Spirit NTT, 6-12 Oktober 2008
KALABAHI, SPIRIT-- Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, minta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Propinsi NTT segera merampungkan pembangunan transmigrasi lokal (translok) sisipan di Desa Maritaing, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Capaian di lapangan baru 50 persen.
Pasalnya, gubernur dalam agenda kerja akan safari untuk peresmian translok di NTT, termasuk translok di Maritaing yang dijadwalkan tanggal 4 November 2008.
Kepala Dinas (Kadis) Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Alor, Muhamad Maro, S.H, saat dikonfirmasi SPIRIT NTT, Jumat (26/9/2008) di Kalabahi, menjelaskan, proyek transmigrasi sisipan ini adalah proyek tahun anggaran 2008 yang dikelola Dinas Nakertrans Propinsi NTT. Sementara Dinas Sosial dan Nakertrans Alor hanya membantu propinsi untuk pengawasan di lapangan, misalnya, ada kekurangan dalam pekerjaan, maka pihaknya menyampaikan kepada propinsi dan pihak propinsi meneruskan kepada kontraktor.
Mengenai perkembangan pekerjaan Translok Maritaing, Maro menjelaskan, sesuai data yang masuk, pekerjaan telah mencapai 50 persen untuk pembangunan 100 unit rumah translok.
Sesuai kontrak pekerjaan harus ramping tanggal 30 Oktober. "Informasi yang masuk, pak gubernur telah meminta dinas nakertrans propinsi untuk segera merampungkan pekerjaan proyek tersebut. Gubernur sudah memiliki agenda untuk safari guna peresmian translok di NTT termasuk translok sisipan Maritaing yang direncanakan akan diresmikan 4 November 2008," jelasnya.
Berkaitan itu, kata Maro, petugas Dinas Nakertrans Propinsi NTT, pada Kamis (25/9/2009) telah tiba di Kalabahi, dan Jumat (26/9/2009) langsung turun ke Desa Maritaing untuk melihat langsung perkembangan pembangunan translok sekaligus minta kontraktor segera menyelesaikannya.
Tentang sorotan masyarakat mengenai perkembangan pekerjaan yang terkesan lambat, dan kualitas pekerjaan yang dipertanyakan masyarakat, Maro menjelaskan, perkembangan fisik diatas 50 persen, namun pemakaian kayu masih menjadi pertanyaan karena yang harus dipakai sesuai spesifikasi yakni kayu klas dua sesuai kontrak.
Soal material yang disiapkan masyarakat, Maro mengaku telah menyampaikan kepada petugas di propinsi yang kunjungan kerja lapangan agar langsung komunikasikan dengan kontraktor untuk menyelesaikannya.
Mengenai nilai proyek translok, Maro mengaku dirinya tidak mengetahui besaran dana proyek karena dikelolah propinsi, termasuk kontraktor dari propinsi. (oma)
APA KATA MEREKA
* Marthen Malaikosa (Fraksi PDIP DPRD Alor)
Baru 50 persen
PELAKSANAAN proyek miliaran rupiah ini baru berjalan 50 persen. Sementara waktu pekerjaan segera berakhir. Juga, keluhan sejumlah buruh mengenai upah yang belum dibayar termasuk material lokal yang disiapkan oleh masyarakat setempat. (oma)
* Eduard Plaituka (Ketua BPD Maritaing)
Tak sesuai bestek
PERKEMBANGAN pekerjaan 100 unit rumah baru 50 persen. Juga masalah kualitas pembangunan pemukiman translok seperti fondasi kurang kuat, dan penggunaan kayu tidak sesuai bestek. Selain itu, material lokal milik masyarakat belum diselesaikan pembayarannya oleh kontraktor dan proyek ini tanpa papan nama di lokasi proyek. (oma)
KALABAHI, SPIRIT-- Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, minta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Propinsi NTT segera merampungkan pembangunan transmigrasi lokal (translok) sisipan di Desa Maritaing, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Capaian di lapangan baru 50 persen.
Pasalnya, gubernur dalam agenda kerja akan safari untuk peresmian translok di NTT, termasuk translok di Maritaing yang dijadwalkan tanggal 4 November 2008.
Kepala Dinas (Kadis) Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Alor, Muhamad Maro, S.H, saat dikonfirmasi SPIRIT NTT, Jumat (26/9/2008) di Kalabahi, menjelaskan, proyek transmigrasi sisipan ini adalah proyek tahun anggaran 2008 yang dikelola Dinas Nakertrans Propinsi NTT. Sementara Dinas Sosial dan Nakertrans Alor hanya membantu propinsi untuk pengawasan di lapangan, misalnya, ada kekurangan dalam pekerjaan, maka pihaknya menyampaikan kepada propinsi dan pihak propinsi meneruskan kepada kontraktor.
Mengenai perkembangan pekerjaan Translok Maritaing, Maro menjelaskan, sesuai data yang masuk, pekerjaan telah mencapai 50 persen untuk pembangunan 100 unit rumah translok.
Sesuai kontrak pekerjaan harus ramping tanggal 30 Oktober. "Informasi yang masuk, pak gubernur telah meminta dinas nakertrans propinsi untuk segera merampungkan pekerjaan proyek tersebut. Gubernur sudah memiliki agenda untuk safari guna peresmian translok di NTT termasuk translok sisipan Maritaing yang direncanakan akan diresmikan 4 November 2008," jelasnya.
Berkaitan itu, kata Maro, petugas Dinas Nakertrans Propinsi NTT, pada Kamis (25/9/2009) telah tiba di Kalabahi, dan Jumat (26/9/2009) langsung turun ke Desa Maritaing untuk melihat langsung perkembangan pembangunan translok sekaligus minta kontraktor segera menyelesaikannya.
Tentang sorotan masyarakat mengenai perkembangan pekerjaan yang terkesan lambat, dan kualitas pekerjaan yang dipertanyakan masyarakat, Maro menjelaskan, perkembangan fisik diatas 50 persen, namun pemakaian kayu masih menjadi pertanyaan karena yang harus dipakai sesuai spesifikasi yakni kayu klas dua sesuai kontrak.
Soal material yang disiapkan masyarakat, Maro mengaku telah menyampaikan kepada petugas di propinsi yang kunjungan kerja lapangan agar langsung komunikasikan dengan kontraktor untuk menyelesaikannya.
Mengenai nilai proyek translok, Maro mengaku dirinya tidak mengetahui besaran dana proyek karena dikelolah propinsi, termasuk kontraktor dari propinsi. (oma)
APA KATA MEREKA
* Marthen Malaikosa (Fraksi PDIP DPRD Alor)
Baru 50 persen
PELAKSANAAN proyek miliaran rupiah ini baru berjalan 50 persen. Sementara waktu pekerjaan segera berakhir. Juga, keluhan sejumlah buruh mengenai upah yang belum dibayar termasuk material lokal yang disiapkan oleh masyarakat setempat. (oma)
* Eduard Plaituka (Ketua BPD Maritaing)
Tak sesuai bestek
PERKEMBANGAN pekerjaan 100 unit rumah baru 50 persen. Juga masalah kualitas pembangunan pemukiman translok seperti fondasi kurang kuat, dan penggunaan kayu tidak sesuai bestek. Selain itu, material lokal milik masyarakat belum diselesaikan pembayarannya oleh kontraktor dan proyek ini tanpa papan nama di lokasi proyek. (oma)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar