Spirit NTT 6-12 Oktober 2008
KEFAMENANU, SPIRIT--Kota Wini akan dijadikan sebagai pusat industri dan perdagangan terbesar di Kawasan Utara Pulau Timor, selain Kota Kupang. Untuk mewujudkan rencana ini, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) akan membentuk sebuah Badan Otorita untuk menggenjot Wini menjadi Kota Satelit.
Obsesi ini disampaikan Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, di hadapan panitia anggaran DPRD TTU dalam sidang pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Tahun Anggaran 2009 di Gedung DPRD setempat, Senin (6/10/2008) siang.
"Jika DPRD TTU setuju dan mendukung, maka pemerintah akan membentuk sebuah Badan Otorita Wini yang tugasnya adalah merencanakan, menyusun dan melaksanakan serta mengevaluasi program pengembangan Kota Wini sebagai Kota Satelit, sebagai pusat perdagangan dan perindustrian terbesar di kawasan utara Pulau Timor, selain Kota Kupang," jelas Bupati Manek.
Selama ini, program Kota Wini sebagai Kota Satelit yang diluncurkan sejak tahun 2002 terkesan berjalan di tempat. "Karena itu tugas Badan Otorita adalah menggenjot pelaksanaan pembangunan di Kota Wini. Badan Otorita Wini beranggotakan semua SKPD dan sektor terkait. Mereka harus bekerja keras didukung pendanaan yang cukup," tukasnya berharap.
Menanggapi ini, Dwiyanto Tantri Sanak, salah satu anggota panitia anggaran DPRD TTU, mengatakan jika ingin Kota Wini maju dan berkembang pesat, maka Pemkab TTU harus membangun dan mengembangkan Pelabuhan Wini sebagai pintu masuk.
"Saya baru dapat informasi penting yang harus ditangkap sebagai peluang. Sekarang ini, Pelabuhan Atapupu di Kabupaten Belu kewalahan menerima kapal yang membawa barang dagangan. Di Atapupu peti kemas menumpuk berbulan-bulan. Kapal enggan masuk karena kapasitas Pelabuhan Atapupu tidak memadai. Apalagi lautnya dangkal. Tapi di Pelabuhan Wini kita punya lahan yang masih luas untuk mengembangkan dan memperluas Pelabuhan Wini. Selain itu, lautnya dalam dan cocok untuk kapal besar bongkar muat barang di Wini," jelas Sanak.
Pekan lalu, kata Sanak, ia membawa kapal dari Surabaya untuk membongkar 75.000 zak semen di Pelabuhan Wini. "Dan nakhoda kapal mengatakan, lebih baik bongkar barang di Pelabuhan Wini dari pada di Pelabuhan Atapupu yang kapasitasnya tidak memungkinkan lagi. Dan dari diskusi lepas, pemilik kapal berjanji akan membongkar barang di Pelabuhan Wini jika gudang peti kemas dibangun tambah dari yang sudah ada. Selain itu, luas dermaga untuk tambat dan sandar kapal harus diperluas atau diperpanjang lagi," jelas Sanak mengutip keringinan para pemilik kapal barang.
Dikatakannya, jika Pelabuhan Wini sudah dibenahi, maka akan membawa efek 'kartu domino' bagi pengembangan industri dan perdagangan di Kawasan Pantai Utara Pulau Timor. "Roda perekonomian akan hidup, banyak uang berputar di TTU dan tidak dibawa pergi para pedagang ke Belu atau Kupang. Sebab barang mudah diperoleh di TTU melalui Pelabuhan Wini," kata Sanak optimis.
Menanggapi permintaan ini, Bupati Manek mengatakan, pada TA 2009 nanti, Pelabuhan Wini akan dikembangkan menjadi lebih luas lagi. (ade)
KEFAMENANU, SPIRIT--Kota Wini akan dijadikan sebagai pusat industri dan perdagangan terbesar di Kawasan Utara Pulau Timor, selain Kota Kupang. Untuk mewujudkan rencana ini, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) akan membentuk sebuah Badan Otorita untuk menggenjot Wini menjadi Kota Satelit.
Obsesi ini disampaikan Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, di hadapan panitia anggaran DPRD TTU dalam sidang pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Tahun Anggaran 2009 di Gedung DPRD setempat, Senin (6/10/2008) siang.
"Jika DPRD TTU setuju dan mendukung, maka pemerintah akan membentuk sebuah Badan Otorita Wini yang tugasnya adalah merencanakan, menyusun dan melaksanakan serta mengevaluasi program pengembangan Kota Wini sebagai Kota Satelit, sebagai pusat perdagangan dan perindustrian terbesar di kawasan utara Pulau Timor, selain Kota Kupang," jelas Bupati Manek.
Selama ini, program Kota Wini sebagai Kota Satelit yang diluncurkan sejak tahun 2002 terkesan berjalan di tempat. "Karena itu tugas Badan Otorita adalah menggenjot pelaksanaan pembangunan di Kota Wini. Badan Otorita Wini beranggotakan semua SKPD dan sektor terkait. Mereka harus bekerja keras didukung pendanaan yang cukup," tukasnya berharap.
Menanggapi ini, Dwiyanto Tantri Sanak, salah satu anggota panitia anggaran DPRD TTU, mengatakan jika ingin Kota Wini maju dan berkembang pesat, maka Pemkab TTU harus membangun dan mengembangkan Pelabuhan Wini sebagai pintu masuk.
"Saya baru dapat informasi penting yang harus ditangkap sebagai peluang. Sekarang ini, Pelabuhan Atapupu di Kabupaten Belu kewalahan menerima kapal yang membawa barang dagangan. Di Atapupu peti kemas menumpuk berbulan-bulan. Kapal enggan masuk karena kapasitas Pelabuhan Atapupu tidak memadai. Apalagi lautnya dangkal. Tapi di Pelabuhan Wini kita punya lahan yang masih luas untuk mengembangkan dan memperluas Pelabuhan Wini. Selain itu, lautnya dalam dan cocok untuk kapal besar bongkar muat barang di Wini," jelas Sanak.
Pekan lalu, kata Sanak, ia membawa kapal dari Surabaya untuk membongkar 75.000 zak semen di Pelabuhan Wini. "Dan nakhoda kapal mengatakan, lebih baik bongkar barang di Pelabuhan Wini dari pada di Pelabuhan Atapupu yang kapasitasnya tidak memungkinkan lagi. Dan dari diskusi lepas, pemilik kapal berjanji akan membongkar barang di Pelabuhan Wini jika gudang peti kemas dibangun tambah dari yang sudah ada. Selain itu, luas dermaga untuk tambat dan sandar kapal harus diperluas atau diperpanjang lagi," jelas Sanak mengutip keringinan para pemilik kapal barang.
Dikatakannya, jika Pelabuhan Wini sudah dibenahi, maka akan membawa efek 'kartu domino' bagi pengembangan industri dan perdagangan di Kawasan Pantai Utara Pulau Timor. "Roda perekonomian akan hidup, banyak uang berputar di TTU dan tidak dibawa pergi para pedagang ke Belu atau Kupang. Sebab barang mudah diperoleh di TTU melalui Pelabuhan Wini," kata Sanak optimis.
Menanggapi permintaan ini, Bupati Manek mengatakan, pada TA 2009 nanti, Pelabuhan Wini akan dikembangkan menjadi lebih luas lagi. (ade)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar