak panti. Usai penyerahan bantuan dilanjutkan doa bersama sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Kunjungan ke Panti Cacat Binongko merupakan yang pertama kali dilakukan Lira Q distrik dua kabupaten itu.
Manager Personalia Distrik Manggarai, Roni, pada kesempatan itu mengatakan, apa yang dilakukan Lira Q sebagai rasa kepedulian dan kebersamaan terhadap penghuni panti. "Kita hadir untuk bersyukur bersama dan memberikan sedikit bantuan. Jangan dilihat jumlahnya, tapi sebagai wujud kebersamaan kami dengan penyandang cacat di Binongko," kata Roni.
Menurutnya, rasa keprihatinan dan kebersamaan itu bisa terwujud jika mereka bersama memanjatkan doa bersama dan memberikan sedikit bingkisan kepada penghuni panti.
Sementara DPM Lira Q Mabar, Emerensiana Mian, A.Md mengakui, apa yang digelar pihak Lira Q dari dua distrik sebagai rasa kepedulian terutama yang berada di panti cacat Binongko. "Jangan dilihat volume bantuan, tapi hal ini bentuk kebersamaan dan kepedulian yang kami wujudkan," kata Emerensiana.
Usai penyerahan bantuan, dilanjutkan dengan doa dipimpim Pater Anton Nahak. Pater Anton adalah salah satu pastor yang bertugas melayani penghuni Panti Binongko.
Lira Q juga melakukan acara refreshing di Pantai Binongko dengan membangun tenda untuk menginap semalam di lokasi panti. Mereka melakukan renungan malam, evaluasi selain berekreasi menjalin kebersamaan antara dua distrik.
Read More...

Komodo sedot 56.381 wisatawan dunia

Laporan Syarifah Sifat, SPIRIT NTT, 21-27 Januari 2008
KUPANG, SPIRIT--Ketertarikan para wisatawan mancanegara (Wisman) ke Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) untuk melihat satwa langka, komodo, terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2003 hingga 2006, wisman yang berkunjung ke daerah itu sebanyak 56.381 orang atau lebih tinggi dari kabupaten lainnya di NTT.
Kepala Seksi Analisa Pemasaran Sub Dinas (Subdin) Promosi, Dinas Pariwisata NTT, Thimotius Billi, mengatakan hal itu ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/1/2008) siang. Dia menjelaskan, secara umum laju kunjungan wisman di NTT tidak terlalu signifikan. Namun setiap tahun selalu meningkat.
"Wisman terbanyak ke NTT adalah Australia. Umumnya orang Australia, saat musim panas memilih berlibur di NTT. Karena itu, angka wisman tertinggi di NTT adalah warga Australia. Mereka juga yang paling banyak mengunjungi Mabar untuk melihat komodo," ujarnya.
Soal banyaknya kunjungan wisatawan ke Mabar, terlihat dari data yang menunjukan sejak tahun 2003-2007 sebanyak 71.290 orang. Urutan kedua adalah Ngada 53.265 wisman dan Ende 26.900 wisman.
Dia menyebutkan, hingga pertengahan Januari 2008, pihaknya belum menerima laporan tertulis dari beberapa kabupaten di NTT soal kunjungan wisman selama tahun 2007. Kabupaten yang belum melaporkan data itu, yakni TTS, TTU, Belu, Rote Ndao, Sumba Barat, Ende.
Sedangkan yang sudah melaporkan jumlah wisman yang sudah menyampaikan laporannya, yakni Kota Kupang sebanyak 2.017 orang, Kabupaten Kupang sebanyak 2.576 orang, Flores Timur sebanyak 185 orang, Sikka 1.035 orang, Ngada, 37.510 orang, Sumba Timur 2.173 orang dan Manggarai Barat, sebanyak 18.482 orang.
Menurut Billi, target pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisman, yakni membenahi obyek-obyek wisata, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang gerakan cinta pariwisata, seni dan budaya.
Maksudnya, masyarakat disadarkan untuk menyiapkan souvenir atau jasa-jasa lain yang berhubungan dengan kebutuhan wisman. Bila ini terjadi, maka pendapatan masyarakat tentu bertambah, karena jasa-jasa yang disiapkannya bisa mendatangkan rupiah.

Read More...

Kabupaten Kupang tercepat selesaikan laporan


Laporan Th Naisanu, SPIRIT NTT, 14-20 Januari 2008
KUPANG, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang memperoleh penghargaan dari Perwakilan BPKP Propinsi NTT karena merupakan kabupaten pertama yang telah menyelesaikan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan, Kamis (27/12/2007) di ruang rapat Bupati Kupang oleh Kabid Akuntabilitas Pemerintah Daerah Perwakilan BPKP Provinsi NTT, Yusrial Bachtiar, kepada pemerintah Kabupaten Kupang.
Pada kesempatan tersebut, Bachtiar membacakan sambutan Kepala Perwakilan BPKP Propinsi NTT, Hamonangan Simarmata. Dalam sambutannya, Simarmata menyampaikan selamat kepada Pemkab Kupang yang telah berhasil menyelesaikan penyusunan anggaran 2008 dengan bantuan program aplikasi sismtem informasi manajemen daerah (SIMDA).
Keberhasilan ini, kata Simarmata, tidak terlepas dari upaya keras staf keuangan dan para pengelola keuangan SKPD dalam menginput data anggaran tahun 2008. Perwakilan BPKP Propinsi NTT yang dipercaya sebagai mitra kerja dalam pengelolaan keuangan daerah sangat bangga atas keberhasilan Pemkab Kupang saat ini. "Kami berharap agar prestasi ini dipertahankan dan ditingkatkan di masa-masa mendatang," harapnya.
Dikatakannya, sejak terjalin kerja sama antara Pemkab kupang dengan Perwakilan BPKP Propinsi NTT tahun 2003, baru tahun anggaran 2008 diterapkan aplikasi SIMDA mulai dari penganggaran. Program aplikasi SIMDA yang diterapkan di Kabupaten Kupang saat ini adalah versi 2.1.12, yang telah memperoleh hak kekayaan intelektual dari Menhukkam. Versi ini telah disesuaikan dengan perubahan peraturan perundang-undangan yang terbaru dan disesuaikan dengan kebutuhan Kabupaten Kupang.
Simarmata menjelaskan, dengan menggunakan aplikasi SIMDA, banyak kemudahan yang diperoleh, di antaranya membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan keuangan daerah, kecepatan, ketepatan dan akurasi data yang disajikan dalam laporan-laporan keuangan yang akan disajikan untuk para stakeholder; menyampaikan data keuangan untuk keperluan manajemen lainnya; menyajikan informasi yang akurat secara efektif dan efisien yang akan digunakan oleh para pengguna laporan; data base yang telah tersimpan dalam program aplikasi SIMDA dapat dioleh sesuai kebutuhan. Selain itu, Pemkab Kupang lebih efektif dalam pelaksanaan penatausahaan dan akuntansi keuangan daerah.
Diuraikannya, setelah pemkab Kupang berhasil menyusun anggaran dan telah diinput dalam program aplikasi SIMDA, selanjutnya proses penerbitan SPD oleh BUD dapat dilakukan dengan program SIMDA, termasuk mencetak dokumen SPD yang akan diberikan kepada SKPD.
Gunakan aplikasi SIMDA
Kabag Humas Setda Kabupaten Kupang, Th Naisanu, menjelaskan, untuk Propinsi NTT, Kabupaten Kupang merupakan daerah pertama yang menyelesaikan DPA. Sementara itu, untuk Indonesia Kabupaten Kupang merupakan urutan kedua setelah Kabupaten Tuban. Naisanu optimis, bulan Januari 2008 sudah bisa melaksanakan anggaran tahun 2008.
Dikatakannya, penghargaan yang diberikan Perwakilan BPKP NTT kepada Pemkab Kupang karena Pemkab Kupang merupakan daerah yang tercepat dalam menyelesaikan DPA.
Dijelaskannya, total anggaran Kabupaten Kupang tahun 2008 sebesar Rp 627.358.922.202. Dari total tersebut, target pendapatan daerah sebesar Rp 509.093.984.494. Dengan demikian mengalami defisit anggaran sebesar Rp 118.264.937.708.
Kabid Akuntabilitas Pemerintah Daerah Perwakilan BPKP Propinsi NTT, Yusrial Bachtiar, yang ditemui di ruang kerjanya, menjelaskan, program aplikasi SIMDA dikembangkan oleh BPKP dalam rangka mengelola keuangan daerah yang cepat, tepat dan akurat. Di Propinsi NTT, baru Kabupaten Kupang dan Flores Timur yang telah menggunakan SIMDA. Sementara daerah lainnya masih menggunakan sistem manual.
Dijelaskan, daerah-daerah yang telah melaksanakan kerja sama dengan Perwakilan BPKP NTT adalah Kabupaten Ende, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Alor, Manggarai, Manggarai Barat. Sementara TTS, TTU dan Sikka baru menyusul. "Penghargaan itu berkaitan dengan pemkab untuk memperbaiki sistem pengelolaan keuangan daerah," ujarnya sembari menjelaskan, ke depan, pihaknya akan mendampingi staf dari SKPD sampai pada laporan-laporan yang dibutuhkan. *
Read More...