Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Pilkada Sikka digelar 16 April 2008

Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

MAUMERE, SPIRIT--Kamis, 16 April 2008 mendatang, rakyat Sikka yang berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah kawin akan menggunakan hak politiknya untuk memilih secara langsung Bupati dan Wakil Bupati Sikka periode 2008-2013.
Demikian disampaikan Albertus Ben Bao, Ketua Divisi Sosialisasi pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sikka, saat menggelar jumpa pers dalam rangka publikasi persiapan pilkada di Ruang Pertemuan KPUD Sikka, Jalan Litbang Wairklau, Maumere, Rabu (5/12/2007).
Pihak KPU berharap semua pihak, para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tua adat, pengurus LSM serta pihak terkait lainnya menjaga suasana yang kondusif sehingga pilkada berlangsung aman dan lancar. Semua komponen perlu melakukan pencerahan dan penyadaran kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan mengikuti proses penyelenggaraan Pilkada 16 April 2008 mendatang secara demokratis.
Menurut Ben Bao, tahapan pilkada ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 pasal 02 ayat 04 tentang Pemberitahuan DPRD Kepada KPU Kabupaten Sikka mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah, yang perlu dilakukan secara tertulis, lima bulan sebelum berakhirnya masa jabatan. Dan, mengacuh pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 11 Tahun 2007 tentang Tahapan Pemilu.
Berdasarkan acuan ini, maka tahapan pelaksanaan Pilkada 2008, akan dimulai sejak 31 Desember 2007. Selain kepada KPU pemberitahuan DPRD Sikka perihal berakhirnya masa jabatan Bupati Sikka Drs. Alexander Longginus dan Wakil Bupati Sikka Drs. Yoseph Ansar Rera, ini juga akan disampaikan kepada Bupati dan Wakil Bupati Sikka.
Pada tahapan pra persiapan Pilkada 2008, KPU Sikka juga menggelar kegiatan sosialisasi Juklak dan Juknis yang sudah dimulai sejak 23 Oktober hingga 13 Desember 2007. Sosialisasi Juklak-Juknis ini dilakukan di 44 titik kegiatan, pada 21 kecamatan, 146 desa dan 13 kelurahan yang ada di Kabupaten Sikka.
Pelaksanaan sosialisasi ini, diikuti ratusan peserta yang terdiri dari para pengurus partai, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala desa, aparat desa dan masyarakat. Tim sosialisasi terdiri dari KPUD Sikka, Kesbang Pol Sikka, Dispenduk dan aparat kepolisian setempat.
Ben Bao yang saat itu didampingi Ketua Divisi Hukum dan Hubungan Luar, Thomas Aquino, Ketua Divisi Logistik dan Keuangan Pemilu, Yustinus Dharmoyuwono, Ketua Divisi Pencalonan, Vivano Bogar dan Kasubag Hukum dan Humas pada Sekertariat KPUD Sikka, Mega Suryati, juga menjelaskan tanggal 17 Desember diagendakan KPUD Sikka akan menerima data Potensi Penduduk Peserta Pemilu (DP4), dari Dinas Kependudukan Kabupaten Sikka.
Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) bersama para camat yang ada di Sikka, data sementara jumlah pemilih yang terdaftar Dispenduk 187.835 pemilih. Meningkat sekitar 5 persen dari jumlah pemilih 174.042 pemilih yang terdaftar di tahun 2004 lalu.
Dalam tahap persiapan KPUD Sikka juga menggelar rapat koordinasi dengan pihak keamanan, dengan agenda persiapan Pilkada Sikka 2008. (djo/humas pemkab sikka)
Read More...

TransNusa tidak tinggalkan Rote

Laporan Hermin Pello & Paschalis Tho, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT--PT TransNusa Air Service-Kupang tetap melayani penerbangan Kupang - Rote, asalkan jumlah penumpang pergi pulang (pp) bisa menutupi biaya operasional.
Hal ini disampaikan Manajer Pemasaran PT TransNusa Air Service-Kupang, Momi Surjatmoko, saat ditemui SPIRIT NTT di kantornya, Kamis (27/12/2007). "TransNusa tidak pernah meninggalkan Rote. Kami tetap komitmen untuk melayani Kabupaten Rote Ndao asalkan penumpang bisa menutupi biaya operasional. Awalnya penumpang dari Kupang ke Rote dan sebaliknya cukup banyak. Tapi lambat laun semakin berkurang. Sampai saat ini kami tetap membuka peluang ke daerah itu tetapi animonya sangat kecil, hanya empat atau lima orang saja," ujarnya.
Momi mengungkapkan hal itu terkait penilaian sejumlah kalangan bahwa TransNusa sudah meninggalkan Rote lantaran tidak melakukan penerbangan ke wilayah itu lagi. "Sekarang ini sudah ada tambahan satu ATR lagi, sehingga penerbangan ke wilayah tersebut sangat memungkinkan. Tetapi karena animonya sangat kecil, sehingga penerbangan tidak bisa dilakukan," katanya.
Menurut dia, penumpang dari Rote juga menghendaki bagasinya harus ditambah, padahal landasan bandara di wilayah itu pendek. Dengan lintasan yang pendek itu maka penumpang harus dibatasi, yakni 35 orang. Tarif tiket Kupang - Rote berkisar Rp 225.000,00 hingga Rp 261.000,00/penumpang.
Momi mengungkapkan, ada pejabat dari Rote yang datang ke Kantor TransNusa dan menuduh TransNusa tidak melakukan penerbangan padahal sudah ada subsidi. Pernyataan itu keliru karena untuk rute tersebut hingga kini tidak ada subsidi.
"Awalnya memang ada subsidi tetapi untuk penerbangan Merpati. Subsidinya berupa subsidi penerbangan, sehingga ada atau tidak ada penumpang, penerbangan tetap dilakukan. Mungkin karena hal itu, sehingga ada yang beranggapan subsidi masih ada," ujarnya.
Dikatakannya, sampai sekarang, rute Kupang-Rote tidak ada subsidi sehingga maskapai mana saja bisa masuk ke daerah tersebut. "Kami ini perusahaan jadi harus memperhitungkan bisnis. Kalau tidak ada penumpang, atau ada penumpang tapi jumlahnya tak mencukupi biaya operasional, maka kami tidak bisa melakukan penerbangan," jelasnya. *
Read More...

Pemerintah bantu petani gagal tanam dan panen

Laporan Sarifah S, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

BA'A, SPIRIT--Pemerintah Propinsi (Pemprop) Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao, memberi bantuan beras rawan pangan 45 ton kepada masyarakat Rote Ndao, khususnya yang mengalami gagal tanam dan gagal panen tahun berjalan. Bantuan diberikan kepada 1.500 kepala keluarga (KK) untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat setempat.
Kepala Bagian (Kabag) Sosial Setkab Rote Ndao, Drs. Yulius Tulle, menjelaskan hal itu kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (19/12/2007) pekan lalu. Tulle menjelaskan, bantuan beras 45 ton itu dibagikan hampir di semua kecamatan.
"Bantuan bersifat stimulan sebagai upaya pemerintah mengurangi beban masyarakat, khususnya petani yang terkena dampak bencana yang mengakibatkan gagal panen dan gagal tanam. Hal ini agar masyarakat dapat menikmati makanan pada masa transisi menjelang dan setelah musim tanam akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008," kata Tulle.
Tentang realisasi beras rawan pangan ini, Yulius mengaku sudah direalisasi 30 ton dan dibagikan kepada sejumlah keluarga dengan jatah 20kg/KK. Sisanya 15 ton belum disalurkan karena menunggu permintaan dari setiap camat. "Jadi, jatah beras rawan pangan untuk Rote Ndao 45 ton sudah disalurkan 30 ton kepada masyarakat di 24 desa. Sisanya 15 ton belum disalurkan karena masih menunggu permintaan dari camat. Beras rawan pangan dibagikan kepada masyarakat yang memang benar-benar mengalami gagal tanam dan panen sebagaimana data yang diusulkan para camat," jelas Tulle.
Soal kriteria calon penerima bantuan beras rawan pangan, Tulle mengaku, semua masyarakat yang mengalami gagal tanam dan gagal panen berhak menerima bantuan itu. Dan, untuk menentukannya diserahkan kepada masing-masing camat. "Sampai saat ini delapan camat ajukan 73 desa yang terkena bencana rawan pangan, namun yang dikabulkan dan memperoleh beras rawan pangan cuma 24 desa dari 73 desa yang diusulkan," tegasnya. *
Read More...

Bangun SPBU di Bumi Sasando Permai

Laporan Sarifah S, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

BA'A, SPIRIT-- Pengusaha lokal dari Kupang (pemilik Toko Piet-- Red) menjajaki salah satu lokasi di wilayah di sekitar lokasi perkantoran baru "Bumi Sasando Permai" di Lekunik, Kabupaten Rote Ndao, untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah tersebut. Pembangunan SPBU untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).
Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Rote Ndao, N ST Haning, S.E, menjelaskan hal itu kepada SPIRIT NTT di Ba'a, Senin (24/12/2007). Haning mengaku, pihaknya sudah menerima surat permintaan usaha pembangunan SPBU yang diajukan manajemen Toko Piet. Saat ini surat permohonan membangun usaha tersebut sedang dikaji dinas terkait.
"Surat dari Toko Piet sudah kami terima dan saat ini sedang kita kaji. Rencananya mereka akan bangun SPBU tahun 2008 di lokasi milik Toko Piet di kompleks perkantoran baru," kata Haning.
Menurutnya, untuk membangun sebuah SPBU dibutuhkan sejumlah kajian, bukan cuma kajian secara bisnis dan sosial, tetapi juga kajian lingkungan seperti UKL dan UPL atau amdal. "Surat yang masuk ditujukan ke Bapedalda. Ini penting agar pihak Bapedalda dapat mengkaji secara teknis persoalan lingkungan sebagai dampak pembangunan SPBU di wilayah itu. Kalau Bapedalda rekomendasikan buat UKL-UPL atau Amdal, maka pengusaha harus buat karena hal itu penting untuk lingkungan," kata Haning.
Soal izin amdal yang saat ini sedang ditunggu pengusaha, Haning mengatakan, masalah UKL-UPL atau amdal menjadi urusan Bapedalda. Dan hal ini sudah diamanatkan dalam peraturan daerah. Pengusaha bisa langsung menghubungi pihak Bapedalda karena untuk meneliti soal amdal atau UKL-UPL juga harus ada bahan dari pengusaha bersangkutan.
Mengenai ada keinginan pihak lain ikut membangun SPBU selain Toko Piet, Haning menjelaskan, khusus Kabupaten Rote Ndao yang saat ini memiliki penduduk 100 ribu lebih dengan jumlah kendaraan didominasi kendaraan dinas, satu SPBU sudah cukup. Namun ke depan tidak tertutup kemungkinan untuk ditambahkan SPBU di Rote Ndao. "Bangun satu dulu sambil lihat perkembangan kebutuhan masyarakat. Walaupun modalnya dari pengusaha, namun pemerintah bisa mengendalikan bidang usaha agar tidak merugikan pengusaha," jelasnya. *
Read More...

Joel Jacob: Flexi buka isolasi komunikasi

Laporan Sarifah S, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

BA'A, SPIRIT--Sekretaris Kabupaten (Sekab) Rote Ndao, Drs. Joel Jacob, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Telkom Flexi di daerah itu sebagai sarana membuka isolasi komunikasi.
Untuk Rote Ndao, PT Telkom Kupang menargetkan 3.000 pelanggan Flexi.
"Selain membuka isolasi komunikasi, kehadiran flexi turut membantu mempercepat proses pembangunan di daerah ini," ujar Joel Jacob pada acara soft launching Flexi di Hotel Ricky Ba'a, Sabtu (15//12/2007) malam.
Sementara Manajer PT Telkom Kupang, Jacky James Ndun mengatakan, di Kota Kupang pertumbuhan pengguna Flexi sangat pesat, diikuti Kabupaten Belu dan TTS karena biaya lebih murah, yakni untuk percakapan tarifnya sangat hemat Rp 49,00/menit all time (semua waktu) dalam satu area, dan SMS untuk classy Rp 75,00 dan trendy Rp 85,00 ke semua Flexi.
"Di Atambua kami baru on air sudah terdaftar ratusan pelanggan baru. Melihat antusiasnya pemakai Flexi maka tahun 2008 kami akan buka sayap ke semua kota di Nusa Tenggara Timur. Tahun 2008 di Pulau Flores juga sudah bisa menikmati pelayanan Flexi. Target kami tahun 2008, 500 lokasi terpasang BTS," kata Ndun. Acara launching Flexi dihadiri Kepala PT Telkom Rote Ndao, Kajari Ba'a serta pejabat lainnya.
Pada saat itu, Sekab Joel Jacob didaulat menghubungi Bupati Rote Ndao, Christian Dillak, yang berada di Bogor dan Wakil Bupati, Bernard Pelle, namun hand phone kedua pejabat ini tidak aktif. Ia kemudian menghubungi Ketua DPRD Rote, Zakarias Manafe yang langsung menjawab telepon.
Zakarias mengaku tak hadir pada acara tersebut karena sakit perut namun ia ucapkan terima kasih atas kehadiran Flexi di Rote Ndao, khususnya Kota Ba'a. "Saya sakit perut, pak sekda salam saja buat Pak Jacky," kata Zakarias.
Ndun mengakui, pemasangan Flexi di Pulau Rote karena memiliki area yang sama dengan Kupang. "Area yang baru terlayani 10 km dari wilayah Rote Barat hingga pelabuhan feri, Bandara Laikunik, Rote Barat Daya dan Kota Ba'a. Lainnya sedang dalam proses," kata Ndun. *
Read More...

Golkar ingatkan pemerintah siapkan benih cadangan

Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

MAUMERE, SPIRIT--Menghadapi musim tanam dan datangnya musim penghujan tahun 2007, Fraksi Partai Golkar DPRD Sikka mengingatkan pemerintah agar bersiap-siap dan menghadapi kemungkinan gagal tanam. Pengalaman tahun-tahun silam membuktikan bahwa kebanyakan petani menanam lebih awal. Ketika hujan terhenti, benih yang ditanam petani banyak yang mati, karena itu pemerintah diminta menyiapkan benih cadangan.
Atas kejadian tersebut Fraksi Partai Golkar menyarankan kepada pemerintah agar menyiapkan benih cadangan atau benih pengganti yang lebih bermutu. Selain benih, pemerintah juga diharapkan dapat mengadakan stock opname terhadap persediaan pupuk, meningkatkan kerja sama lintas sektor khususnya anatara Dinas Pertanian dan distributor sebagai pemasok pupuk sehingga hasil pertanian dapat lebih meningkat.
Ir. Rafael Raga, yang membacakan pendapat akhir fraksi Partai Golkar lebih lanjut masih mengingatkan pemerintah agar segera menempuh langkah-langkah antisipasi menghadapi musim hujan dengan berbagai ancaman bencana seperti banjir, tanah longsor, gelombang pasang, penumpukan sampah dan datangnya berbagai penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan demam berdarah.
Pendapat akhir fraksi beringin ini disampaikan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sikka yang berlangsung Sabtu (29/12/2007), menandai berakhirnya masa sidang dan seluruh kegiatan DPRD tahun 2007.
Rapat Paripurna pada penghujung tahun 2007 itu, selain menetapkan sejumlah Ranperda menjadi Peraturan Daerah, juga menjadi momentum bersejarah. Momentum itu ditandai dengan penyerahan Surat Pemberitahuan DPRD kepada Bupati dan Wakil Bupati Sikka tentang akan berakhirnya masa jabatan mereka pada lima bulan yang akan datang, yakni pada tanggal 31 Mei 2008. *
Read More...

Warga Rote dan Alor waspadai badai Melanie

Laporan ANTARA, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT--Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Meteorologi dan Geofisika Klas I Kupang menyatakan badai topan tropis atau Tropical Cyclone (TC) Melanie yang terbentuk akibat tekanan udara rendah di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai bergerak ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga Rote dan sekitarnya dan sebagian wilayah Flores dan Alor, agar mewaspadai badai tersebut.
"Badai TC Melanie berupa angin kencang dan hujan deras itu berdampak ke wilayah NTT sehingga semua pihak perlu mewaspadainya," kata Kepala Stasiun Meteorologi dan Geofisika Klas I Kupang, Rivai Marulak, di Kupang, Sabtu (29/12/2007).
Marulak mengatakan, pihaknya telah menginformasikan pergerakan Badai TC Melanie itu kepada unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) NTT untuk ditindaklanjuti, terutama agar berbagai lapisan masyarakat melakukan langkah-langkah antisipasi.
Dia juga mengharapkan Pemerintah Propinsi NTT mengkoordinasikan adanya pergerakan badai Melanie itu ke pemerintah kabupaten/kota di wilayah NTT. Arah selatan NTT yakni Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao dan sekitarnya serta sebagian wilayah Flores dan Alor.
"Semoga badai Melanie tidak mencuat di wilayah NTT meskipun pergerakan badai dari wilayah selatan NTB sudah terjadi. Kalau pun terjadi berbagai pihak telah mengetahuinya dan tentu bisa mengantisipasi dampaknya," ujar Marulak.
Asisten Tata Praja Setda NTT, Yos Mamulak, S.IP, mengatakan, peringatan dini BMG itu juga telah diteruskan sistem informasi deteksi dini tsunami yang lazim disebut Indonesian Tsunami Early Warning System (InaTEWS) yang terpasang di Pusat Krisis Kebencanaan Kantor Badan Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kupang.
Nomor telepon selullar yang terkoneksi dengan Ina TEWS itu dapat penerima peringatan dini BMG yang diteruskan sistem deteksi dini itu. Sementara ini, NTT belum memiliki sistem peringatan dini cuaca/iklim yang lazim disebut Meteorological Climatological Early Warning System (MC-EWS).
InaTEWS terdiri dari beberapa komponen yakni sistem monitoring dengan sensor seismograph, accelerograph, tide gauges, DART buoys dan Global Position System (GPS), sistem pengolahan untuk memperoleh lokasi dan magnitude gempa dan sistem penyabaran informasi ke pemerintah daerah untuk dapat meneruskan kepada msyarakat yang terancam.
Komponen lainnya berupa sistem kesiapsiagaan pemerintah daerah untuk dapat menindaklanjuti informasi atau peringatan dini dari BMG.
Menurut Mamulak yang adalah mantan Kepala Badan Linmas NTT itu, Pemerintah Provinsi NTT membangun sistem penyebaran informasi dan kesiapsiagaan, sementara BMG menyediakan sistem monitoring dan pengolahan data informasi bencana yang didukung komputer server dengan spesifikasi sistem berbasis web dan radio internet (Ranet).
"Setelah BMG menghasilkan informasi atau peringatan dini, maka akan diteruskan ke Pusat Krisis Kebencanaan yang didirikan pemerintah daerah untuk selanjutnya diteruskan ke masyarakat," jelasnya. *
Read More...

Janda Nekbaun terima kado Natal

Laporan Beny Jahang, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT---Para janda dan anak yatim piatu di Desa Nekbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, mendapat kado Natal dari Yayasan Gerakan Peduli Sosial (YGPS) Nusa Tenggara Timur (NTT). Yayasan ini menyalurkan bantuan sebanyak 152 paket.
Bantuan 'peduli kasih' bagi Jemaat Gereja Nazaret, Riumata diberikan dalam momen hari Raya Natal 25 Desember 2007 yang diserahkan secara simbolis oleh Direktur YGPS NTT, Wong A, kepada tujuh perwakilan jemaat GMIT Nazaret-Riumata, Minggu (23/12/2007).
Penerima bantuan terdiri dari orang jompo, anak yatim piatu, para janda anggota jemaat Gereja GMIT Nazaret. Ketua Harian YGPS, GB Mboeik, dalam sambutannya mengatakan, bantuan 'peduli kasih' itu diberikan YGPS NTT sebagai wujud panggilan kemanusiaan untuk membantu warga NTT yang belum beruntung.
"Kita berikan bantuan agar masyarakat di lingkungan Jemaat Gereja Nazaret Riumata bisa merayakan perayaan Natal dengan perasaan suka cita. Kami memberikan bantuan tidak ada kepentingan, semua dilakukan untuk membantu warga yang belum beruntung," kata Mboeik.
Dalam kesempatan yang sama, Penatua Jemaat Nazaret, Agus Amtiran, mengatakan, selaku unsur majelis gereja pihaknya bersyukur dengan kado Natal bagi warga GMIT Nazaret. Bantuan ini sangat berarti bagi warga di daerah terpencil seperti ini.
Kado Natal yang diberikan YGPS NTT antara lain berupa beras, minuman ringan dan biskuit. Selain itu, YPGS NTT juga memberikan bantuan dana bagi sejumlah anak yatim piatu, serta membantu kas gereja dan orang jompo. *
Read More...

Profil Desa Heo Puat

Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

* BIDANG PENDIDIKAN
Tak bedanya dengan desa lain yang ada di Kabupaten Sikka, pendidikan di Desa Heo Puat juga menghadapi masalah meningkatnya drop out (DO) anak-anak usia sekolah. Peningkatan angka DO ini, selain akibat kondisi perekonomian keluarga, juga disebabkan pada rendahnya minat dan kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak.
Padahal di Kecamatan Hewokloang, telah berdiri sarana pendidikan yang memadai guna pendekatan pelayanan di sektor pendidikan. Dari data tahun 2006, di Heo Puat sendiri terdapat 50 orang laki-laki dan 75 orang perempuan buta aksara total.
* BIDANG SARANA DAN PRASARANA
Pada bidang sarana dan prasarana yang mengakses ke Desa Heo Puat, masih minim dan baru terpenuhi sekitar 45 persen. Baik di sektor arus transportasi jalan, informasi dan sarana penerangan serta bidang lainnya.
Kondisi ruas jalan, baik yang menghubungkan Heo Puat dengan ibu kota kecamatan maupun kabupaten sangat memrihatinkan. Rusak parah. Dengan kondisi jalan seperti ini, mengakibatkan arus transportasi keluar masuk Desa Heo Puat menjadi tidak lancar. Hal ini menimbulkan masalah baru, antara lain memperparah perekonomian di desa tersebut.
Minimnya perolehan informasi juga menjadi permasalahan serius yang dihadapi masyarakat. Terhambatnya akses informasi oleh masyarakat selain akibat kondisi jalan yang rusak parah. Juga akibat topografi menuju desa yang berbukit-bukit dan curam.
Selain dua masalah di atas, penerangan juga merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat yang harus diprioritaskan. Hingga kini, kondisi penerangan di Heo Puat juga memrihatinkan dan berdampak pada lumpuhnya aktivitas perekonomian pada jam malam.
* BIDANG AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Mayoritas penduduk Heo Puat memeluk Katolik Roma. Setiap hari minggu, umat Katholik Heo Puat giat mengikuti perayaan ekaristi. Banyak anak tanah Heo Puat yang memilih untuk hidup membiara, baik sebagai biarawan maupun biarawati.
Desa Heo Puat sendiri menjadi salah satu sentra kebudayaan di Wilayah Kecamatan Hewokloang. Selain kaya dengan hasil budaya kerajinan tangan menenun, juga kaya dengan kerajinan tangan seperti hiasan dinding dan lainnya dari bahan baku lokal.
Seni musik dan tarian daerah setempat juga menjadi asset wisata budaya yang belum dikelola secara baik. Walau demikian, pihak sekolah telah membentuk sanggar-sanggar kesenian, dalam upaya meregenerasikan budaya dan mempertahankan kebudayaan yang ada.
* STRUKTUR ORGANISASI
- Kepala Desa Heo Puat : Philipus Moa
- Sekertaris Desa Heo Puat : Agustina Hoba
Desa Heo Puat juga terdapat lima aparat desa, sebagai Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Umum, Kepala Seksi Keamanan, Kepala Seksi Pajak dan Retribusi serta Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan.
Desa Heo Puat juga terdapat lima anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sebagai mitra kerja Kepala Desa Heo Puat dalam rangka menyukseskan penyelenggaraan pembangunan di Heo. (djo) Read More...

Diservis karena kebutuhan

Oleh John Oriwis
Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

SEORANG waria bernama Dede Teke alias De'a. Melamun sendirian di Taman Kota. Malam itu, Jumat (30/11/2007), memang sepi pengunjung. Apalagi besoknya adalah peringatan Hari Kesehatan Nasional dan Hari AIDS Sedunia, tepatnya Sabtu (1/12/2007). Dalam kesendiriannya, De'a melamun begini.
"Setiap tanggal satu di awal bulan Desember, Indonesiaku memperingati hari kesehatan. Dan seluruh isi dunia merayakan hari AIDS. Mungkin karena besok adalah peringatan dua hari besar itu, sehingga malam ini saya harus sendirian bersama gelap dan dinginnya malam," duga De'a.
"Kejamnya lagi, untuk merayakan hari kesehatan dan apalagi Hari AIDS Sedunia, seluruh isi puisi drama dan pidato yang dipentaskan, selalu menyudutkan kami para waria dan pelacur-pelacur itu, sebagai biang penyakit menular dan penular virus HIV/AIDS. Padahal bagi kami, inilah dunia yang normal dan wajar yang harus kami jalani. Lagian mereka sendiri tahu, bahwa kami para waria dan pelacur- pelacur itu tidak pantas untuk didekati, tapi selalu saja mereka datang sebagai pria hidung belang yang tidak waras dan meminta "diservis" demi kebutuhan untuk dipuaskan dan demi kebutuhan hidup. Maka servis itu pun kami lakoni karena kebutuhan-kebutuhan tadi," keluh De'a lagi.
"Anehnya lagi, dan ini memang benar-benar aneh. Kami yang sering mangkal di taman kota ini, dikeremangan dan di kali-kali mati, selau mendapat razia. Mereka itu juga berteriak bahwa pelacuran, penyimpangan perilaku seks dan perselingkuhan dilarang dan sangat berbahaya, rentan terhadap penularan penyakit dan penyebaran virus HIV/AIDS. Tapi sebagian dari mereka mendukung, memberi izin berdirinya tempat hiburan, serta mereka juga yang selalu mangkal di tempat-tempat pelayanan jasa "servis" di bidang itu tu."
Gila memang. Sedikit lagi dunia ini menjadi gila. Orang-orang yang melarang kami itulah, yang selalu mendahului kami datang di tempat hiburan. Mereka pula yang sangat membutuhkan kami. Jadi mereka itu yang merazia kami, melarang kami, mensosialisasikan bahwa kami berbahaya, tapi mereka jugalah yang begitu membutuhkan kami.
Sekarang malah saya yang bingung. Saya atau mereka yang menjadi biang penyakit menular dan pembawa virus HIV/AIDS? Mebi yes mebi nou. *
Read More...

Wawasan remaja tentang HIV/AIDS perlu ditingkatkan

Laporan Lorens Nale/Humas Sikka, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

MAUMERE, SPIRIT--Wawasan dan pengetahuan masyarakat terutama para remaja tentang bahaya virus HIV (Human Immunnodefieciendy Virus) perlu ditingkatkan. Dengan demikian akan mengurangi dan menekan angka penderita virus mematikan itu. Selain itu, berbagai komponen dituntut untuk terus melakukan sosialisasi tentang risiko dan ancaman virus HIV/AIDS terhadap kehidupan manusia.
Hal ini diungkapkan dr. Asep Purnama, S.Pd, Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) TC Hillers Maumere saat memaparkan makalah berjudul HIV/AIDS dan Narkoba dikalangan remaja pada seminar sehari memperingati Hari AIDS Sedunia di Kampus Unipa Maumere, Sabtu (1/12/2007). Seminar ini digelar dalam rangka pelaksanaan Dies Natalis ke-2 Unipa Maumere.
Menurut Asep, dari tahun ke tahun kasus penderita HIV/AIDS terus meningkat tajam. Kabupaten Sikka sendiri mengalami peningkatan, di tahun 2002 sebanyak 12 persen kasus HIV yang ditangani pihak rumah sakit, sedangkan tahun 2007 meningkat menjadi 62 persen.
Selain dr. Asep Purnama, juga tampil sebagai pembicara dalam seminar yang dibuka Pembantu Rektor 1 Unipa itu adalah Drs. Yosep Ansar Rera, Wakil Bupati Sikka, selaku Ketua Badan Narkotika Sikka.
Dalam makalahnya berjudul Koordinasi dan Penanggulangan HIV/AIDS dan Narkoba oleh Pemkab Sikka, Ansar Rera menjelaskan bahwa nakotika merupakan alat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman sintetis atau bukan sintetis yang menyebabkan menurunnya perubahan kesadaran, hilang rasa, mengurangi sampai mengurangi rasa nyeri yang dapat menimbulkan rasa ketergantungan.
"Dampak dari penggunaan narkotika adalah daya tahan tubuh menurun secara dratis. Hal ini bisa menyebabkan penyakit ginjal, hati, lambung, hipertensi, radang saraf yang mengakibatkan kematian," katanya.
Khusus di Kabupaten Sikka, diakui Ansar Rera, penderita narkoba terdiri dari enam kasus, lima kasus narkoba dengan menggunakan jarum suntik, empat meninggal dunia dan satu orang dibawa ke Jakarta untuk berobat, sedangkan satu orang sedang diproses hukum di Pengadilan Negeri Maumere.
Melalui Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 tertanggal 17/04/2007, katanya, Pemerintah Kabupaten Sikka telah membentuk Badan Narkotika Kabupaten Sikka, yang bertugas mendorong peran serta masyarakat yang berhubungan dengan pencegahan dan pembatasan dan penyalahgunaan narkoba serta mempunyai fungsi untuk menjalankan kebijakan strategi BNN yang berhubungan dengan pencegahan dan peredaran narkoba serta melakukan pengawasan pengendalian peredaran narkoba.
Ansar Rera mengharapkan agar penanggulangan masalah ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan negara. Seminar yang dimoderatori Yohanes M Vianney Sanda, Ketua Program Studi Fakultas Sosial Unipa, ini dihadiri seluruh sivitas akademika Unipa, pembantu rektor, para dosen dan pegawai tata usaha lainnya.
Sementara Yohanes Brechmans Tana Boleng, Ketua Yayasan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (YAKKESTRA), dalam makalahnya berjudul, "Kaum muda dalam penanggulangan HIV/AIDS," menjelaskan, dalam diri kaum muda ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan, yakni aspek psikologis, kejiwaan masih labil, mencari identitas diri dan mengidolakan yang lain, mudah terbawa arus zaman dan ingin mencoba-coba yang baru. Aspek sosial meliputi kelompok sosial yang suka berkumpul di luar rumah dan hiburan.
Pada aspek ekonomi, terjadi kecenderungan konsumtif dan usia produktif. Jika tidak dikelola dan diarahkan secara baik, katanya, akan mengarah kepada pengelolaan yang negatif. Menurut Brechmans, berdasarkan hasil investigasi lapangan, mayoritas adalah kaum muda, ojek dan buruh. Berdasarkan pengakuan waria, mereka telah melayani banyak kaum muda dan memberi mereka uang, rokok dan pulsa.
Andia Dekrita S.E. M.M, Koordinator Panitia Seminar dan Wisuda yang juga sebagai Ketua Prodi Fakultas Ekonomi, dalam laporannya menjelaskan masa remaja merupakan masa yang penuh risiko, perubahan fisik berjalan begitu cepat yang diikuti dengan perubahan dalam sikap dan tingkah laku. Pada masa ini, katanya, timbul rasa ingin tahu, mau coba-coba bertindak sesuai dengan dorongan pribadi. "Di sini mulai timbul masalah merokok, miras, ganja dan ada kesadaran untuk berubah, namun timbul konflik dan pergaulan bebas," ujarnya.
Karena itu, lanjut Andia, kaum muda harus memiliki pemahaman tentang HIV/AIDS dan mereka diarahkan untuk hidup waspada, tidak jatuh dalam pergaulan bebas dan persoalan yang menimbulkan penyakit menular. *
Read More...

Rakyat Sikka perlu mndapat pendidikan politik

Laporan Endang/Humas Sikka, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

MAUMERE, SPIRIT--Pemilihan kepala daerah (pilkada) bukan merupakan tujuan tetapi suatu sarana untuk mensejahterakan rakyat. Oleh karena itu, semua pihak, termasuk para pengurus partai politik dan pengurus organisasi kemasyarakatan, diharapkan mampu memberikan pemahaman serta pendidikan politik secara lebih baik kepada masyarakat agar penyelenggaraan pilkada Kabupaten Sikka tahun 2008 dilaksanakan secara tertib, aman dan lancar.
Demikian ditegaskan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus, ketika membuka kegiatan sosialisasi pemilihan kepala daerah tingkat kabupaten bagi para pengurus partai politik dan pengurus organisasi kemasyarakatan se-Kabupaten Sikka, di Aula Dinas Pendapatan Daerah Sikka, pekan lalu.
Dikatakannya, Pilkada Sikka 2008 merupakan proses pemilihan kepala daerah pertama yang dilaksanakan secara langsung oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya berbagai perubahan paradigma atau regulasi peraturan perundang-undangan ke arah pemerintahan yang desentralistis setelah sebelumnya berlaku sistem pemerintahan yang sentralistik, di mana segala sesuatu lebih banyak diatur dan ditentukan oleh pemerintah pusat dengan berbagai aturan yang ditetapkan.
Menurut Bupati Longginus, perubahan paradigma tersebut, di satu sisi merupakan peluang bagi masyarakat di daerah untuk lebih leluasa merencanakan, melaksanakan dan mengawasi atau mengendalikan berbagai program pembangunan yang lebih menyentuh pada kebutuhan dan harapan masyarakatnya. Namun di pihak lain pemerintah daerah dituntut untuk lebih profesional dalam menyelenggarakan pemerintahan walaupun dihadapkan dengan berbagai keterbatasan sumber daya yang tersedia.
Oleh karena itu, demikian Longginus, seluruh komponen masyarakat perlu mengetahui dan mendalami isi serta makna dari berbagai regulasi yang ada terutama Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2003 tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan dan Pemberhetian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah beserta berbagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya.
Kepada para peserta sosialisasi, Bupati Longginus mengharapkan agar dapat mengikuti kegiatan sosialisasi secara baik sehingga dapat memeperoleh pengetahuan serta pemahaman yang lebih mendalam, yang pada akhirnya dapat memberikan informasi dan pembelajaran politik bagi masyarakat terutama dalam partai atau organisasinya.
Panitia penyelenggara, Drs. Sirajudin Paskalis, dalam laporannya menyebut tujuan sosialisasi untuk menyamakan persepsi atau pemahaman, sikap serta tindakan para pengurus partai politik dan pengurus organisasi kemasyarakatan agar seluruh proses pelaksanaan Pilkada 2008 di Kabupaten Sikka dapat berjalan baik, tertib, aman dan lancar demi terpilihnya pemimpin Sikka yang berkualitas guna mewujudkan masyarakat Sikka yang maju dan sejahtera. Hadir pada kesempatan itu, Asisten Tata Praja, Drs. Leo Bachtiar da Lopez, serta undangan lainnya.*
Read More...

Dishub Kota koordinasi dengan pemprop NTT

Laporan Rosalia Woso, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT--Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kupang akan berkoordinasi dengan Dishub NTT untuk menata masuknya bus-bus antarkota. Hingga saat ini, Dishub Kota belum memiliki perangkat aturan tentang jadwal masuknya bus-bus antarkota untuk menurunkan dan mengangkut penumpang dalam kota.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Kupang, Drs. Semuel Dima mengatakan hal itu di Kantor DPRD Kota Kupang, Senin (17/12/2007. Semuel dikonfirmasi sehubungan beroperasinya bus-bus antarkabupaten yang mengantar dan mengangkut penumpang dalam kota ini. Kondisi ini dinilai berbagai kalangan sebagai tindakan melanggar aturan. Bus-bus itu seharusnya parkir di Terminal Oebobo. Menurut Semuel, dinas perhubungan hanya menarik retribusi terminal Rp 2.000,00/bus/harinya.
Semuel menambahkan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan NTT untuk menata masuknya bus-bus antarkota itu. Pasalnya, jika tak ditata secara baik akan mengganggu lalu lintas dalam kota ini.
Ketika ditanya tentang pemasangan rambu-rambu jalan, Semuel menambahkan, pemasangan rambu-rambu itu menjadi wewenang dishub. Sebelum memasang rambu-rambu lalu lintas, pihaknya melakukan koordinasi dengan polisi dan kepala wilayah seperti camat dan lurah setempat.
Koordinasi itu, kata Semuel, agar para camat dan lurah mengetahui langkah-langkah yang diambil dishub. Dishub, tegasnya, selalu melakukan sosialisasi dengan semua pihak tentang pemasangan rambu-rambu lalu lintas. *
Read More...

Daniel Adoe syaratkan empat kualitas

Laporan Rosalia Woso, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

TAHUN baru 2008, segera menjelang. Berjalan selaras waktu, Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, pun memasang 'jurus-jurus' baru sebagai kriteria dalam memilih dan menempatkan 'kabinetnya.'
Jurus-jurus baru itu disebutnya 'empat kualitas'. Yakni kualitas moral, kualitas intelektual, kualitas kerja dan kualitas pengabdian. "Mutasi pejabat eselon II pada tahun 2008 nanti diprioritaskan untuk para pejabat yang memiliki empat kualitas ini," kata Daniel Adoe menanggapi pemandangan umum fraksi DPRD Kota Kupang di ruang sidang DPRD Kota Kupang, Kamis (27/12/2007). Tanggapan ini mengemuka ketika Fraksi PDIP DPRD Kota Kupang menyoroti tentang mutasi pejabat yang dilakukan Walikota Kupang.
Menurut Adoe, yang dikonfirmasi SPIRIT NTT usai memberikan tanggapan menegaskan, dirinya akan melakukan mutasi di tahun 2008 setelah badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan (Baperjakat) melakukan rapat secara interen.
Pejabat eselon II itu, kata Adoe, akan dipertimbangkan secara matang dengan prioritas empat kualitas yang disoroti Fraksi PDIP tersebut. Menurut Adoe, dari jumlah pejabat eselon II itu, sekitar 50 persen pejabat akan dimutasikan. Siapa-siapa yang dimutasi? Hanya walikota yang mengetahuinya. *
Read More...

Kontaktor diminta perbaiki tanggul penahan gelombang

Laporan Oby Lewanmeru, Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum (PU) Manggarai Barat (Mabar), Ir. Petrus Lengo, meminta kontraktor agar segera memperbaiki tanggul pengaman/penahan gelombang di Kampung Ujung, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, yang baru dibangun beberapa bulan lalu jebol dihempas gelombang.
"Proyek ini masih dalam tahap pemeliharaan sehingga saya menginformasikan kepada kontraktor untuk segera memperbaikinya," ujar Lengo di Labuan Bajo, Senin (26/12/2007).
Pantauan SPIRIT NTT, Rabu ( 26/12/2007 ), tanggul dibangun di sepanjang pantai Kampung Ujung jebol di sejumlah titik. Sejauh mata memandang tanggul yang pembuatannya cukup bagus ini jebol diduga akibat penimbunan yang kurang padat sehingga saat dihempas gelombang langsung ambruk.
Beberapa titik tembok yang jebol cukup parah mulai terlihat dari ujung timur di mana terjadi kerusakan atau timbunan yang turun kurang lebih 15 sentimeter. Khusus di bagian timur atau arah kiri Pelabuhan Pariwisata tampak tiga titik yang parah. Jebolnya tanggul itu umumnya berada pada posisi dekat dinding tembok penyangga. Pengerjaan tanggul penahan gelombang baru dikerjakan beberapa bulan lalu, namun saat ini sudah rusak. Terdapat tiga titik yang mengalami kerusakan parah mulai dari bagian paling timur atau depan pangkalan minyak tanah tampak dasar timbunan tanggul jebol. Diduga kurang digilas saat proses pemadatan.
Tanggul yang terletak di bibir pantai ini dibuat karena ada dermaga pariwisata dari kayu di lokasi itu. Dermaga ini tempat berlabuh kapal nelayan maupun kapal wisatawan yang membawa tamu asing (turis).
Sejumlah warga mengaku, jebolnya tanggul ini akibat naiknya air laut (gelombang pasang), Minggu (23/12/2007) dan Senin (24/12/2007). "Kami lihat tanggul jebol karena air laut pasang di Kampung Ujung. Kami harap pemerintah segera menanganinya," kata Mahmud, warga Kampung Ujung. Mahmud menilai pengerjaan tanggul penahan gelombang ini mutunya kurang bagus.
Sementara Frans Wangari, selaku kontraktor pelaksana proyek itu dihubungi SPIRIT NTT dari Labuan Bajo ke Ruteng mengatakan, pihaknya sudah menurunkan staf untuk melihat kondisi kerusakan tanggul dan segera diperbaiki. "Saya bertanggung jawab dan akan perbaiki tanggul yang jebol itu karena masih dalam masa pemeliharaan," kata Frans.*
Read More...

Fragmen meriahkan perayaan malam Natal

Laporan Oby Lewanmeru, Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Perayaan malam Natal 24 Desember 2007 di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Labuan Bajo dimeriahkan fragmen/drama tentang kelahiran Yesus. Sementara perayaan Natal 25 Desember 2007 di gereja setempat berlangsung hikmat.
"Perayaan Natal yang dirayakan umat Kristiani diharapkan bisa menjembatani semua jurang pemisah sehingga Natal bisa berarti bagi dunia," demikian kotbah Ketua Majelis Jemaat GMIT Gunung Zalmon, Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), Pdt. Jeky F Latuperissa, S.Th, Selasa (25/12/2007).
Menurut Pdt. Jeky, Natal jangan dipandang sebagai suatu pesta rutinitas, tapi momen bagi umat kristiani untuk berani mendobrak jurang pemisah yang selama ini ada dalam kehidupan umat. "Dengan jurang pemisah membuat umat merasa egois, namun momen Natal membawa damai. Natal perlu membawa pembaharuan dalam diri dan bukan hanya ada senang-senang. Yesus lahir mencari orang yang terhilang untuk datang padaNya," katanya.
Di gereja Paroki Roh Kudus-Labuan Bajo misa Natal, Selasa (25/12/2007) pagi dilakukan dua kali dipimpin pastor paroki, Rm. Beni Jehadun, Pr. Romo Beni mengajak umat merendahkan diri seperti Yesus Kristus yang datang sebagai pelayan umat manusia.
Pada malam Natal, Senin (24/12/2007), ibadah berlangsung aman. Misa malam Natal di Gereja Paroki Roh Kudus dipimpin, Pastor Paroki, Rm. Beni Jehadun, Pr, di GMIT Gunung Zalmon dipimpin Vikaris, Markus Y Leunupun, S.Th.
Markus Leunupun, S.Th mengajak umat jangan menjadi pendusta, mengaku mengasihi Allah tapi membenci sesamanya. Sementara kebaktian Natal di Gereja Pantekosta Bukit Sion dipimpin Pdt. Hartono. Sementara di GBI dipandu Pdt. Wily Syukur. *
Read More...

Pemerintah atasi longsoran di Ndiuk

Laporan Oby Lewanmeru, Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Pemrintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) melalui dinas pekerjaan umum (PU) setempat berupaya mengatasi longsoran di Ndiuk yang menyebabkan ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Kuwus dengan Kecamatan Macang Pacar, terputus.
"Kalau tidak hujan pekerjaannya sudah tuntas. Saya minta maaf kepada masyarakat karena kondisi jalan itu, tetapi saya tetap berupaya agar ruas jalan itu secepatnya dilalui kendaraan," ujar Kadis PU Mabar, Ir. Petrus Lengo, di Labuan Bajo, Jumat (28/12/2007).
Lengo mengakui, lokasi longsoran di Ndiuk merupakan daerah rawan, jika hujan terus bertambah, maka longsoran tetap terjadi. "Kami sudah menurunkan alat berat, namun karena hujan terus mengguyur membuat pekerjaan terhambat," katanya.
Informasi yang diperoleh SPIRIT NTT di Labuan Bajo, Jumat (28/12/2007), menyebutkan, jalur transportasi antara dua kecamatan itu lumpuh akibat longsoran yang menimpa salah satu ruas jalan, tepatnya di Ndiuk, Desa Golo Lewe, Kecamatan Kuwus, yang panjangnya sekitar 300 meter sehingga dilangsungkan angkutan estafet. Baik penumpang maupun barang yang diangkut harus diturunkan di lokasi longsor, diangkut oleh manusia lalu melanjutkan dengan menumpang angkutan umum yang menunggu di seberang jalan yang longsor itu.
Sementara kendaraan roda dua ada yang terpaksa menyewa warga setempat memikulnya ke seberang. Ada juga sejumlah kendaraan dari Macang Pacar yang ingin ke Ruteng terpaksa melewati jalur Terang-Nggorang-Ruteng dan sebaliknya, kecuali sejumlah colt yang terpaksa melakukan estafet penumpang dalam artian penumpang yang ingin ke Macang Pacar turun di lokasi longsor kemudian menumpang lagi mobil yang lain ke Macang Pacar. Kondisi itu sudah berlangsung kurang lebih tiga bulan.
Sejumlah pengemudi truk penumpang yang ditemui di Terminal Nggorang mengakui kondisi itu. Menurut mereka, transportasi belakangan ini cukup macet atau tidak lancar akibat longsor di Ndeuk. Meski begitu pendapatan mereka tidak menurun atau stabil karena penumpang yang ada juga tetap bepergian, hanya saja estafet sehingga mereka merasa pelayanan kurang efektif.
"Kami harap pemerintah secepatnya memperbaiki jalan yang putus itu, paling tidak mencari jalan alternatif. Kalau kami tidak begitu masyarakat di dua kecamatan itu cukup sulit memasarkan hasil atau produk mereka karena harus melewati longsoran dengan berjalan kaki," kata dua pengemudi truk colt, Agustinus dan Florianus.
Menurut Agustinus, selama ini kendaraan yang dikemudikannya mengangkut penumpang dari Macang Pacar (Bari)-Ruteng yang terpaksa harus melewati Terang dan cukup memakan waktu lama selain tidak bisa menghemat bahan bakar. Tentang penumpang, ia mengakui ada, namun agak kesulitan jika harus melewati lokasi longsor. Karena itu artinya mereka harus menurunkan penumpang itu dan kembali, sedangkan penumpang itu akan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain yang berada di seberang lokasi longsor. *
Read More...

Tanam 2.500 anakan, kejutan di penghujung 2007

Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT--Dimotori Drs. Kristo Blasin, DPRD Propinsi NTT melalui Forum Parlemen Indonesia untuk kependudukan dan pembangunan, lagi-lagi membuat sensasi dengan melakukan kegiatan gebyar di penghujung tahun 2007. Wakil rakyat itu menanam 2.500 anakan pohon sebagai wujud kepeduliannya terhadap lingkungan.
Sebelumnya, para wakil rakyat ini membuat gebrakan melalui kegiatan 'Wakil Rakyat Peduli HIV/AIDS.' Kegiatan ini dilatarbelakangi masih tingginya tingkat infeksi virus HIV/AIDS di kalangan masyarakat NTT yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Dalam kegiatan ini, wakil rakyat tidak segan-segan mengunjungi beberapa lokalisasi prostitusi di Kota Kupang, Belu dan Sikka.
Di penghujung tahun 2007, wakil rakyat ini kembali membuat kejutan dengan membuat suatu kegiatan spektakuler yang didukung penuh seluruh elemen masyarakat Kota Kupang. Kegiatan itu bertajuk, "Wakil Rakyat Peduli Lingkungan." Yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah krisis lingkungan yang terus mencemaskan telah menimbulkan berbagai masalah ikutan termasuk perubahan iklim (climate changes) yang berdampak pada terjadinya berbagai bencana kekeringan, banjir, tanah longsor dan tsunami. Anakan pohon yang ditanam sebanyak 2.500 anakan, terdiri dari mahoni 500 anakan; angsana 1.000
anakan; sengon 500 anakan; dan gelodok 500 anakan.
Selain menanam 2.500 anakan, wakil rakyat (DPRD NTT) juga melakukan beberapa kegiatan seperti workshop pengurangan dampak risiko bencana. Dalam workshop ini dibahas secara khusus kondisi lingkungan di NTT serta kebijakan-kebijakan yang harus dilakukan pemerintah dan DPRD dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.
Kegiatan lainnya, wakil rakyat melakukan dialog interaktif dengan masyarakat melalui TVRI SPK Kupang, TV Madika, RRI, dan radio swasta lainya serta sejumlah media massa (lokal maupun regional/nasional). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan-masukan dari publik secara langsung mengenai kebijakan-kebijakan lingkungan. Kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah pameran tanaman, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan rasa cinta, peduli dan perhatian masyarakat terhadap tanaman.
"Di NTT, kondisi lingkungan menunjukkan perubahan ke arah yang makin memrihatinkan," kata Ketua Forum Parlemen, Drs. Kristo Blasin, dalam sambutan
pembukaan kegiatan tersebut di Lantai I Gedung DPRD NTT, 15 Desember 2007.
Kekeringan ini berdampak pada kelaparan, penurunan debit air yang mengakibatkan kurangnya ketersediaan air bersih dan suplai air untuk lahan pertanian merupakan masalah yang serius di NTT. (ga'a/humas dprd ntt)
Degradasi lahan meningkat
DATA memperlihatkan bahwa degradasi lahan di NTT mengalami peningkatan yang sangat berarti dan telah mencapai 2.195.756 ha atau 46 persen dari luas wilayah NTT. Indikasi ini diperkuat dengan laju kehilangan hutan yang terus meningkat. Contohnya, di Pulau Sumba rata-rata kehilangan hutannya sekitar 6.000 ha/tahun, sehingga tutupan hutan saat ini tinggal sekitar tujuh persen.
Upaya pemerintah dalam menanggulangi degradasi sumber daya lahan ini, diakui Kriston Blasin, semakin sulit karena fakta memperlihatkan bahwa rata-rata laju peningkatan lahan kritis selama 20 tahun terakhir mencapai 15.163,65 ha/tahun, sedangkan kemampuan pemerintah melaksanakan rehabilitasi hanya 3.615 ha/tahun. Dengan demikian, deviasi antara laju degradasi dan upaya penanaman mencapai 4:1. Deviasi akan meningkat tajam menjadi 8:1 apabila presentase tumbuh tanaman hanya mencapai 50 persen.
Selain itu, tekanan sumber daya hutan dan lahan makin meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan pakat ternak yang sangat tinggi terutama ternak sapi dan kerbau yang mencapai 5.334.264 ton/tahun serta kebutuhan kayu bakar maupun bahan bangunan yang terus meningkat (data forum DAS)
"Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah lingkungan harus dipandang sebagai masalah yang serius untuk ditangani terutama dari sisi kebijakan penanganannya," tegas Kristo Blasin.
Menurutnya, upaya merehabilitasi lingkungan termasuk gerakan penanaman pohon harus ditingkatkan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya. Aksi-aksi nyata seperti penanama pohon, peningkatan kesadaran cinta lingkungan serta pola pembangunan dan perilaku yang mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan harus didorong.
"Tidak ada pilihan, selain meningkatkan kesadaran penanaman pohon serta kepedulian terhadap lingkungan melalui perubahan pola perilaku yang merusak lingkungan. Saat ini sejumlah komponen masyarakat dan pemerintah melaksanakan gerakan penanaman pohon secara massal di berbagai tempat. Aksi nyata penanaman pohon serta berbagai bentuk kampanye peningkatan kesadaran masyarakat maupun para pengambil kebijakan publik harus tetap digalakkan," tegasnya.
Pada sisi lain, lanjutnya, para pengambil kebijakan publik juga harus berperan aktif menempatkan isu lingkungan sebagai isu serius untuk ditangani dan
menjadi bagian integral dari kebijakan publik.
DPRD sebagai wakil rakyat dan salah satu pilar pengambil kebijakan publik, katanya, diharapkan dapat melahirkan berbagai acuan bagi kebijakan untuk penanganan masalah tersebut yang lebih efektif. Dalam rangka mendukung tugas DPRD tersebut, maka perlu diupayakan peningkatan kapasitas dan kepedulian DPRD terutama dalam kaitannya dengan isu lingkungan.
"Karena itu Forum Parlemen Indonesia untuk kependudukan dan pembangunan DPRD NTT bekerja sama dengan badan/dinas serta organisasi kemasyarakataan menyelenggarakan aksi bersama bertemakan,"Wakil Rakyat Peduli Lingkungan," ujarnya. (gaa/humas dprd ntt)
Read More...

Mell Adoe titipkan sejumlah harapan

Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT--Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe, dalam pidato politiknya menitipkan sejumlah harapan kepada Pemerintah Propinsi NTT untuk ditindaklanjuti dalam pelaksanaan anggaran tahun 2008.
Pidato politik ini disampaikan Mell Adoe ketika menutup Sidang III Tahun 2007 DPRD NTT dan Sidang Khusus Pembahasan dan Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTT Tahun Anggaran 2008, di Ruang Sidang Utama gedung DPRD NTT, Selasa (18/12/2007).
Mell Adoe mengatakan mayoritas penduduk NTT yang masih tergolong miskin, senantiasa mengharapkan bantuan dan sentuhan perhatian pemerintah melalui berbagai program dan kebijakan yang disertai dengan alokasi anggaran yang benar-benar menyentuh kehidupan mereka.
Masyarakat dan rakyat NTT yang paternalistik, menurut Mell Adoe-- yang juga merupakan salah satu bakal calon Gubernur NTT periode 2008-2012 tersebut, senantiasa mengharapkan keteladanan pimpinan yang berpikir dan berbicara dari hati dan mengalir dalam tindak perbuatan yang selalu berpihak pada rakyat.
Menyinggung soal APBD yang baru saja ditetapkan menjadi Perda Propinsi NTT Timur No. 12 Tahun 2007, tanggal 17 Desember 2007, menurut Mell Adoe, bahwa
peraturan daerah sebagai sebuah kebijakan publik adalah instrumen politik, sekaligus payung hukum bagi pemerintah untuk melayani masyarakat melalui program dan kegiatan yang dijabarkan dalam anggaran.
Secara kuantitatif, lanjutnya, APBD NTT 2008 ditetapkan sebesar Rp 930.007 miliar lebih atau naik sebesar 8,99 persen dari APBD 2007. "Kenaikan yang cukup signifikan tentu berkaitan erat dengan peningkatan volume kegiatan baik dalam bidangpemerintahan, pembangunan, maupun kemasyarakatan pada tahun 2008," katanya.
Terkait momentum akbar Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta pilkada di beberapa daerah di NTT tahun 2008, Mell Adoe mengimbau kepada seluruh komponen terkait di daerah ini, baik pemerintah, KPUD selaku penyelenggara, pihak keamanan, partai politik dan segenap elemen kemasyarakatan lainnya agar secara dini mempersiapkan pelaksanaannya dengan mantap, agar pelaksanaan pilkada berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Dan kepada seluruh rakyat NTT, Mell Adoe meminta tetap menjaga suasana
persaudaraan, persatuan, dan kesatuan, tanpa terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memecah belah kerukunan di antara kita. "Mari kita tetap jadikan daerah NTT sebagai sebuah taman impian yang penuh dengan kebahagiaan, persaudaraan dan kejayaan," ujarnya. (gaa/humas dprd ntt)
PESAN PIMPINAN DAN ANGGOTA
DPRD NTT MENYAMBUT TAHUN 2008
* Dalam semangat cinta kebenaran dan rasa keadilan rakyat, hendaknya berbagai kasus korupsi yang belum tuntas, mendapat perhatian aparat penegak hukum untuk dituntaskan.
* Bahwa kepedulian dan kewaspadaan yang tinggi atas terjadinya musibah-musibah bencana alam di daerah ini.
* Program-program dan gerakan penyelamatan lingkungan mendapat perhatian serius ke depan. Untuk itu kita hargai upaya elemen masyarakat yang berpartisipasi, FORUM PARLEMEN NTT, perguruan tinggi, sekolah-sekolah
dan elemen-elemen lainnya.
* Pelayanan kebutuhan dasar rakyat agar benar-benar menjadi perhatian pemerintah, kelangkaan minyak tanah juga meresahkan masyarakat.
*Keamanan dan kedamaian, menjadi harapan masyarakat, terlebih dalam suasana natal.
* Tingkatkan kerukunan dan persaudaraan, hindari sikap-sikap provokatif yang mengganggu ketenangan kita. (gaa/humas dprd ntt) Read More...

Iklim berubah, manusia dan ternak makan putak

Oleh Yan Meko *
Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

DATARAN gersang dengan rumput kering terbentang luas di pantai utara Pulau Timor. Di beberapa bagian dataran tampak beberapa bukit dengan sedikit pohon dan semak belukar yang agak hijau. Sekilas kawasan itu tampak berwarna seperti seragam loreng militer : kuning, hijau dan coklat kehitam-hitaman.
Itulah pemandangan bulan November 2007 di daerah pantai utara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang juga merupakan daerah batas negara Indonesia dengan sepotong wilayah Timor Leste yang bernama Oecusi. Pemandangan yang lumrah di Pulau Timor dan beberapa pulau lain di NTT ketika dipanggang matahari musim kemarau.
Dari puncak sebuah bukit, di antara pemukiman warga, seorang bocah perempuan sembilan tahunan tertatih mengikuti langkah kedua orang tuanya menuruni jalan berbatu. Kaki bocah yang tanpa alas sandal itu sesekali digerakkan lebih cepat menghindari sengatan panas bumi yang dipijaknya. Tangan bocah berambut ikal itu memegang sebuah kemasan plastik yang berisi air minum. Bocah itu oleh ayahnya dipanggil dengan nama Lia.
Lia hari itu seharusnya duduk manis di bangku sekolah. Namun, pada hari Kamis, 8 November 2007 itu dia terpaksa memilih meliburkan diri untuk bergabung bersama orang tuanya mencari sesuatu untuk mempertahankan hidup.
Arah perjalanan Lia sekeluarga menuju selatan, tempat pohon-pohon gewang, sejenis palma yang banyak tumbuh liar di daratan Timor. Peralatan yang dibawa ayah Lia seperti kapak dan parang menandakan keluarga itu akan menebang pohon.
"Kami mau ke daerah sebelah, mau menebang pohon gewang. Mengambil putak untuk dijadikan makanan," ujar Ayah Lia, Blasius Kolo. Berapa tahun terakhir ini penduduk kawasan itu selalu gagal panen karena hujan jarang dan kemarau panjang. Padi sawah juga gagal tumbuh karena debit air sungai turun drastis, saluran irigasi kering. Tapi manusia harus bertahan hidup. Putak, serat batang gewang, yang biasanya untuk makanan babi, diolah menjadi tepung kasar untuk makanan manusia.
"Sejak lima tahun lalu ketika memasuki bulan November hingga Maret kami warga sekitar daerah pantai selalu berbondong-bondong menebang gewang untuk mendapatkan putak. Dulu pohon gewang yang tumbuh liar bisa ditebang siapa saja. Tapi sekarang pohon gewang harus dibeli dari pemiliknya dengan cara barter. Sebatang pohon gewang ditukar dengan anak babi berumur lima atau enam bulan," tutur Blasius.
Daerah pantai utara Kabupaten TTU dihuni enam suku yakni tiga suku asli setempat (Naibenu, Insana, Biboki) dan tiga suku pendatang (Rote, Sabu dan Belu).Secara administratif kawasan pantai ini terletak dalam wilayah dua kecamatan yakni Insana Utara dan Biboki Anleu.
Wilayah ini pada era 1980-an cukup terkenal dengan ranch sapi Australia (PT. Timlico) dan lumbung beras yang lumayan bagi daerah sekitar. Kini malah berubah menjadi kawasan yang menderita kurang pangan. Sejak 17 tahun lalu PT. Timlico gulung tikar, boss-nya Mr. Hendrik kembali ke negara asalnya, Australia. Sementara areal sawah pantai utara seluas 3.670 ha dan ladang seluas 2.632 ha, produktivitasnya terus menurun, bahkan akhirnya tidak berfungsi sama sekali karena ketiadaan air akibat hujan jarang turun disambung kemarau yang berkepanjangan.
Tinggalkan pertanian, kerja serabutan
Perubahan iklim yang tidak dapat diperkirakan masyarakat awam, berdampak pada perubahan aktivitas warga. Banyak petani dan peternak terpaksa banting stir, beralih menjadi nelayan yang dengan perahu sederhana atau menjadi tukang ojek dan pedagang lintas-batas ilegal lewat jalan-jalan tikus ke Oecusi. Distrik Oecusi adalah bagian dari bekas jajahan Portugal yang berintegrasi dengan Indonesia, menjadi provinsi Timor Timur, tapi kemudian memisahkan diri menjadi negara sendiri, Timor Leste, melalui penentuan pendapat di bawah pengawasan PBB.
Mereka yang menjadi nelayan hanya mengandalkan sampan-sampan kecil yang panjangnya berkisar 3 - 5 meter dan lebar 40-60 cm. Dengan sampan sekecil itu warga hanya bisa memancing atau menebar pukat tembang di perairan dangkal. Penghasilannya tergantung nasib atau kemurahan laut. Terkadang semalam bisa mendapat tangkapan ikan sebanyak satu atau dua ember atau sebaliknya pulang dengan tangan kosong. Bantuan 10 unit kapal lampara dari Pemerintah Daerah Kabupaten TTU tidak begitu membantu perubahan pada kehidupan warga pesisir, karena kapal-kapal tersebut merupakan kapal kontrak seharga Rp 30 juta per tahun.
"Saya terpaksa meninggalkan pekerjaan sebagai petani peternak karena tiap tahun selalu gagal panen. Kadang tanaman pertanian rusak karena kebanyakan hujan, atau sebaliknya padi dan jagung mati kekeringan kalau hujan jarang turun dan kemarau panjang," ujar Zakarias Sila mengisahkan upayanya meninggalkan pertanian dan mengadu nasib di laut. Kini dia bersama sembilan warga lainnya mengontrak sebuah kapal lampara milik Pemda TTU.
"Harapan kami, kehadiran kapal tersebut dapat mengubah kehidupan kami tetapi ternyata faktanya tidak demikian. Rumah saya tetap berdinding bebak (pelepah pohon gewang). Sebelumnya saya punya sampan kecil dan menjaring tiap hari di sekitar perairan ini. Penghasilan antara sampan kecil dan kapal lampara tidak ada bedanya, hanya cukup untuk makan sekeluarga. Nilai kontrak kapal lampara mencapai Rp 30 juta per tahun, bagi kami terlalu mahal. Sudah dua tahun ini kami kerja hanya untuk setor kepada Pemda TTU," cerita Zakarias lebih lanjut.
Sebagian warga tidak menyia-yiakan kesempatan tinggal di batas negara. Mereka menjadi pedagang sembako kecil-kecilan melewati jalan-jalan tikus kendati taruhannya adalah fisik bahkan nyawa apabila kepergok aparat batas kedua negara. Tetapi warga pesisir Pantai Utara yang dihuni oleh 4.360 Kepala Keluarga (KK) atau 19.684 jiwa tampaknya tidak banyak pilihan lain. Sejumlah warga terus menyelundupkan sembako dan BBM secara kecil-kecilan ke Oecusi, enclave Timor Leste di wilayah Timor Barat. Bagi mereka jalan tikus adalah jalan kemanusiaan untuk hidup.
"Saya tinggal tepat di garis batas. Sebagai petani kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena kemarau yang panjang. Daripada mati lapar lebih baik saya berdagang barang-barang kebutuhan pokok secara kecil-kecilan ke Oecusi. Apalagi hampir setiap minggu saya melihat empat-lima truk membawa berbagai jenis barang dan juga mobil tangki BBM menuju Oecusi," cerita seorang pria lain yang memohon identitasnya tidak dipublikasikan.
Mengumpulkan putak
Di kejauhan terdengar bunyi kapak bertalu-talu, sesekali terdengar dentuman keras sebagai tanda pohon-pohon gewang telah tumbang ke bumi yang kering. Asap putih di beberapa titik membubung tinggi d iantara gerombol pohon-pohon gewang.Tampaknya warga langsung melakukan proses pengasapan putak di tempat penebangan.
Hari itu keluarga Lia bersama delapan keluarga lainnya menebang pohon gewang untuk mengumpulkan putak di tempat yang sama. Lia, si bocah kecil nampak cekatan mengumpulkan hasil cincangan putak dan memasukkan ke sebuah bakul lalu membawanya sekitar 30 meter ke sebuah para-para yang telah dibangun sebelumnya. Di bawah para-para setinggi satusetangah meter itu dipasang api yang lebih banyak diberi dedaunan segar untuk memperbanyak asap. Ibu bocah itu yang mengontrol asap pada para-para, sesekali menerima bakul kecil dari tangan Lia dan menumpahkan isinya di atas para-para.
Matahari sudah meninggi. Keluarga Lia berhenti sejenak untuk makan siang di bawah bayangan pohon gewang. Ibu Lia membuka kemasan kumal yang sebelumnya digantung pada sebatang pohon kering. Isinya makanan sangat sederhana orang Timor: jagung katemak (biji utuh) dicampur kacang-kacangan dan beberapa ekor ikan kering . Itulah pengganjal perut keluarga Lia di siang itu.
Serat gewang atau putak dicincang untuk dijadikan tepung dan kemudian diolah menjadi makanan. Putak sengaja dijemur dan diasapi langsung di tempat penebangan untuk mengurangi beratnya dan mempercepat proses kering. Sedangkan batangan pohon gewang yang dipotong sepanjang sekitar 80 cm untuk makanan ternak karena seratnya lebih keras. "Babi atau sapi kalau diberi makan putak akan lebih gemuk dan lebih berat. Jadi satu pohon putak tidak semuanya dijadikan makanan manusia, tetapi kami pisahkan bagian yang keras untuk makanan ternak," Kolo menjelaskan, seusai makan siang.
Matahari sudah mulai condong ke barat. Tiupan angin kering menggoyang daun-daun gewang. Para penebang pohon gewang bergegas menyelesaikan pembersihan serat putak. Cincangan serat putak yang diasapi belum juga mengering kendati dibantu panas matahari. Gelondongan pohon putak yang terlihat bagai drum ukuran kecil, pada kedua sisinya di paku dengan dua buah batang kayu sebesar ibu jari kaki. Batangan kayu itu diikatkan dengan tali gewang untuk kemudian ditarik, bergulir seperti roda stomwals menuju ke kandang ternak warga.
Gewang dan adaptasi perubahan iklim
Malam semakin merayap, keluarga Lia sudah kembali sampai rumah di Kelurahan Ponu, Kecamatan Biboki Anleu. Di rumah, Lia bersama ibunya bergegas ke dapur dan mencincang lagi beberapa batang putak untuk kemudian direbus untuk langsung bisa dimakan.
Ternyata serat putak juga dapat dimakan langsung tanpa diolah jadi tepung. Batangan putak yang dipotong kecil-kecil berukuran 25 x 10 cm itu bisa langsung direbus dengan daun asam muda sebagai penyedap.
Setelah matang, potongan-potongan kecil putak ditiriskan lalu dapat dimakan langsung bagi yang warga yang masih bergigi kuat. Sementara warga yang sudah tua dan ompong harus menggunakan batu titih untuk membuat potongan putak menjadi pipih. Daging kelapa bisa menjadi pelengkap makan putak. Malam itu keluarga Lia yang berjumlah tujuh orang menjadikan serat-serat pohon gewang menjadi hidangan malam penghantar mimpi.
Cincangan putak yang telah diasapi harus terus dijemur lagi selama dua atau tiga hari hingga kering. Cincangan putak ini kemudian ditumbuk untuk diambil tepungnya dan diolah jadi makanan yang oleh penduduk daerah setempat disebut Put laka (tepung putak yang dicampur dengan parutan kelapa), lalu dibakar di tungku selama dua atau tiga menit menggunakan media khusus yang terbuat dari tanah liat.
Tahun demi tahun telah berlalu. Sudah hampir 17 tahun warga pantai utara TTU mengalami bencana demi bencana kesulitan pangan akibat musim hujan pendek dengan curah hujan yang rendah serta kemarau yang kering dan panjang. Daerah itu yang pernah dikenal sebagai penghasil beras dan ternak sapi, kini hanya tinggal kenangan. Mungkin lantaran eksplotiasi alam yang tidak seimbang, belum lagi dampak perubahan iklim global.
Pemanasan global dan perubahan iklim telah memaksa ribuan warga yang bermukim kawasan pantai utara TTU harus menyiasati hidup. Berhari-hari makan putak dengan kelapa tanpa sayur atau lauk lainnya dapat mengakibatkan kurang gizi. Daya tahan tubuh lemah, penyakit-penyakit lain mudah menyerang.
Lia si bocah berumur sembilan tahun itu bersama tiga adiknya harus bertahan hidup dengan putak. Hari ini makan putak. Besok makan putak. Tahun depan, kalau masih ada umur, mungkin masih harus juga makan putak ditemani parutan kelapa.
Putak dari gewang adalah anugerah alam Timor. Ketika berbagai jenis pohon lain sulit bertahan terhadap iklim Timor yang kering, pohon gewang tegar berdiri siap memberikan karbohidrat bagi manusia dan ternak orang-orang Timor yang gagal panen jagung, padi dan kacang-kacangan akibat musim hujan yang pendek disambung kemarau panjang yang kering.
Menurut penelitian para ilmuwan yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), padi dan tanaman pangan biji-bijian lainnya termasuk yang rentan terhadap perubahan iklim. Bagian reproduktif tanaman-tanaman pangan itu yang disebut spikelet akan menjadi steril bila suhu meningkat, sehingga mempengaruhi produktivitasnya. Jadi pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim selain mempengaruhi ketersediaan air ,bagi tanaman pangan, juga menyebabkan tanaman yang masih bertahan hidup pun tidak produktif. Timor yang sejak dulu dikenal sebagai wilayah kering, mungkin seharusnya tidak perlu terlalu mengandalkan sawah sebagai penghasil pangan. Daerah-daerah lahan basah di Jawa saja makin sering mengalami gagal panen padi akibat kekeringan.
Mungkin masyarakat Timor yang terpaksa makan putak harus bisa mengembangkan variasi makanan baru dari serat batang gewang itu agar lebih menyehatkan. Putak dari pohong gewang mungkin tak beda dengan tepung sagu dari pohon sagu di Maluku dan Papua yang menjadi makanan yang menyehatkan dengan aneka lauk sayur, ikan, daging dan pengolahan yang bervariasi. Atau mungkin pula bekas petani jagung dan beras yang menjadi pengumpul putak pohon gewang harus mengembangkan jenis-jenis tanaman pertanian baru yang lebih cocok dengan iklim Timor yang tampaknya semakin tidak ramah.
Melihat cara sederhana orang Timor beralih ke putak, serat batang gewang, ketika tanaman padi dan jagung gagal, tampaknya ini merupakan cara adaptasi sederhana menghadapi perubahan iklim. Gewang yang tumbuh liar di Timor termasuk jenis pohon yang paling tegar menghadapi iklim yang kering dan panas hampir sepanjang tahun. "Pohon gewang harus mulai dibudidayakan bersama beberapa pohon pangan lainnya yang cocok dengan iklim dan alam Timor. Gewang dan sukun, misalnya, sangat cocok diintensifkan untuk membantu ketahanan pangan masyarakat Timor," ujar Bambang Subagyo, Manajer Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Plan Indonesia.
Dia menambahkan, pemerintah daerah di Timor seharusnya menjadikan bencana hama belalang, gagal panen dan banyaknya kasus busung lapar sebagai indikator untuk menyiasati masalah pangan rakyat di wilayah ini.
"LSM siap membantu mencerahkan warga dalam kaitan dengan pengelolaan berbagai menu makanan berbahan baku putak atau bahan lain nonberas dan nonjagung," ujar Bambang, yang melihat pentingnya langkah-langkah adaptasi menghadapi perubahan iklim, terutama di sektor pertanian di Timor. *
* Penulis, wartawan NTT online
Read More...

Ketika SBY rindu padamu

Oleh Harry Tjahjono *
Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

TEPAT 28 Oktober 2007, sekitar pukul 19.00 WIB, Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (DPP PAPPRI) meluncurkan album lagu karya cipta Dr. H Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjudul Rinduku Padamu.
Tempatnya di Hall D,Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat. Menyimak judulnya, album lagu Rinduku Padamu itu tentu tidak berhubungan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda meskipun di-launch pada 28 Oktober 2007.Selain launching, PAPPRI juga sekalian mengukuhkan SBY sebagai anggota kehormatan DPP PAPPRI. Akan tetapi, kalaupun Anda pencinta lagu pop Indonesia, tentu tidak lantas berbondong-bondong menonton launching album Rinduku Padamu supaya bisa salaman dan minta tanda tangan SBY.
Sebab,selain belum tentu merindukan Anda, dalam pengumuman yang diterbitkan DPP PAPPRI untuk anggotanya antara lain disebutkan bahwa anggota PAPPRI akan mendapatkan undangan dan seragam batik yang khusus digunakan pada acara tersebut; anggota PAPPRI juga akan mendapatkan penggantian uang transpor (Rp 100.000) yang akan diserahkan pada saat penyelenggaraan acara dimaksud. Peluncuran album Rinduku Padamu bisa dibilang langkah maju setelah beberapa waktu yang lalu SBY 'membintangi' klip lagu grup band Ungu dan Coklat.
Setidaknya menambah panjang daftar pejabat yang terjun di belantika musik nasional sejak Basofi Sudirman merilis album dangdut Tidak Semua Laki-Laki, disusul Wiranto meluncurkan album keroncong dan album campursari Amien Rais yang berkolaborasi dengan Waljinah. Seperti halnya Wiranto dan Amien Rais yang meluncurkan album lagunya menjelang Pemilu 2004, sulit untuk tidak mengaitkan album Rinduku Padamu dengan Pemilu 2009.
Tapi, terkait ataupun tak berhubungan dengan Pemilu 2009, di antara presiden yang ada di muka bumi ini barangkali hanya SBY yang sempat mencipta lagu. Bisa jadi lagu-lagu dalam album Rinduku Padamu itu diciptakan jauh sebelum jadi presiden, atau semasa remaja seperti halnya Pasha Ungu, Noel Letto, Ariel Peterpan, Ian Radja asyik digunjang-ganjing berahi asmara. Tapi, mungkin pula lagu-lagu itu tercipta di sela kesibukan SBY mengelola republik ini tentu saja bukan berarti sekadar hasil karya sambilan. Memang, dalam sejarah raja-raja Jawa, Paku Buwana IV juga menulis syair tembang Serat Wulangreh berisi renungan filosofis.
Sedangkan Mangku Negara IV menulis syair tembang Serat Wedhatama yang sarat filsafat. Maklum, sejak dulu sampai sekarang predikat pujangga niscaya mencerminkan citra diri pribadi yang berhati nurani, cendekia, bijak, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, dan memiliki empati yang tinggi terhadap penderitaan sesama. Begitu terhormatnya predikat pujangga sehingga seorang raja sekalipun rela bersusah payah menulis syair supaya layak disebut raja pujangga.
Tapi, menyimak judul album Rinduku Padamu, tampaknya syair karya SBY tidak dimaksudkan untuk meraih predikat presiden pujangga walaupun membuat SBY dikukuhkan sebagai anggota kehormatan DPP PAPPRI.
Lalu, apa yang sesungguhnya ingin dicapai SBY lewat album Rinduku Padamu? Teman saya, anak muda yang berprofesi peneliti senior di sebuah lembaga survai tertua dan terkemuka di Indonesia mengaku heran, Kenapa SBY begitu sibuk dengan upaya membangun citra? Kalau Megawati, Wiranto dan Sutiyoso repot meningkatkan popularitas dan pencitraan diri, memang sudah seharusnya.
Sebab, yang dinilai rakyat dari ketiga kandidat presiden 2009 itu lebih pada popularitas dan citra mereka. Tetapi sebagai capres incumbent, yang akan dinilai rakyat dari SBY adalah kinerjanya dan hasil kerjanya, bukan popularitas atau citra dirinya. Kalaupun teman saya yang belum 40 tahun itu bukan peneliti senior, saya pikir keheranan anak muda selalu masuk akal. Sebab, walaupun album Rinduku Padamu berpeluang 'meledak' di pasar musik nasional dan melambungkan popularitas SBY jauh melebihi ketenaran Ungu atau Kangen Band, tentu tidak akan membuat orang mengabaikan kasus Lapindo yang belum tuntas, korupsi yang tetap merajalela, anggaran pendidikan yang belum sesuai undangundang, kemiskinan yang menyengsarakan lebih dari 40 juta rakyat Indonesia, konversi minyak tanah menjadi gas yang berpotensi memicu keresahan sosial dan seabrek persoalan pelik yang melilit bangsa Indonesia.
Barangkali akan lain halnya apabila album SBY berjudul Berantas Korupsi, atau sedikitnya Rinduku Rakyatku, misalnya. Tetapi yang jauh lebih penting dan lebih mendesak adalah sebelum peluncuran Rinduku Padamu, SBY terlebih dulu menggiatkan tindakan tegas memberantas pembajakan karya kreatif seniman Indonesia termasuk mengusut ihwal lagu Rasa Sayange yang dicaplok Malaysia. Sebab, selama pembajakan dibiarkan merajalela, kesejahteraan hidup para pencipta lagu akan tetap merana walaupun sering mendapat jatah baju batik khusus dan pengganti uang transpor dari PAPPRI atau capres lain. *
* Penulis Serial Si Doel Anak Sekolahan, dikutip dari Sindo (bentara online)
Read More...

Perempuan agar jaga ketahanan keluarga

Laporan Humas Kabupaten Kupang, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008
KUPANG, SPIRIT--Bupati Kupang, Drs. IA Medah, meminta kaum perempuan di daerah itu agar mengembangkan diri, selain menjaga ketahanan keluarga dengan membangun keluarga bahagia dan harmonis .
Permintaan Bupati Medah ini disampaikan pada peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) dan Hari Ibu ke-79, di Lapangan Kantor Bupati Kupang, Sabtu (28/12/2007).
Bupati Medah menyebut tiga hal yang perlu diingat dan dilakukan kaum perempuan/wanita. Pertama, memelihara harmonisasi dalam keluarga. Kedua, dalam rumah tangga harus ada silih asih, silih asuh dan silih asah. Ketiga, ke manapun kita berkarya, rumah adalah keluarga, hati kita adalah keluarga.
Kepada kaum perempuan dan ibu-ibu yang hadir dalam acara tersebut, Bupati Medah berpesan agar upaya peningkatan peran kaum perempuan dalam pemberdayaan dan kemajuan harus dimulai dari kaum perempuan sendiri untuk pengembangan diri sendiri (self development), menghidupkan self respect, menghormati diri sendiri, menjaga martabat sendiri dan keyakinan sendiri.
Hari kesetiakawanan sosial, kata Medah, merupakan momen yang sangat penting untuk melakukan perenungan terhadap realitas sosial yang ada dewasa ini. "Bahwa di tengah kehidupan yang cenderung mementingkan diri sendiri, kita diperhadapkan dengan sejumlah pertanyaan, masih adakah kesetiakawanan sosial di antara kita, masihkah kita memiliki rasa peduli terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain," ujarnya.
Bupati Medah mengharapkan agar sikap dan perilaku untuk bersimpati dan berempati kepada orang lain harus ditumbuhkan dari dalam diri masing-masing. Rasa simpati dapat terjalin secara timbal balik jika saling mengenal dan mendalami. "Oleh karena itu dalam merayakan hari kesetiakawanan sosial saat ini, saya minta kepada semua pihak, khususnya kita yang hadir, untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial terdekat yakni mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan akhirnya pada kehidupan berbangsa dan bernegara," harap Medah.
Bupati Medah memberi contoh di lingkungan keluarga, misalnya, bagaimana secara bersama mampu menangani masalah yang dihadapi anggota keluarga yang menderita sakit, kekurangan biaya baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk pendidikan dan kesehatan.
"Seluruh warga harus merasa bahwa kesulitan yang menimpa suatu warga adalah masalah bersama yang perlu penanganan bersama," jelasnya. *
Read More...

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kupang 4.76 persen

Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, SPIRIT--Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kupang selama lima tahun terakhir rata-rata 4,76 persen. Seluruh kebijakan pembangunan yang telah dilaksanakan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang terus meningkat.
Hal ini diungkapkan Bupati Kupang, Drs. IA Medah, pada peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) dan Hari Ibu ke-79 serta evaluasi akhir tahun di Lapangan Kantor Bupati Kupang, Sabtu (28/12/2007). Bupati Medah mengakui pendapatan per kapita Kabupaten Kupang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
PENDAPATAN PERKAPITA
* Tahun 2002 Rp 1.894.600,00, meningkat 9,02 persen dibanding tahun 2001.
* Tahun 2003 Rp 2.098.419,00, meningkat 10,76 persen.
* Tahun 2004 menjadi Rp 2.138.290,00.
* Tahun 2005 meningkat 8,72 persen menjadi Rp 2.324.754,00
* Tahun 2006 meningkat 5,24 persen menjadi Rp 2.466.635,00
-------------------------------------------------------------------------------
"Selain pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang terus meningkat, hal yang patut dibanggakan adalah pola pemberdayaan masyarakat yang dirintis sejak 2001 telah banyak diterapkan secara meluas di berbagai daerah sehingga model pembangunan dan sudah selayaknya tetap dilanjutkan," kata Medah.
Di bidang ekonomi, kata Bupati Medah, Kabupaten Kupang telah mengembangkan tanaman-tanaman perdagangan bernilai ekonomis tinggi dalam skala yang lebih besar, yakni tanaman umur panjang seperti jambu mete, vanili, kakao, kemiri, kopi, jati, mahoni dan pemanfaatan lahan tidur dan lahan kritis untuk pengembangan tanaman jarak.
Selain itu, lanjutnya, pendistribusian dana pemberdayaan masyarakat secara bergulir untuk merangsang tumbuh kembangnya usahawan kecil di berbagai bidang usaha seperti perdagangan, industri dan kerajinan rumah tangga, pertanian, peternakan dan perikanan baik berupa bantuan modal usaha maupun bantuan peralatan dan mesin termasuk kapal ikan telah dilaksanakan sejak tahun 2001 dan tahun 2007 ini lebih mengimplementasikan kebijakan yang berfokus pada peningkatan perekonomian wilayah yakni bantuan pemberdayaan ekonomi masyarakat (BPEM).
Menurutnya, BPEM ini lebih diarahkan pada penguatan struktur ekonomi rumah tangga melalui pemberian bantuan modal kepada wirausahawan berskala mikro dengan karakteristik pemanfaatan produk unggulan yang memiliki peluang pasar.
Bantuan modal usaha ini dialokasikan sebesar Rp 25 juta bagi setiap dusun untuk diperebutkan oleh kelompok masyarakat di setiap RT dalam dusun yang bersangkutan. (humas kabupaten kupang)
Read More...

KONI laporkan hasil kejuarnas kempo

Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008
KUPANG, SPIRIT--Ketua Harian KONI Kabupaten Kupang, Alexander Humau, S.H, melaporkan kepada Bupati Kupang, Drs. Ibrahim Agustinus Medah, perihal hasil kejuaraan nasional (kejurnas) kempo antar kabupaten/kota yang berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan. Dalam kejurnas itu Kabupaten Kupang meraih juara umum satu dan mendapatkan piala bergilir.
Laporan hasil Kejurnas Kempo tersebut dilaksanakan di Kantor Bupati Kupang, Sabtu (29/12/2007). Humau menjelaskan, kejurnas kempo yang berlangsung di Palembang mulai 28 November hingga 2 Desember 2007, itu diikuti 46 kabupaten/kota se-Indonesia, memperebutkan 35 medali emas, 22 medali perak, 47 medali perunggu, dengan jumlah atlet sekitar 600 orang.
"Peserta dari Kabupaten Kupang sebanyak 39 orang, terdiri dari tujuh pelatih dan 32 atlet. Perolehan medali Kabupaten Kupang yakni 14 emas, satu perak dan empat perunggu. Pencapaian prestasi pada kejurnas kali ini sangat spektakuler karena terdapat banyak perbedaan perolehan medali yang sangat menyolok. Dengan demikian, Kabupaten Kupang keluar sebagai jarau umum pertama dengan mendapat piala bergilir," jelasnya
Humau menjelaskan, perolehan medali tersebut berasal dari embu 11 emas, satu perak dan satu perunggu; randori tiga emas, dan tiga perunggu. Atlet yang berhasil memperoleh medali dari nomor randori dan embu yakni emas sebanyak 20 orang, perak dua orang, perunggu lima orang dan non medali tujuh orang.
Pada kejurnas tahun 2005 lalu di Sidoarjo, Kabupaten Kupang keluar sebagai juara umum II dan pada kejurnas kempo VI di Tangerang Banten tahun 2006, Kabupaten Kupang keluar sebagai juara umum pertama.
Pada kesempatan itu, Bupati Kupang sebagai ketua umum KONI menyerahkan bonus untuk medali emas sebesar Rp 1,5 juta, perak Rp 1, 2 juta, perunggu Rp 1 juta, non medali Rp 500 ribu dan pelatih mendapatkan bonus Rp 1 juta. (humas kabupaten kupang)
Read More...

Mengenal budaya Helong

Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

HELONG merupakan komunitas yang berada di sebuah pulau kecil bernama Semau. Pulau ini memiliki panjang sekitar 45 kilometer (km) dan lebar 5-6 km. Namun dalam perkembangannya, masyarakat Helong mulai bertumbuh dan berkembang di daerah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Pulau Semau ini hanya berjarak 15-20 menit dengan perahu motor dari Kota Kupang.
Budaya Helong secara umum memang identik dengan budaya Rote, namun demikian dalam perkembangannya budaya Helong mulai menampakkan ciri yang sedikit berbeda. Baik dalam tata cara berpakaian maupun praktek kebudayaan.
Di Pulau Semau ini, bahasa pergaulan yang dipakai adalah bahasa Helong. Pada beberapa terdapat dialeknya berbeda, dimana melalui hal ini orang dapat membedakan asal pengguna bahasa tersebut (berasal Semau Selatan atau Utara dan sebagainya).
Hopong, tarian Helong
Hopong adalah sebuah upacara tradisional masyarakat Helong yang mengizinkan para petani untuk menuai atau panen di ladang pertanian. Upacara Hopong adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh para petani dalam bentuk doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan nenek moyang.
Upacara Hopong dilakukan pada masa panen di suatu rumah yang ditentukan bersama dan dihadiri oleh tua-tua adat serta lapisan masyarakat. Tarian ini juga menggambarkan kehidupan bersama nilai religius, gotong royong.
Musik pengiring gendang, tambur, gong. (kpde kabupaten kupang)
Read More...

Penyerahan aset PDAM Kupang ada titik terang

Laporan Rosalia Woso, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

KUPANG, PK- Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, mengatakan, penyerahan aset
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dari Kabupaten Kupang ke Pemkot Kupang sudah menemui titik terang menggunakan sistem kompensasi.
Sementara itu, program sumur bor yang dijanjikan dalam kampanye pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada) Kota Kupang tidak perlu diadakan lagi bila kerja sama antara Pemkot Kupang dan Kabupaten Kupang yang membahas tentang Perusahaan Daerah Air Minum ( PDAM) Kupang segera rampung dalam waktu dekat.
Adoe mengatakan hal itu saat memberikan tanggapannya terhadap pemandangan umum anggota DPRD Kota Kupang lewat fraksi dalam sidang paripurna ke-5 Sidang III Tahun 2007 DPRD Kota Kupang, Kamis (27/12/2007). Menurut Adoe, Pemkot Kupang dan Kabupaten Kupang telah melakukan dialog tiga kali membahas tentang penanganan air bersih di Kota Kupang.
Pemkot Kupang, demikian Adoe, telah melakukan kerja sama dengan Bank Dunia dalam merealisasikan penanganan masalah air bersih dengan memberikan pinjaman modal.
Semua aset itu akan diperhitungkan secara cermat sehingga rencana program pembangunan sumur bor tidak perlu dilakukan lagi saat ini karena PDAM akan mensuplai air bersih bagi warga Kota Kupang.
Menurut dia, saat ini pelayanan air PDAM mengalami kebocoran sebesar 30 persen dan pemasangan ilegal sebesar 15 persen. Untuk itu, penanganan masalah air bersih harus dilakukan secara cermat dan serius.
2.000 Rumah KK miskin
Adoe yang dikonfirmasi di ruang kerja Ketua DPRD Kota Kupang menjelaskan, pada Januari 2008, penanaman modal asing (PMA) segera merealisasikan 2.000 rumah untuk keluarga miskin dengan kredit murah.
Program perumahan itu, kata Adoe, akan segera direalisasikan karena sudah didesak pengusaha dari Korea. Pihaknya telah meminta kepada pengusaha itu untuk mengekspose tentang program perumahan bagi kepala keluarga (KK) miskin di hadapan DPRD Kota Kupang.
Ketua DPRD Kota Kupang, Dominggus Bolla, saat itu meminta agar Pemkot Kupang perlu menyiapkan perangkat aturan tentang rencana pembangunan rumah bagi KK miskin. *
Read More...

Pemkot Kupang biayai kesehatan 214.500 jiwa

Laporan Yos Sudarso Sogen, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008
KUPANG, SPIRIT--Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang membantu biaya kesehatan bagi sekitar 214.500 jiwa dari jumlah penduduk kota saat ini sekitar 274.500 jiwa. Hal ini diakomodir dalam program Asuransi Biru dengan alokasi anggaran sekitar Rp 20, 5 miliar.
Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek menyampaikan hal ini saat ditemui di rumah jabatannya, Senin (24/12/2007). Menjawab pertanyaan sejauh mana realisasi program-program yang dijanjikan di awal pemerintahannya, Hurek mengatakan, Program Asuransi Biru adalah salah satu program unggulan pemerintahannya selain ketersediaan air bersih, perumahan sederhana, pemerintahan yang bersih dan pemberantasan korupsi.
"Perhitungan dananya sudah selesai, yakni sekitar Rp 20,5 miliar. Dari sekitar 274.500 jiwa, kita mengalokasikan dana ini untuk 214.500 jiwa setelah kita mengurangi anggota keluarga dari pegawai negeri sipil (PNS) sekitar 50.000 jiwa dan warga kelas menengah sekitar 10.000 jiwa," ujarnya.
Menurut Hurek, peserta Asuransi Biru ini termasuk warga kota yang selama ini menerima asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (Askeskin) sekitar 109.490 jiwa. Hal yang membedakan, kata Hurek, selama ini peserta Askeskin mendapat pelayanan dengan fasilitas kelas tiga tetapi dalam Program Asuransi Biru semua peserta mendapat fasilitas kelas dua.
"Untuk Askeskin, biaya per jiwa Rp 60 ribu sementara dalam Askes Biru kita menganggarkan Rp 120 ribu. Untuk sementara peserta Askes Biru belum bisa mendapat fasilitas kelas satu melainkan kelas dua karena pemkot belum punya rumah sakit," tambahnya.
Hurek menambahkan, sebagian anggaran untuk program asuransi biru ini berasal dari dana Askeskin senilai Rp 6,5 miliar. Sementara kepada peserta program ini rencananya dipungut Rp 5.000,00 per jiwa per tahun. Ini berarti dana yang terkumpul dari peserta sekitar 1,1 miliar. Sedangkan yang menjadi tanggungan pemkot sekitar Rp 13 miliar. *
Read More...

HKSO bantu pemulung Oebobo

Laporan Thomas Duran, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

OEBOBO, SPIRIT--Himpunan Kerja Serabutan Oebobo (HKSO) memberikan bantuan kepada lima kepala keluarga (KK) pemulung di Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.
Pengamatan SPIRIT NTT, Sabtu (22/12/2007), Ketua HKSO, Ny. Ata Taga menyerahkan langsung bantuan itu kepada pemulung. Menurut Ny. Ata Taga, HKSO merasa prihatin akan kondisi para pemulung ini. Karena itu, pengurus menyepakati memberikan bantuan kepada masing-masing KK berupa beras empat kg, supermi 10 bungkus, gula pasir 1/2 kg, minyak goreng ukuran 485 ml satu botol, kue kering satu bungkus, sabun mandi dua buah serta ayam potong satu ekor.
Kelima KK pemulung itu, antara lain Nyonya Meri Lomi, Daud Snae, Yohanes Metan, Gerson Dunedi serta Lukas Wila. Bantuan itu diserahkan Ny.Ata Taga selaku ketua, Theresia Lejab, Doli Nafi, serta Ida Kadja. *
Read More...

Warga Namosain dukung Lurah baru

Laporan Thomas Duran, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

NAMOSAIN, SPIRIT--Masyarakat Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak, Kota Kupang, merindukan seorang lurah sebagai pengganti lurah lama, Soltian Ndolu, S.E, yang dimutasikan ke Dinas Sosial Kota Kupang. Lurah baru ini sangat dibutuhkan untuk memajukan kelurahan ini dan warga siap mendukungnya.
Ketua RT 13/RW 05, Efraim Hotan mengatakan hal ini saat memberikan sambutan saat perpisahan dengan mantan Lurah Namosain di kediaman Ketua RT 09/RW 03, Bie Sadipun, Minggu (16/12/2007) malam.
Menurut Hotan, masyarakat Kelurahan Namosain yang tersebar di 24 RT dan 6 RW ini, saat ini membutuhkan seorang lurah baru untuk memimpin Namosain karena masih banyak program yang belum dilaksanakan. " 24 orang ketua RT dan enam orang ketua RW sebagai perangkat kerja di tinggkat paling bawah, siap mendukung siapapun dia sebagai Lurah Namosain yang baru," katanya.
Pada kesempatam itu ia menyampaikan terima kasih kepada mantan lurah yang sebelumnya telah banyak memberikan perhatian kepada warga setempat. "Tidak ada sesuatu yang bisa kami berikan. Hanya dengan doa restu kami mengiringi kepergian pak lurah ke tempat tugas baru," katanya.
Sementara dalam sambutannya, mantan Lurah Sortian Ndolu mengatakan, selama tiga setengah tahun bersama masyarakat Namosain telah banyak program yang dilakukan. Bahkan program-program itu menyentuh kebutuhan warga. Meski demikian ia menyadari bahwa masih banyak tugas yang belum dilakukan. Karena itu kepada penggantinya Ndolu berharap dapat melanjutkan program kerja yang ada.
Disaksikan SPIRIT NTT, Minggu (16/12/2007), acara perpisahan ini dimulai pukul 18.30 Wita. Acara ini dihadiri oleh 24 orang ketua RT dan enam orang ketua RW dan puluhan warga setempat. Hadir pula anggota DPRD Kota dari Distrik Alak, Mexi Pello. Karena kevakuman ini Camat Alak mengendalikan langsung roda pemerintahan di kelurahan ini. *
Read More...

Sumba Timur terapkan PP 41/2007

Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mulai menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) 41 Tahun 2007 dalam menempatkan seorang pejabat dalam struktur birokrasi. Aplikasinya terlihat dalam proses mutasi dan penempatan 11 orang pejabat eselon III dan IV yang dilantik, Kamis (27/12/2007).
Pada pelantikan 11 pejabat tersebut, ada pejabat yang pangkatnya belum memenuhi ketentuan PP 41/ 2007 untuk menempati jabatan yang saat ini dijabatnya terpaksa dimutasikan ke jabatan sesuai pangkat dan eselonnya.
Misalnya, Sekretaris Camat Cambera. Jabatan itu seharusnya diduduki oleh pejabat dengan pangkat III/C. Namun selama ini dijabat oleh pejabat golongan III/B. Dengan hadirnya PP 41/2007, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terpaksa menarik kembali pejabat tersebut dan menempatkannya sesuai golongan kepangkatannya yakni kepala seksi.
Sekretaris Kabupaten (Sekab) Sumba Timur, Umbu Hamakonda, M.Si, yang mewakili Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, ketika melantik 11 pejabat eselon III dan IV tersebut, mengatakan, para pejabat yang baru dilantik tersebut ada yang karena promosi, ada juga karena tuntutan PP 41 Tahun 2007.
Hamakonda mengatakan, hadirnya PP 41 Tahun 2007 menuntut pergeseran pejabat sesuai pangkat dan eselon. Pemerintah daerah, kata Hamakonda, akan terus melakukan pembenahan-pembenahan struktur organisasi pemerintahan sesuai tuntutan PP 41/2007.
Hamakonda berharap semua pihak memahami aturan yang ada sehingga tidak ada pejabat yang kecewa karena digeser atau dimutasi dari jabatan sekarang. Hamakonda mengingatkan bahwa setiap jabatan itu merupakan amanah yang harus dipegang teguh. "Jangan disia-siakan dan jangan disalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepada Anda," ingat Hamakonda.
Sebagai PNS, kata Hamakonda, harus siap ditempatkan di mana saja karena ketika pertama kali masuk PNS sudah ada pernyataan untuk bersedia ditempatkan d imana saja dalam wilayah Republik Indonesia.*
Read More...

Jakarta kucurkan Rp 40 juta

Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

WAINGAPU, SPIRIT-- Pemerintah pusat mengucurkan dana Rp 40 juta kepada 80 kepala keluarga (KK) miskin di empat RT di Desa Mbatakapidu, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, yang beberapa waktu lalu mengalami kekurangan pangan. Bantuan ini disalurkan ke rekening kelompok dan pemanfaatannya ditentukan oleh Badan Bimmas Ketahanan Pangan (BP2KP) setempat.
Informasi tentang bantuan untuk 80 KK tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Bimmas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur, Ir. Bagus Putu Punia, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12/12/007).
Putu mengatakan, pemerintah pusat memberikan respons positif terhadap informasi kekurangan pangan yang menimpa warga di empat RT di Desa Mbatakapidu, beberapa waktu lalu, dengan mengucurkan dana bantuan sebesar Rp 40 juta. Bantuan tersebut, jelas Putu diberikan dalam bentuk bantuan langsung ke rekening kelompok dengan peruntukan yang sudah ditentukan, yakni membeli kambing, benih jagung, pompa air dan beras untuk proyek padat karya.
Pendistribusian bantuan itu, katanya, diatur oleh kelompok. Putu melanjutkan, pemerintah sengaja tidak memberi bantuan dalam bentuk uang atau pangan langsung karena khawatir masyarakat menjadi malas dan menggantungkan harapan pada bantuan.
"Kita lihat di sana cocok untuk pengembangan ternak terutama kambing karena ada mata airnya. Selain itu, kita berikan benih jagung agar mereka menanamnya. Benih yang ada juga bisa mereka gunakan di daerah aliran sungai (DAS). Karena itu, kita juga berikan bantuan pompa air yang bisa mereka manfaatkan untuk mengambil air dari sungai-sungai yang ada ketika musim kering," jelas Putu.
Beberapa waktu lalu, warga empat RT di Desa Mabtakapidu diantaranya RT Lairaki, Ngaruwai dan Tanambi mengonsumsi ubi hutan atau iwi. Ubi hutan atau iwi menjadi makanan alternatif ketika masyarakat di daerah itu mulai kekurangan pangan. *
Read More...

Menyelamatkan tarian Sumba dengan tari kreasi baru (1)

Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008


MESKI senyumnya belum mengembang sepenuhnya, setidaknya Hendrik Pali, seorang pendidik yang juga budayawan dari Sumba Timur, sudah mulai melihat dengan mata kepala sendiri langkah-langkah konkrit Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dalam memajukan atau mengembangkan kebudayaan Sumba.
Setahun terakhir ini langkah-langkah itu tampak lebih nyata. Telah beberapa kali Pemda ikut serta dalam pemeran budaya di Jakarta, mencanangkan beberapa item kebudayaan daerah sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, dan memberi sumbangan kepada sanggar-sanggar kebudayaan.
Tidak hanya itu, dinas pariwisata juga mulai memberi bantuan dana kepada sanggar-sanggar kebudayaan yang tersebar di berbagai kecamatan di sana.
"Apakah karena beberapa media massa gencar memberitakan kondisi ini sehingga ada perubahan? Saya tidak tahu. Tapi saya kira pemberitaan itu berpengaruh,"
ungkap Hendrik saat ditemui di sela-sela pentas Gebyar Budaya Nusantara yang diadakan di Gedung Semanggi Expo, Jakarta Selatan, belum lama ini.
"Kalau pentas kami sudah mulai dihargai juga dengan honor. Ya, lumayan untuk memperbarui kostum dan kasih uang saku pada anak-anak," ungkap pemilik Sanggar Ori Angu (artinya: mrangkul tman, Red) ini.
Dengan perhatian semacam ini, Hendrik dan kawan-kawan di sanggar-sanggar lain menjadi lebih bersemangat dan leluasa mengembangkan kebudayaan yang adi luhung ini.
Sejak lama Hendrik adalah salah satu budayawan Sumba yang sangat gelisah melihat budaya daerahnya yang terancam punah. Kaum mudanya lebih kepincut dengan budaya-budaya luar terutama dari barat yang memang lebih menawarkan suasana dinamis dan lebih glamour.
"Para anak muda ini mau cepat-cepat maju seperti yang mereka lihat di televisi. Hal ini dengan sendirinya mengancam eksistensi budaya lokal kami karena anak-anak muda ini adalah pewaris budaya," jelas pria yang pandai menari dan pencipta beberapa tarian kreasi baru Sumba ini. Dalam pengamatan Hendrik, perkembangan tarian misalnya tampak stagnan. Tidak ada kreasi-kreasi baru. Gerakannya hanya itu-itu saja.
Demi pengembangan kebudayaan leluhur yang diakui mengandung sangat banyak nilai-nilai hidup, pada tahun 1980 atas inisiatif pribadi Hendrik mengikuti kursus menari di sanggar milik Bagong Kussudiardjo di Yogyakarta.
Sepulang dari kursus tersebut, Hendrik justru bertambah gelisah. Kenapa? Dia melihat anak putus sekolah di sekitar kampungnya Lambanapu (12 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sumba Timur, Waingapu, Red) semakin banyak. Selain itu, orang-orang tua yang menguasai tarian secara baik berikut makna yang terkandung di dalamnya nyaris sudah tidak ada lagi. Kalaupun masih ada, umur mereka sudah mencapai 75 tahun. Sehingga hari ini tidak ada lagi. "Kalau anak-anak ini tidak diurus bisa berbahaya. Juga kalau ilmu dari orang-orang tua itu tidak segera diadopsi, bisa berbahaya juga," ungkap Hendrik pada dirinya sendiri ketika itu.
Ayah enam anak ini lalu mendirikan Sanggar Ori Angu untuk memfasilitasi anak-anak putus sekolah, 'mencuri' dan mengembangkan ilmu daripara orangtua. Hendrik berusaha menemui para orang tua tersebut dalam kesempatan-kesempatan upacara adat. Dia juga berkonsultasi kalau-kalau dia mencoba menciptakan kreasi baru. "Mungkin inilah yang dinamakan panggilan. Sepertinya saya memang diutus untuk berada di wilayah semacam ini," ungkap Hendrik dengan perlahan sambil meletakkan tangannya di dada.
Sejumlah tarian kreasi baru telah Hendrik hasilkan. Meski menyandang predikat 'kreasi baru,' tarian-tarian ini tetap didasarkan pada tarian asli Sumba. Tarian-tarian tersebut antara lain adalah Ji.ha!, diambil dari perjamuan kudus di negeri (manghulango praing). Tarian ini biasanya dipentaskan mengiringi penutupan sebuah pesta adat. Nilai yang terkandung di dalamnya 'yang retak akan dipertemukan kembali.' Tarian ini bersifat gembira dan sangat enerjik. Burung Bercanda: diilhami dari Tarian Merak (dari Jawa) dan Tarian Ngguku (tarian tekukur dari Sumba),Tarian Tanapang Baru (Menanti Fajar). Tarian ini untuk menjemput pengantin wanita masuk ke kampung suaminya. Dalam budaya Sumba, seorang pengantin wanita tidak boleh masuk kampung suami pada malam hari. Tarian Paaka (artinya membentuk sesuatu yang baru). Tarian ini merupakan perpaduan dari tarian kabokang dan beberapa tarian syukur. (emanuel dapa loka/bersambung)
Read More...

Pesan Natal, perlu keseimbangan iman dan moral

Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Hiduplah dengan bijaksana, adil dan beribadah. Pesan ini mengandung dua makna, yakni moral dan iman. Adil dan bijaksana masuk dalam kategori moral, sedangkan ibadah masuk dalam kategori iman.
Demikian inti pesan Natal yang disampaikan pastor dan pendeta dalam kebaktian Natal di gereja-gereja di Sumba Timur. Di Gereja Katolik Sang Penebus Wara, Waingapu, misalnya, Pater Simon Tenda, CSsR, mengatakan, dua makna itu tidak kontradiktif, melainkan saling mengandaikan.
"Orang beragama tetapi amoral, hidupnya palsu. Demikian juga orang baik tetapi tidak beragama adalah ateis. Jadi pesan Natal kali ini memberikan keseimbangan antara moral dan iman. Jangan sampai kehidupan agama berwajah ganda. Di rumah ibadah seperti malaikat, tetapi berhadapan dengan manusia seperti monster. Hanya memuliakan Allah tetapi menginjak martabat manusia," kata Pater Simon.
Perayaan malam Natal di Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, berjalan aman. Meski demikian, pengawasan ekstra ketat dari aparat keamanan tetap berlaku hampir di seluruh gereja yang ada di daerah itu. Sementara tanggal 25 Desember, ibadah Natal dimulai pada pukul 07.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 09.00 Wita.
Pater Simon mengatakan, butuh penerangan hati nurani memahami makna Natal karena di hari Natal itulah Yesus datang membawa penerangan bagi manusia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan demikian manusia tidak menampilkan kepribadian ganda, di mana hari Minggu ke gereja tetapi pada Senin sampai Sabtu hanya mementingkan kepentingan dunia.*
Read More...

Jangan gunakan BBM subsidi untuk industri

Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

WAINGAPU, SPIRIT--Wakil Bupati (Wabup) Sumba Timur, Gidion Mbilijora, M.Si, mengingatkan para pengusaha di daerah itu agar jangan menggunakan BBM subsidi konsumsi rakyat untuk industri. Pengusaha harus mengambil BBM industri langsung ke Pertamina.
"Saya minta para pengusaha harus sadar mana yang menjadi hak masyarakat, mana yang menjadi milik masyarakat. Subsidi itu untuk masyarakat, bukan untuk industri," tegas Wabup Gidion pada acara syukuran 50 tahun Pertamina di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi, Minggu (23/12/2007).
Gidion mengatakan, pemerintah terus melakukan pengawasan terhadap peruntukan BBM subsidi dan meminta polisi untuk menindaklanjuti penyimpangan penggunaan BBM bersubsidi.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pertamina Depot Waingpu, Hamid Dude, mengatakan, Pertamina Depot Waingapu berhasil menghemat Rp 1,4 miliar atau 55 persen dari total biaya sebelumnya, setelah mengambilalih distribusi bahan bakar minyak (BBM) sejak pertengahan tahun 2007. Sebelumnya, distribusi ke SPBU dan pangkalan dikelola pihak ketiga. Dari pola itu juga Pertamina Depot Waingapu menyelamatkan uang subsidi negara untuk minyak tanah sebesar Rp 900 juta.
Hamid yang mulai tanggal 27 Desember akan pindah tugas ke Pertamina Madiun mengatakan, pola baru distribusi BBM tersebut, yakni pertamina mengambil alih tugas distribusi BBM hingga ke SPBU atau pangkalan yang selama ini diserahkan ke pihak ketiga atau para distributor.
Dengan pengambilalihan tugas distribusi tersebut, katanya, maka kewenangan untuk merekrut para sopir mobil tangki pun harus melalui pertamina. "Dalam pola baru ini, distribusi BBM dari Depot ke SPBU khususnya yang jauh sudah mulai berlangsung sejak pukul 03.00 Wita," kata Hamid.
Hamid mengatakan, Pertamina Depot Waingapu merupakan satu-satunya depot di NTT yang paling baik menerapkan pola distribusi yang baru ini. Karena prestasi itu, katanya, Depot Pertamina Waingapu statusnya disamakan dengan depot besar di Jawa.
Pada kesempatan itu, Pertamina Depot Waingapu menyerahkan sumbangan ke tiga rumah ibadah yakni Masjid Al Falah Kampung Baru, Masjid Al Ma'ruf Kampung Got dan Gereja Kristen Sumba (GKS) Cabang Kalu masing-masing Rp 10 juta. *
Read More...

Perempuan Insana, berkarya sebagai pelayan dan guru

Spirit NTT, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008

AWAN gelap membungkus angkasa wilayah itu. Di kejauhan terdengar petir yang menggemuruh, pertanda hujan lebat segera mengguyur dan membasahi bumi. Beberapa warga desa bergegas beriringan kembali ke pemukiman, yang lelaki menjepit parang dalam sarung dengan seikat kayu kering di pundaknya, sedangkan para wanita menjunjung bakul dengan sebatang kayu tugal (alat tanam) di pundak pula. Pemandangan itu adalah ciri khas dari petani Timor menyambut awal-awal musim hujan.
Menebang, membakar, membalik tanah serta menanam adalah warisan leluhur yang rutin dilaksanakan turun-temurun untuk mempertahankan hidup dari ancaman lapar dan musnah. Umumnya petani adalah sama, yakni mengolah tanah jadi hasil, perbedaaan cara pengolahan ladang tergantung pada sumber daya manusia masing-masing keluarga tani.
Hari itu, Selasa (18/12/2007), di dalam sebuah lopo (bangunan aula orang Timor) seorang wanita bersama dua anaknya duduk tenang seolah tidak terpengaruh dengan fenomena alam yang hampir menggelapkan wilayah mereka. Wanita separuh baya itu terus berkonsentrasi menyulam tenunan selendang buna yang menjadi primadona industri kerajinan wanita suku Insana.
Wanita itu bernama Helena Afoan, warga Desa Kiupasan, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ny. Helena adalah istri dari Lambertus Abel seorang petani tulen non aparat di desa tersebut.
Sekilas terlihat kehidupan keluarga itu sangat sederhana. Selain bertani, keluarga kecil itu juga memelihara beberapa jenis ternak besar. Hal ini terlihat dari sebuah kandang sapi tradisional berdiameter lima meter yang dibangun tidak jauh dari tiris lopo tempat Ny. Helena menenun.
"Tenunan ini untuk dipakai anak-anak, tetapi kalau tidak ada uang, maka saya jual di pasar dengan harga tergantung kesepakatan. Kain buna biasanya mahal tetapi bagi saya yang penting kainnya laku. Bahan bakunya tidak terlalu mahal, hanya waktu pengerjaannya saja yang lama. Selembar kain bisa saya selesaikan dalam waktu 4-5 bulan. Pekerjaan ini adalah tambahan saja ketika mengisi waktu luang. Yang utama bagi saya adalah membantu suamiku bekerja di kebun dan mengurus anak serta kegiatan dapur. Sebagai istri petani di sini, tiada lain yang kami kerjakan selain bantu suami dan mencari penghasilan tambahan seperti menenun dan menjual hasil kebun dan ternak seperti pisang, mangga, mentek dan ayam," jujur Ny. Helena malu-malu.
Kepolosan ibu dua anak ini menandakan keterbatasan kreatif wanita desa dalam menyiasati hidup. Kungkungan tradisi adalah hal yang mutlak dilaksanakan. Menjadi istri petani Timor adalah menjaga anak, bekerja di dapur dan melayani suami. Di luar itu adalah tabu, kalau ada inisiatif lain pasti menjadi bahan gunjingan lingkungan sekitar.
Kesetaraan atau yang lasim disebut gender, dalam bayangan Ny. Helena masih jauh dari jangkauan. Secara kodrati seorang istri orang Timor adalah sosok setia yang harus berada di belakang suami. Keterbatasan SDM dan kestabilan mental sebagian wanita pedesaan, belum siap untuk berdiri atau duduk sejajar di samping suami, seperti yang dipertontonkan disaat menyalami para undangan ketika pasangan suami istri menikah.
"Menjadi istri orang kecil, rutinitas kami seperti ini, tidak bisa pergi jauh meninggalkan suami dan anak-anak untuk sebuah pekerjaan. Pada umumnya partisipasi kami sebagai wanita di sini tidak lebih dari kesibukan di dapur dan duduk mendengar diskusi para suami kalau ada acara adat atau pertemuan lainnya," tambah Ny. Helena, ibu dari Maria Teur (9) dan Yohanes Sio (4).
Ny. Helena adalah salah satu potret wanita Insana di antara ribuan wanita lainnya di wilayah tersebut. Gender bagi wanita Insana adalah terbuka dan melayani dengan kasih, mengalah dan gesit mengasapi dapur. Prinsip mereka adalah laki-laki adalah sosok pekerja perintis atau pekerja kasar, sedangkan wanita adalah pekerja kedua yang berfungsi sebagai pengindah karya awal sang suami. Diskusi suami dan istri hanya bisa dilakukan ketika menjelang tidur, itupun disampaikan dalam suara yang perlahan mengumpan kantuk. Tempat tidur menjadi tempat aman untuk melakukan diskusi keluarga.
Waktu menunjukkan hampir pukul 13.00 wita, awan gelap yang masih menggantung di angkasa daerah Insana, belum juga menurunkan hujan. Ny. Helena nampak sudah gelisah dalam keterlibatan diskusi kecil dengan dua wartawan yang bertamu di kediamannya siang itu. Ny. Helena terus memandang ke dapur, rupanya ibu itu hendak memasak untuk menanti suaminya datang dari kebun. Sulaman kain buna yang melingkar di punggungnya telah dilepaskan, bersamaan itu pula muncul dari timur sosok suaminya yang tersenyum kepada wartawan. Kesetaraan bagi keluarga ini masih gelap dibungkus minusnya sumber daya wanita, segelap suasana daerah itu yang terus dibungkus awan gelap dari angkasa.
Istri adalah guru anak-anak
Dalam tatanan budaya suku Insana, wanita adalah pelayan suami yang setia dan penentu kesuksesan keluarga secara tersembunyi. Wanita hanya diberi peran dibelakang layar, pendorong suami dan pengayom anak-anak. Menjadi wanita adalah menjadi manusia kelas dua yang dimunculkan apabila manusia kelas satunya berhalangan atau meninggal.
Anak perempuan tidak perlu disekolahkan setinggi-tingginya apabila dalam sebuah keluarga ada anak laki-laki. Karena anak perempuan akan berpindah hidup bersama suaminya dan tentunya bukan menjadi penerus marga atau suku. Anak perempuan cukup dididik untuk mengetahui pekerjaan rumah tangga, dipersiapkan untuk menjadi istri orang dengan konsekwensi belis yang mengikat.
Kendati menjadi manusia kelas dua, wanita adalah mesin pekerja rumah tangga mulai dari matahari terbit hingga malam membungkus bumi. Sekilas semua pekerjaan wanita tidak terlalu berat namun rutinitasnya sambung-menyambung itu yang melelahkan. Gender bagi mereka adalah cukup dengan hidup terbuka suami istri. Sang suami yang menjadi simbol kekuatan rumah tangga tidak dibisa dikangkangi oleh sang istri yang menjadi simbol kasih sayang keluarga.
Bagi seorang tokoh adat Oelolok-Insana, Benyamin Djuki (73), seorang istri adalah guru besar bagi anak-anak yang dilahirkan. Istri menjadi guru bahasa, guru moral alias tatakrama, guru lingkungan hidup/kesehatan yang siap ajar tanpa gaji selama 24 jam hingga anak-anak dewasa.
"Istri saya adalah tambatan jiwaku, ke mana pun saya pergi saya pasti kembali karena hatiku dititipkan padanya. Istriku juga menjadi guru besar bagi anak-anak kami. Alhasil kini kami menjadi kakek dan nenek bagi 10 anak dan 30 cucu. Gender bagi kami cukup dengan hidup terbuka dan saling mengerti menerima kekurangan dan kelebihan. Dulu istriku adalah seorang guru sekolah dasar, namun karena tidak ada yang bisa ngurus anak-anak, maka secara sepakat istriku mundur dari profesi itu dan menjadi guru keluarga saja. Prinsip kami menjalani bahtera rumah tangga adalah harus siap berkorban. Kalau bukan suami maka istri. Anak yang dilahirkan karena cinta suami istri tidak boleh menjadi korban dan dibesarkan ditangan sanak famili atau pembantu. Kami jalani dengan cinta karena itu pengorbanan istriku adalah kemuliaan kami. Saya sangat bangga dengan istriku kendati kami kini sudah jompo," tutur kakek Djuki tersenyum.
Terus kibarkan bendera gender
Kecerahan gender masih dikungkungi kabut tatanan adat yang mentradisi dalam habitat tradisional masing-masing suku di daratan Timor. Tidak gampang menuntun dan mengarahkan pikiran fanatik lelaki Timor yang tersistem memberi belis untuk menguasai bukan untuk dikuasai. Seiring dengan itu para pendekar gender terus mengibarkan bendera perjuangan dan maju setapak demi setapak merebut tempat yang sepadan dengan lelaki.
Tercuat dalam sosialisasi dan diskusi berbagai stakeholders gender di Restoran Litani, Rabu (12/12/2007), yang diselenggarakan Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan RI dan Kantor Pemberdayaan Perempuan Kabupaten TTU. Tradisi yang menekan kebebasan perempuan terus dilitanikan dan mencari solusi yang bernuansa win-win solution (saling mendukung). Suara dari LSM, pemerintahan hingga Deputi Pemberdayaan Perempuan Jakarta, Ibu Erni Racmawati, Ibu Nuranah, Bapak Kartono dan Kepala Bagian Pemberdayaan Perempuan TTU, Ny. Marselina Sumu diikrarkan dengan satu tekad, laki-laki dan perempuan memang beda tetapi bukan untuk dibeda-bedakan dalam segala hal.
Kiprah gender telah lama dikumandangkan, sejagat nusantara telah mendengar dan mengetahui apa itu gender. Hasilnya tidak sedikit wanita telah memegang peranan penting dalam kursi legislatif, eksekutif, yudikatif, LSM dan organisasi swasta lainnya. Suara wanita telah mendapat tempat dan terkadang menjadi pamungkas sebuah kebuntuan diskusi dalam sidang.
Pemberontakan jiwa wanita telah menjadi warna dalam lingkungannya. Semuanya membutuhkan kesadaran dalam cinta, anak laki atau perempuan adalah buah cinta yang perlu diperlakukan sama. Biarkanlah wanita berkarir setinggi mungkin. Sebagai orang tua, suami atau rekan kerja perlu merasa bangga dan berbesar hati. Putriku atau istriku atau saudariku telah mengukir prestasi sama seperti saudaranya.
Hujan rintik-rintik telah turun, tak berselang hujan lebatpun mengguyur bumi meninggalkan kubangan air dan lumpur di mana-mana. Awan yang tadinya gelap kini telah sirna, seiring dengan berhentinya hujan. Matahari telah memancarkan sinarnya, daerah itupun telah berubah terang, secerah gemuruh gender yang perlahan pasti telah menarik banyak simpati dan perubahan.
Ny. Helena dan Bapak Benyamin Djuki adalah dua sosok polos orang Timor yang patut diperhatikan dan ditiru. Gender di pedesaan tidak bisa diterapkan absolut tetapi stap by stap, itulah bayangan dalam benak penulis ketika beranjak pulang kandang. (judith lorenzo taolin)
Read More...